alexametrics
21.9 C
Jember
Friday, 19 August 2022

Harapan Publik di HUT 23 Radar Jember: Menjadi Media Ramah Anak

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Media massa memiliki peran strategis sebagai penyalur informasi yang menyajikan berita kredibel dan dipercaya. Hal ini bisa dilihat dari upaya kerja yang dilakukan, apakah sesuai Undang-Undang Pers atau justru jauh melenceng. Jawa Pos Radar Jember di usianya yang ke-23 tahun ini, terus berupaya untuk memberi yang terbaik pada semua kalangan, termasuk anak-anak.

Jawa Pos Radar Jember saat ini menjadi sumber informasi paling lengkap dan paling banyak dalam menyajikan berita ditingkat lokal, khususnya di Kabupaten Jember, Lumajang, dan Bondowoso. Bukan saja sebatas media cetak, namun telah merambah pada media digital, e-koran, e-paper, serta berancang-ancang untuk membuat televisi yang diawali dengan pengambangan di berbagai media sosial.

Bagi warga Jember dan sekitarnya, usia 23 tahun berarti telah memasuki usia yang cukup matang. Bisa jadi, anak-anak sekolah dasar 23 tahun yang lalu, masih bisa bernostalgia dengan keberadaan Radar Jember. Bahkan, ditingkat lokal, bisa dibilang tidak ada media lain yang mampu bertahan dan berkembang ditengah pesatnya perkembangan zaman. Bahkan, hari ini, banyak orang yang tidak bisa membedakan wartawan yang sesungguhnya dan wartawan yang sekadar mengaku-aku.

Mobile_AP_Rectangle 2

BACA JUGA: Makin ASSSIC, Makin Istimewa, Makin Cash… Cash… Cash…

Nah, kedewasaan media massa pastinya memiliki tolok ukur. Salah satunya mampu menyajikan berita yang juga dapat dikonsumsi oleh anak-anak. Dengan kata lain, Jawa Pos Radar Jember tengah menuju media yang paling lengkap dan ramah anak. Tidak semua kabar dan informasi yang beredar mampu menyajikan berita seperti ini. Apalagi, proses kerjanya tidak dilakukan dengan cara jurnalistik yang benar.

Direktur Lembaga Gerakan Peduli Perempuan (GPP) Jember, Sri Sulistiyani menerangkan, media massa juga harus mampu menjadi alat bantu untuk menguak ilmu pengetahuan dan informasi yang baik khususnya bagi anak-anaki. Media diharapkan mampu menjadi sumber informasi yang sehat dan juga bisa memberikan ruang ekspresi. Oleh karena itu, penting bagi anak akan adanya media massa yang ramah anak.

Rubrikasi atau konten berita yang dipublikasikan dalam media pemberitaan baik cetak maupun digital, tambah Sulis, diramu dengan sebaik mungkin. Misalnya dengan tidak menuliskan berita soal kriminal maupun musibah dengan narasi yang terlalu vulgar dan mengaduk-aduk emosi. Foto yang diberikan juga sebisa mungkin berupa ilustrasi atau lainnya yang pantas. Gambar yang tidak menimbulkan trauma dan fikiran yang macam-macam pada anak. Ini, agar sampai pada anak tanpa meninggalkan bekas ingatan yang mencekam.

Perempuan yang juga menjadi seorang guru Matematika ini menyampaikan masukkannya kepada Jawa Pos Radar Jember sebagai media pemberitaan yang juga memperhatikan pembaca dari pihak anak. Dengan memberikan rubrikasi khusus bagi anak, kata dia, bisa menjadi ruang dalam memberikan informasi khusus yang bisa dijadikan sumber pengetahuannya. “Bisa melibatkan anak untuk ruangnya dalam berekspresi, seperti kiriman puisi, itu bisa memotivasinya untuk berkarya lebih banyak lagi,” ucapnya.

Rubrik khusus anak menurutnya bisa menjadi wadah menampilkan ekspresi anak. Selain itu, memberikan edukasi yang dibuat untuk membantu orang tua dalam pengasuhan anak. Ini sebagai dukungan kepada orang tua untuk menerapkan pola asuh yang baik bagi putra putrinya. “Beri space dong, untuk anak,” pungkasnya.

