alexametrics
28.6 C
Jember
Friday, 27 May 2022

Momen Bonding Orang Tua dan Anak

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Banyak orang tua yang mengira bahwa pelajar sekolah dasar (SD) lebih membutuhkan perhatian daripada peserta didik jenjang menengah pertama dan atas. Padahal, siswa SMP dan SMA juga membutuhkan bimbingan sebagai penunjang belajar mereka selama physical distance alias belajar di rumah.

Psikolog Arrumaisha Fitri MPsi menuturkan, kemandirian peserta didik SMP dan SMA sebenarnya bergantung pada sekolah masing-masing. Di rumah pun mereka bisa mandiri jika pihak sekolah sudah mengajari anak-anak. “Tapi, kebosanan tentu ada. Jadi, orang tua juga perlu berperan,” imbuhnya. Misalnya, anak disuruh membuat jadwal penyelesaian tugas.

Wanita yang kesap disap Arum itu menjelaskan, orang tua wajib mengecek progres pekerjaan anak-anaknya setiap hari. Sebab, banyak anak SMP, SMA, bahkan kuliah yang santai-santai di awal. Namun, tugas menumpuk di akhir. Hal itu berdampak membuat anak-anak stres.

Mobile_AP_Rectangle 2

Nah, kendala lain adalah rasa malas yang diakibatkan karena kurang paham terhadap materi. “Kalau di sekolah, mereka akan bertanya kepada guru. Kalau di rumah kan tidak ada,” ujar salah satu dosen Biro Konseling dan Layanan Psikologi IAIN Jember tersebut.

Karena itu, mereka cenderung malas mengerjakan tugas. Untuk mengatasinya, orang tua wajib membantu siswa dalam menyelesaikan tugas. Sekaligus menjadi perantara kepada guru. Sebab, tak semua siswa berani bertanya kepada guru. “Selain itu, siswa diharapkan untuk asertif dengan memberitahu guru jika terbebani dengan tugas,” imbuhnya.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Banyak orang tua yang mengira bahwa pelajar sekolah dasar (SD) lebih membutuhkan perhatian daripada peserta didik jenjang menengah pertama dan atas. Padahal, siswa SMP dan SMA juga membutuhkan bimbingan sebagai penunjang belajar mereka selama physical distance alias belajar di rumah.

Psikolog Arrumaisha Fitri MPsi menuturkan, kemandirian peserta didik SMP dan SMA sebenarnya bergantung pada sekolah masing-masing. Di rumah pun mereka bisa mandiri jika pihak sekolah sudah mengajari anak-anak. “Tapi, kebosanan tentu ada. Jadi, orang tua juga perlu berperan,” imbuhnya. Misalnya, anak disuruh membuat jadwal penyelesaian tugas.

Wanita yang kesap disap Arum itu menjelaskan, orang tua wajib mengecek progres pekerjaan anak-anaknya setiap hari. Sebab, banyak anak SMP, SMA, bahkan kuliah yang santai-santai di awal. Namun, tugas menumpuk di akhir. Hal itu berdampak membuat anak-anak stres.

Nah, kendala lain adalah rasa malas yang diakibatkan karena kurang paham terhadap materi. “Kalau di sekolah, mereka akan bertanya kepada guru. Kalau di rumah kan tidak ada,” ujar salah satu dosen Biro Konseling dan Layanan Psikologi IAIN Jember tersebut.

Karena itu, mereka cenderung malas mengerjakan tugas. Untuk mengatasinya, orang tua wajib membantu siswa dalam menyelesaikan tugas. Sekaligus menjadi perantara kepada guru. Sebab, tak semua siswa berani bertanya kepada guru. “Selain itu, siswa diharapkan untuk asertif dengan memberitahu guru jika terbebani dengan tugas,” imbuhnya.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Banyak orang tua yang mengira bahwa pelajar sekolah dasar (SD) lebih membutuhkan perhatian daripada peserta didik jenjang menengah pertama dan atas. Padahal, siswa SMP dan SMA juga membutuhkan bimbingan sebagai penunjang belajar mereka selama physical distance alias belajar di rumah.

Psikolog Arrumaisha Fitri MPsi menuturkan, kemandirian peserta didik SMP dan SMA sebenarnya bergantung pada sekolah masing-masing. Di rumah pun mereka bisa mandiri jika pihak sekolah sudah mengajari anak-anak. “Tapi, kebosanan tentu ada. Jadi, orang tua juga perlu berperan,” imbuhnya. Misalnya, anak disuruh membuat jadwal penyelesaian tugas.

Wanita yang kesap disap Arum itu menjelaskan, orang tua wajib mengecek progres pekerjaan anak-anaknya setiap hari. Sebab, banyak anak SMP, SMA, bahkan kuliah yang santai-santai di awal. Namun, tugas menumpuk di akhir. Hal itu berdampak membuat anak-anak stres.

Nah, kendala lain adalah rasa malas yang diakibatkan karena kurang paham terhadap materi. “Kalau di sekolah, mereka akan bertanya kepada guru. Kalau di rumah kan tidak ada,” ujar salah satu dosen Biro Konseling dan Layanan Psikologi IAIN Jember tersebut.

Karena itu, mereka cenderung malas mengerjakan tugas. Untuk mengatasinya, orang tua wajib membantu siswa dalam menyelesaikan tugas. Sekaligus menjadi perantara kepada guru. Sebab, tak semua siswa berani bertanya kepada guru. “Selain itu, siswa diharapkan untuk asertif dengan memberitahu guru jika terbebani dengan tugas,” imbuhnya.

BERITA TERKINI

Patenkan Target Masuk Final

Hanya Punya Satu Dokter Hewan

Pabrik Pupuk Gagal Dibangun!

Bahagia, Ibadah Bersama Keluarga

Wajib Dibaca

/