alexametrics
29.5 C
Jember
Wednesday, 5 October 2022

Keren ! Dari Bertani Bisa Buka Lapangan Kerja

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Di muda tidak harus menjadi pegawai. Tapi, pemuda harus bisa jadi daya ungkit perekonomian, setelah dua tahun dilanda pandemi Covid-19. Lewat keahlian masing-masing, pemuda bisa berkontribusi terhadap ekonomi. Karenanya, semangat membangkitkan ekonomi inilah menjadi moment dalam perayaan Hari Kemerdekaan RI ke 77.

Pemdes dan Warga di Jember Bentangkan Merah Putih Sepanjang 3.000 Meter

Pemuda yang bergerak di bidang pertanian di antaranya M Ni’am Syukron Makmun, 28; Ahmad Rafi Aziz, 27; Clement billy Hensie, 22; dan Stefani Jessica Herlyana Suherman, 22. Bergerak di pertanian organik, usahanya di Dusun Purwojati, Desa Dukuhdempok, Kecamatan Wuluhan, mereka beri nama Sie Farm. Usaha itu didirikan pada saat pandemi melanda, yaitu tahun 2020. “Dulu hanya satu instalasi hidroponik. Sekarang setidaknya ada 27 ribu lubang tanaman hidroponik,” ucap Stefani Jessica.

Mobile_AP_Rectangle 2

Dengan produksi dan kapasitas yang besar itu Sie Farm per harinya bisa memanen maksimal 40 kilogram selada. “Itu sudah termasuk jumlah yang sangat besar untuk pasar selada yang ada di Jember,” tuturnya.

Sie Farm telah menguasai pasar di Jember selatan. Konsumennya berasal dari kafe, restoran, dan pasar. Salah satu kunci keberhasilannya, ucap dia, adalah konsisten produksi. “Kami punya produksi besar dan konsisten. Sehingga, pelanggan ada kepastian untuk mendapatkannya. Inilah yang membuat berbeda dengan petani hidroponik pada umumnya,” ucapnya.

Dia menjelaskan, sebelum terjun ke dunia pertanian. Stefani Jessica bersama temannya sudah meninjau dan menghitung kebutuhan konsumen. Sebab, produk pertanian itu dibutuhkan setiap hari. Karena itu, dirinya memantapkan diri bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari. “Memenuhi kebutuhan setiap hari dengan jumlah yang sama. Inilah yang harus kami penuhi,” tegasnya.

Mengenai omzet, kata dia, setidaknya menghasilkan Rp 25 juta setiap minggu dengan penjualan minimal satu ton selada. “Per minggu minimal 1 ton selada dengan harga terendah Rp 25 ribu per kilogram. Sehingga mendapatkan setidaknya Rp 25 juta,” ucap mahasiswa Pertanian Agribisnis Universitas Jember (Unej) itu.

Kini, tak hanya menekuni bidang hidroponik, Sie Farm telah merambat ke komoditas bawang merah komersial. Dari awal tanam hanya setengah hektare, kini sudah meluas menjadi 1,5 hektare. Omzet yang diterima setiap 2 bulan sekitar Rp 65 juta.

Stefani dan kawan-kawan adalah salah satu contoh petani muda yang sampai saat ini terus berjuang untuk memajukan pertanian di Indonesia. Selain itu, dengan pertanian juga bisa menyerap tenaga kerja. Setidaknya ada tujuh pegawai yang rutin bekerja, sedangkan saat pengolahan lahan membutuhkan lebih banyak lagi tenaga, sekitar 20 orang. “Sektor pertanian ini menjadi bidang yang banyak menyerap tenaga kerja. Jadi, tidak hanya berkontribusi soal pangan, tapi juga memberikan lapangan pekerjaan bagi masyarakat,” paparnya.

Menurutnya, petani merdeka itu petani yang tidak hanya menanam, tapi tahu bisnisnya. Jadi, harus mempunyai sistem terkait penjadwalan stok dan sebagainya. Sehingga, tidak hanya ikut alur saja. Saat ini, menurutnya, petani belum merdeka. “Contohnya saja terkait harga pupuk mahal. Kenyatannya tidak hanya mahal, tapi sulit untuk didapat,” terangnya.

Kemudian, kata dia, kurang terlidunginya harga produksi pertanian. “Saat harga murah, akhirnya petani gulung tikar,” lanjutnya.

Di Hari Kemerdekaan RI ini, dia menambahkan, peran pemuda sangat diperlukan untuk keberlanjutan pertanian di masa mendatang. “Menurut saya anak muda memiliki kebebasan. Orang tua mengharapkan kerja yang berseragam seperti PNS. Tapi sebagai anak muda perlu adanya mendengar kata hatinya. Jangan malu jadi petani. Selama manusia membutuhkan makan, maka pertanian tetap berpotensi,” pungkasnya.

