alexametrics
23 C
Jember
Sunday, 29 May 2022

Soal ANBK Khusus Sekolah Luar Biasa Dinilai Terlalu Rumit

Untuk Siswa Berkebutuhan Khusus di SLB

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Pelaksanaan asesmen nasional berbasis komputer (ANBK) juga berlangsung di sekolah luar biasa (SLB) Jember. Namun, khusus untuk siswa berkebutuhan khusus itu, soal-soal dinilai terlalu rumit sehingga siswa sulit menjawab beragam pertanyaan dalam muatan soal tersebut. Hal itu seperti terlihat di SLB Negeri Jember di Kecamatan Patrang, kemarin (16/11).

Pagi itu, lima siswa disabilitas rungu di SLB Negeri Jember sedang mengerjakan soal ANBK. Setiap siswa didampingi oleh seorang guru. Untuk memperjelas pertanyaan dalam soal, guru pendamping terus melakukan komunikasi dengan siswa dengan menggunakan bahasa isyarat. Sebab, bagi pelajar SLB, muatan soal ANBK yang diujikan dinilai terlalu tinggi tingkatannya. “Tingkat soal ANBK sepertinya perlu ada revisi lagi bagi para peserta SLB. Jangan disamakan dengan peserta didik umum,” ungkap Rendra Hendarta, operator SLB Negeri Jember.

Rendra sempat mengecek soal-soal yang diujikan. Karakternya tak jauh berbeda dengan soal pada tahap simulasi ANBK lalu. Dengan demikian, siswa SLB Jember harus memiliki pendamping dalam mengerjakan soal tersebut. Jika tidak, potensi pengerjaan soal selesai tepat waktu bisa meleset. “Untuk menelaah soalnya, butuh waktu. Untuk setiap soalnya di aplikasi, waktu terus berjalan. Jadi, harus menyesuaikan,” tuturnya.

Mobile_AP_Rectangle 2

Perkara tersebut bukan yang pertama. Pada simulasi ANBK sebelumnya, keluhan serupa juga terjadi. Namun, tidak ada perubahan mendasar meski sudah ada evaluasi. Adapun simulasi sebelumnya, golnya adalah untuk mengenalkan mekanisme pelaksanaan secara teknis. Lalu, untuk mengenalkan gambaran soal, siswa difasilitasi dengan laman khusus untuk latihan. Kendati demikian, menurut dia, penyesuaiaan soal pada siswa SLB Jember tetap perlu dilakukan. “Anak-anak sudah tahu mekanismenya. Juga, sudah mengenal fasilitasnya. Tetapi, untuk pengkategorian soal di situ masih umum. Tidak spesifik,” ucap Rendra.

Hal senada disampaikan Choirul Anwar. Ketua Kelompok Kerja Guru (KKG) SLB  Jmeberitu menganggap ANBK di SLB merupakan tahap penjajakan awal. Karena itu, semua mekanisme dan muatan materinya disamakan dengan siswa non-SLB. Kata dia, banyak pihak yang mengeluhkan soal ANBK yang diujikan. Baik dari sekolah non-SLB maupun SLB. “Yang umum mengeluh, apalagi yang di SLB. Soalnya itu panjang, sedangkan kemampuan membaca atau kecepatan membaca anak-anak berkurang,” ujarnya.

Kendala itu umum dirasakan oleh siswa SD, SMP, maupun SMA LB. Sejatinya, keluhan tentang muatan soal yang diujikan tersebut telah disuarakan melalui pengawas provinsi yang berkunjung saat ujian berlangsung. Namun, tidak ada perbaikan ketika ANBK digelar. Soal-soal yang diberikan pada siswa SLB banyak yang menggunakan kosa kata atau istilah akademis sehingga siswa sulit memahaminya.

