alexametrics
23.5 C
Jember
Thursday, 18 August 2022

Hujan Tetap Antar Koran, Prinsipnya Tak Boleh Basah

Peran loper kini tak mudah ditemui. Tetapi ada beberapa dari mereka yang tetap eksis mengantarkan koran Jawa Pos Radar Jember langsung ke pelanggan ataupun menjual eceran. Salah satunya Moch. Andri Amin. Dirinya mulai keliling berjualan koran, bahkan sejak harga koran masih Rp 250. Seperti apa kisahnya?

Mobile_AP_Rectangle 1

Sebelum bekerja menjadi loper, dirinya adalah seorang kuli bangunan. Awalnya, adalah sang adik yang lebih dulu berjualan koran di kawasan Universitas Jember. Tetapi, kini Amin sendiri yang pindah haluan menjadi loper, sedangkan adiknya justru berhenti.

Empat tahun lalu, Amin mendapat cobaan. Dirinya menderita sakit yang tidak ada diagnosis medisnya. Punggungnya tiba-tiba terasa nyeri dan sakit. Biasanya dipijat saja sudah enakan, Amin mengaku tak sembuh-sembuh selama satu tahun.

“Badan saya sampai kurus. Ada seperti bekas atau bengkak gitu di dada saya ini. Tapi alhamdulillah, akhirnya bisa sembuh pakai pengobatan alternatif,” ujarnya, sembari menunjukkan bekas luka di dadanya.

Mobile_AP_Rectangle 2

Dirinya menyebut, saat sakit itu para pelanggannya banyak yang pindah loper. Sebab, memang dirinya tak bisa mengantarkan koran ke pembaca sementara waktu. Sekitar tahun 2018 lalu, Amin akhirnya kembali berkeliling. Tubuhnya pun mulai membaik. Tak lagi kurus, mulai berisi kembali. “Alhamdulilah bisa keliling lagi jual koran ke orang-orang,” imbuhnya.

Selama berjualan koran, Amin beruntung dapat berkenalan dengan banyak orang. “Hubungannya tambah luas. Tapi saya tidak mau bicara hasil jualan koran ini. Yang penting cukup untuk menghidupi istri dan sekolahkan anak,” jelas dia.

Bahkan, dirinya bercanda mampu membangun rumah, kredit sepeda motor yang saat ini sudah lunas, serta menyekolahkan ketiga anaknya dari pekerjaannya sebagai loper. Kini per harinya Amin mengambil sekitar 25 hingga 30 koran dari agen untuk dijual eceran maupun mengantarnya ke pelanggan kantor-kantor. “Untuk Jawa Pos Radar Jember, saya ambil per harinya sekitar 30 koran itulah. Terkadang laku semua, kalau sisa pun hanya lima biji,” ucapnya.

Berbagai rintangan yang dihadapi loper pun tetap dia terjang. Hujan pun harus tetap diterobos. “Hujan pun tetap kirim. Prinsip saya, kalau orangnya basah tidak masalah, yang penting korannya jangan basah. Saya berharap loper-loper ini ada perhatian dari Jawa Pos. Apalagi di masa pandemi dan seterusnya,” beber Amin.

Di sisi lain, dukanya loper mengenai ketetapan waktu kirim ke pelanggan tetap. Kalau telat alias kesiangan pun, tak jarang mereka mendapat omelan. Ketidakpuasan pembaca karena korannya tak datang di pagi hari. “Kalau kirimnya kesiangan, pasti ada alasan yang kuat. Harap maklum. Tetapi tetap saya dan rekan-rekan beri penjelasan, kenapa telat. Mungkin ada kendala di jalan atau hal lainnya,” pungkas Amin.

- Advertisement -

Sebelum bekerja menjadi loper, dirinya adalah seorang kuli bangunan. Awalnya, adalah sang adik yang lebih dulu berjualan koran di kawasan Universitas Jember. Tetapi, kini Amin sendiri yang pindah haluan menjadi loper, sedangkan adiknya justru berhenti.

Empat tahun lalu, Amin mendapat cobaan. Dirinya menderita sakit yang tidak ada diagnosis medisnya. Punggungnya tiba-tiba terasa nyeri dan sakit. Biasanya dipijat saja sudah enakan, Amin mengaku tak sembuh-sembuh selama satu tahun.

“Badan saya sampai kurus. Ada seperti bekas atau bengkak gitu di dada saya ini. Tapi alhamdulillah, akhirnya bisa sembuh pakai pengobatan alternatif,” ujarnya, sembari menunjukkan bekas luka di dadanya.

Dirinya menyebut, saat sakit itu para pelanggannya banyak yang pindah loper. Sebab, memang dirinya tak bisa mengantarkan koran ke pembaca sementara waktu. Sekitar tahun 2018 lalu, Amin akhirnya kembali berkeliling. Tubuhnya pun mulai membaik. Tak lagi kurus, mulai berisi kembali. “Alhamdulilah bisa keliling lagi jual koran ke orang-orang,” imbuhnya.

