alexametrics
27.9 C
Jember
Wednesday, 29 June 2022

Hujan Tetap Antar Koran, Prinsipnya Tak Boleh Basah

Peran loper kini tak mudah ditemui. Tetapi ada beberapa dari mereka yang tetap eksis mengantarkan koran Jawa Pos Radar Jember langsung ke pelanggan ataupun menjual eceran. Salah satunya Moch. Andri Amin. Dirinya mulai keliling berjualan koran, bahkan sejak harga koran masih Rp 250. Seperti apa kisahnya?

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Pagi hari sembari menikmati kopi dan cemilan, rasanya kurang lengkap kalau belum ada Jawa Pos Radar Jember di sampingnya. Koran di pagi hari yang berada di rumah ataupun ruangan kantor pembaca tidak bisa sampai tanpa ada jasa seorang loper. Ya, loper yang mengirimkan koran itu ke pelanggannya. Baik di rumah ataupun kantor-kantor yang sudah berlangganan.

Peran loper cukup penting dalam bisnis media cetak. Mereka juga mencari nafkah dari perusahaan media cetak yang tetap eksis hingga sekarang ini. Nasib keluarga mereka pun bergantung pada media cetak yang masih bernapas. Mereka menghubungkan pekerja media dengan pembaca.

Perubahan zaman pun perlahan mengikis semangat para loper. Berita media daring pun lebih mudah dan murah didapatkan saat ini. Tetapi, media cetak harian tetap tak kalah, dengan menyajikan berita faktual serta tepercaya. Itulah yang selalu ditunggu pembaca. Meski begitu, masih ada saja para loper yang tetap berkeliling.

Mobile_AP_Rectangle 2

Salah satunya Moch Andri Amin. Pria paruh baya yang akrab disapa Amin atau Min ini tetap eksis menyajikan Jawa Pos Radar Jember secara eceran ataupun diantar kepada pembaca yang sudah berlangganan.

Pria yang tinggal di Kelurahan Mangli, Kecamatan Kaliwates, ini mengaku sudah sejak tahun 1990-an menjadi loper. “Mulai kerja jadi loper sejak harga Jawa Pos dulu Rp 250. Dulu belum ada Jawa Pos Radar Jember, hanya Jawa Pos saja,” ungkapnya.

Dulu, kata dia, para pembaca di Jember selalu menantikan halaman Jawa Timur yang ada di Jawa Pos untuk mencari berita daerah lokal. Sebab, berita Jember dulunya hanya terbit di halaman Jawa Timur Jawa Pos saja. Akhirnya, setelah tahun 1999 muncullah Jawa Pos Radar Jember hingga saat ini. Berita lokal pun tersaji di Jawa Pos Radar Jember dengan tetap berada satu lembaran bersama Jawa Pos.

“Dulu kalau setor ke agen Rp 200. Hasil keuntungannya cuma Rp 50. Dulu sampai sekarang Jawa Pos cukup menguasai, tetap dicari-cari orang. Sekarang juga begitu, kalau berita lokal yang dicari ya Jawa Pos Radar Jember,” beber Amin.

Ayah empat anak ini pun sudah memiliki rute tersendiri untuk menjajakan korannya dan mengirim koran untuk pelanggan. “Dulu saya ambil korannya di agen Harto yang ada di daerah Patrang. Lanjut jalan kaki ke RS Soebandi, terus ke arah RS DKT, kodim, pengadilan negeri, pengadilan agama, kampus, dan kejaksaan,” jelasnya kepada Jawa Pos Radar Jember.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Pagi hari sembari menikmati kopi dan cemilan, rasanya kurang lengkap kalau belum ada Jawa Pos Radar Jember di sampingnya. Koran di pagi hari yang berada di rumah ataupun ruangan kantor pembaca tidak bisa sampai tanpa ada jasa seorang loper. Ya, loper yang mengirimkan koran itu ke pelanggannya. Baik di rumah ataupun kantor-kantor yang sudah berlangganan.

Peran loper cukup penting dalam bisnis media cetak. Mereka juga mencari nafkah dari perusahaan media cetak yang tetap eksis hingga sekarang ini. Nasib keluarga mereka pun bergantung pada media cetak yang masih bernapas. Mereka menghubungkan pekerja media dengan pembaca.

Perubahan zaman pun perlahan mengikis semangat para loper. Berita media daring pun lebih mudah dan murah didapatkan saat ini. Tetapi, media cetak harian tetap tak kalah, dengan menyajikan berita faktual serta tepercaya. Itulah yang selalu ditunggu pembaca. Meski begitu, masih ada saja para loper yang tetap berkeliling.

