alexametrics
23.3 C
Jember
Thursday, 30 June 2022

Rukun, Masjid dan Kelenteng Berdampingan

Mobile_AP_Rectangle 1

GLAGAHWERO, Radar Jember – Indonesia merupakan negara yang majemuk dan multikultural. Ada lima 5 agama, sejumlah ras, suku, budaya, dan semua itu hidup rukun berdampingan.

BACA JUGA : Amankan Waisak Turunkan Sembilan Ratus Lebih Personil

Salah satu contoh kehidupan rukun ada di lingkungan RT 02 RW 06, Dusun Karangasem Timur, Desa Glagahwero, Kecamatan Panti, Jember. Di sana ada Masjid Al-Barokah yang berdampingan dengan Kelenteng Pay Lien San yang berjarak sekitar sepuluh meter saja.

Mobile_AP_Rectangle 2

Bendahara Takmir Masjid Al-Barokah, Hasan, mengatakan, masyarakat sekitar masjid dan kelenteng selama puluhan tahun dapat hidup rukun berdampingan. “Alhamdulillah, warga di sini hidup rukun. Tidak pernah ada masalah atau kejadian yang mengganggu aktivitas ibadah kedua tempat ibadah tersebut,” jelas Hasan yang juga Ketua RW 06 tersebut.

Kelenteng itu dibangun sekitar tahun 1950-an. Dulunya masih berbentuk rumah dan sempit. Kemudian, pada tahun 2001 direnovasi hingga luas seperti sekarang. Sedangkan masjid tersebut dulunya masih musala, juga direnovasi pada tahun yang sama sehingga menjadi masjid. “Jadi, kalau ditanya lebih dulu mana, jawabannya lebih dulu kelenteng daripada masjid ini,” terangnya kepada Jawa Pos Radar Jember.

Penjaga kelenteng, Miroso, menjelaskan, jemaah kelenteng ini bukan dari warga setempat saja. Ada dari luar kota, ada yang dari Jenggawah, Kaliwates, dan Tanggul. “Cuma tempat ibadahnya di sini,” tuturnya.

- Advertisement -

GLAGAHWERO, Radar Jember – Indonesia merupakan negara yang majemuk dan multikultural. Ada lima 5 agama, sejumlah ras, suku, budaya, dan semua itu hidup rukun berdampingan.

BACA JUGA : Amankan Waisak Turunkan Sembilan Ratus Lebih Personil

Salah satu contoh kehidupan rukun ada di lingkungan RT 02 RW 06, Dusun Karangasem Timur, Desa Glagahwero, Kecamatan Panti, Jember. Di sana ada Masjid Al-Barokah yang berdampingan dengan Kelenteng Pay Lien San yang berjarak sekitar sepuluh meter saja.

Bendahara Takmir Masjid Al-Barokah, Hasan, mengatakan, masyarakat sekitar masjid dan kelenteng selama puluhan tahun dapat hidup rukun berdampingan. “Alhamdulillah, warga di sini hidup rukun. Tidak pernah ada masalah atau kejadian yang mengganggu aktivitas ibadah kedua tempat ibadah tersebut,” jelas Hasan yang juga Ketua RW 06 tersebut.

Kelenteng itu dibangun sekitar tahun 1950-an. Dulunya masih berbentuk rumah dan sempit. Kemudian, pada tahun 2001 direnovasi hingga luas seperti sekarang. Sedangkan masjid tersebut dulunya masih musala, juga direnovasi pada tahun yang sama sehingga menjadi masjid. “Jadi, kalau ditanya lebih dulu mana, jawabannya lebih dulu kelenteng daripada masjid ini,” terangnya kepada Jawa Pos Radar Jember.

Penjaga kelenteng, Miroso, menjelaskan, jemaah kelenteng ini bukan dari warga setempat saja. Ada dari luar kota, ada yang dari Jenggawah, Kaliwates, dan Tanggul. “Cuma tempat ibadahnya di sini,” tuturnya.

GLAGAHWERO, Radar Jember – Indonesia merupakan negara yang majemuk dan multikultural. Ada lima 5 agama, sejumlah ras, suku, budaya, dan semua itu hidup rukun berdampingan.

BACA JUGA : Amankan Waisak Turunkan Sembilan Ratus Lebih Personil

Salah satu contoh kehidupan rukun ada di lingkungan RT 02 RW 06, Dusun Karangasem Timur, Desa Glagahwero, Kecamatan Panti, Jember. Di sana ada Masjid Al-Barokah yang berdampingan dengan Kelenteng Pay Lien San yang berjarak sekitar sepuluh meter saja.

Bendahara Takmir Masjid Al-Barokah, Hasan, mengatakan, masyarakat sekitar masjid dan kelenteng selama puluhan tahun dapat hidup rukun berdampingan. “Alhamdulillah, warga di sini hidup rukun. Tidak pernah ada masalah atau kejadian yang mengganggu aktivitas ibadah kedua tempat ibadah tersebut,” jelas Hasan yang juga Ketua RW 06 tersebut.

Kelenteng itu dibangun sekitar tahun 1950-an. Dulunya masih berbentuk rumah dan sempit. Kemudian, pada tahun 2001 direnovasi hingga luas seperti sekarang. Sedangkan masjid tersebut dulunya masih musala, juga direnovasi pada tahun yang sama sehingga menjadi masjid. “Jadi, kalau ditanya lebih dulu mana, jawabannya lebih dulu kelenteng daripada masjid ini,” terangnya kepada Jawa Pos Radar Jember.

Penjaga kelenteng, Miroso, menjelaskan, jemaah kelenteng ini bukan dari warga setempat saja. Ada dari luar kota, ada yang dari Jenggawah, Kaliwates, dan Tanggul. “Cuma tempat ibadahnya di sini,” tuturnya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/