alexametrics
24 C
Jember
Monday, 8 August 2022

Sekolah Inpresi Kalah Minat dengan Sekolah Swasta, Begini penjelasannya

Kalah Saing dengan Swasta

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – MENILIK ke belakang, sebenarnya program SD inpres yang digagas pada masa Presiden Soeharto bertujuan untuk membantu jutaan anak Indonesia agar mengenyam pendidikan dasar dengan biaya murah. Sasaran program tersebut terbagi menjadi tiga kelompok. Yaitu golongan anak orang miskin, anak-anak di daerah terpencil, dan anak-anak cacat mental maupun fisik. Lalu, apa yang menjadi penyebab sekolah itu kini banyak yang tutup?

Ketua Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Kabupaten Jember Supriyono, yang mengamati perjalanan pendidikan di Jember, menjelaskan, penutupan SD inpres bermula sekitar 15 tahun lalu. Di samping adanya program KB, secara alamiah jumlah anak-anak di daerah pelosok juga menurun. Kondisi ini berdampak pada jumlah anak sekolah yang juga menurun.

Selain itu, penutupan SD inpres juga tak luput dari banyaknya kompetitor yang lebih berkualitas. Misalnya sekolah swasta. Apalagi, belakangan ini masyarakat mulai mengalihkan minatnya dari SD inpres milik pemerintah ke sekolah swasta yang merupakan milik yayasan. “Ini merupakan faktor alami di mana masyarakat ingin mendapatkan pendidikan yang berkualitas. Dan sekolah swasta menjawab kebutuhan masyarakat itu. Akhirnya, satu per satu mereka mulai beralih ke sekolah swasta,” katanya.

Mobile_AP_Rectangle 2

Saat terjadi peralihan minat, secara otomatis siswa di SD inpres pun mulai berguguran. Karenanya, saat sekolah kehilangan siswanya, akhirnya menyatukan sisa siswa yang ada untuk mengenyam pendidikan di sekolah lain yang terdekat. Masyarakat juga menilai, sistem pendidikan di SD inpres masih kalah jauh dibanding sistem pendidikan di sekolah swasta. Inilah yang membuat masyarakat rela membayar mahal demi menyekolahkan anak-anaknya ke sekolah swasta yang dianggap menjamin masa depannya.

“Pemerataan pendidikan itu tugas pemerintah. Namun, di sini pemerintah harus melihat apakah lembaga pendidikan yang dibangun sudah sesuai standar atau belum. Sedangkan saingannya sangat cepat dan hebat dalam berinovasi membuat sistem pendidikan,” imbuhnya.

Dia menyebut, persaingan menjadi faktor utama dalam penutupan SD inpres. Siapa yang tidak bisa bertarung, maka mereka akan mati. Inilah yang menjadi fenomena bahwa sumber daya guru, khususnya yang bertugas di SD inpres, tidak terbiasa untuk berkompetisi. “Dalam hal ini, bukan hanya salah lingkungan, tapi juga dilihat dari gurunya. Misal, pelayanan kepada wali siswa kurang maksimal, jam sekolah tidak disiplin. Siapa pun wali murid, kalau sekolah seperti itu, tidak akan mau menyekolahkan anaknya di sana,” ucapnya.

Langkah yang bisa diambil pemerintah dalam melakukan pemerataan pendidikan salah satunya dengan adanya kebijakan sekolah gratis 12 tahun. “Ini harusnya menjadi tanggungan pemerintah. Pendidikan diposisikan sebagai hak dasar, menjadi hal yang harus dipenuhi. Ini yang masih menjadi problem hingga saat ini,” urainya.

