alexametrics
22.3 C
Jember
Friday, 19 August 2022

Kembangkan Pertanian Sistem Hidroponik, Hasilnya Lebih Menguntungkan

Problem input e-RDKK yang berimbas terhadap berkurangnya jatah pupuk bersubsidi dampaknya sangat dirasakan para petani. Tapi ternyata, tak semua petani merasakan efek itu. Salah satunya adalah Khudaibiyyah Hasbi, seorang petani yang menggeluti pertanian sistem hidroponik.

Mobile_AP_Rectangle 1

Tak hanya bebas dari dampak kelangkaan pupuk, pola pertanian hidroponik juga nyaris tak terdampak pandemi. Harga jualnya masih aman dan tidak sampai anjlok. Meski begitu, tetap ada kendala, yakni soal pengiriman. Jika sebelum pandemi, dia bisa memasarkan sayurnya hingga ke Surabaya. Saat ini, hanya di sekitaran Lumajang. “Karena tidak memungkinkan mengirim ke luar daerah,” paparnya.

Masih tingginya harga jual itu, kata dia, lantaran tanaman hidroponik merupakan pertanian organik, sehingga memiliki daya tahan yang lebih lama dibandingkan dengan hasil panen konvensional. “Misalnya selada. Hasil panen selada hidroponik bakal tetap segar hingga dua sampai tiga hari,” tuturnya.

Sementara itu, selada hasil pertanian konvensional dan menggunakan pupuk kimia harus segera dikonsumsi setelah dipanen. Kalau tidak, akan layu dan menguning. “Meski modal hidroponik lebih mahal, tapi kualitasnya bisa dipastikan jauh lebih bagus,” tandasnya.

- Advertisement -

Tak hanya bebas dari dampak kelangkaan pupuk, pola pertanian hidroponik juga nyaris tak terdampak pandemi. Harga jualnya masih aman dan tidak sampai anjlok. Meski begitu, tetap ada kendala, yakni soal pengiriman. Jika sebelum pandemi, dia bisa memasarkan sayurnya hingga ke Surabaya. Saat ini, hanya di sekitaran Lumajang. “Karena tidak memungkinkan mengirim ke luar daerah,” paparnya.

Masih tingginya harga jual itu, kata dia, lantaran tanaman hidroponik merupakan pertanian organik, sehingga memiliki daya tahan yang lebih lama dibandingkan dengan hasil panen konvensional. “Misalnya selada. Hasil panen selada hidroponik bakal tetap segar hingga dua sampai tiga hari,” tuturnya.

Sementara itu, selada hasil pertanian konvensional dan menggunakan pupuk kimia harus segera dikonsumsi setelah dipanen. Kalau tidak, akan layu dan menguning. “Meski modal hidroponik lebih mahal, tapi kualitasnya bisa dipastikan jauh lebih bagus,” tandasnya.

Tak hanya bebas dari dampak kelangkaan pupuk, pola pertanian hidroponik juga nyaris tak terdampak pandemi. Harga jualnya masih aman dan tidak sampai anjlok. Meski begitu, tetap ada kendala, yakni soal pengiriman. Jika sebelum pandemi, dia bisa memasarkan sayurnya hingga ke Surabaya. Saat ini, hanya di sekitaran Lumajang. “Karena tidak memungkinkan mengirim ke luar daerah,” paparnya.

Masih tingginya harga jual itu, kata dia, lantaran tanaman hidroponik merupakan pertanian organik, sehingga memiliki daya tahan yang lebih lama dibandingkan dengan hasil panen konvensional. “Misalnya selada. Hasil panen selada hidroponik bakal tetap segar hingga dua sampai tiga hari,” tuturnya.

Sementara itu, selada hasil pertanian konvensional dan menggunakan pupuk kimia harus segera dikonsumsi setelah dipanen. Kalau tidak, akan layu dan menguning. “Meski modal hidroponik lebih mahal, tapi kualitasnya bisa dipastikan jauh lebih bagus,” tandasnya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/