alexametrics
23 C
Jember
Friday, 27 May 2022

Jember Cegah Angka Putus Sekolah di Pesantren dengan Cara ini

Mobile_AP_Rectangle 1

 

PAKUSARI, RADARJEMBER.ID – Langkah preventif untuk menambah daftar panjang pernikahan dini sebagai akibat dari putus sekolah tak bisa dilakukan hanya melalui sosialisasi. Apalagi fenomena pernikahan dini menjadi sangat marak di masyarakat. Karena itu, harus ada pemberdayaan dan edukasi pada anak mengenai bahaya pernikahan dini. Spirit ini terejawantahkan melalui pembentukan Forum Anak Pesantren (FAP).

Kepala Bidang Perlindungan Anak Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, dan Keluarga Berencana (DP3AKB) Kabupaten Jember Joko Sutriwanto mengungkapkan bahwa salah satu upaya untuk mengatasi fenomena tersebut yaitu dengan mendirikan FAP. Secara umum, FAP tidak jauh berbeda dengan fungsi forum anak pada umumnya, hanya lingkupnya di pesantren. Otoritas terbesarnya dipegang oleh yayasan. “Melalui forum anak berbasis pesantren ini, kita memberikan sosialisasi dan edukasi perlindungan anak. Jika diperlukan tindak lanjut, sosialisasi kepada wali murid, kami siap,” ungkap Joko, Kamis (16/9) kemarin.

Mobile_AP_Rectangle 2

Adapun perbedaan yang paling tampak adalah penggunaan anggaran. Jika forum anak menggunakan anggaran yang dialokasikan pemerintah, namun di pondok pesantren mereka menggunakan dana mandiri. “Jika dibutuhkan untuk mengusulkan, kami siap untuk menjembatani,” imbuhnya.

Sedangkan pembimbing forum anak pesantren diambil dari gugus tugas berbasis pesantren. Anggota gugus tugas ini adalah remaja yang berusia lebih dari 18 tahun. “Bisa terdiri atas pengurus pesantren,” Imbuhnya lagi.

Semua kegiatan yang akan dilakukan forum anak pesantren tidak diintervensi secara langsung oleh DP3AKB. Namun, diatur melalui gugus tugas pesantren. Beberapa kegiatan yang bakal dilakukan di antaranya penyediaan pojok wifi hingga taman belajar.

- Advertisement -

 

PAKUSARI, RADARJEMBER.ID – Langkah preventif untuk menambah daftar panjang pernikahan dini sebagai akibat dari putus sekolah tak bisa dilakukan hanya melalui sosialisasi. Apalagi fenomena pernikahan dini menjadi sangat marak di masyarakat. Karena itu, harus ada pemberdayaan dan edukasi pada anak mengenai bahaya pernikahan dini. Spirit ini terejawantahkan melalui pembentukan Forum Anak Pesantren (FAP).

Kepala Bidang Perlindungan Anak Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, dan Keluarga Berencana (DP3AKB) Kabupaten Jember Joko Sutriwanto mengungkapkan bahwa salah satu upaya untuk mengatasi fenomena tersebut yaitu dengan mendirikan FAP. Secara umum, FAP tidak jauh berbeda dengan fungsi forum anak pada umumnya, hanya lingkupnya di pesantren. Otoritas terbesarnya dipegang oleh yayasan. “Melalui forum anak berbasis pesantren ini, kita memberikan sosialisasi dan edukasi perlindungan anak. Jika diperlukan tindak lanjut, sosialisasi kepada wali murid, kami siap,” ungkap Joko, Kamis (16/9) kemarin.

Adapun perbedaan yang paling tampak adalah penggunaan anggaran. Jika forum anak menggunakan anggaran yang dialokasikan pemerintah, namun di pondok pesantren mereka menggunakan dana mandiri. “Jika dibutuhkan untuk mengusulkan, kami siap untuk menjembatani,” imbuhnya.

Sedangkan pembimbing forum anak pesantren diambil dari gugus tugas berbasis pesantren. Anggota gugus tugas ini adalah remaja yang berusia lebih dari 18 tahun. “Bisa terdiri atas pengurus pesantren,” Imbuhnya lagi.

Semua kegiatan yang akan dilakukan forum anak pesantren tidak diintervensi secara langsung oleh DP3AKB. Namun, diatur melalui gugus tugas pesantren. Beberapa kegiatan yang bakal dilakukan di antaranya penyediaan pojok wifi hingga taman belajar.

 

PAKUSARI, RADARJEMBER.ID – Langkah preventif untuk menambah daftar panjang pernikahan dini sebagai akibat dari putus sekolah tak bisa dilakukan hanya melalui sosialisasi. Apalagi fenomena pernikahan dini menjadi sangat marak di masyarakat. Karena itu, harus ada pemberdayaan dan edukasi pada anak mengenai bahaya pernikahan dini. Spirit ini terejawantahkan melalui pembentukan Forum Anak Pesantren (FAP).

Kepala Bidang Perlindungan Anak Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, dan Keluarga Berencana (DP3AKB) Kabupaten Jember Joko Sutriwanto mengungkapkan bahwa salah satu upaya untuk mengatasi fenomena tersebut yaitu dengan mendirikan FAP. Secara umum, FAP tidak jauh berbeda dengan fungsi forum anak pada umumnya, hanya lingkupnya di pesantren. Otoritas terbesarnya dipegang oleh yayasan. “Melalui forum anak berbasis pesantren ini, kita memberikan sosialisasi dan edukasi perlindungan anak. Jika diperlukan tindak lanjut, sosialisasi kepada wali murid, kami siap,” ungkap Joko, Kamis (16/9) kemarin.

Adapun perbedaan yang paling tampak adalah penggunaan anggaran. Jika forum anak menggunakan anggaran yang dialokasikan pemerintah, namun di pondok pesantren mereka menggunakan dana mandiri. “Jika dibutuhkan untuk mengusulkan, kami siap untuk menjembatani,” imbuhnya.

Sedangkan pembimbing forum anak pesantren diambil dari gugus tugas berbasis pesantren. Anggota gugus tugas ini adalah remaja yang berusia lebih dari 18 tahun. “Bisa terdiri atas pengurus pesantren,” Imbuhnya lagi.

Semua kegiatan yang akan dilakukan forum anak pesantren tidak diintervensi secara langsung oleh DP3AKB. Namun, diatur melalui gugus tugas pesantren. Beberapa kegiatan yang bakal dilakukan di antaranya penyediaan pojok wifi hingga taman belajar.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/