alexametrics
22.9 C
Jember
Thursday, 18 August 2022

Potret Pasutri Lansia di Gua Gladak Kembar

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Bangunan rumahnya berukuran 10 x 5 meter. Berdiri tepat di bawah jembatan Gladak Kembar. Tembok rumahnya langsung berhadapan dengan struktur bangunan dinding jembatan. Atapnya adalah jalanan jembatan. Ruang untuk dapur dan tempat tidur langsung menyatu dalam satu ruangan. Tidak ada pembatas. Orang- orang menyebut bangunan ini sebagai bangunan Gua Gladak Kembar.

Inilah potret bangunan yang dihuni oleh pasangan sepuh, Asnawiyah dan Sutrisno Winoto. Sudah satu tahun mereka hidup di kolong jembatan yang ikonik di Jember ini. Bangunan tersebut merupakan hasil pemberian dari tetangga kontrakannya, yang dulu berprofesi sebagai pengepul rosokan. Dibeli dengan harga Rp 800 ribu.

Sebelumnya, Asnawiyah dan Sutrisno tinggal berpindah-pindah dari kontrakan satu ke kontrakan lainnya. Asnawiyah bekerja sebagai pesuruh di sebuah warung pecel. Begitupun dengan suaminya. Dalam satu bulan, Sutrisno mendapat upah Rp 400 ribu. Sedangkan, Asnawiyah sendiri tiap harinya mendapat bayaran Rp 25 ribu. “Saya yang biasanya nggoreng gorengan, masak. Bapak penjaga parkir di sana. Cuci piring juga,” ungkap perempuan berusia 50 tahun itu.

Mobile_AP_Rectangle 2

Pendapatan tersebut tentu sangat pas-pasan untuk memenuhi kebutuhannya sehar-hari mereka. Untuk memenuhi kebutuhan air bersih misalnya, Asnawiyah harus mengeluarkan uang sekurang–kurangnya Rp 10 ribu per hari. Sedangkan untuk aliran listrik, dia membayar Rp 75 ribu per bulan.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Bangunan rumahnya berukuran 10 x 5 meter. Berdiri tepat di bawah jembatan Gladak Kembar. Tembok rumahnya langsung berhadapan dengan struktur bangunan dinding jembatan. Atapnya adalah jalanan jembatan. Ruang untuk dapur dan tempat tidur langsung menyatu dalam satu ruangan. Tidak ada pembatas. Orang- orang menyebut bangunan ini sebagai bangunan Gua Gladak Kembar.

Inilah potret bangunan yang dihuni oleh pasangan sepuh, Asnawiyah dan Sutrisno Winoto. Sudah satu tahun mereka hidup di kolong jembatan yang ikonik di Jember ini. Bangunan tersebut merupakan hasil pemberian dari tetangga kontrakannya, yang dulu berprofesi sebagai pengepul rosokan. Dibeli dengan harga Rp 800 ribu.

Sebelumnya, Asnawiyah dan Sutrisno tinggal berpindah-pindah dari kontrakan satu ke kontrakan lainnya. Asnawiyah bekerja sebagai pesuruh di sebuah warung pecel. Begitupun dengan suaminya. Dalam satu bulan, Sutrisno mendapat upah Rp 400 ribu. Sedangkan, Asnawiyah sendiri tiap harinya mendapat bayaran Rp 25 ribu. “Saya yang biasanya nggoreng gorengan, masak. Bapak penjaga parkir di sana. Cuci piring juga,” ungkap perempuan berusia 50 tahun itu.

Pendapatan tersebut tentu sangat pas-pasan untuk memenuhi kebutuhannya sehar-hari mereka. Untuk memenuhi kebutuhan air bersih misalnya, Asnawiyah harus mengeluarkan uang sekurang–kurangnya Rp 10 ribu per hari. Sedangkan untuk aliran listrik, dia membayar Rp 75 ribu per bulan.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Bangunan rumahnya berukuran 10 x 5 meter. Berdiri tepat di bawah jembatan Gladak Kembar. Tembok rumahnya langsung berhadapan dengan struktur bangunan dinding jembatan. Atapnya adalah jalanan jembatan. Ruang untuk dapur dan tempat tidur langsung menyatu dalam satu ruangan. Tidak ada pembatas. Orang- orang menyebut bangunan ini sebagai bangunan Gua Gladak Kembar.

Inilah potret bangunan yang dihuni oleh pasangan sepuh, Asnawiyah dan Sutrisno Winoto. Sudah satu tahun mereka hidup di kolong jembatan yang ikonik di Jember ini. Bangunan tersebut merupakan hasil pemberian dari tetangga kontrakannya, yang dulu berprofesi sebagai pengepul rosokan. Dibeli dengan harga Rp 800 ribu.

Sebelumnya, Asnawiyah dan Sutrisno tinggal berpindah-pindah dari kontrakan satu ke kontrakan lainnya. Asnawiyah bekerja sebagai pesuruh di sebuah warung pecel. Begitupun dengan suaminya. Dalam satu bulan, Sutrisno mendapat upah Rp 400 ribu. Sedangkan, Asnawiyah sendiri tiap harinya mendapat bayaran Rp 25 ribu. “Saya yang biasanya nggoreng gorengan, masak. Bapak penjaga parkir di sana. Cuci piring juga,” ungkap perempuan berusia 50 tahun itu.

Pendapatan tersebut tentu sangat pas-pasan untuk memenuhi kebutuhannya sehar-hari mereka. Untuk memenuhi kebutuhan air bersih misalnya, Asnawiyah harus mengeluarkan uang sekurang–kurangnya Rp 10 ribu per hari. Sedangkan untuk aliran listrik, dia membayar Rp 75 ribu per bulan.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/