alexametrics
26.5 C
Jember
Tuesday, 17 May 2022

Lowongan Kerja Luar Pulau Sepi Peminat di Jember

“Yang dilatih jahit-menjahit kami menawarkan peserta untuk bekerja di Denpasar. Tawaran ini untuk siapa saja, baik disabilitas maupun nondisabilitas.” Bambang Edy Santoso - Kepala Disnaker Jember

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER LOR, RADARJEMBER.ID – Angka pengangguran di Jember cukup tinggi. Mencapai 5,12 persen dari total penduduk. Demi mengurangi angka pengangguran itu, Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Pemkab Jember melakukan berbagai upaya agar mereka mendapat pekerjaan yang layak. Salah satunya dengan menyebar informasi lowongan kerja di luar pulau. Namun, hasilnya belum menggembirakan, karena ternyata peminatnya sangat sedikit.

Kepala Disnaker Jember Bambang Edy Santoso mengungkapkan, pihaknya telah melakukan penyebaran informasi lowongan pekerjaan di luar pulau dan kuota pekerja yang dibutuhkan cukup banyak. Namun, hal ini tidak dimanfaatkan oleh masyarakat. Utamanya bagi yang pernah menjalani pelatihan tenaga kerja.

Bambang menjelaskan, dalam setahun minimal terdapat tiga perusahaan yang menawarkan lapangan kerja. Perusahaan tersebut berada di luar pulau, seperti di Sumatera, Kalimantan, Papua, Bali, dan lainnya. Setiap perusahaan minimal mengalokasikan sekitar 1.000 lowongan. Namun, rata-rata pendaftar dari Jember hanya ratusan pekerja saja. “Tahun ini cuma ada tiga perusahaan, mungkin karena dampak pandemi. Tapi, sebelumnya pandemi, jumlahnya lebih banyak dari tahun ini,” kata Bambang.

Mobile_AP_Rectangle 2

Pihaknya mengupayakan masyarakat yang telah mengikuti pelatihan agar mendaftar sesuai dengan lowongan yang tersedia. Misalnya, bidang penjahitan, muaranya akan diarahkan untuk bekerja di sektor produksi baju dan beberapa perusahaan garmen di Bali. Sedangkan penempatan di Papua, Sumatera, dan Kalimantan, biasanya di sektor perkebunan sawit, akasia, dan lainnya. “Yang dilatih jahit-menjahit kami menawarkan peserta untuk bekerja di Denpasar. Tawaran ini untuk siapa saja, baik disabilitas maupun nondisabilitas,” ungkapnya.

Bambang menilai, umumnya masyarakat enggan untuk bekerja di luar pulau lantaran faktor jarak, keamanan lokasi migrasi, dan ketidaksiapan beradaptasi. Padahal sebelumnya, lokasi dan kondisi keamanan sudah melalui tahapan survei, sehingga terjamin. “Kalau menurut saya, gaji yang didapat jauh lebih baik di sana. Dan orang-orangnya juga sudah serumpun. Cuma pandangannya masih takut dan jauh,” jelasnya.

- Advertisement -

JEMBER LOR, RADARJEMBER.ID – Angka pengangguran di Jember cukup tinggi. Mencapai 5,12 persen dari total penduduk. Demi mengurangi angka pengangguran itu, Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Pemkab Jember melakukan berbagai upaya agar mereka mendapat pekerjaan yang layak. Salah satunya dengan menyebar informasi lowongan kerja di luar pulau. Namun, hasilnya belum menggembirakan, karena ternyata peminatnya sangat sedikit.

Kepala Disnaker Jember Bambang Edy Santoso mengungkapkan, pihaknya telah melakukan penyebaran informasi lowongan pekerjaan di luar pulau dan kuota pekerja yang dibutuhkan cukup banyak. Namun, hal ini tidak dimanfaatkan oleh masyarakat. Utamanya bagi yang pernah menjalani pelatihan tenaga kerja.