Jurnalis: mg3
Fotografer: STEFANI UNTUK RADAR JEMBER
Editor: Dwi Siswanto

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Di muda tidak harus menjadi pegawai. Tapi, pemuda harus bisa jadi daya ungkit perekonomian, setelah dua tahun dilanda pandemi Covid-19. Lewat keahlian masing-masing, pemuda bisa berkontribusi terhadap ekonomi. Karenanya, semangat membangkitkan ekonomi inilah menjadi moment dalam perayaan Hari Kemerdekaan RI ke 77.

Pemdes dan Warga di Jember Bentangkan Merah Putih Sepanjang 3.000 Meter

Pemuda yang bergerak di bidang pertanian di antaranya M Ni’am Syukron Makmun, 28; Ahmad Rafi Aziz, 27; Clement billy Hensie, 22; dan Stefani Jessica Herlyana Suherman, 22. Bergerak di pertanian organik, usahanya di Dusun Purwojati, Desa Dukuhdempok, Kecamatan Wuluhan, mereka beri nama Sie Farm. Usaha itu didirikan pada saat pandemi melanda, yaitu tahun 2020. “Dulu hanya satu instalasi hidroponik. Sekarang setidaknya ada 27 ribu lubang tanaman hidroponik,” ucap Stefani Jessica.

Dengan produksi dan kapasitas yang besar itu Sie Farm per harinya bisa memanen maksimal 40 kilogram selada. “Itu sudah termasuk jumlah yang sangat besar untuk pasar selada yang ada di Jember,” tuturnya.

Sie Farm telah menguasai pasar di Jember selatan. Konsumennya berasal dari kafe, restoran, dan pasar. Salah satu kunci keberhasilannya, ucap dia, adalah konsisten produksi. “Kami punya produksi besar dan konsisten. Sehingga, pelanggan ada kepastian untuk mendapatkannya. Inilah yang membuat berbeda dengan petani hidroponik pada umumnya,” ucapnya.

Dia menjelaskan, sebelum terjun ke dunia pertanian. Stefani Jessica bersama temannya sudah meninjau dan menghitung kebutuhan konsumen. Sebab, produk pertanian itu dibutuhkan setiap hari. Karena itu, dirinya memantapkan diri bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari. “Memenuhi kebutuhan setiap hari dengan jumlah yang sama. Inilah yang harus kami penuhi,” tegasnya.

Mengenai omzet, kata dia, setidaknya menghasilkan Rp 25 juta setiap minggu dengan penjualan minimal satu ton selada. “Per minggu minimal 1 ton selada dengan harga terendah Rp 25 ribu per kilogram. Sehingga mendapatkan setidaknya Rp 25 juta,” ucap mahasiswa Pertanian Agribisnis Universitas Jember (Unej) itu.

Kini, tak hanya menekuni bidang hidroponik, Sie Farm telah merambat ke komoditas bawang merah komersial. Dari awal tanam hanya setengah hektare, kini sudah meluas menjadi 1,5 hektare. Omzet yang diterima setiap 2 bulan sekitar Rp 65 juta.

Stefani dan kawan-kawan adalah salah satu contoh petani muda yang sampai saat ini terus berjuang untuk memajukan pertanian di Indonesia. Selain itu, dengan pertanian juga bisa menyerap tenaga kerja. Setidaknya ada tujuh pegawai yang rutin bekerja, sedangkan saat pengolahan lahan membutuhkan lebih banyak lagi tenaga, sekitar 20 orang. “Sektor pertanian ini menjadi bidang yang banyak menyerap tenaga kerja. Jadi, tidak hanya berkontribusi soal pangan, tapi juga memberikan lapangan pekerjaan bagi masyarakat,” paparnya.

Menurutnya, petani merdeka itu petani yang tidak hanya menanam, tapi tahu bisnisnya. Jadi, harus mempunyai sistem terkait penjadwalan stok dan sebagainya. Sehingga, tidak hanya ikut alur saja. Saat ini, menurutnya, petani belum merdeka. “Contohnya saja terkait harga pupuk mahal. Kenyatannya tidak hanya mahal, tapi sulit untuk didapat,” terangnya.

Kemudian, kata dia, kurang terlidunginya harga produksi pertanian. “Saat harga murah, akhirnya petani gulung tikar,” lanjutnya.

Di Hari Kemerdekaan RI ini, dia menambahkan, peran pemuda sangat diperlukan untuk keberlanjutan pertanian di masa mendatang. “Menurut saya anak muda memiliki kebebasan. Orang tua mengharapkan kerja yang berseragam seperti PNS. Tapi sebagai anak muda perlu adanya mendengar kata hatinya. Jangan malu jadi petani. Selama manusia membutuhkan makan, maka pertanian tetap berpotensi,” pungkasnya.

