alexametrics
23.1 C
Jember
Tuesday, 28 June 2022

Tak Terawat, Jadi Rumah Kecebong hingga Walet

Gedung menjulang tinggi yang berada persis depan alun-alun ini tampak gagah. Orang-orang menyebutnya gedung eks BHS atau Bank Harapan Sentosa. Kini, bangunan itu ditempati Kantor Dinas Penanaman Modal Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPM PTSP). Tapi, tahukah bagaimana kondisi dalam gedung yang dibangun era Bupati Samsul Hadi Siswoyo tersebut?

Mobile_AP_Rectangle 1

Debu tebal itu pun selalu ada di setiap lantai. Termasuk lantai kelima, sebagai lantai tertinggi. Lantai lima ini juga ada ruangan yang rasanya dijadikan tempat pertemuan. Terdapat kerangka panggung yang sudah dimakan usia. Ruangan itu jauh lebih gelap ketimbang ruangan lain di lantai itu. Hampir menyerupai basemen. Beberapa ruangan juga menunjukkan keramik yang sudah pecah-pecah. Langkah kaki harus ekstra hati-hati menyusuri setiap ruangan di bangunan ini. Sebab, beberapa jendela sudah reyot. Bahkan, tak ada kacanya. Reruntuhan plafon juga jadi tambahan pemandangan gedung itu.

Di balik jendela lantai tertinggi, tersimpan lanskap menawan. Di sisi utara ada gugusan Pegunungan Argopuro yang seolah menyapa. Perumahan yang baru terbangun dan dikelilingi persawahan juga tampak. Sisi timur, bisa disaksikan langsung dari atas, aktivitas di dalam Lapas Kelas II A Jember. Sisi barat ada Masjid Jamik, termasuk lalu lalang kendaraan yang melintas di sekitar alun-alun.

Bagian atas terdapat sangkar burung sriti dan walet.

Tak terasa hari semakin sore, burung-burung sriti dan walet pun menghiasi eks gedung BHS. Mereka keluar masuk seolah menyapa. Menyapa gedung yang minim sekali penghuninya tersebut. Jika sendirian, meski di siang hari, bulu kuduk pasti merinding. Suasananya menyerupai film horor Lawang Sewu yang dirilis MD Pictures dan Dee Company pada 2017 lalu.

Mobile_AP_Rectangle 2

Keluar dari gedung eks BHS terasa lega. Dari bawah, bisa disaksikan kemegahan gedung yang dibangun pada era Bupati Samsul Hadi Siswoyo, sekitar awal 2000-an lalu. November 2016, gedung ini sempat diwacanakan bakal dipakai untuk museum benda purbakala. Namun hingga kini, tak pernah terealisasi.

Walau masih ditempati sebagai kantor dinas, tapi secara umum bangunan ini terkesan tak terawat. Bahkan, dari luar terlihat sarang-sarang burung walet dan sriti yang menghiasi plafon paling atas gedung tersebut. Sarang serupa tanah itu menempel di setiap sudut atap bangunan. Sebenarnya, saat gedung itu dibangun, desain awal bakal digunakan untuk apa?

- Advertisement -

Debu tebal itu pun selalu ada di setiap lantai. Termasuk lantai kelima, sebagai lantai tertinggi. Lantai lima ini juga ada ruangan yang rasanya dijadikan tempat pertemuan. Terdapat kerangka panggung yang sudah dimakan usia. Ruangan itu jauh lebih gelap ketimbang ruangan lain di lantai itu. Hampir menyerupai basemen. Beberapa ruangan juga menunjukkan keramik yang sudah pecah-pecah. Langkah kaki harus ekstra hati-hati menyusuri setiap ruangan di bangunan ini. Sebab, beberapa jendela sudah reyot. Bahkan, tak ada kacanya. Reruntuhan plafon juga jadi tambahan pemandangan gedung itu.