Bambang menjelaskan, dalam setahun minimal terdapat tiga perusahaan yang menawarkan lapangan kerja. Perusahaan tersebut berada di luar pulau, seperti di Sumatera, Kalimantan, Papua, Bali, dan lainnya. Setiap perusahaan minimal mengalokasikan sekitar 1.000 lowongan. Namun, rata-rata pendaftar dari Jember hanya ratusan pekerja saja. “Tahun ini cuma ada tiga perusahaan, mungkin karena dampak pandemi. Tapi, sebelumnya pandemi, jumlahnya lebih banyak dari tahun ini,” kata Bambang.

Pihaknya mengupayakan masyarakat yang telah mengikuti pelatihan agar mendaftar sesuai dengan lowongan yang tersedia. Misalnya, bidang penjahitan, muaranya akan diarahkan untuk bekerja di sektor produksi baju dan beberapa perusahaan garmen di Bali. Sedangkan penempatan di Papua, Sumatera, dan Kalimantan, biasanya di sektor perkebunan sawit, akasia, dan lainnya. “Yang dilatih jahit-menjahit kami menawarkan peserta untuk bekerja di Denpasar. Tawaran ini untuk siapa saja, baik disabilitas maupun nondisabilitas,” ungkapnya.

Bambang menilai, umumnya masyarakat enggan untuk bekerja di luar pulau lantaran faktor jarak, keamanan lokasi migrasi, dan ketidaksiapan beradaptasi. Padahal sebelumnya, lokasi dan kondisi keamanan sudah melalui tahapan survei, sehingga terjamin. “Kalau menurut saya, gaji yang didapat jauh lebih baik di sana. Dan orang-orangnya juga sudah serumpun. Cuma pandangannya masih takut dan jauh,” jelasnya.

JEMBER LOR, RADARJEMBER.ID – Angka pengangguran di Jember cukup tinggi. Mencapai 5,12 persen dari total penduduk. Demi mengurangi angka pengangguran itu, Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Pemkab Jember melakukan berbagai upaya agar mereka mendapat pekerjaan yang layak. Salah satunya dengan menyebar informasi lowongan kerja di luar pulau. Namun, hasilnya belum menggembirakan, karena ternyata peminatnya sangat sedikit.

Kepala Disnaker Jember Bambang Edy Santoso mengungkapkan, pihaknya telah melakukan penyebaran informasi lowongan pekerjaan di luar pulau dan kuota pekerja yang dibutuhkan cukup banyak. Namun, hal ini tidak dimanfaatkan oleh masyarakat. Utamanya bagi yang pernah menjalani pelatihan tenaga kerja.

Bambang menjelaskan, dalam setahun minimal terdapat tiga perusahaan yang menawarkan lapangan kerja. Perusahaan tersebut berada di luar pulau, seperti di Sumatera, Kalimantan, Papua, Bali, dan lainnya. Setiap perusahaan minimal mengalokasikan sekitar 1.000 lowongan. Namun, rata-rata pendaftar dari Jember hanya ratusan pekerja saja. “Tahun ini cuma ada tiga perusahaan, mungkin karena dampak pandemi. Tapi, sebelumnya pandemi, jumlahnya lebih banyak dari tahun ini,” kata Bambang.

Pihaknya mengupayakan masyarakat yang telah mengikuti pelatihan agar mendaftar sesuai dengan lowongan yang tersedia. Misalnya, bidang penjahitan, muaranya akan diarahkan untuk bekerja di sektor produksi baju dan beberapa perusahaan garmen di Bali. Sedangkan penempatan di Papua, Sumatera, dan Kalimantan, biasanya di sektor perkebunan sawit, akasia, dan lainnya. “Yang dilatih jahit-menjahit kami menawarkan peserta untuk bekerja di Denpasar. Tawaran ini untuk siapa saja, baik disabilitas maupun nondisabilitas,” ungkapnya.

Bambang menilai, umumnya masyarakat enggan untuk bekerja di luar pulau lantaran faktor jarak, keamanan lokasi migrasi, dan ketidaksiapan beradaptasi. Padahal sebelumnya, lokasi dan kondisi keamanan sudah melalui tahapan survei, sehingga terjamin. “Kalau menurut saya, gaji yang didapat jauh lebih baik di sana. Dan orang-orangnya juga sudah serumpun. Cuma pandangannya masih takut dan jauh,” jelasnya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/