26.8 C
Jember
Sunday, 2 April 2023

Peran BI Jember Kembangkan UMKM Batik

"Sekarang hampir semua daerah memiliki ciri khas batik. Dengan mengangkat industri ekonomi lokal di masing-masing daerah, apalagi Jember juga memiliki pembatik yang cukup banyak, maka harus kita dukung untuk dikembangkan." Hestu Wibowo - Kepala KPwBI Jember

Mobile_AP_Rectangle 1

KEPATIHAN, Radar Jember – Pandemi Covid-19 memberi dampak buruk bagi perekonomian Indonesia, termasuk di Kabupaten Jember. Selain perusahaan besar, pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) juga turut terpuruk akibat wabah tersebut.

Bank Indonesia (BI) Jember melalui program Local Economic Development (LED) hadir untuk memulihkan kembali penghasilan para pelaku usaha tersebut seperti semula. Sebab, pembangunan UMKM di daerah menjadi kunci meningkatnya perekonomian di Indonesia.

Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Jember Hestu Wibowo menjelaskan, program tersebut merupakan upaya optimalisasi potensi dari setiap daerah yang ada di Jember. Ini sejalan dengan konsep Pemkab Jember yang menggelar lomba desain motif dan fashion batik yang digagas oleh Dinas Koperasi dan UMKM serta Jawa Pos Radar Jember.

Mobile_AP_Rectangle 2

“Melalui program LED menjadi upaya pengembangan ekonomi lokal yang memang akan menjadi salah satu potensi dari daerah masing-masing yang bisa kita angkat. Salah satunya adalah mengembangkan batik yang sejalan dengan konsep Pemkab Jember dan Radar Jember,” paparnya.

Menurut dia, batik merupakan bisnis industri kreatif sekaligus bisnis ikonik yang menjadi ciri khas dari setiap daerah. Bisnis yang juga bernilai seni ini sudah seharusnya dikembangkan, baik secara kualitas maupun cara pemasarannya agar lebih dikenal luas di kancah nasional bahkan di pasar global. Pengembangan tersebut dapat dilakukan dengan berbagai macam cara. Salah satunya melalui lomba desain motif batik dan desain batik tersebut.

“Salah satu kelebihan atau keunggulan dari Indonesia adalah industri kreatif, salah satunya dari industri batik. Dengan adanya lomba-lomba seperti ini, mudah-mudahan juga dapat meningkatkan kapasitas,” tuturnya.

Lomba tersebut dinilainya juga bermanfaat untuk meningkatkan popularitas batik Jember. Sebab, selama ini masih banyak masyarakat Jember yang menganggap bahwa batik hanya dapat diperoleh di daerah-daerah tertentu. Seperti Jawa Tengah, Madura, atau Cirebon. “Sekarang hampir semua daerah memiliki ciri khas batik. Dengan mengangkat industri ekonomi lokal di masing-masing daerah, apalagi Jember juga memiliki pembatik yang cukup banyak, maka harus kita dukung untuk dikembangkan,” ungkap Hestu.

Adapun peningkatan kualitas yang ia maksud, secara umum bisa dari sektor produksinya. Mulai dari desain motif, kemudian teknik pewarnaan, teknik membatik, hingga teknik menjadikan batik sebagai pakaian siap pakai. Peningkatan tersebut harus dilakukan agar produk batik lokal Jember bisa bersaing dengan produk dari daerah lain.

“Mudah-mudahan secara umum batik ini, batik dalam negeri khususnya, bisa memenuhi kebutuhan akan batik di Indonesia. Selanjutnya, setelah kebutuhan dalam negeri terpenuhi, mudah-mudahan batik menjadi salah satu komoditas yang bisa kita ekspor dan membantu memperbaiki defisit,” imbuhnya.

Dalam hal ini, Bank Indonesia turut serta membantu melalui misinya, yakni melalui LED. Dengan mengembangkan potensi kreatif yang ada di daerah, sekaligus untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri.

Untuk mencapai target tersebut, tentu membutuhkan kehadiran pemerintah daerah yang juga harus memiliki strategi yang tepat. Pertama, strategi untuk memberdayakan pelaku UMKM, khususnya pembatik. Maka, pemerintah harus berupaya untuk meningkatkan kapasitas, kualitas, dan kreativitas mereka.

