alexametrics
23.9 C
Jember
Saturday, 21 May 2022

Cerita Kakak Adik yang Jadi Atlet Wushu

Jadikan Kebiasaan, Usir Kebosanan dengan Latihan di Tempat Berbeda

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Pandemi korona bisa dibilang mengubah 180 derajat kebiasaan anak-anak. Mereka yang dulu kerap belajar dan sekolah, diakui atau tidak, kini banyak waktu yang habis untuk bermain. Kesempatan itu tak disia-siakan oleh kakak beradik Chelsea Maya Wijaya dan Kai Rafael Wijaya untuk tetap konsisten menggeluti hobinya. Setelah belajar, keduanya sama-sama berlatih wushu.

Seni bela diri yang anggun ini sudah bertahun-tahun menjadi hobi Chelsea serta Kai Rafael. Setelah belajar, dua anak itu berlatih wushu di rumahnya. Hal tersebut dilakukan hampir setiap hari, walau hanya dalam hitungan menit. Terkadang, keduanya juga berlatih di tempat wisata, Alun-Alun Jember, maupun di lokasi lain.

TERUS BERLATIH: Chelsea Maya Wijaya, atlet wushu asal Jember yang akan ikut dalam Porprov 2022 nanti.

Chelsea dan Kai Rafael merupakan anak dari Harianto Wijaya yang tinggal di Jalan Kertabumi, Kelurahan Jember Kidul, Kaliwates. Harianto sendiri, dulunya atlet Taekwondo. Saat dia berlatih, dua anaknya kerap melihatnya. Hal itu yang membuat kedua atlet muda tersebut juga ingin bisa seni bela diri.

Mobile_AP_Rectangle 2

Melihat kedua anaknya juga menyukai seni bela diri, Harianto tak ambil pusing. Dia yang cukup sibuk kemudian mencari tempat agar anaknya bisa menggeluti dunia seni bela diri. “Kebetulan, ada teman saya yang bisa wushu. Jadi, awalnya belajar pada teman saya yang jadi guru,” jelasnya.

Harianto menyebut, ada banyak hal yang ditanamkan sebelum keduanya muncul ke publik. Yaitu, mengikuti latihan dasar secara kontinyu. “Belajar dasar saja. Sebenarnya, tiga sampai lima tahun, tetapi kebanyakan di Indonesia tidak sampai segitu. Inginnya langsung tanding. Padahal, semua itu tidak bisa instan,” ujarnya.

Kebiasaan rutin berlatih wushu terus ditanamkan agar anak memiliki kebiasaan seperti makan, mandi, tidur saat malam, dan belajar. “Jadi, rutinitas ini yang perlu dilakukan agar anak juga terbiasa dengan apa yang dilakukan. Maka setiap hari, mereka belajar walaupun sebentar,” paparnya.

Di antara hal yang cukup sulit dilawan serta pasti hadir adalah rasa bosan. Setiap orang pasti akan bosan melakukan sesuatu yang sifatnya rutin. “Namun, apabila kebiasaan telah ditanamkan sejak dini, anak akan berkembang,” ucapnya.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Pandemi korona bisa dibilang mengubah 180 derajat kebiasaan anak-anak. Mereka yang dulu kerap belajar dan sekolah, diakui atau tidak, kini banyak waktu yang habis untuk bermain. Kesempatan itu tak disia-siakan oleh kakak beradik Chelsea Maya Wijaya dan Kai Rafael Wijaya untuk tetap konsisten menggeluti hobinya. Setelah belajar, keduanya sama-sama berlatih wushu.

Seni bela diri yang anggun ini sudah bertahun-tahun menjadi hobi Chelsea serta Kai Rafael. Setelah belajar, dua anak itu berlatih wushu di rumahnya. Hal tersebut dilakukan hampir setiap hari, walau hanya dalam hitungan menit. Terkadang, keduanya juga berlatih di tempat wisata, Alun-Alun Jember, maupun di lokasi lain.

TERUS BERLATIH: Chelsea Maya Wijaya, atlet wushu asal Jember yang akan ikut dalam Porprov 2022 nanti.

Chelsea dan Kai Rafael merupakan anak dari Harianto Wijaya yang tinggal di Jalan Kertabumi, Kelurahan Jember Kidul, Kaliwates. Harianto sendiri, dulunya atlet Taekwondo. Saat dia berlatih, dua anaknya kerap melihatnya. Hal itu yang membuat kedua atlet muda tersebut juga ingin bisa seni bela diri.

