alexametrics
28 C
Jember
Monday, 15 August 2022

Dulu Minimal 5 Kilogram, Sekarang Hanya Sekilo 

Tak semua pekerja mendapat jatah bantuan uang negara. Salah satunya adalah pedagang. Bahkan ada yang nyaris kolaps akibat terdampak wabah. Tapi, bukan pedagang jika tak punya cara untuk keluar dari masa-masa sulit tersebut.

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Jam istirahat dimanfaatkan sejumlah pedagang di Pasar Tanjung untuk bersantai. Meski begitu, mereka tetap berada di lapak. Ada pedagang yang makan, hingga beres-beres dagangan. Di antaranya adalah Septi, perempuan yang menjadi bos bawang di pasar induk tersebut.

Sesekali, Septi ikut ngerumpi bersama beberapa perempuan yang bekerja mengupas bawang kepadanya. “Monggo, Bang, beli bawang dibawa pulang, yang di rumah biar tambah sayang,” ucapnya kepada Jawa Pos Radar Jember.

Sontak saja, beberapa pengupas bawang tertawa. Septi siang itu juta tampak tersenyum. Sayangnya, tawa dan senyum mereka tak terlihat jelas, lantaran seluruhnya mengenakan masker.

Mobile_AP_Rectangle 2

Perempuan yang menawarkan bawang merah dan putih itu kemudian menyebutkan harga-harga dagangannya. Menurutnya, ada selisih harga bawang yang dia jual dengan pedagang lain. Alasannya, dirinya hanya menjual bawang dengan harga grosir. Karena itu, lebih murah dari pedagang lain yang menjual eceran. “Jelas lebih murah. Karena saya hanya menjual grosir,” imbuhnya.

Dulu, sekitar tujuh bulan lalu, Septi hanya menjual bawang dengan permintaan grosir minimal 10 kilogram. Begitu wabah korona datang, pembelian bawang menurun. Dampaknya, tak sedikit bawang yang rusak akibat lama didiamkan. Septi pun kemudian memangkas minimal pembelian bawang menjadi lima kilogram saja.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Jam istirahat dimanfaatkan sejumlah pedagang di Pasar Tanjung untuk bersantai. Meski begitu, mereka tetap berada di lapak. Ada pedagang yang makan, hingga beres-beres dagangan. Di antaranya adalah Septi, perempuan yang menjadi bos bawang di pasar induk tersebut.

Sesekali, Septi ikut ngerumpi bersama beberapa perempuan yang bekerja mengupas bawang kepadanya. “Monggo, Bang, beli bawang dibawa pulang, yang di rumah biar tambah sayang,” ucapnya kepada Jawa Pos Radar Jember.

Sontak saja, beberapa pengupas bawang tertawa. Septi siang itu juta tampak tersenyum. Sayangnya, tawa dan senyum mereka tak terlihat jelas, lantaran seluruhnya mengenakan masker.

Perempuan yang menawarkan bawang merah dan putih itu kemudian menyebutkan harga-harga dagangannya. Menurutnya, ada selisih harga bawang yang dia jual dengan pedagang lain. Alasannya, dirinya hanya menjual bawang dengan harga grosir. Karena itu, lebih murah dari pedagang lain yang menjual eceran. “Jelas lebih murah. Karena saya hanya menjual grosir,” imbuhnya.

Dulu, sekitar tujuh bulan lalu, Septi hanya menjual bawang dengan permintaan grosir minimal 10 kilogram. Begitu wabah korona datang, pembelian bawang menurun. Dampaknya, tak sedikit bawang yang rusak akibat lama didiamkan. Septi pun kemudian memangkas minimal pembelian bawang menjadi lima kilogram saja.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Jam istirahat dimanfaatkan sejumlah pedagang di Pasar Tanjung untuk bersantai. Meski begitu, mereka tetap berada di lapak. Ada pedagang yang makan, hingga beres-beres dagangan. Di antaranya adalah Septi, perempuan yang menjadi bos bawang di pasar induk tersebut.

Sesekali, Septi ikut ngerumpi bersama beberapa perempuan yang bekerja mengupas bawang kepadanya. “Monggo, Bang, beli bawang dibawa pulang, yang di rumah biar tambah sayang,” ucapnya kepada Jawa Pos Radar Jember.

Sontak saja, beberapa pengupas bawang tertawa. Septi siang itu juta tampak tersenyum. Sayangnya, tawa dan senyum mereka tak terlihat jelas, lantaran seluruhnya mengenakan masker.

Perempuan yang menawarkan bawang merah dan putih itu kemudian menyebutkan harga-harga dagangannya. Menurutnya, ada selisih harga bawang yang dia jual dengan pedagang lain. Alasannya, dirinya hanya menjual bawang dengan harga grosir. Karena itu, lebih murah dari pedagang lain yang menjual eceran. “Jelas lebih murah. Karena saya hanya menjual grosir,” imbuhnya.

Dulu, sekitar tujuh bulan lalu, Septi hanya menjual bawang dengan permintaan grosir minimal 10 kilogram. Begitu wabah korona datang, pembelian bawang menurun. Dampaknya, tak sedikit bawang yang rusak akibat lama didiamkan. Septi pun kemudian memangkas minimal pembelian bawang menjadi lima kilogram saja.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/