alexametrics
25 C
Jember
Saturday, 28 May 2022

Singo Ulung, Tradisi yang Terus Hidup

Mobile_AP_Rectangle 1

RADAR JEMBER.ID – Jika berkunjung ke Bondowoso, masyarakat akan banyak mendapati patung Singo Ulung. Misalnya di depan Kantor Disparpora dan di perempatan Hotel Palm. Patung itu menggambarkan kesenian Singo Ulung, seni tradisional khas Bondowoso, yang terus hidup sampai saat ini. Seni tradisi Singo Ulung merupakan seni khas Bondowoso yang mempertontonkan pertunjukan singo (singa).

Seni tradisi ini terus dirawat di kalangan masyarakat. Banyak pelaku seni dan pemilik sanggar seni yang terus menghidupkan tradisi ini. Seperti sanggar milik Gabungan Apresiasi Senin (GAS) di Curahdami, Padepokan Seni Gema Buana di Prajekan Kidul, dan di berbagai sanggar lainnya.

Berdasarkan cerita asal-usul, seni Singo Ulung ini berasal dari Desa Blimbing, Kecamatan Klabang. Menurut cerita yang hidup di masyarakat, Tari Singo Ulung diciptakan Mbah Ulung, seorang tokoh masyarakat dan pendiri Desa Blimbing, Kecamatan Klabang, Bondowoso.

Mobile_AP_Rectangle 2

Tari Singo Ulung ini terinspirasi dari sejarah berdirinya Desa Blimbing. Menurut cerita sejarah yang berkembang di masyarakat, Mbah Ulung adalah seorang pendatang dan pendakwah yang datang ke wilayah Desa Blimbing kala itu. Di sebuah hutan yang kini menjadi Desa Blimbing, ia berteduh di bawah pohon belimbing. Kedatangan Mbah Ulung tersebut ternyata membuat murka penguasa hutan di sana yang bernama Jasiman, dan terjadilah perkelahian antara keduanya.

Dalam perkelahian itu mereka sama-sama menggunakan rotan yang ada di hutan tersebut sebagai senjata mereka. Dengan kesaktiannya, Mbah Ulung kemudian berubah wujud menjadi harimau putih. Akhirnya, Jasiman tak mampu melawan dan menyerah. Dalam percakapan setelah pertarungan tersebut, kemudian Jasiman menyadari bahwa ternyata mereka berasal dari perguruan yang sama.

- Advertisement -

RADAR JEMBER.ID – Jika berkunjung ke Bondowoso, masyarakat akan banyak mendapati patung Singo Ulung. Misalnya di depan Kantor Disparpora dan di perempatan Hotel Palm. Patung itu menggambarkan kesenian Singo Ulung, seni tradisional khas Bondowoso, yang terus hidup sampai saat ini. Seni tradisi Singo Ulung merupakan seni khas Bondowoso yang mempertontonkan pertunjukan singo (singa).

Seni tradisi ini terus dirawat di kalangan masyarakat. Banyak pelaku seni dan pemilik sanggar seni yang terus menghidupkan tradisi ini. Seperti sanggar milik Gabungan Apresiasi Senin (GAS) di Curahdami, Padepokan Seni Gema Buana di Prajekan Kidul, dan di berbagai sanggar lainnya.

Berdasarkan cerita asal-usul, seni Singo Ulung ini berasal dari Desa Blimbing, Kecamatan Klabang. Menurut cerita yang hidup di masyarakat, Tari Singo Ulung diciptakan Mbah Ulung, seorang tokoh masyarakat dan pendiri Desa Blimbing, Kecamatan Klabang, Bondowoso.

Tari Singo Ulung ini terinspirasi dari sejarah berdirinya Desa Blimbing. Menurut cerita sejarah yang berkembang di masyarakat, Mbah Ulung adalah seorang pendatang dan pendakwah yang datang ke wilayah Desa Blimbing kala itu. Di sebuah hutan yang kini menjadi Desa Blimbing, ia berteduh di bawah pohon belimbing. Kedatangan Mbah Ulung tersebut ternyata membuat murka penguasa hutan di sana yang bernama Jasiman, dan terjadilah perkelahian antara keduanya.

Dalam perkelahian itu mereka sama-sama menggunakan rotan yang ada di hutan tersebut sebagai senjata mereka. Dengan kesaktiannya, Mbah Ulung kemudian berubah wujud menjadi harimau putih. Akhirnya, Jasiman tak mampu melawan dan menyerah. Dalam percakapan setelah pertarungan tersebut, kemudian Jasiman menyadari bahwa ternyata mereka berasal dari perguruan yang sama.

RADAR JEMBER.ID – Jika berkunjung ke Bondowoso, masyarakat akan banyak mendapati patung Singo Ulung. Misalnya di depan Kantor Disparpora dan di perempatan Hotel Palm. Patung itu menggambarkan kesenian Singo Ulung, seni tradisional khas Bondowoso, yang terus hidup sampai saat ini. Seni tradisi Singo Ulung merupakan seni khas Bondowoso yang mempertontonkan pertunjukan singo (singa).

Seni tradisi ini terus dirawat di kalangan masyarakat. Banyak pelaku seni dan pemilik sanggar seni yang terus menghidupkan tradisi ini. Seperti sanggar milik Gabungan Apresiasi Senin (GAS) di Curahdami, Padepokan Seni Gema Buana di Prajekan Kidul, dan di berbagai sanggar lainnya.

Berdasarkan cerita asal-usul, seni Singo Ulung ini berasal dari Desa Blimbing, Kecamatan Klabang. Menurut cerita yang hidup di masyarakat, Tari Singo Ulung diciptakan Mbah Ulung, seorang tokoh masyarakat dan pendiri Desa Blimbing, Kecamatan Klabang, Bondowoso.

Tari Singo Ulung ini terinspirasi dari sejarah berdirinya Desa Blimbing. Menurut cerita sejarah yang berkembang di masyarakat, Mbah Ulung adalah seorang pendatang dan pendakwah yang datang ke wilayah Desa Blimbing kala itu. Di sebuah hutan yang kini menjadi Desa Blimbing, ia berteduh di bawah pohon belimbing. Kedatangan Mbah Ulung tersebut ternyata membuat murka penguasa hutan di sana yang bernama Jasiman, dan terjadilah perkelahian antara keduanya.

Dalam perkelahian itu mereka sama-sama menggunakan rotan yang ada di hutan tersebut sebagai senjata mereka. Dengan kesaktiannya, Mbah Ulung kemudian berubah wujud menjadi harimau putih. Akhirnya, Jasiman tak mampu melawan dan menyerah. Dalam percakapan setelah pertarungan tersebut, kemudian Jasiman menyadari bahwa ternyata mereka berasal dari perguruan yang sama.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/