alexametrics
30.2 C
Jember
Tuesday, 9 August 2022

Lebih Parah Ketimbang Erupsi Raung

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Sore itu, Rahmat, 52, bersama empat rekannya mulai mengangkat daun tembakau yang telah dijemur. Tembakau jenis voor oogst kasturi warnanya sudah mulai coklat. Waktu yang tepat untuk melego. Tapi, si daun emas, julukan tembakau itu, tak lagi berdaya seperti dulu.

Rahmat memang bukan pemilik tembakau tersebut. Dia hanya buruh yang digaji setiap hari kerja. Naik turunnya harga tembakau, setidaknya diketahuinya. “Harganya murah sekarang, sekitar Rp 2,5 juta per kuintal,” jelasnya. Jika tahun kemarin, harga per kuintal bisa mencapai Rp 5,5 juta,” ucapnya.

Pria asal Pelindu, Kelurahan Karangrejo, Kecamatan Sumbersari, tersebut tidak begitu tahu bagaimana derita petani tembakau saat ini. Ya memang, di tengah pandemi korona, tak hanya petani hortikultura yang menjerit. Petani tembakau bahkan terasa tergencet dengan liku-liku harga tembakau. “Tembakau krosok (voor oogst kasturi, Red) sekarang luar biasa,” kata Hendro Handoko.

Mobile_AP_Rectangle 2

Ketua Aliansi Petani Tembakau Jember itu melanjutkan, maksud ‘luar biasa’ adalah hampir sama dengan tahun 2015, saat Gunung Raung erupsi. Pada waktu itu, gudang tembakau tidak mau membeli tembakau Jember akibat terpapar abu vulkanik. “Kalau dulu masih ada pabrik kecil yang mau buka. Tapi sekarang pabrik tutup, petani kaget,” jelasnya.

Anehnya, lanjut Hendro, pabrik pembelian, termasuk gudang, justru mau membeli daun tembakau yang tumbuh di bagian bawah saja. Akibatnya, daun bagian tengah hingga pucuk tak mau membeli. “Daun bagian tengah sampai ke atas malah tidak mau dibeli,” tuturnya.

Kondisi itu tentu saja di luar prediksi petani selama ini. Apalagi, petani tembakau krosok sangat berharap dengan tembakau bagian tengah sampai atas bias terjual, bukan di bawah saja. Sebab, tembakau bagian tengah sampai ke atas itulah yang kualitasnya bagus dan harganya lebih tinggi.

Perusahaan yang hanya menerima daun bagian bawah, tidak hanya satu perusahaan. Melainkan juga seluruhnya. Bahkan, petani yang bermitra pun kondisinya sama. Per kuintal daun bawah dihargai Rp 700 ribu hingga Rp 1,8 juta. “Tahun kemarin daun bawah dihargai Rp 2,5 juta,” jelasnya.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Sore itu, Rahmat, 52, bersama empat rekannya mulai mengangkat daun tembakau yang telah dijemur. Tembakau jenis voor oogst kasturi warnanya sudah mulai coklat. Waktu yang tepat untuk melego. Tapi, si daun emas, julukan tembakau itu, tak lagi berdaya seperti dulu.

Rahmat memang bukan pemilik tembakau tersebut. Dia hanya buruh yang digaji setiap hari kerja. Naik turunnya harga tembakau, setidaknya diketahuinya. “Harganya murah sekarang, sekitar Rp 2,5 juta per kuintal,” jelasnya. Jika tahun kemarin, harga per kuintal bisa mencapai Rp 5,5 juta,” ucapnya.

Pria asal Pelindu, Kelurahan Karangrejo, Kecamatan Sumbersari, tersebut tidak begitu tahu bagaimana derita petani tembakau saat ini. Ya memang, di tengah pandemi korona, tak hanya petani hortikultura yang menjerit. Petani tembakau bahkan terasa tergencet dengan liku-liku harga tembakau. “Tembakau krosok (voor oogst kasturi, Red) sekarang luar biasa,” kata Hendro Handoko.

