alexametrics
22.4 C
Jember
Tuesday, 16 August 2022

Sejak Muda Menjadi Pemulung dan Pengemis

Mobile_AP_Rectangle 1

Hidup puluhan tahun di kolong jembatan bukan hanya ada di sinetron ataupun di kota-kota besar semata. Tapi tengoklah di bawah Jembatan Jarwo, Jalan Mastrip. Bukan di kafe, tapi pada deretan bangunan semi permanen yang berdiri di sana. Ternyata yang tinggal di sana hanya tersisa satu orang, yaitu Qotimah.

DWI SISWANTO, Sumbersari, Radar Jember

JEMBATAN Jarwo yang berada di Jalan Mastrip memang tak begitu terkenal seperti Gladak Kembar ataupun Jembatan Semanggi. Namun, jembatan itu cukup ikonik. Sebab, tepat di bawah jembatan, terdapat sebuah areal yang cukup luas. Inilah yang unik, bahkan dijadikan kafe.

Mobile_AP_Rectangle 2

Walau begitu, ada kehidupan lain di bawah Jembatan Jarwo. Ya, dari empat kolong jembatan yang bentuknya setengah lingkaran tersebut, dua di antaranya terdapat rumah semi permanen. Kala memasuki lorong di kolong jembatan tersebut, tampak tak ada kehidupan. Empat pintu rumah semi permanen yang saling berimpitan tersebut tertutup rapat.

Namun, ternyata ada orang di salah satu rumah tersebut. Kala mencoba mengucapkan salam, ternyata ada suara seorang nenek yang menjawab. “Masuk saja, pintunya didorong saja,” ucapnya kepada Jawa Pos Radar Jember.

Rupanya, seorang lansia yang tinggal di sana. Qotimah namanya. Nenek itu sempat mengungkapkan tidak bisa membuka pintu karena kakinya tengah sakit.

Kala membuka pintu, sontak bau tak sedap mulai tercium. Makin masuk lagi, semakin menyengat. Dengan langkah tergopoh-gopoh, nenek yang bernama Qotimah tersebut mencoba bangun dari ranjangnya dan duduk di kursi plastik. “Sini, masuk saja,” katanya.

Rumah itu tingginya hanya sekitar dua meter. Satu dindingnya mengandalkan tembok dari Jembatan Jarwo. Lampu lima watt menerangi rumah Qotimah. Tidak ada sofa, yang ada hanya kursi plastik.

Setiap ada satu pertanyaan, Qotimah menjawab dengan begitu panjang. “Usia saya sudah tua, sudah nenek-nenek. Ada mungkin kalau 70 tahun. Kalau tepatnya ada di KTP,” tuturnya.

- Advertisement -

Hidup puluhan tahun di kolong jembatan bukan hanya ada di sinetron ataupun di kota-kota besar semata. Tapi tengoklah di bawah Jembatan Jarwo, Jalan Mastrip. Bukan di kafe, tapi pada deretan bangunan semi permanen yang berdiri di sana. Ternyata yang tinggal di sana hanya tersisa satu orang, yaitu Qotimah.

DWI SISWANTO, Sumbersari, Radar Jember

JEMBATAN Jarwo yang berada di Jalan Mastrip memang tak begitu terkenal seperti Gladak Kembar ataupun Jembatan Semanggi. Namun, jembatan itu cukup ikonik. Sebab, tepat di bawah jembatan, terdapat sebuah areal yang cukup luas. Inilah yang unik, bahkan dijadikan kafe.

Walau begitu, ada kehidupan lain di bawah Jembatan Jarwo. Ya, dari empat kolong jembatan yang bentuknya setengah lingkaran tersebut, dua di antaranya terdapat rumah semi permanen. Kala memasuki lorong di kolong jembatan tersebut, tampak tak ada kehidupan. Empat pintu rumah semi permanen yang saling berimpitan tersebut tertutup rapat.

Namun, ternyata ada orang di salah satu rumah tersebut. Kala mencoba mengucapkan salam, ternyata ada suara seorang nenek yang menjawab. “Masuk saja, pintunya didorong saja,” ucapnya kepada Jawa Pos Radar Jember.

Rupanya, seorang lansia yang tinggal di sana. Qotimah namanya. Nenek itu sempat mengungkapkan tidak bisa membuka pintu karena kakinya tengah sakit.

Kala membuka pintu, sontak bau tak sedap mulai tercium. Makin masuk lagi, semakin menyengat. Dengan langkah tergopoh-gopoh, nenek yang bernama Qotimah tersebut mencoba bangun dari ranjangnya dan duduk di kursi plastik. “Sini, masuk saja,” katanya.

Rumah itu tingginya hanya sekitar dua meter. Satu dindingnya mengandalkan tembok dari Jembatan Jarwo. Lampu lima watt menerangi rumah Qotimah. Tidak ada sofa, yang ada hanya kursi plastik.

Setiap ada satu pertanyaan, Qotimah menjawab dengan begitu panjang. “Usia saya sudah tua, sudah nenek-nenek. Ada mungkin kalau 70 tahun. Kalau tepatnya ada di KTP,” tuturnya.

Hidup puluhan tahun di kolong jembatan bukan hanya ada di sinetron ataupun di kota-kota besar semata. Tapi tengoklah di bawah Jembatan Jarwo, Jalan Mastrip. Bukan di kafe, tapi pada deretan bangunan semi permanen yang berdiri di sana. Ternyata yang tinggal di sana hanya tersisa satu orang, yaitu Qotimah.

DWI SISWANTO, Sumbersari, Radar Jember

JEMBATAN Jarwo yang berada di Jalan Mastrip memang tak begitu terkenal seperti Gladak Kembar ataupun Jembatan Semanggi. Namun, jembatan itu cukup ikonik. Sebab, tepat di bawah jembatan, terdapat sebuah areal yang cukup luas. Inilah yang unik, bahkan dijadikan kafe.

Walau begitu, ada kehidupan lain di bawah Jembatan Jarwo. Ya, dari empat kolong jembatan yang bentuknya setengah lingkaran tersebut, dua di antaranya terdapat rumah semi permanen. Kala memasuki lorong di kolong jembatan tersebut, tampak tak ada kehidupan. Empat pintu rumah semi permanen yang saling berimpitan tersebut tertutup rapat.

Namun, ternyata ada orang di salah satu rumah tersebut. Kala mencoba mengucapkan salam, ternyata ada suara seorang nenek yang menjawab. “Masuk saja, pintunya didorong saja,” ucapnya kepada Jawa Pos Radar Jember.

Rupanya, seorang lansia yang tinggal di sana. Qotimah namanya. Nenek itu sempat mengungkapkan tidak bisa membuka pintu karena kakinya tengah sakit.

Kala membuka pintu, sontak bau tak sedap mulai tercium. Makin masuk lagi, semakin menyengat. Dengan langkah tergopoh-gopoh, nenek yang bernama Qotimah tersebut mencoba bangun dari ranjangnya dan duduk di kursi plastik. “Sini, masuk saja,” katanya.

Rumah itu tingginya hanya sekitar dua meter. Satu dindingnya mengandalkan tembok dari Jembatan Jarwo. Lampu lima watt menerangi rumah Qotimah. Tidak ada sofa, yang ada hanya kursi plastik.

Setiap ada satu pertanyaan, Qotimah menjawab dengan begitu panjang. “Usia saya sudah tua, sudah nenek-nenek. Ada mungkin kalau 70 tahun. Kalau tepatnya ada di KTP,” tuturnya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/