alexametrics
20.1 C
Jember
Wednesday, 29 June 2022

Bekas Gedung SD Inpres yang Terbengkalai, Akankah Dipakai untuk Ini ?

Tak Jelas Regulasi Pemakai Gedung Bekas SD Inpres Sehingga Tak Banyak Dimanfaatkan

Mobile_AP_Rectangle 1

AMBULU, RADARJEMBER.ID –  KESENIAN dan olahraga menjadi kegiatan masyarakat hingga ke tingkat desa. Dua aktivitas tersebut banyak yang terhambat karena tidak memiliki tempat tetap untuk latihan. Bisakah aktivitas seni dan olahraga itu memakai bekas gedung SD inpres?

Pelaku seni dari Sanggar Kartika Budaya, Ernys Kartika, mengatakan, SD inpres yang menjadi peninggalan sekolah pada era Orde Baru tersebut hampir ada di setiap desa. Namun, sebagian sudah tidak dipakai lagi karena telah tutup. Kemudian, apakah bekas gedung SD inpres tersebut bisa dipakai untuk kegiatan seni budaya, termasuk untuk latihan? “Kalau hanya dipakai saja, ya, sangat bisa,” ucap perempuan yang juga guru di SMPN 1 Ambulu ini.

Namun, menurut dia, yang membuat bingung adalah tentang regulasi pemakai gedung bekas SD inpres itu. Sebab, masyarakat di bawah belum tahu mekanismenya seperti apa. “Birokrasinya untuk memanfaatkan bekas SD inpres tersebut seperti apa, kami tidak paham,” tuturnya.

Mobile_AP_Rectangle 2

Dia menjelaskan, seniman di Jember menyebar ke pelosok desa. Secara sederhana, Ernys membaginya menjadi dua kelompok. Ada yang tradisi berupa paguyuban dan ada yang berbentuk sanggar. Seniman paguyuban ada beberapa norma yang dipakai, menurut kearifan lokal yang ada. Pada umumnya, untuk latihan dilakukan oleh para seniman yang dituakan. Sementara, sanggar banyak memakai rumah pribadi.

Biasanya, kata dia, gedung milik pemerintah yang kerap dipakai latihan, baik dari seniman paguyuban maupun sanggar, adalah balai desa. “Kalau balai desa ada kegiatan dan lainnya, terpaksa latihannya tertunda,” tuturnya.

Dia mengaku, masih sangat jarang seniman Jember memiliki tempat latihan yang representatif. Meski begitu, bila memakai eks gedung SD inpres, maka juga tidak bisa langsung disebut representatif. “Karena perlu ada pembenahan dan lainnya agar nyaman untuk menjadi tempat latihan,” tuturnya.

Seandainya bekas SD inpres tersebut bisa jadi tanggung jawab desa, maka bisa saja untuk melakukan rehabilitasi bekas sekolah itu dan dijadikan sebagai tempat kegiatan masyarakat. “Tidak hanya untuk kegiatan seni, bisa jadi kegiatan masyarakat lainnya. Jadi balai latihan batik misalnya, atau pelatihan berbasis masyarakat desa, olahraga, dan lainnya,” terangnya.

- Advertisement -

AMBULU, RADARJEMBER.ID –  KESENIAN dan olahraga menjadi kegiatan masyarakat hingga ke tingkat desa. Dua aktivitas tersebut banyak yang terhambat karena tidak memiliki tempat tetap untuk latihan. Bisakah aktivitas seni dan olahraga itu memakai bekas gedung SD inpres?

Pelaku seni dari Sanggar Kartika Budaya, Ernys Kartika, mengatakan, SD inpres yang menjadi peninggalan sekolah pada era Orde Baru tersebut hampir ada di setiap desa. Namun, sebagian sudah tidak dipakai lagi karena telah tutup. Kemudian, apakah bekas gedung SD inpres tersebut bisa dipakai untuk kegiatan seni budaya, termasuk untuk latihan? “Kalau hanya dipakai saja, ya, sangat bisa,” ucap perempuan yang juga guru di SMPN 1 Ambulu ini.

Namun, menurut dia, yang membuat bingung adalah tentang regulasi pemakai gedung bekas SD inpres itu. Sebab, masyarakat di bawah belum tahu mekanismenya seperti apa. “Birokrasinya untuk memanfaatkan bekas SD inpres tersebut seperti apa, kami tidak paham,” tuturnya.