Selama berjualan koran, Amin beruntung dapat berkenalan dengan banyak orang. “Hubungannya tambah luas. Tapi saya tidak mau bicara hasil jualan koran ini. Yang penting cukup untuk menghidupi istri dan sekolahkan anak,” jelas dia.

Bahkan, dirinya bercanda mampu membangun rumah, kredit sepeda motor yang saat ini sudah lunas, serta menyekolahkan ketiga anaknya dari pekerjaannya sebagai loper. Kini per harinya Amin mengambil sekitar 25 hingga 30 koran dari agen untuk dijual eceran maupun mengantarnya ke pelanggan kantor-kantor. “Untuk Jawa Pos Radar Jember, saya ambil per harinya sekitar 30 koran itulah. Terkadang laku semua, kalau sisa pun hanya lima biji,” ucapnya.

Berbagai rintangan yang dihadapi loper pun tetap dia terjang. Hujan pun harus tetap diterobos. “Hujan pun tetap kirim. Prinsip saya, kalau orangnya basah tidak masalah, yang penting korannya jangan basah. Saya berharap loper-loper ini ada perhatian dari Jawa Pos. Apalagi di masa pandemi dan seterusnya,” beber Amin.

Di sisi lain, dukanya loper mengenai ketetapan waktu kirim ke pelanggan tetap. Kalau telat alias kesiangan pun, tak jarang mereka mendapat omelan. Ketidakpuasan pembaca karena korannya tak datang di pagi hari. “Kalau kirimnya kesiangan, pasti ada alasan yang kuat. Harap maklum. Tetapi tetap saya dan rekan-rekan beri penjelasan, kenapa telat. Mungkin ada kendala di jalan atau hal lainnya,” pungkas Amin.

Sebelum bekerja menjadi loper, dirinya adalah seorang kuli bangunan. Awalnya, adalah sang adik yang lebih dulu berjualan koran di kawasan Universitas Jember. Tetapi, kini Amin sendiri yang pindah haluan menjadi loper, sedangkan adiknya justru berhenti.

Empat tahun lalu, Amin mendapat cobaan. Dirinya menderita sakit yang tidak ada diagnosis medisnya. Punggungnya tiba-tiba terasa nyeri dan sakit. Biasanya dipijat saja sudah enakan, Amin mengaku tak sembuh-sembuh selama satu tahun.

“Badan saya sampai kurus. Ada seperti bekas atau bengkak gitu di dada saya ini. Tapi alhamdulillah, akhirnya bisa sembuh pakai pengobatan alternatif,” ujarnya, sembari menunjukkan bekas luka di dadanya.

Dirinya menyebut, saat sakit itu para pelanggannya banyak yang pindah loper. Sebab, memang dirinya tak bisa mengantarkan koran ke pembaca sementara waktu. Sekitar tahun 2018 lalu, Amin akhirnya kembali berkeliling. Tubuhnya pun mulai membaik. Tak lagi kurus, mulai berisi kembali. “Alhamdulilah bisa keliling lagi jual koran ke orang-orang,” imbuhnya.

Selama berjualan koran, Amin beruntung dapat berkenalan dengan banyak orang. “Hubungannya tambah luas. Tapi saya tidak mau bicara hasil jualan koran ini. Yang penting cukup untuk menghidupi istri dan sekolahkan anak,” jelas dia.

Bahkan, dirinya bercanda mampu membangun rumah, kredit sepeda motor yang saat ini sudah lunas, serta menyekolahkan ketiga anaknya dari pekerjaannya sebagai loper. Kini per harinya Amin mengambil sekitar 25 hingga 30 koran dari agen untuk dijual eceran maupun mengantarnya ke pelanggan kantor-kantor. “Untuk Jawa Pos Radar Jember, saya ambil per harinya sekitar 30 koran itulah. Terkadang laku semua, kalau sisa pun hanya lima biji,” ucapnya.

Berbagai rintangan yang dihadapi loper pun tetap dia terjang. Hujan pun harus tetap diterobos. “Hujan pun tetap kirim. Prinsip saya, kalau orangnya basah tidak masalah, yang penting korannya jangan basah. Saya berharap loper-loper ini ada perhatian dari Jawa Pos. Apalagi di masa pandemi dan seterusnya,” beber Amin.

Di sisi lain, dukanya loper mengenai ketetapan waktu kirim ke pelanggan tetap. Kalau telat alias kesiangan pun, tak jarang mereka mendapat omelan. Ketidakpuasan pembaca karena korannya tak datang di pagi hari. “Kalau kirimnya kesiangan, pasti ada alasan yang kuat. Harap maklum. Tetapi tetap saya dan rekan-rekan beri penjelasan, kenapa telat. Mungkin ada kendala di jalan atau hal lainnya,” pungkas Amin.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/