Idealnya, dia menambahkan, siswa mengerjakan soal ANBK tanpa ada pendamping. Sebab, aturan yang berlaku, melarang ada guru pendamping bagi peserta ANBK. “Kemarin, kami usul untuk ada pendamping. Karena kalau tidak didampingi, mereka tidak bisa,” imbuh guru yang bertugas di SLB Negeri Branjangan, Patrang Jember, itu.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Pelaksanaan asesmen nasional berbasis komputer (ANBK) juga berlangsung di sekolah luar biasa (SLB) Jember. Namun, khusus untuk siswa berkebutuhan khusus itu, soal-soal dinilai terlalu rumit sehingga siswa sulit menjawab beragam pertanyaan dalam muatan soal tersebut. Hal itu seperti terlihat di SLB Negeri Jember di Kecamatan Patrang, kemarin (16/11).

Pagi itu, lima siswa disabilitas rungu di SLB Negeri Jember sedang mengerjakan soal ANBK. Setiap siswa didampingi oleh seorang guru. Untuk memperjelas pertanyaan dalam soal, guru pendamping terus melakukan komunikasi dengan siswa dengan menggunakan bahasa isyarat. Sebab, bagi pelajar SLB, muatan soal ANBK yang diujikan dinilai terlalu tinggi tingkatannya. “Tingkat soal ANBK sepertinya perlu ada revisi lagi bagi para peserta SLB. Jangan disamakan dengan peserta didik umum,” ungkap Rendra Hendarta, operator SLB Negeri Jember.

Rendra sempat mengecek soal-soal yang diujikan. Karakternya tak jauh berbeda dengan soal pada tahap simulasi ANBK lalu. Dengan demikian, siswa SLB Jember harus memiliki pendamping dalam mengerjakan soal tersebut. Jika tidak, potensi pengerjaan soal selesai tepat waktu bisa meleset. “Untuk menelaah soalnya, butuh waktu. Untuk setiap soalnya di aplikasi, waktu terus berjalan. Jadi, harus menyesuaikan,” tuturnya.

Perkara tersebut bukan yang pertama. Pada simulasi ANBK sebelumnya, keluhan serupa juga terjadi. Namun, tidak ada perubahan mendasar meski sudah ada evaluasi. Adapun simulasi sebelumnya, golnya adalah untuk mengenalkan mekanisme pelaksanaan secara teknis. Lalu, untuk mengenalkan gambaran soal, siswa difasilitasi dengan laman khusus untuk latihan. Kendati demikian, menurut dia, penyesuaiaan soal pada siswa SLB Jember tetap perlu dilakukan. “Anak-anak sudah tahu mekanismenya. Juga, sudah mengenal fasilitasnya. Tetapi, untuk pengkategorian soal di situ masih umum. Tidak spesifik,” ucap Rendra.

Hal senada disampaikan Choirul Anwar. Ketua Kelompok Kerja Guru (KKG) SLB  Jmeberitu menganggap ANBK di SLB merupakan tahap penjajakan awal. Karena itu, semua mekanisme dan muatan materinya disamakan dengan siswa non-SLB. Kata dia, banyak pihak yang mengeluhkan soal ANBK yang diujikan. Baik dari sekolah non-SLB maupun SLB. “Yang umum mengeluh, apalagi yang di SLB. Soalnya itu panjang, sedangkan kemampuan membaca atau kecepatan membaca anak-anak berkurang,” ujarnya.

Kendala itu umum dirasakan oleh siswa SD, SMP, maupun SMA LB. Sejatinya, keluhan tentang muatan soal yang diujikan tersebut telah disuarakan melalui pengawas provinsi yang berkunjung saat ujian berlangsung. Namun, tidak ada perbaikan ketika ANBK digelar. Soal-soal yang diberikan pada siswa SLB banyak yang menggunakan kosa kata atau istilah akademis sehingga siswa sulit memahaminya.

