alexametrics
24.1 C
Jember
Thursday, 19 May 2022

Kasus Meninggal Bertambah, Personel Kurang

Kendala Penanganan Jenazah Pasien Covid-19

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Pos kamling dekat Tempat Pemakaman Umum (TPU) daerah Sumbersari, seolah menjadi tempat ternikmat bagi petugas pemulasaraan jenazah dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jember. Ibarat hotel dengan kasur yang empuk, mereka menikmati tidur siang meski masih mengenakan baju hazmat. Ada yang tidur telentang, duduk, ada juga yang hanya duduk santai.

Siang itu, mereka menunggu kedatangan ambulans dari PMI Jember yang mengantarkan jenazah pasien Covid-19. “Masuk-masuk”, suara panggilan dari HT terdengar. Suara itu menjadi tanda mobil PMI segera tiba di lokasi pemulasaraan. Para petugas pemulasaraan dari BPBD itu langsung bersiap-siap. Pakaian hazmat dicek lagi agar tertutup rapat. Masker dan penutup mata juga mulai dikenakan. Sementara itu, petugas lain tampak bersiap dengan tangki yang berisi cairan disinfektan.

Reza, salah seorang petugas pemulasaraan Covid-19 dari BPBD menyatakan, tugasnya semakin bertambah akhir-akhir ini. Bahkan nyaris tidak ada liburnya. Sebab, jumlah pasien korona yang meninggal dunia semakin bertambah setiap harinya.

Mobile_AP_Rectangle 2

Dia menyatakan, sistem kerjanya sebagai petugas BPBD adalah sistem piket. Setiap piket itu selama satu hari, jadi kerjanya sehari penuh. Alumnus SMAN 2 Jember tersebut menuturkan, sistem piket dijadwalkan dalam bentuk sif. “Kalau hari ini kerja, berarti besok libur,” ungkapnya.

Data yang dikeluarkan Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Kabupaten Jember, tercatat selalu ada pasien meninggal setiap harinya. Dalam sepekan ini saja, mulai 10 Desember hingga 16 November, ada 30 pasien yang meninggal. Sementara itu, total sebanyak 175 pasien yang terkonfirmasi meninggal sejak korona melanda Jember. Berdasar catatan, penyebab kematian itu diakibatkan para pasien rata-rata masuk rumah sakit ketika kondisinya sudah kritis.

Terpisah, Plt Kepala BPBD Kabupaten Jember Mad Satuki menuturkan, petugas kewalahan menangani pemulasaran jenazah pasien Covid-19 seiring meningkatnya kasus tersebut. Karena personelnya terbatas dan hanya berjumlah 20 orang. “Jumlah itu dibagi dua tim. Jadi, sepuluh orang per tim,” jelasnya, saat ditemui di kantornya kemarin (16/12).

Kepada Jawa Pos Radar Jember, Satuki menjelaskan, setiap ada pemakaman, satu tim itu terjun mengurus berbagai keperluan di lapangan. Mereka dibagi per sif. Biasanya, ketika di lapangan para petugas melakukan improvisasi menyesuaikan dengan kondisi yang ada. “Sebab, pasien meninggal tidak bisa diprediksi jumlah dan waktunya,” terangnya.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Pos kamling dekat Tempat Pemakaman Umum (TPU) daerah Sumbersari, seolah menjadi tempat ternikmat bagi petugas pemulasaraan jenazah dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jember. Ibarat hotel dengan kasur yang empuk, mereka menikmati tidur siang meski masih mengenakan baju hazmat. Ada yang tidur telentang, duduk, ada juga yang hanya duduk santai.

Siang itu, mereka menunggu kedatangan ambulans dari PMI Jember yang mengantarkan jenazah pasien Covid-19. “Masuk-masuk”, suara panggilan dari HT terdengar. Suara itu menjadi tanda mobil PMI segera tiba di lokasi pemulasaraan. Para petugas pemulasaraan dari BPBD itu langsung bersiap-siap. Pakaian hazmat dicek lagi agar tertutup rapat. Masker dan penutup mata juga mulai dikenakan. Sementara itu, petugas lain tampak bersiap dengan tangki yang berisi cairan disinfektan.

Reza, salah seorang petugas pemulasaraan Covid-19 dari BPBD menyatakan, tugasnya semakin bertambah akhir-akhir ini. Bahkan nyaris tidak ada liburnya. Sebab, jumlah pasien korona yang meninggal dunia semakin bertambah setiap harinya.

