alexametrics
23.7 C
Jember
Saturday, 24 September 2022

Ekonomi dan Internet Dominasi Faktor Kekerasan Pada Anak

Ekonomi dan Internet Dominasi Faktor Kekerasan

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Kasus kekerasan terhadap anak di Jember sampai pertengahan tahun ini masih terus terjadi. Bahkan berdasarkan data yang ada terjadi tren peningkatan dibanding tahun sebelumnya.

Berbahaya ! Ancaman Nyata Di Perlintasan Kereta Api Tanpa Penjaga

Hal ini merujuk dari data Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana (DP3AKB) Jember. Berdasarkan rekap kasus DP3AKB, di Tahun 2020 ada 151 kasus, kemudian Tahun 2021 sebanyak 181 kasus, dan mulai Januari hingga Agustus 2022 ini sudah 115 kasus.

Mobile_AP_Rectangle 2

Kekerasan terhadap anak di Jember terdiri atas kekerasan fisik, kekerasan psikis,kekerasan seksual, penelantaran anak, dan kekerasan dalam rumah tangga (KDRT). Namun khasus yang paling banyak terjadi di Jember yaitu kekerasan psikis. Anak berjenis kelamin perempuan yang paling banyak menjadi korban, kemudian anak laki-laki.

“Kekerasan psikis dan kekerasan seksual merupakan kasus yang mendominasi tindak kekerasan terhadap anak di Jember,” jelas Joko Sutriswanto, Kepala Bidang (Kabid) Perlindungan Anak DP3AKB.

Dia mengungkapkan, ada sejumlah faktor terjadinya khasus kekerasan terhadap anak. Faktor tersebut diantaranya yaitu tingkat pendidikan yang masih rendah, pemakaian internet yang masih masif, ekonomi, dan perceraian.

Dengan menggandeng Dinas Pendidikan, DP3AKB mewajibkan disetiap sekolahan untuk dibentuk satgas anak. Guna meminimalisir kekerasan anak di tingkat sekolah, khusunya tingak SD dan SMP.

“Kita juga membentuk desa anak, dimana anggotanya terdiri dari anak-anak desa yang didampingi oleh tim khusus dari desa. Desa anak ini juga mendapat anggaran dari pemerintah sebesar Rp 20 juta,” tutupnya.

Jurnalis: mg6
Fotografer: Jumai
Editor: Muchammad Ainul Budi

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Kasus kekerasan terhadap anak di Jember sampai pertengahan tahun ini masih terus terjadi. Bahkan berdasarkan data yang ada terjadi tren peningkatan dibanding tahun sebelumnya.

Berbahaya ! Ancaman Nyata Di Perlintasan Kereta Api Tanpa Penjaga

Hal ini merujuk dari data Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana (DP3AKB) Jember. Berdasarkan rekap kasus DP3AKB, di Tahun 2020 ada 151 kasus, kemudian Tahun 2021 sebanyak 181 kasus, dan mulai Januari hingga Agustus 2022 ini sudah 115 kasus.

Kekerasan terhadap anak di Jember terdiri atas kekerasan fisik, kekerasan psikis,kekerasan seksual, penelantaran anak, dan kekerasan dalam rumah tangga (KDRT). Namun khasus yang paling banyak terjadi di Jember yaitu kekerasan psikis. Anak berjenis kelamin perempuan yang paling banyak menjadi korban, kemudian anak laki-laki.

“Kekerasan psikis dan kekerasan seksual merupakan kasus yang mendominasi tindak kekerasan terhadap anak di Jember,” jelas Joko Sutriswanto, Kepala Bidang (Kabid) Perlindungan Anak DP3AKB.

Dia mengungkapkan, ada sejumlah faktor terjadinya khasus kekerasan terhadap anak. Faktor tersebut diantaranya yaitu tingkat pendidikan yang masih rendah, pemakaian internet yang masih masif, ekonomi, dan perceraian.

Dengan menggandeng Dinas Pendidikan, DP3AKB mewajibkan disetiap sekolahan untuk dibentuk satgas anak. Guna meminimalisir kekerasan anak di tingkat sekolah, khusunya tingak SD dan SMP.

“Kita juga membentuk desa anak, dimana anggotanya terdiri dari anak-anak desa yang didampingi oleh tim khusus dari desa. Desa anak ini juga mendapat anggaran dari pemerintah sebesar Rp 20 juta,” tutupnya.

Jurnalis: mg6
Fotografer: Jumai
Editor: Muchammad Ainul Budi

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Kasus kekerasan terhadap anak di Jember sampai pertengahan tahun ini masih terus terjadi. Bahkan berdasarkan data yang ada terjadi tren peningkatan dibanding tahun sebelumnya.

Berbahaya ! Ancaman Nyata Di Perlintasan Kereta Api Tanpa Penjaga

Hal ini merujuk dari data Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana (DP3AKB) Jember. Berdasarkan rekap kasus DP3AKB, di Tahun 2020 ada 151 kasus, kemudian Tahun 2021 sebanyak 181 kasus, dan mulai Januari hingga Agustus 2022 ini sudah 115 kasus.

Kekerasan terhadap anak di Jember terdiri atas kekerasan fisik, kekerasan psikis,kekerasan seksual, penelantaran anak, dan kekerasan dalam rumah tangga (KDRT). Namun khasus yang paling banyak terjadi di Jember yaitu kekerasan psikis. Anak berjenis kelamin perempuan yang paling banyak menjadi korban, kemudian anak laki-laki.

“Kekerasan psikis dan kekerasan seksual merupakan kasus yang mendominasi tindak kekerasan terhadap anak di Jember,” jelas Joko Sutriswanto, Kepala Bidang (Kabid) Perlindungan Anak DP3AKB.

Dia mengungkapkan, ada sejumlah faktor terjadinya khasus kekerasan terhadap anak. Faktor tersebut diantaranya yaitu tingkat pendidikan yang masih rendah, pemakaian internet yang masih masif, ekonomi, dan perceraian.

Dengan menggandeng Dinas Pendidikan, DP3AKB mewajibkan disetiap sekolahan untuk dibentuk satgas anak. Guna meminimalisir kekerasan anak di tingkat sekolah, khusunya tingak SD dan SMP.

“Kita juga membentuk desa anak, dimana anggotanya terdiri dari anak-anak desa yang didampingi oleh tim khusus dari desa. Desa anak ini juga mendapat anggaran dari pemerintah sebesar Rp 20 juta,” tutupnya.

Jurnalis: mg6
Fotografer: Jumai
Editor: Muchammad Ainul Budi

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/