Selain itu, untuk meningkatkan kualitas sumber daya guru, pemerintah juga harus memberikan dukungan berupa insentif kepada para guru. Agar mereka menggunakan insentif tersebut untuk mengikuti pelatihan atau diklat guru. Dengan demikian, mereka mampu bersaing dengan guru swasta dan menaikkan standar sekolah milik pemerintah. “Kita harus menjemput bola. Mendukung guru untuk upgrade skill. Dukungan ini bisa berbentuk insentif agar guru mengikuti pelatihan atau diklat,” jelasnya.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – MENILIK ke belakang, sebenarnya program SD inpres yang digagas pada masa Presiden Soeharto bertujuan untuk membantu jutaan anak Indonesia agar mengenyam pendidikan dasar dengan biaya murah. Sasaran program tersebut terbagi menjadi tiga kelompok. Yaitu golongan anak orang miskin, anak-anak di daerah terpencil, dan anak-anak cacat mental maupun fisik. Lalu, apa yang menjadi penyebab sekolah itu kini banyak yang tutup?

Ketua Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Kabupaten Jember Supriyono, yang mengamati perjalanan pendidikan di Jember, menjelaskan, penutupan SD inpres bermula sekitar 15 tahun lalu. Di samping adanya program KB, secara alamiah jumlah anak-anak di daerah pelosok juga menurun. Kondisi ini berdampak pada jumlah anak sekolah yang juga menurun.

Selain itu, penutupan SD inpres juga tak luput dari banyaknya kompetitor yang lebih berkualitas. Misalnya sekolah swasta. Apalagi, belakangan ini masyarakat mulai mengalihkan minatnya dari SD inpres milik pemerintah ke sekolah swasta yang merupakan milik yayasan. “Ini merupakan faktor alami di mana masyarakat ingin mendapatkan pendidikan yang berkualitas. Dan sekolah swasta menjawab kebutuhan masyarakat itu. Akhirnya, satu per satu mereka mulai beralih ke sekolah swasta,” katanya.

Saat terjadi peralihan minat, secara otomatis siswa di SD inpres pun mulai berguguran. Karenanya, saat sekolah kehilangan siswanya, akhirnya menyatukan sisa siswa yang ada untuk mengenyam pendidikan di sekolah lain yang terdekat. Masyarakat juga menilai, sistem pendidikan di SD inpres masih kalah jauh dibanding sistem pendidikan di sekolah swasta. Inilah yang membuat masyarakat rela membayar mahal demi menyekolahkan anak-anaknya ke sekolah swasta yang dianggap menjamin masa depannya.

“Pemerataan pendidikan itu tugas pemerintah. Namun, di sini pemerintah harus melihat apakah lembaga pendidikan yang dibangun sudah sesuai standar atau belum. Sedangkan saingannya sangat cepat dan hebat dalam berinovasi membuat sistem pendidikan,” imbuhnya.

Dia menyebut, persaingan menjadi faktor utama dalam penutupan SD inpres. Siapa yang tidak bisa bertarung, maka mereka akan mati. Inilah yang menjadi fenomena bahwa sumber daya guru, khususnya yang bertugas di SD inpres, tidak terbiasa untuk berkompetisi. “Dalam hal ini, bukan hanya salah lingkungan, tapi juga dilihat dari gurunya. Misal, pelayanan kepada wali siswa kurang maksimal, jam sekolah tidak disiplin. Siapa pun wali murid, kalau sekolah seperti itu, tidak akan mau menyekolahkan anaknya di sana,” ucapnya.

Langkah yang bisa diambil pemerintah dalam melakukan pemerataan pendidikan salah satunya dengan adanya kebijakan sekolah gratis 12 tahun. “Ini harusnya menjadi tanggungan pemerintah. Pendidikan diposisikan sebagai hak dasar, menjadi hal yang harus dipenuhi. Ini yang masih menjadi problem hingga saat ini,” urainya.