Dia menyatakan, sistem kerjanya sebagai petugas BPBD adalah sistem piket. Setiap piket itu selama satu hari, jadi kerjanya sehari penuh. Alumnus SMAN 2 Jember tersebut menuturkan, sistem piket dijadwalkan dalam bentuk sif. “Kalau hari ini kerja, berarti besok libur,” ungkapnya.

Data yang dikeluarkan Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Kabupaten Jember, tercatat selalu ada pasien meninggal setiap harinya. Dalam sepekan ini saja, mulai 10 Desember hingga 16 November, ada 30 pasien yang meninggal. Sementara itu, total sebanyak 175 pasien yang terkonfirmasi meninggal sejak korona melanda Jember. Berdasar catatan, penyebab kematian itu diakibatkan para pasien rata-rata masuk rumah sakit ketika kondisinya sudah kritis.

Terpisah, Plt Kepala BPBD Kabupaten Jember Mad Satuki menuturkan, petugas kewalahan menangani pemulasaran jenazah pasien Covid-19 seiring meningkatnya kasus tersebut. Karena personelnya terbatas dan hanya berjumlah 20 orang. “Jumlah itu dibagi dua tim. Jadi, sepuluh orang per tim,” jelasnya, saat ditemui di kantornya kemarin (16/12).

Kepada Jawa Pos Radar Jember, Satuki menjelaskan, setiap ada pemakaman, satu tim itu terjun mengurus berbagai keperluan di lapangan. Mereka dibagi per sif. Biasanya, ketika di lapangan para petugas melakukan improvisasi menyesuaikan dengan kondisi yang ada. “Sebab, pasien meninggal tidak bisa diprediksi jumlah dan waktunya,” terangnya.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Pos kamling dekat Tempat Pemakaman Umum (TPU) daerah Sumbersari, seolah menjadi tempat ternikmat bagi petugas pemulasaraan jenazah dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jember. Ibarat hotel dengan kasur yang empuk, mereka menikmati tidur siang meski masih mengenakan baju hazmat. Ada yang tidur telentang, duduk, ada juga yang hanya duduk santai.

Siang itu, mereka menunggu kedatangan ambulans dari PMI Jember yang mengantarkan jenazah pasien Covid-19. “Masuk-masuk”, suara panggilan dari HT terdengar. Suara itu menjadi tanda mobil PMI segera tiba di lokasi pemulasaraan. Para petugas pemulasaraan dari BPBD itu langsung bersiap-siap. Pakaian hazmat dicek lagi agar tertutup rapat. Masker dan penutup mata juga mulai dikenakan. Sementara itu, petugas lain tampak bersiap dengan tangki yang berisi cairan disinfektan.

Reza, salah seorang petugas pemulasaraan Covid-19 dari BPBD menyatakan, tugasnya semakin bertambah akhir-akhir ini. Bahkan nyaris tidak ada liburnya. Sebab, jumlah pasien korona yang meninggal dunia semakin bertambah setiap harinya.

Dia menyatakan, sistem kerjanya sebagai petugas BPBD adalah sistem piket. Setiap piket itu selama satu hari, jadi kerjanya sehari penuh. Alumnus SMAN 2 Jember tersebut menuturkan, sistem piket dijadwalkan dalam bentuk sif. “Kalau hari ini kerja, berarti besok libur,” ungkapnya.

Data yang dikeluarkan Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Kabupaten Jember, tercatat selalu ada pasien meninggal setiap harinya. Dalam sepekan ini saja, mulai 10 Desember hingga 16 November, ada 30 pasien yang meninggal. Sementara itu, total sebanyak 175 pasien yang terkonfirmasi meninggal sejak korona melanda Jember. Berdasar catatan, penyebab kematian itu diakibatkan para pasien rata-rata masuk rumah sakit ketika kondisinya sudah kritis.

Terpisah, Plt Kepala BPBD Kabupaten Jember Mad Satuki menuturkan, petugas kewalahan menangani pemulasaran jenazah pasien Covid-19 seiring meningkatnya kasus tersebut. Karena personelnya terbatas dan hanya berjumlah 20 orang. “Jumlah itu dibagi dua tim. Jadi, sepuluh orang per tim,” jelasnya, saat ditemui di kantornya kemarin (16/12).

Kepada Jawa Pos Radar Jember, Satuki menjelaskan, setiap ada pemakaman, satu tim itu terjun mengurus berbagai keperluan di lapangan. Mereka dibagi per sif. Biasanya, ketika di lapangan para petugas melakukan improvisasi menyesuaikan dengan kondisi yang ada. “Sebab, pasien meninggal tidak bisa diprediksi jumlah dan waktunya,” terangnya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/