Dia menjelaskan, seniman di Jember menyebar ke pelosok desa. Secara sederhana, Ernys membaginya menjadi dua kelompok. Ada yang tradisi berupa paguyuban dan ada yang berbentuk sanggar. Seniman paguyuban ada beberapa norma yang dipakai, menurut kearifan lokal yang ada. Pada umumnya, untuk latihan dilakukan oleh para seniman yang dituakan. Sementara, sanggar banyak memakai rumah pribadi.

Biasanya, kata dia, gedung milik pemerintah yang kerap dipakai latihan, baik dari seniman paguyuban maupun sanggar, adalah balai desa. “Kalau balai desa ada kegiatan dan lainnya, terpaksa latihannya tertunda,” tuturnya.

Dia mengaku, masih sangat jarang seniman Jember memiliki tempat latihan yang representatif. Meski begitu, bila memakai eks gedung SD inpres, maka juga tidak bisa langsung disebut representatif. “Karena perlu ada pembenahan dan lainnya agar nyaman untuk menjadi tempat latihan,” tuturnya.

Seandainya bekas SD inpres tersebut bisa jadi tanggung jawab desa, maka bisa saja untuk melakukan rehabilitasi bekas sekolah itu dan dijadikan sebagai tempat kegiatan masyarakat. “Tidak hanya untuk kegiatan seni, bisa jadi kegiatan masyarakat lainnya. Jadi balai latihan batik misalnya, atau pelatihan berbasis masyarakat desa, olahraga, dan lainnya,” terangnya.

AMBULU, RADARJEMBER.ID –  KESENIAN dan olahraga menjadi kegiatan masyarakat hingga ke tingkat desa. Dua aktivitas tersebut banyak yang terhambat karena tidak memiliki tempat tetap untuk latihan. Bisakah aktivitas seni dan olahraga itu memakai bekas gedung SD inpres?

Pelaku seni dari Sanggar Kartika Budaya, Ernys Kartika, mengatakan, SD inpres yang menjadi peninggalan sekolah pada era Orde Baru tersebut hampir ada di setiap desa. Namun, sebagian sudah tidak dipakai lagi karena telah tutup. Kemudian, apakah bekas gedung SD inpres tersebut bisa dipakai untuk kegiatan seni budaya, termasuk untuk latihan? “Kalau hanya dipakai saja, ya, sangat bisa,” ucap perempuan yang juga guru di SMPN 1 Ambulu ini.

Namun, menurut dia, yang membuat bingung adalah tentang regulasi pemakai gedung bekas SD inpres itu. Sebab, masyarakat di bawah belum tahu mekanismenya seperti apa. “Birokrasinya untuk memanfaatkan bekas SD inpres tersebut seperti apa, kami tidak paham,” tuturnya.

Dia menjelaskan, seniman di Jember menyebar ke pelosok desa. Secara sederhana, Ernys membaginya menjadi dua kelompok. Ada yang tradisi berupa paguyuban dan ada yang berbentuk sanggar. Seniman paguyuban ada beberapa norma yang dipakai, menurut kearifan lokal yang ada. Pada umumnya, untuk latihan dilakukan oleh para seniman yang dituakan. Sementara, sanggar banyak memakai rumah pribadi.

Biasanya, kata dia, gedung milik pemerintah yang kerap dipakai latihan, baik dari seniman paguyuban maupun sanggar, adalah balai desa. “Kalau balai desa ada kegiatan dan lainnya, terpaksa latihannya tertunda,” tuturnya.

Dia mengaku, masih sangat jarang seniman Jember memiliki tempat latihan yang representatif. Meski begitu, bila memakai eks gedung SD inpres, maka juga tidak bisa langsung disebut representatif. “Karena perlu ada pembenahan dan lainnya agar nyaman untuk menjadi tempat latihan,” tuturnya.

Seandainya bekas SD inpres tersebut bisa jadi tanggung jawab desa, maka bisa saja untuk melakukan rehabilitasi bekas sekolah itu dan dijadikan sebagai tempat kegiatan masyarakat. “Tidak hanya untuk kegiatan seni, bisa jadi kegiatan masyarakat lainnya. Jadi balai latihan batik misalnya, atau pelatihan berbasis masyarakat desa, olahraga, dan lainnya,” terangnya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/