Ria Wiyatfi Linsiya Psikolog P3LM Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Jember mengungkapkan, media informasi adalah kebutuhan bagi anak. Pada saat usia 2 sampai 7 tahun, informasi dalam bentuk simbolik dapat meningkatkan pemahamannya dalam berkomunikasi. Ketika usia 8 sampai 11 tahun berbeda lagi, secara pemikiran lebih konkret dan kompleks.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Media massa memiliki peran strategis sebagai penyalur informasi yang menyajikan berita kredibel dan dipercaya. Hal ini bisa dilihat dari upaya kerja yang dilakukan, apakah sesuai Undang-Undang Pers atau justru jauh melenceng. Jawa Pos Radar Jember di usianya yang ke-23 tahun ini, terus berupaya untuk memberi yang terbaik pada semua kalangan, termasuk anak-anak.

Jawa Pos Radar Jember saat ini menjadi sumber informasi paling lengkap dan paling banyak dalam menyajikan berita ditingkat lokal, khususnya di Kabupaten Jember, Lumajang, dan Bondowoso. Bukan saja sebatas media cetak, namun telah merambah pada media digital, e-koran, e-paper, serta berancang-ancang untuk membuat televisi yang diawali dengan pengambangan di berbagai media sosial.

Bagi warga Jember dan sekitarnya, usia 23 tahun berarti telah memasuki usia yang cukup matang. Bisa jadi, anak-anak sekolah dasar 23 tahun yang lalu, masih bisa bernostalgia dengan keberadaan Radar Jember. Bahkan, ditingkat lokal, bisa dibilang tidak ada media lain yang mampu bertahan dan berkembang ditengah pesatnya perkembangan zaman. Bahkan, hari ini, banyak orang yang tidak bisa membedakan wartawan yang sesungguhnya dan wartawan yang sekadar mengaku-aku.

BACA JUGA: Makin ASSSIC, Makin Istimewa, Makin Cash… Cash… Cash…

Nah, kedewasaan media massa pastinya memiliki tolok ukur. Salah satunya mampu menyajikan berita yang juga dapat dikonsumsi oleh anak-anak. Dengan kata lain, Jawa Pos Radar Jember tengah menuju media yang paling lengkap dan ramah anak. Tidak semua kabar dan informasi yang beredar mampu menyajikan berita seperti ini. Apalagi, proses kerjanya tidak dilakukan dengan cara jurnalistik yang benar.

Direktur Lembaga Gerakan Peduli Perempuan (GPP) Jember, Sri Sulistiyani menerangkan, media massa juga harus mampu menjadi alat bantu untuk menguak ilmu pengetahuan dan informasi yang baik khususnya bagi anak-anaki. Media diharapkan mampu menjadi sumber informasi yang sehat dan juga bisa memberikan ruang ekspresi. Oleh karena itu, penting bagi anak akan adanya media massa yang ramah anak.

Rubrikasi atau konten berita yang dipublikasikan dalam media pemberitaan baik cetak maupun digital, tambah Sulis, diramu dengan sebaik mungkin. Misalnya dengan tidak menuliskan berita soal kriminal maupun musibah dengan narasi yang terlalu vulgar dan mengaduk-aduk emosi. Foto yang diberikan juga sebisa mungkin berupa ilustrasi atau lainnya yang pantas. Gambar yang tidak menimbulkan trauma dan fikiran yang macam-macam pada anak. Ini, agar sampai pada anak tanpa meninggalkan bekas ingatan yang mencekam.

Perempuan yang juga menjadi seorang guru Matematika ini menyampaikan masukkannya kepada Jawa Pos Radar Jember sebagai media pemberitaan yang juga memperhatikan pembaca dari pihak anak. Dengan memberikan rubrikasi khusus bagi anak, kata dia, bisa menjadi ruang dalam memberikan informasi khusus yang bisa dijadikan sumber pengetahuannya. “Bisa melibatkan anak untuk ruangnya dalam berekspresi, seperti kiriman puisi, itu bisa memotivasinya untuk berkarya lebih banyak lagi,” ucapnya.

Rubrik khusus anak menurutnya bisa menjadi wadah menampilkan ekspresi anak. Selain itu, memberikan edukasi yang dibuat untuk membantu orang tua dalam pengasuhan anak. Ini sebagai dukungan kepada orang tua untuk menerapkan pola asuh yang baik bagi putra putrinya. “Beri space dong, untuk anak,” pungkasnya.