Salah satunya Moch Andri Amin. Pria paruh baya yang akrab disapa Amin atau Min ini tetap eksis menyajikan Jawa Pos Radar Jember secara eceran ataupun diantar kepada pembaca yang sudah berlangganan.

Pria yang tinggal di Kelurahan Mangli, Kecamatan Kaliwates, ini mengaku sudah sejak tahun 1990-an menjadi loper. “Mulai kerja jadi loper sejak harga Jawa Pos dulu Rp 250. Dulu belum ada Jawa Pos Radar Jember, hanya Jawa Pos saja,” ungkapnya.

Dulu, kata dia, para pembaca di Jember selalu menantikan halaman Jawa Timur yang ada di Jawa Pos untuk mencari berita daerah lokal. Sebab, berita Jember dulunya hanya terbit di halaman Jawa Timur Jawa Pos saja. Akhirnya, setelah tahun 1999 muncullah Jawa Pos Radar Jember hingga saat ini. Berita lokal pun tersaji di Jawa Pos Radar Jember dengan tetap berada satu lembaran bersama Jawa Pos.

“Dulu kalau setor ke agen Rp 200. Hasil keuntungannya cuma Rp 50. Dulu sampai sekarang Jawa Pos cukup menguasai, tetap dicari-cari orang. Sekarang juga begitu, kalau berita lokal yang dicari ya Jawa Pos Radar Jember,” beber Amin.

Ayah empat anak ini pun sudah memiliki rute tersendiri untuk menjajakan korannya dan mengirim koran untuk pelanggan. “Dulu saya ambil korannya di agen Harto yang ada di daerah Patrang. Lanjut jalan kaki ke RS Soebandi, terus ke arah RS DKT, kodim, pengadilan negeri, pengadilan agama, kampus, dan kejaksaan,” jelasnya kepada Jawa Pos Radar Jember.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Pagi hari sembari menikmati kopi dan cemilan, rasanya kurang lengkap kalau belum ada Jawa Pos Radar Jember di sampingnya. Koran di pagi hari yang berada di rumah ataupun ruangan kantor pembaca tidak bisa sampai tanpa ada jasa seorang loper. Ya, loper yang mengirimkan koran itu ke pelanggannya. Baik di rumah ataupun kantor-kantor yang sudah berlangganan.

Peran loper cukup penting dalam bisnis media cetak. Mereka juga mencari nafkah dari perusahaan media cetak yang tetap eksis hingga sekarang ini. Nasib keluarga mereka pun bergantung pada media cetak yang masih bernapas. Mereka menghubungkan pekerja media dengan pembaca.

Perubahan zaman pun perlahan mengikis semangat para loper. Berita media daring pun lebih mudah dan murah didapatkan saat ini. Tetapi, media cetak harian tetap tak kalah, dengan menyajikan berita faktual serta tepercaya. Itulah yang selalu ditunggu pembaca. Meski begitu, masih ada saja para loper yang tetap berkeliling.

Salah satunya Moch Andri Amin. Pria paruh baya yang akrab disapa Amin atau Min ini tetap eksis menyajikan Jawa Pos Radar Jember secara eceran ataupun diantar kepada pembaca yang sudah berlangganan.

Pria yang tinggal di Kelurahan Mangli, Kecamatan Kaliwates, ini mengaku sudah sejak tahun 1990-an menjadi loper. “Mulai kerja jadi loper sejak harga Jawa Pos dulu Rp 250. Dulu belum ada Jawa Pos Radar Jember, hanya Jawa Pos saja,” ungkapnya.

Dulu, kata dia, para pembaca di Jember selalu menantikan halaman Jawa Timur yang ada di Jawa Pos untuk mencari berita daerah lokal. Sebab, berita Jember dulunya hanya terbit di halaman Jawa Timur Jawa Pos saja. Akhirnya, setelah tahun 1999 muncullah Jawa Pos Radar Jember hingga saat ini. Berita lokal pun tersaji di Jawa Pos Radar Jember dengan tetap berada satu lembaran bersama Jawa Pos.

“Dulu kalau setor ke agen Rp 200. Hasil keuntungannya cuma Rp 50. Dulu sampai sekarang Jawa Pos cukup menguasai, tetap dicari-cari orang. Sekarang juga begitu, kalau berita lokal yang dicari ya Jawa Pos Radar Jember,” beber Amin.

Ayah empat anak ini pun sudah memiliki rute tersendiri untuk menjajakan korannya dan mengirim koran untuk pelanggan. “Dulu saya ambil korannya di agen Harto yang ada di daerah Patrang. Lanjut jalan kaki ke RS Soebandi, terus ke arah RS DKT, kodim, pengadilan negeri, pengadilan agama, kampus, dan kejaksaan,” jelasnya kepada Jawa Pos Radar Jember.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/