Idealnya, dia menambahkan, siswa mengerjakan soal ANBK tanpa ada pendamping. Sebab, aturan yang berlaku, melarang ada guru pendamping bagi peserta ANBK. “Kemarin, kami usul untuk ada pendamping. Karena kalau tidak didampingi, mereka tidak bisa,” imbuh guru yang bertugas di SLB Negeri Branjangan, Patrang Jember, itu.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Pelaksanaan asesmen nasional berbasis komputer (ANBK) juga berlangsung di sekolah luar biasa (SLB) Jember. Namun, khusus untuk siswa berkebutuhan khusus itu, soal-soal dinilai terlalu rumit sehingga siswa sulit menjawab beragam pertanyaan dalam muatan soal tersebut. Hal itu seperti terlihat di SLB Negeri Jember di Kecamatan Patrang, kemarin (16/11).

Pagi itu, lima siswa disabilitas rungu di SLB Negeri Jember sedang mengerjakan soal ANBK. Setiap siswa didampingi oleh seorang guru. Untuk memperjelas pertanyaan dalam soal, guru pendamping terus melakukan komunikasi dengan siswa dengan menggunakan bahasa isyarat. Sebab, bagi pelajar SLB, muatan soal ANBK yang diujikan dinilai terlalu tinggi tingkatannya. “Tingkat soal ANBK sepertinya perlu ada revisi lagi bagi para peserta SLB. Jangan disamakan dengan peserta didik umum,” ungkap Rendra Hendarta, operator SLB Negeri Jember.

Rendra sempat mengecek soal-soal yang diujikan. Karakternya tak jauh berbeda dengan soal pada tahap simulasi ANBK lalu. Dengan demikian, siswa SLB Jember harus memiliki pendamping dalam mengerjakan soal tersebut. Jika tidak, potensi pengerjaan soal selesai tepat waktu bisa meleset. “Untuk menelaah soalnya, butuh waktu. Untuk setiap soalnya di aplikasi, waktu terus berjalan. Jadi, harus menyesuaikan,” tuturnya.

Perkara tersebut bukan yang pertama. Pada simulasi ANBK sebelumnya, keluhan serupa juga terjadi. Namun, tidak ada perubahan mendasar meski sudah ada evaluasi. Adapun simulasi sebelumnya, golnya adalah untuk mengenalkan mekanisme pelaksanaan secara teknis. Lalu, untuk mengenalkan gambaran soal, siswa difasilitasi dengan laman khusus untuk latihan. Kendati demikian, menurut dia, penyesuaiaan soal pada siswa SLB Jember tetap perlu dilakukan. “Anak-anak sudah tahu mekanismenya. Juga, sudah mengenal fasilitasnya. Tetapi, untuk pengkategorian soal di situ masih umum. Tidak spesifik,” ucap Rendra.

Hal senada disampaikan Choirul Anwar. Ketua Kelompok Kerja Guru (KKG) SLB  Jmeberitu menganggap ANBK di SLB merupakan tahap penjajakan awal. Karena itu, semua mekanisme dan muatan materinya disamakan dengan siswa non-SLB. Kata dia, banyak pihak yang mengeluhkan soal ANBK yang diujikan. Baik dari sekolah non-SLB maupun SLB. “Yang umum mengeluh, apalagi yang di SLB. Soalnya itu panjang, sedangkan kemampuan membaca atau kecepatan membaca anak-anak berkurang,” ujarnya.

Kendala itu umum dirasakan oleh siswa SD, SMP, maupun SMA LB. Sejatinya, keluhan tentang muatan soal yang diujikan tersebut telah disuarakan melalui pengawas provinsi yang berkunjung saat ujian berlangsung. Namun, tidak ada perbaikan ketika ANBK digelar. Soal-soal yang diberikan pada siswa SLB banyak yang menggunakan kosa kata atau istilah akademis sehingga siswa sulit memahaminya.

Idealnya, dia menambahkan, siswa mengerjakan soal ANBK tanpa ada pendamping. Sebab, aturan yang berlaku, melarang ada guru pendamping bagi peserta ANBK. “Kemarin, kami usul untuk ada pendamping. Karena kalau tidak didampingi, mereka tidak bisa,” imbuh guru yang bertugas di SLB Negeri Branjangan, Patrang Jember, itu.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/