alexametrics
22.8 C
Jember
Friday, 27 May 2022

Tak Terawat, Jadi Rumah Kecebong hingga Walet

Gedung menjulang tinggi yang berada persis depan alun-alun ini tampak gagah. Orang-orang menyebutnya gedung eks BHS atau Bank Harapan Sentosa. Kini, bangunan itu ditempati Kantor Dinas Penanaman Modal Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPM PTSP). Tapi, tahukah bagaimana kondisi dalam gedung yang dibangun era Bupati Samsul Hadi Siswoyo tersebut?

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Siang itu, Pardi, tukang becak, ngetem tepat di muka Bank BRI. Sambil menunggu penumpang, dia memandangi kemegahan gedung eks BHS. Gedung lima lantai tersebut memiliki kesan tersendiri baginya. Sebab, sekitar 10 tahun lalu, dia hidup di gedung tersebut. Becaknya pun kerap kali mangkal hingga menginap di sana. “Dulu ramai di sana, sekarang sepi,” ujarnya.

Gedung lama yang oleh masyarakat luas dikenal sebagai BHS tersebut, sebelumnya, banyak ditempati kantor dinas. Di antaranya dinas pasar yang sekarang melebur ke Disperindag, Kantor Pemuda dan Olahraga (kanpora) yang kini menjadi Dispora, Kantor Lingkungan Hidup (KLH) yang saat ini menjadi DLH, dan Kantor Keluarga Berencana (KB) yang kini menjadi satu dengan DP3AKB. Kini, di eks gedung BHS itu cuma ada satu dinas yang menempati, yaitu DPM PTSP. “Dulu ngetem di sana enak, banyak penumpang,” katanya.

Jawa Pos Radar Jember mencoba masuk ke gedung itu hingga menelusuri ruang-ruang yang kini telah kosong. Juga merasakan suasana gedung tertinggi di sekitar alun-alun tersebut. Masuk ke gerbang BHS, juru parkir langsung mengarahkan ke basemen. “Parkir di bawah saja. Tenang, tidak akan banjir karena ada pompanya,” tuturnya.

Mobile_AP_Rectangle 2

Basemen gedung eks BHS ini memang tidak ada genangan air. Ada beberapa mobil dan kendaraan roda dua terparkir di sana. Tapi kondisinya gelap karena tidak ada pencahayaan lampu. Hanya mengandalkan sayu-sayu cahaya matahari. Selain gelap, kesan pertama basemen ini adalah lembap.

Gemericik air juga terdengar di sudut basemen. Satu ruangan dekat pusat suara air itu, ternyata ada genangan air. Tidak terlalu tinggi, bahkan tak sampai semata kaki. Tapi genangan itu berlumut, hingga jadi sarang makhluk hidup lain, kecebong. Bayi katak inilah makhluk hidup yang tinggal di basemen gedung eks BHS tersebut.

Tangga kecil di sudut basemen itu menghubungkan ke lantai dasar untuk menuju kantor DPM PTSP. Namun, Jawa Pos Radar Jember memilih terus menaiki anak tangga belakang gedung. Bukan naik dari anak tangga utama gedung ini. Lewat jalur itu, keadaannya penuh debu. Nyaris di sepanjang anak tangga.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Siang itu, Pardi, tukang becak, ngetem tepat di muka Bank BRI. Sambil menunggu penumpang, dia memandangi kemegahan gedung eks BHS. Gedung lima lantai tersebut memiliki kesan tersendiri baginya. Sebab, sekitar 10 tahun lalu, dia hidup di gedung tersebut. Becaknya pun kerap kali mangkal hingga menginap di sana. “Dulu ramai di sana, sekarang sepi,” ujarnya.

Gedung lama yang oleh masyarakat luas dikenal sebagai BHS tersebut, sebelumnya, banyak ditempati kantor dinas. Di antaranya dinas pasar yang sekarang melebur ke Disperindag, Kantor Pemuda dan Olahraga (kanpora) yang kini menjadi Dispora, Kantor Lingkungan Hidup (KLH) yang saat ini menjadi DLH, dan Kantor Keluarga Berencana (KB) yang kini menjadi satu dengan DP3AKB. Kini, di eks gedung BHS itu cuma ada satu dinas yang menempati, yaitu DPM PTSP. “Dulu ngetem di sana enak, banyak penumpang,” katanya.