Melihat kedua anaknya juga menyukai seni bela diri, Harianto tak ambil pusing. Dia yang cukup sibuk kemudian mencari tempat agar anaknya bisa menggeluti dunia seni bela diri. “Kebetulan, ada teman saya yang bisa wushu. Jadi, awalnya belajar pada teman saya yang jadi guru,” jelasnya.

Harianto menyebut, ada banyak hal yang ditanamkan sebelum keduanya muncul ke publik. Yaitu, mengikuti latihan dasar secara kontinyu. “Belajar dasar saja. Sebenarnya, tiga sampai lima tahun, tetapi kebanyakan di Indonesia tidak sampai segitu. Inginnya langsung tanding. Padahal, semua itu tidak bisa instan,” ujarnya.

Kebiasaan rutin berlatih wushu terus ditanamkan agar anak memiliki kebiasaan seperti makan, mandi, tidur saat malam, dan belajar. “Jadi, rutinitas ini yang perlu dilakukan agar anak juga terbiasa dengan apa yang dilakukan. Maka setiap hari, mereka belajar walaupun sebentar,” paparnya.

Di antara hal yang cukup sulit dilawan serta pasti hadir adalah rasa bosan. Setiap orang pasti akan bosan melakukan sesuatu yang sifatnya rutin. “Namun, apabila kebiasaan telah ditanamkan sejak dini, anak akan berkembang,” ucapnya.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Pandemi korona bisa dibilang mengubah 180 derajat kebiasaan anak-anak. Mereka yang dulu kerap belajar dan sekolah, diakui atau tidak, kini banyak waktu yang habis untuk bermain. Kesempatan itu tak disia-siakan oleh kakak beradik Chelsea Maya Wijaya dan Kai Rafael Wijaya untuk tetap konsisten menggeluti hobinya. Setelah belajar, keduanya sama-sama berlatih wushu.

Seni bela diri yang anggun ini sudah bertahun-tahun menjadi hobi Chelsea serta Kai Rafael. Setelah belajar, dua anak itu berlatih wushu di rumahnya. Hal tersebut dilakukan hampir setiap hari, walau hanya dalam hitungan menit. Terkadang, keduanya juga berlatih di tempat wisata, Alun-Alun Jember, maupun di lokasi lain.

TERUS BERLATIH: Chelsea Maya Wijaya, atlet wushu asal Jember yang akan ikut dalam Porprov 2022 nanti.

Chelsea dan Kai Rafael merupakan anak dari Harianto Wijaya yang tinggal di Jalan Kertabumi, Kelurahan Jember Kidul, Kaliwates. Harianto sendiri, dulunya atlet Taekwondo. Saat dia berlatih, dua anaknya kerap melihatnya. Hal itu yang membuat kedua atlet muda tersebut juga ingin bisa seni bela diri.

Melihat kedua anaknya juga menyukai seni bela diri, Harianto tak ambil pusing. Dia yang cukup sibuk kemudian mencari tempat agar anaknya bisa menggeluti dunia seni bela diri. “Kebetulan, ada teman saya yang bisa wushu. Jadi, awalnya belajar pada teman saya yang jadi guru,” jelasnya.

Harianto menyebut, ada banyak hal yang ditanamkan sebelum keduanya muncul ke publik. Yaitu, mengikuti latihan dasar secara kontinyu. “Belajar dasar saja. Sebenarnya, tiga sampai lima tahun, tetapi kebanyakan di Indonesia tidak sampai segitu. Inginnya langsung tanding. Padahal, semua itu tidak bisa instan,” ujarnya.

Kebiasaan rutin berlatih wushu terus ditanamkan agar anak memiliki kebiasaan seperti makan, mandi, tidur saat malam, dan belajar. “Jadi, rutinitas ini yang perlu dilakukan agar anak juga terbiasa dengan apa yang dilakukan. Maka setiap hari, mereka belajar walaupun sebentar,” paparnya.

Di antara hal yang cukup sulit dilawan serta pasti hadir adalah rasa bosan. Setiap orang pasti akan bosan melakukan sesuatu yang sifatnya rutin. “Namun, apabila kebiasaan telah ditanamkan sejak dini, anak akan berkembang,” ucapnya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/