alexametrics
27.5 C
Jember
Tuesday, 28 June 2022

Optimalkan Zakat sebagai Aspek Pembangunan Ekonomi Masyarakat

Webinar Nudge to Give More, Social Finance: Answer to The Indonesia Economic Challenge

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Kemiskinan menjadi salah satu persoalan yang cukup serius di dunia, termasuk di Indonesia. Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) menyebutkan, kemiskinan di Indonesia mencapai 9,82 persen pada Maret 2018, atau 25,95 juta penduduk. Pada bulan yang sama, dari sisi ketimpangan, rasio gini Indonesia mencapai 0,389 atau masih terdapat ketimpangan pendapatan yang cukup lebar antara penduduk kaya dan miskin.

Pembangunan ekonomi yang dapat menciptakan trickle down effect adalah pembangunan yang melibatkan rakyat secara langsung melalui instrumen zakat. Zakat ini menjadikan kekayaan tidak hanya beredar di kalangan orang kaya saja. Karena setiap muslim yang mampu diwajibkan membayar zakat kepada yang berhak menerima, terutama fakir miskin.

“Artinya, zakat menjadi salah satu instrumen dalam penanggulangan kemiskinan yang menjadi tanggung jawab bersama, baik lembaga swadaya masyarakat, organisasi kemasyarakatan, pelaku usaha, perseorangan, dan yang lainnya,” tutur Kepala Perwakilan Bank Indonesia Jember, Hestu Wibowo.

Mobile_AP_Rectangle 2

Pengembangan instrumen ekonomi sosial Islam, lanjut dia, ditopang pula dengan tingginya potensi zakat, infak, wakaf, dan sedekah (ziswaf). Ziswaf dapat menjadi alternatif pembiayaan bagi pengembangan ekonomi produktif. “Tingginya potensi ziswaf di Indonesia tak lepas dari besarnya populasi di Indonesia. Sebagai negara muslim terbesar, tidak diragukan lagi Indonesia memiliki potensi zakat yang besar,” imbuhnya.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Kemiskinan menjadi salah satu persoalan yang cukup serius di dunia, termasuk di Indonesia. Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) menyebutkan, kemiskinan di Indonesia mencapai 9,82 persen pada Maret 2018, atau 25,95 juta penduduk. Pada bulan yang sama, dari sisi ketimpangan, rasio gini Indonesia mencapai 0,389 atau masih terdapat ketimpangan pendapatan yang cukup lebar antara penduduk kaya dan miskin.

Pembangunan ekonomi yang dapat menciptakan trickle down effect adalah pembangunan yang melibatkan rakyat secara langsung melalui instrumen zakat. Zakat ini menjadikan kekayaan tidak hanya beredar di kalangan orang kaya saja. Karena setiap muslim yang mampu diwajibkan membayar zakat kepada yang berhak menerima, terutama fakir miskin.

“Artinya, zakat menjadi salah satu instrumen dalam penanggulangan kemiskinan yang menjadi tanggung jawab bersama, baik lembaga swadaya masyarakat, organisasi kemasyarakatan, pelaku usaha, perseorangan, dan yang lainnya,” tutur Kepala Perwakilan Bank Indonesia Jember, Hestu Wibowo.

Pengembangan instrumen ekonomi sosial Islam, lanjut dia, ditopang pula dengan tingginya potensi zakat, infak, wakaf, dan sedekah (ziswaf). Ziswaf dapat menjadi alternatif pembiayaan bagi pengembangan ekonomi produktif. “Tingginya potensi ziswaf di Indonesia tak lepas dari besarnya populasi di Indonesia. Sebagai negara muslim terbesar, tidak diragukan lagi Indonesia memiliki potensi zakat yang besar,” imbuhnya.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Kemiskinan menjadi salah satu persoalan yang cukup serius di dunia, termasuk di Indonesia. Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) menyebutkan, kemiskinan di Indonesia mencapai 9,82 persen pada Maret 2018, atau 25,95 juta penduduk. Pada bulan yang sama, dari sisi ketimpangan, rasio gini Indonesia mencapai 0,389 atau masih terdapat ketimpangan pendapatan yang cukup lebar antara penduduk kaya dan miskin.

Pembangunan ekonomi yang dapat menciptakan trickle down effect adalah pembangunan yang melibatkan rakyat secara langsung melalui instrumen zakat. Zakat ini menjadikan kekayaan tidak hanya beredar di kalangan orang kaya saja. Karena setiap muslim yang mampu diwajibkan membayar zakat kepada yang berhak menerima, terutama fakir miskin.

“Artinya, zakat menjadi salah satu instrumen dalam penanggulangan kemiskinan yang menjadi tanggung jawab bersama, baik lembaga swadaya masyarakat, organisasi kemasyarakatan, pelaku usaha, perseorangan, dan yang lainnya,” tutur Kepala Perwakilan Bank Indonesia Jember, Hestu Wibowo.

Pengembangan instrumen ekonomi sosial Islam, lanjut dia, ditopang pula dengan tingginya potensi zakat, infak, wakaf, dan sedekah (ziswaf). Ziswaf dapat menjadi alternatif pembiayaan bagi pengembangan ekonomi produktif. “Tingginya potensi ziswaf di Indonesia tak lepas dari besarnya populasi di Indonesia. Sebagai negara muslim terbesar, tidak diragukan lagi Indonesia memiliki potensi zakat yang besar,” imbuhnya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/