Di balik jendela lantai tertinggi, tersimpan lanskap menawan. Di sisi utara ada gugusan Pegunungan Argopuro yang seolah menyapa. Perumahan yang baru terbangun dan dikelilingi persawahan juga tampak. Sisi timur, bisa disaksikan langsung dari atas, aktivitas di dalam Lapas Kelas II A Jember. Sisi barat ada Masjid Jamik, termasuk lalu lalang kendaraan yang melintas di sekitar alun-alun.

Bagian atas terdapat sangkar burung sriti dan walet.

Tak terasa hari semakin sore, burung-burung sriti dan walet pun menghiasi eks gedung BHS. Mereka keluar masuk seolah menyapa. Menyapa gedung yang minim sekali penghuninya tersebut. Jika sendirian, meski di siang hari, bulu kuduk pasti merinding. Suasananya menyerupai film horor Lawang Sewu yang dirilis MD Pictures dan Dee Company pada 2017 lalu.

Keluar dari gedung eks BHS terasa lega. Dari bawah, bisa disaksikan kemegahan gedung yang dibangun pada era Bupati Samsul Hadi Siswoyo, sekitar awal 2000-an lalu. November 2016, gedung ini sempat diwacanakan bakal dipakai untuk museum benda purbakala. Namun hingga kini, tak pernah terealisasi.

Walau masih ditempati sebagai kantor dinas, tapi secara umum bangunan ini terkesan tak terawat. Bahkan, dari luar terlihat sarang-sarang burung walet dan sriti yang menghiasi plafon paling atas gedung tersebut. Sarang serupa tanah itu menempel di setiap sudut atap bangunan. Sebenarnya, saat gedung itu dibangun, desain awal bakal digunakan untuk apa?

Debu tebal itu pun selalu ada di setiap lantai. Termasuk lantai kelima, sebagai lantai tertinggi. Lantai lima ini juga ada ruangan yang rasanya dijadikan tempat pertemuan. Terdapat kerangka panggung yang sudah dimakan usia. Ruangan itu jauh lebih gelap ketimbang ruangan lain di lantai itu. Hampir menyerupai basemen. Beberapa ruangan juga menunjukkan keramik yang sudah pecah-pecah. Langkah kaki harus ekstra hati-hati menyusuri setiap ruangan di bangunan ini. Sebab, beberapa jendela sudah reyot. Bahkan, tak ada kacanya. Reruntuhan plafon juga jadi tambahan pemandangan gedung itu.

Di balik jendela lantai tertinggi, tersimpan lanskap menawan. Di sisi utara ada gugusan Pegunungan Argopuro yang seolah menyapa. Perumahan yang baru terbangun dan dikelilingi persawahan juga tampak. Sisi timur, bisa disaksikan langsung dari atas, aktivitas di dalam Lapas Kelas II A Jember. Sisi barat ada Masjid Jamik, termasuk lalu lalang kendaraan yang melintas di sekitar alun-alun.

Bagian atas terdapat sangkar burung sriti dan walet.

Tak terasa hari semakin sore, burung-burung sriti dan walet pun menghiasi eks gedung BHS. Mereka keluar masuk seolah menyapa. Menyapa gedung yang minim sekali penghuninya tersebut. Jika sendirian, meski di siang hari, bulu kuduk pasti merinding. Suasananya menyerupai film horor Lawang Sewu yang dirilis MD Pictures dan Dee Company pada 2017 lalu.

Keluar dari gedung eks BHS terasa lega. Dari bawah, bisa disaksikan kemegahan gedung yang dibangun pada era Bupati Samsul Hadi Siswoyo, sekitar awal 2000-an lalu. November 2016, gedung ini sempat diwacanakan bakal dipakai untuk museum benda purbakala. Namun hingga kini, tak pernah terealisasi.

Walau masih ditempati sebagai kantor dinas, tapi secara umum bangunan ini terkesan tak terawat. Bahkan, dari luar terlihat sarang-sarang burung walet dan sriti yang menghiasi plafon paling atas gedung tersebut. Sarang serupa tanah itu menempel di setiap sudut atap bangunan. Sebenarnya, saat gedung itu dibangun, desain awal bakal digunakan untuk apa?

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/