Selain itu, untuk meningkatkan kualitas sumber daya guru, pemerintah juga harus memberikan dukungan berupa insentif kepada para guru. Agar mereka menggunakan insentif tersebut untuk mengikuti pelatihan atau diklat guru. Dengan demikian, mereka mampu bersaing dengan guru swasta dan menaikkan standar sekolah milik pemerintah. “Kita harus menjemput bola. Mendukung guru untuk upgrade skill. Dukungan ini bisa berbentuk insentif agar guru mengikuti pelatihan atau diklat,” jelasnya.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – MENILIK ke belakang, sebenarnya program SD inpres yang digagas pada masa Presiden Soeharto bertujuan untuk membantu jutaan anak Indonesia agar mengenyam pendidikan dasar dengan biaya murah. Sasaran program tersebut terbagi menjadi tiga kelompok. Yaitu golongan anak orang miskin, anak-anak di daerah terpencil, dan anak-anak cacat mental maupun fisik. Lalu, apa yang menjadi penyebab sekolah itu kini banyak yang tutup?

Ketua Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Kabupaten Jember Supriyono, yang mengamati perjalanan pendidikan di Jember, menjelaskan, penutupan SD inpres bermula sekitar 15 tahun lalu. Di samping adanya program KB, secara alamiah jumlah anak-anak di daerah pelosok juga menurun. Kondisi ini berdampak pada jumlah anak sekolah yang juga menurun.

Selain itu, penutupan SD inpres juga tak luput dari banyaknya kompetitor yang lebih berkualitas. Misalnya sekolah swasta. Apalagi, belakangan ini masyarakat mulai mengalihkan minatnya dari SD inpres milik pemerintah ke sekolah swasta yang merupakan milik yayasan. “Ini merupakan faktor alami di mana masyarakat ingin mendapatkan pendidikan yang berkualitas. Dan sekolah swasta menjawab kebutuhan masyarakat itu. Akhirnya, satu per satu mereka mulai beralih ke sekolah swasta,” katanya.

Saat terjadi peralihan minat, secara otomatis siswa di SD inpres pun mulai berguguran. Karenanya, saat sekolah kehilangan siswanya, akhirnya menyatukan sisa siswa yang ada untuk mengenyam pendidikan di sekolah lain yang terdekat. Masyarakat juga menilai, sistem pendidikan di SD inpres masih kalah jauh dibanding sistem pendidikan di sekolah swasta. Inilah yang membuat masyarakat rela membayar mahal demi menyekolahkan anak-anaknya ke sekolah swasta yang dianggap menjamin masa depannya.

“Pemerataan pendidikan itu tugas pemerintah. Namun, di sini pemerintah harus melihat apakah lembaga pendidikan yang dibangun sudah sesuai standar atau belum. Sedangkan saingannya sangat cepat dan hebat dalam berinovasi membuat sistem pendidikan,” imbuhnya.

Dia menyebut, persaingan menjadi faktor utama dalam penutupan SD inpres. Siapa yang tidak bisa bertarung, maka mereka akan mati. Inilah yang menjadi fenomena bahwa sumber daya guru, khususnya yang bertugas di SD inpres, tidak terbiasa untuk berkompetisi. “Dalam hal ini, bukan hanya salah lingkungan, tapi juga dilihat dari gurunya. Misal, pelayanan kepada wali siswa kurang maksimal, jam sekolah tidak disiplin. Siapa pun wali murid, kalau sekolah seperti itu, tidak akan mau menyekolahkan anaknya di sana,” ucapnya.

Langkah yang bisa diambil pemerintah dalam melakukan pemerataan pendidikan salah satunya dengan adanya kebijakan sekolah gratis 12 tahun. “Ini harusnya menjadi tanggungan pemerintah. Pendidikan diposisikan sebagai hak dasar, menjadi hal yang harus dipenuhi. Ini yang masih menjadi problem hingga saat ini,” urainya.

Selain itu, untuk meningkatkan kualitas sumber daya guru, pemerintah juga harus memberikan dukungan berupa insentif kepada para guru. Agar mereka menggunakan insentif tersebut untuk mengikuti pelatihan atau diklat guru. Dengan demikian, mereka mampu bersaing dengan guru swasta dan menaikkan standar sekolah milik pemerintah. “Kita harus menjemput bola. Mendukung guru untuk upgrade skill. Dukungan ini bisa berbentuk insentif agar guru mengikuti pelatihan atau diklat,” jelasnya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/