alexametrics
30.4 C
Jember
Monday, 15 August 2022

Menilai Hukum Tak Adil

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Kesedihan Maya, istri M Fariz Nurhidayat, tak bisa dibendung. Begitu telepon seluler tersambung, isak tangisnya menjadi pembuka yang mengawali sesi wawancara. Sambil menangis, dia langsung berkata telah terjadi ketidakadilan hukum yang menimpa suaminya.

“Ini sangat tidak adil. Saya sangat kecewa. Padahal, suami saya tidak menikmati serupiah pun (kasus korupsi Pasar Manggisan, Red). Kenapa harus Fariz (yang divonis bersalah, Red). Sementara bosnya divonis bebas. Padahal, bosnya yang menikmati hasil semuanya,” kata Maya, yang tetap sesenggukan.

Dia dan keluarganya mengaku sangat terkejut. Vonis yang dijatuhkan majelis hakim, menurut keluarga, justru terbalik dari keadaan sebenarnya. “Fariz hanya digaji dan itu sudah diakui Pak Dodik. Harusnya, Fariz yang ringan, bukan Pak Dodik,” protesnya.

Mobile_AP_Rectangle 2

Maya merasa, suaminya menjadi korban dan dikorbankan secara hukum. “Namanya karyawan kan diperintah ke sana-sini. Kenapa putusannya seperti ini. Dalam persidangan juga sudah jelas semuanya,” ucapnya.

Sesi wawancara melalui telepon siang kemarin (15/9), terpaksa berhenti sementara. Maya tak kuasa menahan isak tangisnya. Suara kesedihannya itu tetap terdengar melalui saluran telepon. “Kami berencana banding. Ini sudah sangat tidak adil sekali,” jelasnya.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Kesedihan Maya, istri M Fariz Nurhidayat, tak bisa dibendung. Begitu telepon seluler tersambung, isak tangisnya menjadi pembuka yang mengawali sesi wawancara. Sambil menangis, dia langsung berkata telah terjadi ketidakadilan hukum yang menimpa suaminya.

“Ini sangat tidak adil. Saya sangat kecewa. Padahal, suami saya tidak menikmati serupiah pun (kasus korupsi Pasar Manggisan, Red). Kenapa harus Fariz (yang divonis bersalah, Red). Sementara bosnya divonis bebas. Padahal, bosnya yang menikmati hasil semuanya,” kata Maya, yang tetap sesenggukan.

Dia dan keluarganya mengaku sangat terkejut. Vonis yang dijatuhkan majelis hakim, menurut keluarga, justru terbalik dari keadaan sebenarnya. “Fariz hanya digaji dan itu sudah diakui Pak Dodik. Harusnya, Fariz yang ringan, bukan Pak Dodik,” protesnya.

Maya merasa, suaminya menjadi korban dan dikorbankan secara hukum. “Namanya karyawan kan diperintah ke sana-sini. Kenapa putusannya seperti ini. Dalam persidangan juga sudah jelas semuanya,” ucapnya.

Sesi wawancara melalui telepon siang kemarin (15/9), terpaksa berhenti sementara. Maya tak kuasa menahan isak tangisnya. Suara kesedihannya itu tetap terdengar melalui saluran telepon. “Kami berencana banding. Ini sudah sangat tidak adil sekali,” jelasnya.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Kesedihan Maya, istri M Fariz Nurhidayat, tak bisa dibendung. Begitu telepon seluler tersambung, isak tangisnya menjadi pembuka yang mengawali sesi wawancara. Sambil menangis, dia langsung berkata telah terjadi ketidakadilan hukum yang menimpa suaminya.

“Ini sangat tidak adil. Saya sangat kecewa. Padahal, suami saya tidak menikmati serupiah pun (kasus korupsi Pasar Manggisan, Red). Kenapa harus Fariz (yang divonis bersalah, Red). Sementara bosnya divonis bebas. Padahal, bosnya yang menikmati hasil semuanya,” kata Maya, yang tetap sesenggukan.

Dia dan keluarganya mengaku sangat terkejut. Vonis yang dijatuhkan majelis hakim, menurut keluarga, justru terbalik dari keadaan sebenarnya. “Fariz hanya digaji dan itu sudah diakui Pak Dodik. Harusnya, Fariz yang ringan, bukan Pak Dodik,” protesnya.

Maya merasa, suaminya menjadi korban dan dikorbankan secara hukum. “Namanya karyawan kan diperintah ke sana-sini. Kenapa putusannya seperti ini. Dalam persidangan juga sudah jelas semuanya,” ucapnya.

Sesi wawancara melalui telepon siang kemarin (15/9), terpaksa berhenti sementara. Maya tak kuasa menahan isak tangisnya. Suara kesedihannya itu tetap terdengar melalui saluran telepon. “Kami berencana banding. Ini sudah sangat tidak adil sekali,” jelasnya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/