Ria Wiyatfi Linsiya Psikolog P3LM Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Jember mengungkapkan, media informasi adalah kebutuhan bagi anak. Pada saat usia 2 sampai 7 tahun, informasi dalam bentuk simbolik dapat meningkatkan pemahamannya dalam berkomunikasi. Ketika usia 8 sampai 11 tahun berbeda lagi, secara pemikiran lebih konkret dan kompleks.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Media massa memiliki peran strategis sebagai penyalur informasi yang menyajikan berita kredibel dan dipercaya. Hal ini bisa dilihat dari upaya kerja yang dilakukan, apakah sesuai Undang-Undang Pers atau justru jauh melenceng. Jawa Pos Radar Jember di usianya yang ke-23 tahun ini, terus berupaya untuk memberi yang terbaik pada semua kalangan, termasuk anak-anak.

Jawa Pos Radar Jember saat ini menjadi sumber informasi paling lengkap dan paling banyak dalam menyajikan berita ditingkat lokal, khususnya di Kabupaten Jember, Lumajang, dan Bondowoso. Bukan saja sebatas media cetak, namun telah merambah pada media digital, e-koran, e-paper, serta berancang-ancang untuk membuat televisi yang diawali dengan pengambangan di berbagai media sosial.

Bagi warga Jember dan sekitarnya, usia 23 tahun berarti telah memasuki usia yang cukup matang. Bisa jadi, anak-anak sekolah dasar 23 tahun yang lalu, masih bisa bernostalgia dengan keberadaan Radar Jember. Bahkan, ditingkat lokal, bisa dibilang tidak ada media lain yang mampu bertahan dan berkembang ditengah pesatnya perkembangan zaman. Bahkan, hari ini, banyak orang yang tidak bisa membedakan wartawan yang sesungguhnya dan wartawan yang sekadar mengaku-aku.

BACA JUGA: Makin ASSSIC, Makin Istimewa, Makin Cash… Cash… Cash…

Nah, kedewasaan media massa pastinya memiliki tolok ukur. Salah satunya mampu menyajikan berita yang juga dapat dikonsumsi oleh anak-anak. Dengan kata lain, Jawa Pos Radar Jember tengah menuju media yang paling lengkap dan ramah anak. Tidak semua kabar dan informasi yang beredar mampu menyajikan berita seperti ini. Apalagi, proses kerjanya tidak dilakukan dengan cara jurnalistik yang benar.

Direktur Lembaga Gerakan Peduli Perempuan (GPP) Jember, Sri Sulistiyani menerangkan, media massa juga harus mampu menjadi alat bantu untuk menguak ilmu pengetahuan dan informasi yang baik khususnya bagi anak-anaki. Media diharapkan mampu menjadi sumber informasi yang sehat dan juga bisa memberikan ruang ekspresi. Oleh karena itu, penting bagi anak akan adanya media massa yang ramah anak.

Rubrikasi atau konten berita yang dipublikasikan dalam media pemberitaan baik cetak maupun digital, tambah Sulis, diramu dengan sebaik mungkin. Misalnya dengan tidak menuliskan berita soal kriminal maupun musibah dengan narasi yang terlalu vulgar dan mengaduk-aduk emosi. Foto yang diberikan juga sebisa mungkin berupa ilustrasi atau lainnya yang pantas. Gambar yang tidak menimbulkan trauma dan fikiran yang macam-macam pada anak. Ini, agar sampai pada anak tanpa meninggalkan bekas ingatan yang mencekam.

Perempuan yang juga menjadi seorang guru Matematika ini menyampaikan masukkannya kepada Jawa Pos Radar Jember sebagai media pemberitaan yang juga memperhatikan pembaca dari pihak anak. Dengan memberikan rubrikasi khusus bagi anak, kata dia, bisa menjadi ruang dalam memberikan informasi khusus yang bisa dijadikan sumber pengetahuannya. “Bisa melibatkan anak untuk ruangnya dalam berekspresi, seperti kiriman puisi, itu bisa memotivasinya untuk berkarya lebih banyak lagi,” ucapnya.

Rubrik khusus anak menurutnya bisa menjadi wadah menampilkan ekspresi anak. Selain itu, memberikan edukasi yang dibuat untuk membantu orang tua dalam pengasuhan anak. Ini sebagai dukungan kepada orang tua untuk menerapkan pola asuh yang baik bagi putra putrinya. “Beri space dong, untuk anak,” pungkasnya.

Ria Wiyatfi Linsiya Psikolog P3LM Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Jember mengungkapkan, media informasi adalah kebutuhan bagi anak. Pada saat usia 2 sampai 7 tahun, informasi dalam bentuk simbolik dapat meningkatkan pemahamannya dalam berkomunikasi. Ketika usia 8 sampai 11 tahun berbeda lagi, secara pemikiran lebih konkret dan kompleks.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/