alexametrics
30.2 C
Jember
Tuesday, 9 August 2022

Bos Fariz Divonis Bebas

Hanya Tiga Dipenjara, Kejaksaan Siap Kasasi

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Drama perjalanan panjang perkara korupsi revitalisasi Pasar Manggisan diputus majelis hakim, kemarin (15/9). Tiga dari empat orang terdakwa divonis bersalah. Sedangkan satu orang lagi dinyatakan bebas, di Pengadilan Negeri Tindak Pidana Korupsi (PN Tipikor) Surabaya di Sidoarjo.

Sidang dengan agenda putusan ini menjatuhkan vonis yang berbeda-beda kepada empat terdakwa. Masing-masing adalah Mantan Kepala Dinas Disperindag Jember, Anas Ma’ruf. Edy Shandy selaku pelaksana proyek, M Fariz Nurhidayat sebagai konsultan perencana, dan bos Fariz, yaitu Sugeng Irawan Widodo alias Dodik, Direktur PT Maksi Solusi Enjinering. Tempat Fariz bekerja.

Dalam sidang yang diketuai Hisbullah Idris itu, Anas Ma’ruf dijatuhi hukuman kurungan penjara empat tahun. Anas juga didenda sebesar Rp 200 juta subsider 2 bulan penjara. Dalam putusannya, Anas tak dikenakan uang pengganti kerugian negara. Alasan hakim, Anas tidak terbukti memakan aliran dana rasuah tersebut.

Mobile_AP_Rectangle 2

Pelaksana proyek, Edy Shandy, diputus bersalah dengan sanksi hukuman lebih tinggi dari Anas. Pria asal Nusa Tenggara Barat (NTB) ini dijatuhi hukuman enam tahun penjara, denda Rp 200 juta subsider 2 bulan. Tak hanya itu, Edy juga diwajibkan membayar uang pengganti sebesar Rp 1 miliar. Apabila tidak dapat membayar, maka harta bendanya bakal dilelang kejaksaan. Bahkan, kalaupun tak bisa menutupi uang pengganti Rp 1 miliar, maka penjara 3 tahun sebagai gantinya.

Sementara itu, terdakwa Fariz Nurhidayat nyaris sama dengan putusan yang dijatuhkan kepada Anas dan tergolong berat. Pria kelahiran 1990 itu divonis lima tahun penjara, dengan denda Rp 200 juta subsider 2 bulan. Dia pula diwajibkan membayar uang pengganti Rp 90 juta. Jika tidak membayar, maka harta bendanya juga bakal dilelang. Bila pembayaran tak mencukupi, akan diganti penjara setahun.

Sementara itu, terdakwa keempat adalah Sugeng Irawan Widodo alias Dodik. Putusan pria yang menjadi bos Fariz ini yang cukup mengejutkan banyak pihak. Dia dinyatakan bebas oleh majelis hakim PN Tipikor.

Sebelum vonis bebas dihadiahkan kepada Dodik, majelis hakim sempat menyatakan dissenting opinion (DO). Ketua Majelis Hakim Hisbullah Idris menyatakan Dodik bersalah. Sedangkan hakim anggota Moh Mahin menyatakan Dodik bebas. Demikian juga dengan hakim anggota Emma, juga menilai Dodik tidak bersalah. Dengan penerapan DO tersebut, Dodik pun dinyatakan bebas dalam amar putusan yang dibacakan hakim.

Menurut Christie Jacobus, penasihat hukum Dodik, pihaknya memang menilai sejak awal kliennya benar dan tidak bersalah. “Dia (Dodik, Red) bertindak dalam kapasitasnya. Hanya mendesain dan menggambar bangunan saja. Bahkan tidak ikut proses lelang. Yang meminjam bendera CV ya Fariz, Dodik tidak mengetahuinya,” tutur Christie kepada Jawa Pos Radar Jember, seusai persidangan.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Drama perjalanan panjang perkara korupsi revitalisasi Pasar Manggisan diputus majelis hakim, kemarin (15/9). Tiga dari empat orang terdakwa divonis bersalah. Sedangkan satu orang lagi dinyatakan bebas, di Pengadilan Negeri Tindak Pidana Korupsi (PN Tipikor) Surabaya di Sidoarjo.

Sidang dengan agenda putusan ini menjatuhkan vonis yang berbeda-beda kepada empat terdakwa. Masing-masing adalah Mantan Kepala Dinas Disperindag Jember, Anas Ma’ruf. Edy Shandy selaku pelaksana proyek, M Fariz Nurhidayat sebagai konsultan perencana, dan bos Fariz, yaitu Sugeng Irawan Widodo alias Dodik, Direktur PT Maksi Solusi Enjinering. Tempat Fariz bekerja.

Dalam sidang yang diketuai Hisbullah Idris itu, Anas Ma’ruf dijatuhi hukuman kurungan penjara empat tahun. Anas juga didenda sebesar Rp 200 juta subsider 2 bulan penjara. Dalam putusannya, Anas tak dikenakan uang pengganti kerugian negara. Alasan hakim, Anas tidak terbukti memakan aliran dana rasuah tersebut.

Pelaksana proyek, Edy Shandy, diputus bersalah dengan sanksi hukuman lebih tinggi dari Anas. Pria asal Nusa Tenggara Barat (NTB) ini dijatuhi hukuman enam tahun penjara, denda Rp 200 juta subsider 2 bulan. Tak hanya itu, Edy juga diwajibkan membayar uang pengganti sebesar Rp 1 miliar. Apabila tidak dapat membayar, maka harta bendanya bakal dilelang kejaksaan. Bahkan, kalaupun tak bisa menutupi uang pengganti Rp 1 miliar, maka penjara 3 tahun sebagai gantinya.