“Sudah seharusnya para pembatik ini dibantu dalam hal peningkatan kapasitas, kemudian peningkatan akses pasar menggunakan pemanfaatan teknologi digital, hingga transaksinya menggunakan teknologi digital. Saya harap, semua pelaku UMKM bisa terhubung dalam digitalisasi sistem ini,” pungkasnya. (del/c2/rus)

 

- Advertisement -

KEPATIHAN, Radar Jember – Pandemi Covid-19 memberi dampak buruk bagi perekonomian Indonesia, termasuk di Kabupaten Jember. Selain perusahaan besar, pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) juga turut terpuruk akibat wabah tersebut.

Bank Indonesia (BI) Jember melalui program Local Economic Development (LED) hadir untuk memulihkan kembali penghasilan para pelaku usaha tersebut seperti semula. Sebab, pembangunan UMKM di daerah menjadi kunci meningkatnya perekonomian di Indonesia.

Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Jember Hestu Wibowo menjelaskan, program tersebut merupakan upaya optimalisasi potensi dari setiap daerah yang ada di Jember. Ini sejalan dengan konsep Pemkab Jember yang menggelar lomba desain motif dan fashion batik yang digagas oleh Dinas Koperasi dan UMKM serta Jawa Pos Radar Jember.

“Melalui program LED menjadi upaya pengembangan ekonomi lokal yang memang akan menjadi salah satu potensi dari daerah masing-masing yang bisa kita angkat. Salah satunya adalah mengembangkan batik yang sejalan dengan konsep Pemkab Jember dan Radar Jember,” paparnya.

Menurut dia, batik merupakan bisnis industri kreatif sekaligus bisnis ikonik yang menjadi ciri khas dari setiap daerah. Bisnis yang juga bernilai seni ini sudah seharusnya dikembangkan, baik secara kualitas maupun cara pemasarannya agar lebih dikenal luas di kancah nasional bahkan di pasar global. Pengembangan tersebut dapat dilakukan dengan berbagai macam cara. Salah satunya melalui lomba desain motif batik dan desain batik tersebut.

“Salah satu kelebihan atau keunggulan dari Indonesia adalah industri kreatif, salah satunya dari industri batik. Dengan adanya lomba-lomba seperti ini, mudah-mudahan juga dapat meningkatkan kapasitas,” tuturnya.

Lomba tersebut dinilainya juga bermanfaat untuk meningkatkan popularitas batik Jember. Sebab, selama ini masih banyak masyarakat Jember yang menganggap bahwa batik hanya dapat diperoleh di daerah-daerah tertentu. Seperti Jawa Tengah, Madura, atau Cirebon. “Sekarang hampir semua daerah memiliki ciri khas batik. Dengan mengangkat industri ekonomi lokal di masing-masing daerah, apalagi Jember juga memiliki pembatik yang cukup banyak, maka harus kita dukung untuk dikembangkan,” ungkap Hestu.

Adapun peningkatan kualitas yang ia maksud, secara umum bisa dari sektor produksinya. Mulai dari desain motif, kemudian teknik pewarnaan, teknik membatik, hingga teknik menjadikan batik sebagai pakaian siap pakai. Peningkatan tersebut harus dilakukan agar produk batik lokal Jember bisa bersaing dengan produk dari daerah lain.

“Mudah-mudahan secara umum batik ini, batik dalam negeri khususnya, bisa memenuhi kebutuhan akan batik di Indonesia. Selanjutnya, setelah kebutuhan dalam negeri terpenuhi, mudah-mudahan batik menjadi salah satu komoditas yang bisa kita ekspor dan membantu memperbaiki defisit,” imbuhnya.

Dalam hal ini, Bank Indonesia turut serta membantu melalui misinya, yakni melalui LED. Dengan mengembangkan potensi kreatif yang ada di daerah, sekaligus untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri.

Untuk mencapai target tersebut, tentu membutuhkan kehadiran pemerintah daerah yang juga harus memiliki strategi yang tepat. Pertama, strategi untuk memberdayakan pelaku UMKM, khususnya pembatik. Maka, pemerintah harus berupaya untuk meningkatkan kapasitas, kualitas, dan kreativitas mereka.