Jurnalis: mg3
Fotografer: STEFANI UNTUK RADAR JEMBER
Editor: Dwi Siswanto

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Di muda tidak harus menjadi pegawai. Tapi, pemuda harus bisa jadi daya ungkit perekonomian, setelah dua tahun dilanda pandemi Covid-19. Lewat keahlian masing-masing, pemuda bisa berkontribusi terhadap ekonomi. Karenanya, semangat membangkitkan ekonomi inilah menjadi moment dalam perayaan Hari Kemerdekaan RI ke 77.

Pemdes dan Warga di Jember Bentangkan Merah Putih Sepanjang 3.000 Meter

Pemuda yang bergerak di bidang pertanian di antaranya M Ni’am Syukron Makmun, 28; Ahmad Rafi Aziz, 27; Clement billy Hensie, 22; dan Stefani Jessica Herlyana Suherman, 22. Bergerak di pertanian organik, usahanya di Dusun Purwojati, Desa Dukuhdempok, Kecamatan Wuluhan, mereka beri nama Sie Farm. Usaha itu didirikan pada saat pandemi melanda, yaitu tahun 2020. “Dulu hanya satu instalasi hidroponik. Sekarang setidaknya ada 27 ribu lubang tanaman hidroponik,” ucap Stefani Jessica.

Dengan produksi dan kapasitas yang besar itu Sie Farm per harinya bisa memanen maksimal 40 kilogram selada. “Itu sudah termasuk jumlah yang sangat besar untuk pasar selada yang ada di Jember,” tuturnya.

Sie Farm telah menguasai pasar di Jember selatan. Konsumennya berasal dari kafe, restoran, dan pasar. Salah satu kunci keberhasilannya, ucap dia, adalah konsisten produksi. “Kami punya produksi besar dan konsisten. Sehingga, pelanggan ada kepastian untuk mendapatkannya. Inilah yang membuat berbeda dengan petani hidroponik pada umumnya,” ucapnya.

Dia menjelaskan, sebelum terjun ke dunia pertanian. Stefani Jessica bersama temannya sudah meninjau dan menghitung kebutuhan konsumen. Sebab, produk pertanian itu dibutuhkan setiap hari. Karena itu, dirinya memantapkan diri bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari. “Memenuhi kebutuhan setiap hari dengan jumlah yang sama. Inilah yang harus kami penuhi,” tegasnya.

Mengenai omzet, kata dia, setidaknya menghasilkan Rp 25 juta setiap minggu dengan penjualan minimal satu ton selada. “Per minggu minimal 1 ton selada dengan harga terendah Rp 25 ribu per kilogram. Sehingga mendapatkan setidaknya Rp 25 juta,” ucap mahasiswa Pertanian Agribisnis Universitas Jember (Unej) itu.

Kini, tak hanya menekuni bidang hidroponik, Sie Farm telah merambat ke komoditas bawang merah komersial. Dari awal tanam hanya setengah hektare, kini sudah meluas menjadi 1,5 hektare. Omzet yang diterima setiap 2 bulan sekitar Rp 65 juta.

Stefani dan kawan-kawan adalah salah satu contoh petani muda yang sampai saat ini terus berjuang untuk memajukan pertanian di Indonesia. Selain itu, dengan pertanian juga bisa menyerap tenaga kerja. Setidaknya ada tujuh pegawai yang rutin bekerja, sedangkan saat pengolahan lahan membutuhkan lebih banyak lagi tenaga, sekitar 20 orang. “Sektor pertanian ini menjadi bidang yang banyak menyerap tenaga kerja. Jadi, tidak hanya berkontribusi soal pangan, tapi juga memberikan lapangan pekerjaan bagi masyarakat,” paparnya.

Menurutnya, petani merdeka itu petani yang tidak hanya menanam, tapi tahu bisnisnya. Jadi, harus mempunyai sistem terkait penjadwalan stok dan sebagainya. Sehingga, tidak hanya ikut alur saja. Saat ini, menurutnya, petani belum merdeka. “Contohnya saja terkait harga pupuk mahal. Kenyatannya tidak hanya mahal, tapi sulit untuk didapat,” terangnya.

Kemudian, kata dia, kurang terlidunginya harga produksi pertanian. “Saat harga murah, akhirnya petani gulung tikar,” lanjutnya.

Di Hari Kemerdekaan RI ini, dia menambahkan, peran pemuda sangat diperlukan untuk keberlanjutan pertanian di masa mendatang. “Menurut saya anak muda memiliki kebebasan. Orang tua mengharapkan kerja yang berseragam seperti PNS. Tapi sebagai anak muda perlu adanya mendengar kata hatinya. Jangan malu jadi petani. Selama manusia membutuhkan makan, maka pertanian tetap berpotensi,” pungkasnya.

Jurnalis: mg3
Fotografer: STEFANI UNTUK RADAR JEMBER
Editor: Dwi Siswanto

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/