alexametrics
24 C
Jember
Thursday, 19 May 2022

3 Sebab Banjir Bandang Mangli, Developer Perumahan Harus Tau Ini

Perumahan Harus Punya Kolam Penampung Air karena sumur bor fungsinya hanya untuk mengambil air, Bukan menyimpan air

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – PENYEBAB banjir bandang di Perumahan BMP memang tidak tunggal. Ada banyak faktor yang menjadi musabab bencana banjir bandang. Salah satunya adalah tata kelola saluran air di perumahan. Karena biasanya, pengembang tidak menyediakan kolam penampungan air limbah rumah tangga dan justru mengalirkannya ke sungai. Padahal, secara regulasi, kolam penampungan itu menjadi sebuah keharusan yang wajib disediakan oleh developer perumahan.

Dosen Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Jember (UMJ), Senki Desta Galuh, menyoroti hal tersebut. Menurut dia, tata kelola sampah dan tampungan air hujan di perumahan belum optimal. Padahal, pemerintah telah membikin regulasi untuk mengaturnya. Namun, pada tataran pelaksanaan oleh developer perumahan dinilainya masih kurang optimal.

Idealnya, Desta menjelaskan, setiap rumah harus memiliki sumur gali, bukan sumur bor. Sebab, sumur bor fungsinya hanya untuk mengambil air, tidak menyimpan air. Lalu, setiap perumahan saluran drainasenya tidak boleh dibuang ke sungai, melainkan pihak perumahan harus menyiapkan kolam pembuangan tersendiri untuk penampungan air kotor hasil cuci/mandi warga. “Idealnya mereka harus punya kolam penampungan air sendiri di tiap perumahan. Satu perumahan satu kolam dan terintegrasi. Jadi, dibuangnya di sana,” urainya.

Mobile_AP_Rectangle 2

Oleh karena itu, salah satu alternatif untuk menanggulangi adanya banjir bandang, perumahan-perumahan di Jember harus membuat penampungan air sendiri. Pihak pengembang harus menyiapkan lahan untuk itu.

Jawa Pos Radar Jember berupaya mengonfirmasi Dinas Perumahan Rakyat, Kawasan Permukiman, dan Cipta Karya (DPRKPCK) Jember mengenai tata kelola air di perumahan. Namun, saat dihubungi melalui nomor telepon, Plt Kepala DPRKPCK Rahman Anda justru mengarahkan ke Dinas PU Bina Marga dan Sumber Daya Air (DPUBMSDA) Jember.

Bahkan, ketika mendatangi kantor DPRKPCK secara langsung dan mencoba mengonfirmasi ke bidang terkait, upaya tersebut juga tak membuahkan hasil. Sehingga belum diketahui apakah regulasi tentang penataan kawasan perumahan itu sudah dijalankan atau belum. Termasuk apakah dinas memiliki cetak biru tentang tata kelola air untuk mencegah banjir di lingkungan perumahan atau tidak.

Sementara itu, Kepala Bidang SDA DPUBMSDA Jember Dai Agus Musttaqin menjelaskan, banjir pekan kemarin adalah yang terbesar dari banjir-banjir sebelumnya. Curah hujan mencapai 140 mm dan mengarah ke aliran Dam Semangir, sehingga terjadi kenaikan kapasitas air. Idealnya, air yang ada di Dam Semangir adalah 70 kubik. Namun, pada saat banjir melanda kapasitas air mencapai 130 kubik. “Lalu, ada jebolan di Dam Semangir. Sehingga air itu mencari titik yang rendah, yaitu mengarah ke BMP,” ungkapnya.

Dengan kondisi demikian, otomatis sedimentasinya juga naik. Karena ada sedimen, jadi kapasitasnya tidak mampu menampung kelebihan air. “Sehingga, terjadi jebolan di hulu,” imbuhnya.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – PENYEBAB banjir bandang di Perumahan BMP memang tidak tunggal. Ada banyak faktor yang menjadi musabab bencana banjir bandang. Salah satunya adalah tata kelola saluran air di perumahan. Karena biasanya, pengembang tidak menyediakan kolam penampungan air limbah rumah tangga dan justru mengalirkannya ke sungai. Padahal, secara regulasi, kolam penampungan itu menjadi sebuah keharusan yang wajib disediakan oleh developer perumahan.

Dosen Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Jember (UMJ), Senki Desta Galuh, menyoroti hal tersebut. Menurut dia, tata kelola sampah dan tampungan air hujan di perumahan belum optimal. Padahal, pemerintah telah membikin regulasi untuk mengaturnya. Namun, pada tataran pelaksanaan oleh developer perumahan dinilainya masih kurang optimal.

Idealnya, Desta menjelaskan, setiap rumah harus memiliki sumur gali, bukan sumur bor. Sebab, sumur bor fungsinya hanya untuk mengambil air, tidak menyimpan air. Lalu, setiap perumahan saluran drainasenya tidak boleh dibuang ke sungai, melainkan pihak perumahan harus menyiapkan kolam pembuangan tersendiri untuk penampungan air kotor hasil cuci/mandi warga. “Idealnya mereka harus punya kolam penampungan air sendiri di tiap perumahan. Satu perumahan satu kolam dan terintegrasi. Jadi, dibuangnya di sana,” urainya.