“Sudah seharusnya para pembatik ini dibantu dalam hal peningkatan kapasitas, kemudian peningkatan akses pasar menggunakan pemanfaatan teknologi digital, hingga transaksinya menggunakan teknologi digital. Saya harap, semua pelaku UMKM bisa terhubung dalam digitalisasi sistem ini,” pungkasnya. (del/c2/rus)

 

KEPATIHAN, Radar Jember – Pandemi Covid-19 memberi dampak buruk bagi perekonomian Indonesia, termasuk di Kabupaten Jember. Selain perusahaan besar, pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) juga turut terpuruk akibat wabah tersebut.

Bank Indonesia (BI) Jember melalui program Local Economic Development (LED) hadir untuk memulihkan kembali penghasilan para pelaku usaha tersebut seperti semula. Sebab, pembangunan UMKM di daerah menjadi kunci meningkatnya perekonomian di Indonesia.

Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Jember Hestu Wibowo menjelaskan, program tersebut merupakan upaya optimalisasi potensi dari setiap daerah yang ada di Jember. Ini sejalan dengan konsep Pemkab Jember yang menggelar lomba desain motif dan fashion batik yang digagas oleh Dinas Koperasi dan UMKM serta Jawa Pos Radar Jember.

“Melalui program LED menjadi upaya pengembangan ekonomi lokal yang memang akan menjadi salah satu potensi dari daerah masing-masing yang bisa kita angkat. Salah satunya adalah mengembangkan batik yang sejalan dengan konsep Pemkab Jember dan Radar Jember,” paparnya.

Menurut dia, batik merupakan bisnis industri kreatif sekaligus bisnis ikonik yang menjadi ciri khas dari setiap daerah. Bisnis yang juga bernilai seni ini sudah seharusnya dikembangkan, baik secara kualitas maupun cara pemasarannya agar lebih dikenal luas di kancah nasional bahkan di pasar global. Pengembangan tersebut dapat dilakukan dengan berbagai macam cara. Salah satunya melalui lomba desain motif batik dan desain batik tersebut.

“Salah satu kelebihan atau keunggulan dari Indonesia adalah industri kreatif, salah satunya dari industri batik. Dengan adanya lomba-lomba seperti ini, mudah-mudahan juga dapat meningkatkan kapasitas,” tuturnya.

Lomba tersebut dinilainya juga bermanfaat untuk meningkatkan popularitas batik Jember. Sebab, selama ini masih banyak masyarakat Jember yang menganggap bahwa batik hanya dapat diperoleh di daerah-daerah tertentu. Seperti Jawa Tengah, Madura, atau Cirebon. “Sekarang hampir semua daerah memiliki ciri khas batik. Dengan mengangkat industri ekonomi lokal di masing-masing daerah, apalagi Jember juga memiliki pembatik yang cukup banyak, maka harus kita dukung untuk dikembangkan,” ungkap Hestu.

Adapun peningkatan kualitas yang ia maksud, secara umum bisa dari sektor produksinya. Mulai dari desain motif, kemudian teknik pewarnaan, teknik membatik, hingga teknik menjadikan batik sebagai pakaian siap pakai. Peningkatan tersebut harus dilakukan agar produk batik lokal Jember bisa bersaing dengan produk dari daerah lain.

“Mudah-mudahan secara umum batik ini, batik dalam negeri khususnya, bisa memenuhi kebutuhan akan batik di Indonesia. Selanjutnya, setelah kebutuhan dalam negeri terpenuhi, mudah-mudahan batik menjadi salah satu komoditas yang bisa kita ekspor dan membantu memperbaiki defisit,” imbuhnya.

Dalam hal ini, Bank Indonesia turut serta membantu melalui misinya, yakni melalui LED. Dengan mengembangkan potensi kreatif yang ada di daerah, sekaligus untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri.

Untuk mencapai target tersebut, tentu membutuhkan kehadiran pemerintah daerah yang juga harus memiliki strategi yang tepat. Pertama, strategi untuk memberdayakan pelaku UMKM, khususnya pembatik. Maka, pemerintah harus berupaya untuk meningkatkan kapasitas, kualitas, dan kreativitas mereka.

“Sudah seharusnya para pembatik ini dibantu dalam hal peningkatan kapasitas, kemudian peningkatan akses pasar menggunakan pemanfaatan teknologi digital, hingga transaksinya menggunakan teknologi digital. Saya harap, semua pelaku UMKM bisa terhubung dalam digitalisasi sistem ini,” pungkasnya. (del/c2/rus)

 

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca