alexametrics
24.9 C
Jember
Sunday, 29 May 2022

Karena Langka, Bikin Hand Sanitizer Berbahan Batok Kelapa

Keterbatasan fisik tak menghalangi Andriyono untuk berkreasi. Bahkan, di tengah pandemi korona ini, pemuda tunadaksa tersebut justru mampu membuat hand sanitizer berbahan limbah kelapa. Ilmu itu dia pelajari dari sebuah literatur di salah satu kampus.

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Batok kelapa bukan sesuatu yang mewah, bahkan bisa disebut limbah. Namun, melalui tangan kreatif Andriyono, limbah itu justru menjadi barang yang bermanfaat. Lantaran ketekunannya, pemuda tunadaksa tersebut mampu menyulap batok, yang biasanya hanya dibakar atau dibuat kerajinan asbak, menjadi barang yang paling dicari di tengah wabah korona ini. Tempurung kelapa tersebut diproses menjadi cairan alkohol dan menjadi bahan utama hand sanitizer.

Saat Jawa Pos Radar Jember mendatangi kediamannya di Dusun Kantong, Desa Kemiri, Kecamatan Panti, belum lama ini, pria itu sedang membakar tempurung kelapa dalam jumlah cukup banyak. Saat itu, dia seperti terlihat membakar singkong atau pisang. Tapi, setelah diamati lebih seksama, di atas bara api, ada sebuah alat yang seakan-akan menangkap asap dari tempurung yang terbakar.

Siapa sangka, pemuda tunadaksa tersebut sedang memproses pembuatan alkohol. Menurutnya, tempurung kelapa yang dibakar akan menghasilkan asap. Asap tersebut kemudian ditangkap dengan alat khusus untuk dimasukkan ke dalam beberapa tabung. Dari asap, kemudian muncul cairan yang disebut alkohol. “Saya membuat alkohol untuk dijadikan hand sanitizer,” tutur Andri.

Mobile_AP_Rectangle 2

Dijelaskannya, pengetahuannya dalam memproses tempurung kelapa hingga menjadi alkohol didapat dari membaca buku-buku literatur dari sebuah kampus ternama di Jogjakarta. “Tahun 2009 lalu, saya mencoba membuat asap cair dari batok kelapa. Saya melakukan setelah mendapatkan referensi dari buku Universitas Gajahmada (UGM) Jogjakarta,” jelasnya.

Asap cair yang dihasilkan dari tempurung kelapa itulah, menurut Andri, yang menjadi alkohol. Dari refrensi yang dia dapat, ada perbandingan perhitungannya. “Ternyata, asap cair 30 persen setara dengan alkohol 70 persen,” paparnya.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Batok kelapa bukan sesuatu yang mewah, bahkan bisa disebut limbah. Namun, melalui tangan kreatif Andriyono, limbah itu justru menjadi barang yang bermanfaat. Lantaran ketekunannya, pemuda tunadaksa tersebut mampu menyulap batok, yang biasanya hanya dibakar atau dibuat kerajinan asbak, menjadi barang yang paling dicari di tengah wabah korona ini. Tempurung kelapa tersebut diproses menjadi cairan alkohol dan menjadi bahan utama hand sanitizer.

Saat Jawa Pos Radar Jember mendatangi kediamannya di Dusun Kantong, Desa Kemiri, Kecamatan Panti, belum lama ini, pria itu sedang membakar tempurung kelapa dalam jumlah cukup banyak. Saat itu, dia seperti terlihat membakar singkong atau pisang. Tapi, setelah diamati lebih seksama, di atas bara api, ada sebuah alat yang seakan-akan menangkap asap dari tempurung yang terbakar.

Siapa sangka, pemuda tunadaksa tersebut sedang memproses pembuatan alkohol. Menurutnya, tempurung kelapa yang dibakar akan menghasilkan asap. Asap tersebut kemudian ditangkap dengan alat khusus untuk dimasukkan ke dalam beberapa tabung. Dari asap, kemudian muncul cairan yang disebut alkohol. “Saya membuat alkohol untuk dijadikan hand sanitizer,” tutur Andri.

Dijelaskannya, pengetahuannya dalam memproses tempurung kelapa hingga menjadi alkohol didapat dari membaca buku-buku literatur dari sebuah kampus ternama di Jogjakarta. “Tahun 2009 lalu, saya mencoba membuat asap cair dari batok kelapa. Saya melakukan setelah mendapatkan referensi dari buku Universitas Gajahmada (UGM) Jogjakarta,” jelasnya.

Asap cair yang dihasilkan dari tempurung kelapa itulah, menurut Andri, yang menjadi alkohol. Dari refrensi yang dia dapat, ada perbandingan perhitungannya. “Ternyata, asap cair 30 persen setara dengan alkohol 70 persen,” paparnya.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Batok kelapa bukan sesuatu yang mewah, bahkan bisa disebut limbah. Namun, melalui tangan kreatif Andriyono, limbah itu justru menjadi barang yang bermanfaat. Lantaran ketekunannya, pemuda tunadaksa tersebut mampu menyulap batok, yang biasanya hanya dibakar atau dibuat kerajinan asbak, menjadi barang yang paling dicari di tengah wabah korona ini. Tempurung kelapa tersebut diproses menjadi cairan alkohol dan menjadi bahan utama hand sanitizer.

Saat Jawa Pos Radar Jember mendatangi kediamannya di Dusun Kantong, Desa Kemiri, Kecamatan Panti, belum lama ini, pria itu sedang membakar tempurung kelapa dalam jumlah cukup banyak. Saat itu, dia seperti terlihat membakar singkong atau pisang. Tapi, setelah diamati lebih seksama, di atas bara api, ada sebuah alat yang seakan-akan menangkap asap dari tempurung yang terbakar.

Siapa sangka, pemuda tunadaksa tersebut sedang memproses pembuatan alkohol. Menurutnya, tempurung kelapa yang dibakar akan menghasilkan asap. Asap tersebut kemudian ditangkap dengan alat khusus untuk dimasukkan ke dalam beberapa tabung. Dari asap, kemudian muncul cairan yang disebut alkohol. “Saya membuat alkohol untuk dijadikan hand sanitizer,” tutur Andri.

Dijelaskannya, pengetahuannya dalam memproses tempurung kelapa hingga menjadi alkohol didapat dari membaca buku-buku literatur dari sebuah kampus ternama di Jogjakarta. “Tahun 2009 lalu, saya mencoba membuat asap cair dari batok kelapa. Saya melakukan setelah mendapatkan referensi dari buku Universitas Gajahmada (UGM) Jogjakarta,” jelasnya.

Asap cair yang dihasilkan dari tempurung kelapa itulah, menurut Andri, yang menjadi alkohol. Dari refrensi yang dia dapat, ada perbandingan perhitungannya. “Ternyata, asap cair 30 persen setara dengan alkohol 70 persen,” paparnya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/