Oleh karena itu, salah satu alternatif untuk menanggulangi adanya banjir bandang, perumahan-perumahan di Jember harus membuat penampungan air sendiri. Pihak pengembang harus menyiapkan lahan untuk itu.

Jawa Pos Radar Jember berupaya mengonfirmasi Dinas Perumahan Rakyat, Kawasan Permukiman, dan Cipta Karya (DPRKPCK) Jember mengenai tata kelola air di perumahan. Namun, saat dihubungi melalui nomor telepon, Plt Kepala DPRKPCK Rahman Anda justru mengarahkan ke Dinas PU Bina Marga dan Sumber Daya Air (DPUBMSDA) Jember.

Bahkan, ketika mendatangi kantor DPRKPCK secara langsung dan mencoba mengonfirmasi ke bidang terkait, upaya tersebut juga tak membuahkan hasil. Sehingga belum diketahui apakah regulasi tentang penataan kawasan perumahan itu sudah dijalankan atau belum. Termasuk apakah dinas memiliki cetak biru tentang tata kelola air untuk mencegah banjir di lingkungan perumahan atau tidak.

Sementara itu, Kepala Bidang SDA DPUBMSDA Jember Dai Agus Musttaqin menjelaskan, banjir pekan kemarin adalah yang terbesar dari banjir-banjir sebelumnya. Curah hujan mencapai 140 mm dan mengarah ke aliran Dam Semangir, sehingga terjadi kenaikan kapasitas air. Idealnya, air yang ada di Dam Semangir adalah 70 kubik. Namun, pada saat banjir melanda kapasitas air mencapai 130 kubik. “Lalu, ada jebolan di Dam Semangir. Sehingga air itu mencari titik yang rendah, yaitu mengarah ke BMP,” ungkapnya.

Dengan kondisi demikian, otomatis sedimentasinya juga naik. Karena ada sedimen, jadi kapasitasnya tidak mampu menampung kelebihan air. “Sehingga, terjadi jebolan di hulu,” imbuhnya.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – PENYEBAB banjir bandang di Perumahan BMP memang tidak tunggal. Ada banyak faktor yang menjadi musabab bencana banjir bandang. Salah satunya adalah tata kelola saluran air di perumahan. Karena biasanya, pengembang tidak menyediakan kolam penampungan air limbah rumah tangga dan justru mengalirkannya ke sungai. Padahal, secara regulasi, kolam penampungan itu menjadi sebuah keharusan yang wajib disediakan oleh developer perumahan.

Dosen Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Jember (UMJ), Senki Desta Galuh, menyoroti hal tersebut. Menurut dia, tata kelola sampah dan tampungan air hujan di perumahan belum optimal. Padahal, pemerintah telah membikin regulasi untuk mengaturnya. Namun, pada tataran pelaksanaan oleh developer perumahan dinilainya masih kurang optimal.

Idealnya, Desta menjelaskan, setiap rumah harus memiliki sumur gali, bukan sumur bor. Sebab, sumur bor fungsinya hanya untuk mengambil air, tidak menyimpan air. Lalu, setiap perumahan saluran drainasenya tidak boleh dibuang ke sungai, melainkan pihak perumahan harus menyiapkan kolam pembuangan tersendiri untuk penampungan air kotor hasil cuci/mandi warga. “Idealnya mereka harus punya kolam penampungan air sendiri di tiap perumahan. Satu perumahan satu kolam dan terintegrasi. Jadi, dibuangnya di sana,” urainya.

Oleh karena itu, salah satu alternatif untuk menanggulangi adanya banjir bandang, perumahan-perumahan di Jember harus membuat penampungan air sendiri. Pihak pengembang harus menyiapkan lahan untuk itu.

Jawa Pos Radar Jember berupaya mengonfirmasi Dinas Perumahan Rakyat, Kawasan Permukiman, dan Cipta Karya (DPRKPCK) Jember mengenai tata kelola air di perumahan. Namun, saat dihubungi melalui nomor telepon, Plt Kepala DPRKPCK Rahman Anda justru mengarahkan ke Dinas PU Bina Marga dan Sumber Daya Air (DPUBMSDA) Jember.

Bahkan, ketika mendatangi kantor DPRKPCK secara langsung dan mencoba mengonfirmasi ke bidang terkait, upaya tersebut juga tak membuahkan hasil. Sehingga belum diketahui apakah regulasi tentang penataan kawasan perumahan itu sudah dijalankan atau belum. Termasuk apakah dinas memiliki cetak biru tentang tata kelola air untuk mencegah banjir di lingkungan perumahan atau tidak.

Sementara itu, Kepala Bidang SDA DPUBMSDA Jember Dai Agus Musttaqin menjelaskan, banjir pekan kemarin adalah yang terbesar dari banjir-banjir sebelumnya. Curah hujan mencapai 140 mm dan mengarah ke aliran Dam Semangir, sehingga terjadi kenaikan kapasitas air. Idealnya, air yang ada di Dam Semangir adalah 70 kubik. Namun, pada saat banjir melanda kapasitas air mencapai 130 kubik. “Lalu, ada jebolan di Dam Semangir. Sehingga air itu mencari titik yang rendah, yaitu mengarah ke BMP,” ungkapnya.

Dengan kondisi demikian, otomatis sedimentasinya juga naik. Karena ada sedimen, jadi kapasitasnya tidak mampu menampung kelebihan air. “Sehingga, terjadi jebolan di hulu,” imbuhnya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/