Ketua Aliansi Petani Tembakau Jember itu melanjutkan, maksud ‘luar biasa’ adalah hampir sama dengan tahun 2015, saat Gunung Raung erupsi. Pada waktu itu, gudang tembakau tidak mau membeli tembakau Jember akibat terpapar abu vulkanik. “Kalau dulu masih ada pabrik kecil yang mau buka. Tapi sekarang pabrik tutup, petani kaget,” jelasnya.

Anehnya, lanjut Hendro, pabrik pembelian, termasuk gudang, justru mau membeli daun tembakau yang tumbuh di bagian bawah saja. Akibatnya, daun bagian tengah hingga pucuk tak mau membeli. “Daun bagian tengah sampai ke atas malah tidak mau dibeli,” tuturnya.

Kondisi itu tentu saja di luar prediksi petani selama ini. Apalagi, petani tembakau krosok sangat berharap dengan tembakau bagian tengah sampai atas bias terjual, bukan di bawah saja. Sebab, tembakau bagian tengah sampai ke atas itulah yang kualitasnya bagus dan harganya lebih tinggi.

Perusahaan yang hanya menerima daun bagian bawah, tidak hanya satu perusahaan. Melainkan juga seluruhnya. Bahkan, petani yang bermitra pun kondisinya sama. Per kuintal daun bawah dihargai Rp 700 ribu hingga Rp 1,8 juta. “Tahun kemarin daun bawah dihargai Rp 2,5 juta,” jelasnya.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Sore itu, Rahmat, 52, bersama empat rekannya mulai mengangkat daun tembakau yang telah dijemur. Tembakau jenis voor oogst kasturi warnanya sudah mulai coklat. Waktu yang tepat untuk melego. Tapi, si daun emas, julukan tembakau itu, tak lagi berdaya seperti dulu.

Rahmat memang bukan pemilik tembakau tersebut. Dia hanya buruh yang digaji setiap hari kerja. Naik turunnya harga tembakau, setidaknya diketahuinya. “Harganya murah sekarang, sekitar Rp 2,5 juta per kuintal,” jelasnya. Jika tahun kemarin, harga per kuintal bisa mencapai Rp 5,5 juta,” ucapnya.

Pria asal Pelindu, Kelurahan Karangrejo, Kecamatan Sumbersari, tersebut tidak begitu tahu bagaimana derita petani tembakau saat ini. Ya memang, di tengah pandemi korona, tak hanya petani hortikultura yang menjerit. Petani tembakau bahkan terasa tergencet dengan liku-liku harga tembakau. “Tembakau krosok (voor oogst kasturi, Red) sekarang luar biasa,” kata Hendro Handoko.

Ketua Aliansi Petani Tembakau Jember itu melanjutkan, maksud ‘luar biasa’ adalah hampir sama dengan tahun 2015, saat Gunung Raung erupsi. Pada waktu itu, gudang tembakau tidak mau membeli tembakau Jember akibat terpapar abu vulkanik. “Kalau dulu masih ada pabrik kecil yang mau buka. Tapi sekarang pabrik tutup, petani kaget,” jelasnya.

Anehnya, lanjut Hendro, pabrik pembelian, termasuk gudang, justru mau membeli daun tembakau yang tumbuh di bagian bawah saja. Akibatnya, daun bagian tengah hingga pucuk tak mau membeli. “Daun bagian tengah sampai ke atas malah tidak mau dibeli,” tuturnya.

Kondisi itu tentu saja di luar prediksi petani selama ini. Apalagi, petani tembakau krosok sangat berharap dengan tembakau bagian tengah sampai atas bias terjual, bukan di bawah saja. Sebab, tembakau bagian tengah sampai ke atas itulah yang kualitasnya bagus dan harganya lebih tinggi.

Perusahaan yang hanya menerima daun bagian bawah, tidak hanya satu perusahaan. Melainkan juga seluruhnya. Bahkan, petani yang bermitra pun kondisinya sama. Per kuintal daun bawah dihargai Rp 700 ribu hingga Rp 1,8 juta. “Tahun kemarin daun bawah dihargai Rp 2,5 juta,” jelasnya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/