Sementara itu, terdakwa Fariz Nurhidayat nyaris sama dengan putusan yang dijatuhkan kepada Anas dan tergolong berat. Pria kelahiran 1990 itu divonis lima tahun penjara, dengan denda Rp 200 juta subsider 2 bulan. Dia pula diwajibkan membayar uang pengganti Rp 90 juta. Jika tidak membayar, maka harta bendanya juga bakal dilelang. Bila pembayaran tak mencukupi, akan diganti penjara setahun.

Sementara itu, terdakwa keempat adalah Sugeng Irawan Widodo alias Dodik. Putusan pria yang menjadi bos Fariz ini yang cukup mengejutkan banyak pihak. Dia dinyatakan bebas oleh majelis hakim PN Tipikor.

Sebelum vonis bebas dihadiahkan kepada Dodik, majelis hakim sempat menyatakan dissenting opinion (DO). Ketua Majelis Hakim Hisbullah Idris menyatakan Dodik bersalah. Sedangkan hakim anggota Moh Mahin menyatakan Dodik bebas. Demikian juga dengan hakim anggota Emma, juga menilai Dodik tidak bersalah. Dengan penerapan DO tersebut, Dodik pun dinyatakan bebas dalam amar putusan yang dibacakan hakim.

Menurut Christie Jacobus, penasihat hukum Dodik, pihaknya memang menilai sejak awal kliennya benar dan tidak bersalah. “Dia (Dodik, Red) bertindak dalam kapasitasnya. Hanya mendesain dan menggambar bangunan saja. Bahkan tidak ikut proses lelang. Yang meminjam bendera CV ya Fariz, Dodik tidak mengetahuinya,” tutur Christie kepada Jawa Pos Radar Jember, seusai persidangan.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Drama perjalanan panjang perkara korupsi revitalisasi Pasar Manggisan diputus majelis hakim, kemarin (15/9). Tiga dari empat orang terdakwa divonis bersalah. Sedangkan satu orang lagi dinyatakan bebas, di Pengadilan Negeri Tindak Pidana Korupsi (PN Tipikor) Surabaya di Sidoarjo.

Sidang dengan agenda putusan ini menjatuhkan vonis yang berbeda-beda kepada empat terdakwa. Masing-masing adalah Mantan Kepala Dinas Disperindag Jember, Anas Ma’ruf. Edy Shandy selaku pelaksana proyek, M Fariz Nurhidayat sebagai konsultan perencana, dan bos Fariz, yaitu Sugeng Irawan Widodo alias Dodik, Direktur PT Maksi Solusi Enjinering. Tempat Fariz bekerja.

Dalam sidang yang diketuai Hisbullah Idris itu, Anas Ma’ruf dijatuhi hukuman kurungan penjara empat tahun. Anas juga didenda sebesar Rp 200 juta subsider 2 bulan penjara. Dalam putusannya, Anas tak dikenakan uang pengganti kerugian negara. Alasan hakim, Anas tidak terbukti memakan aliran dana rasuah tersebut.

Pelaksana proyek, Edy Shandy, diputus bersalah dengan sanksi hukuman lebih tinggi dari Anas. Pria asal Nusa Tenggara Barat (NTB) ini dijatuhi hukuman enam tahun penjara, denda Rp 200 juta subsider 2 bulan. Tak hanya itu, Edy juga diwajibkan membayar uang pengganti sebesar Rp 1 miliar. Apabila tidak dapat membayar, maka harta bendanya bakal dilelang kejaksaan. Bahkan, kalaupun tak bisa menutupi uang pengganti Rp 1 miliar, maka penjara 3 tahun sebagai gantinya.

Sementara itu, terdakwa Fariz Nurhidayat nyaris sama dengan putusan yang dijatuhkan kepada Anas dan tergolong berat. Pria kelahiran 1990 itu divonis lima tahun penjara, dengan denda Rp 200 juta subsider 2 bulan. Dia pula diwajibkan membayar uang pengganti Rp 90 juta. Jika tidak membayar, maka harta bendanya juga bakal dilelang. Bila pembayaran tak mencukupi, akan diganti penjara setahun.

Sementara itu, terdakwa keempat adalah Sugeng Irawan Widodo alias Dodik. Putusan pria yang menjadi bos Fariz ini yang cukup mengejutkan banyak pihak. Dia dinyatakan bebas oleh majelis hakim PN Tipikor.

Sebelum vonis bebas dihadiahkan kepada Dodik, majelis hakim sempat menyatakan dissenting opinion (DO). Ketua Majelis Hakim Hisbullah Idris menyatakan Dodik bersalah. Sedangkan hakim anggota Moh Mahin menyatakan Dodik bebas. Demikian juga dengan hakim anggota Emma, juga menilai Dodik tidak bersalah. Dengan penerapan DO tersebut, Dodik pun dinyatakan bebas dalam amar putusan yang dibacakan hakim.

Menurut Christie Jacobus, penasihat hukum Dodik, pihaknya memang menilai sejak awal kliennya benar dan tidak bersalah. “Dia (Dodik, Red) bertindak dalam kapasitasnya. Hanya mendesain dan menggambar bangunan saja. Bahkan tidak ikut proses lelang. Yang meminjam bendera CV ya Fariz, Dodik tidak mengetahuinya,” tutur Christie kepada Jawa Pos Radar Jember, seusai persidangan.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/