Jawa Pos Radar Jember mencoba masuk ke gedung itu hingga menelusuri ruang-ruang yang kini telah kosong. Juga merasakan suasana gedung tertinggi di sekitar alun-alun tersebut. Masuk ke gerbang BHS, juru parkir langsung mengarahkan ke basemen. “Parkir di bawah saja. Tenang, tidak akan banjir karena ada pompanya,” tuturnya.

Basemen gedung eks BHS ini memang tidak ada genangan air. Ada beberapa mobil dan kendaraan roda dua terparkir di sana. Tapi kondisinya gelap karena tidak ada pencahayaan lampu. Hanya mengandalkan sayu-sayu cahaya matahari. Selain gelap, kesan pertama basemen ini adalah lembap.

Gemericik air juga terdengar di sudut basemen. Satu ruangan dekat pusat suara air itu, ternyata ada genangan air. Tidak terlalu tinggi, bahkan tak sampai semata kaki. Tapi genangan itu berlumut, hingga jadi sarang makhluk hidup lain, kecebong. Bayi katak inilah makhluk hidup yang tinggal di basemen gedung eks BHS tersebut.

Tangga kecil di sudut basemen itu menghubungkan ke lantai dasar untuk menuju kantor DPM PTSP. Namun, Jawa Pos Radar Jember memilih terus menaiki anak tangga belakang gedung. Bukan naik dari anak tangga utama gedung ini. Lewat jalur itu, keadaannya penuh debu. Nyaris di sepanjang anak tangga.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Siang itu, Pardi, tukang becak, ngetem tepat di muka Bank BRI. Sambil menunggu penumpang, dia memandangi kemegahan gedung eks BHS. Gedung lima lantai tersebut memiliki kesan tersendiri baginya. Sebab, sekitar 10 tahun lalu, dia hidup di gedung tersebut. Becaknya pun kerap kali mangkal hingga menginap di sana. “Dulu ramai di sana, sekarang sepi,” ujarnya.

Gedung lama yang oleh masyarakat luas dikenal sebagai BHS tersebut, sebelumnya, banyak ditempati kantor dinas. Di antaranya dinas pasar yang sekarang melebur ke Disperindag, Kantor Pemuda dan Olahraga (kanpora) yang kini menjadi Dispora, Kantor Lingkungan Hidup (KLH) yang saat ini menjadi DLH, dan Kantor Keluarga Berencana (KB) yang kini menjadi satu dengan DP3AKB. Kini, di eks gedung BHS itu cuma ada satu dinas yang menempati, yaitu DPM PTSP. “Dulu ngetem di sana enak, banyak penumpang,” katanya.

Jawa Pos Radar Jember mencoba masuk ke gedung itu hingga menelusuri ruang-ruang yang kini telah kosong. Juga merasakan suasana gedung tertinggi di sekitar alun-alun tersebut. Masuk ke gerbang BHS, juru parkir langsung mengarahkan ke basemen. “Parkir di bawah saja. Tenang, tidak akan banjir karena ada pompanya,” tuturnya.

Basemen gedung eks BHS ini memang tidak ada genangan air. Ada beberapa mobil dan kendaraan roda dua terparkir di sana. Tapi kondisinya gelap karena tidak ada pencahayaan lampu. Hanya mengandalkan sayu-sayu cahaya matahari. Selain gelap, kesan pertama basemen ini adalah lembap.

Gemericik air juga terdengar di sudut basemen. Satu ruangan dekat pusat suara air itu, ternyata ada genangan air. Tidak terlalu tinggi, bahkan tak sampai semata kaki. Tapi genangan itu berlumut, hingga jadi sarang makhluk hidup lain, kecebong. Bayi katak inilah makhluk hidup yang tinggal di basemen gedung eks BHS tersebut.

Tangga kecil di sudut basemen itu menghubungkan ke lantai dasar untuk menuju kantor DPM PTSP. Namun, Jawa Pos Radar Jember memilih terus menaiki anak tangga belakang gedung. Bukan naik dari anak tangga utama gedung ini. Lewat jalur itu, keadaannya penuh debu. Nyaris di sepanjang anak tangga.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/