alexametrics
23.1 C
Jember
Wednesday, 18 May 2022

Modal Hobi Pengalaman, Bawa Jember Me-Nusantara

Seiring pesatnya kemajuan teknologi, peluang usaha di dunia entertainment kian terbuka. Sebuah rumah industri kreatif di Jember menangkap peluang itu. Namanya Wakajzee. Dengan ide dan kreativitasnya, mereka menciptakan berbagai project karya hingga mengorbitkan berbagai talenta berbakat. Berikut kisahnya.

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Jasa digital kreatif mulai tumbuh dan menjamur sejak satu dekade terakhir. Industri yang menjual ide dan kreativitas ini belakangan tidak hanya diminati oleh company atau perusahaan-perusahaan besar. Namun juga dilirik masyarakat umum untuk melayani berbagai kebutuhan mereka.

Baca Juga : Cemburu Ditengarai Jadi Motif Pelaku Membacok Pemuda Kasiyan Jember

Sebut saja seperti Wakajzee, sekumpulan orang-orang yang menawarkan jasa berupa kreativitas ini bergerak membantu pengembangan sebuah produk, profil, maupun personal. Rumah produksi yang berkantor di Jalan Cenderawasih, Kelurahan Slawu, Kecamatan Patrang, ini berkegiatan tidak semata untuk kepentingan bisnis. Namun, kebudayaan lokal Jember dan Nusantara juga sering dikaver. Bahkan juga menjalankan misi-misi sosial.

Mobile_AP_Rectangle 2

Kepada Jawa Pos Radar Jember, CEO sekaligus founder Wakajzee, Yudho Andriansyah mengatakan, terbentuknya Wakajzee sebenarnya merupakan ruang aktualisasi bagi dia yang seorang musisi sekaligus fotografer. “Sengaja namanya Wakajzee. Biar mudah diingat saja, karena baik orang Jawa, Madura, bahkan bule sekalipun, pasti fasih menyebut Wakajzee,” kata Yudho, disusul tawa.

Dia mengisahkan, pada tahun 2014 lalu, Yudho beserta sejumlah kawannya baru saja merampungkan sebuah project untuk kesekian kalinya, terakhir di Palembang. Sepulangnya dari sana, jejaring dan pengalamannya itu dibawanya ke Jember. “Wakajzee sendiri terbentuk tahun 2014. Dasarnya memang kita hobi di dunia industri kreatif,” aku Yudho.

Di awal terbentuk, dia menjalankan Wakajzee bergerak di jasa studio foto, untuk company profil atau perorangan. Namanya pendatang baru, masih membabat, pengalaman pahit sudah pasti sering mereka rasakan. Seperti kesulitan mencari pangsa pasar, masyarakat belum familier dengan konsep yang mereka bawa, dan sebagainya. “Dari sana kami semakin belajar, bagaimana ukuran, rasa, dan selera orang mengenai jasa kreativitas itu,” kata pria kelahiran Jakarta ini.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Jasa digital kreatif mulai tumbuh dan menjamur sejak satu dekade terakhir. Industri yang menjual ide dan kreativitas ini belakangan tidak hanya diminati oleh company atau perusahaan-perusahaan besar. Namun juga dilirik masyarakat umum untuk melayani berbagai kebutuhan mereka.

Baca Juga : Cemburu Ditengarai Jadi Motif Pelaku Membacok Pemuda Kasiyan Jember

Sebut saja seperti Wakajzee, sekumpulan orang-orang yang menawarkan jasa berupa kreativitas ini bergerak membantu pengembangan sebuah produk, profil, maupun personal. Rumah produksi yang berkantor di Jalan Cenderawasih, Kelurahan Slawu, Kecamatan Patrang, ini berkegiatan tidak semata untuk kepentingan bisnis. Namun, kebudayaan lokal Jember dan Nusantara juga sering dikaver. Bahkan juga menjalankan misi-misi sosial.

Kepada Jawa Pos Radar Jember, CEO sekaligus founder Wakajzee, Yudho Andriansyah mengatakan, terbentuknya Wakajzee sebenarnya merupakan ruang aktualisasi bagi dia yang seorang musisi sekaligus fotografer. “Sengaja namanya Wakajzee. Biar mudah diingat saja, karena baik orang Jawa, Madura, bahkan bule sekalipun, pasti fasih menyebut Wakajzee,” kata Yudho, disusul tawa.

Dia mengisahkan, pada tahun 2014 lalu, Yudho beserta sejumlah kawannya baru saja merampungkan sebuah project untuk kesekian kalinya, terakhir di Palembang. Sepulangnya dari sana, jejaring dan pengalamannya itu dibawanya ke Jember. “Wakajzee sendiri terbentuk tahun 2014. Dasarnya memang kita hobi di dunia industri kreatif,” aku Yudho.

Di awal terbentuk, dia menjalankan Wakajzee bergerak di jasa studio foto, untuk company profil atau perorangan. Namanya pendatang baru, masih membabat, pengalaman pahit sudah pasti sering mereka rasakan. Seperti kesulitan mencari pangsa pasar, masyarakat belum familier dengan konsep yang mereka bawa, dan sebagainya. “Dari sana kami semakin belajar, bagaimana ukuran, rasa, dan selera orang mengenai jasa kreativitas itu,” kata pria kelahiran Jakarta ini.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Jasa digital kreatif mulai tumbuh dan menjamur sejak satu dekade terakhir. Industri yang menjual ide dan kreativitas ini belakangan tidak hanya diminati oleh company atau perusahaan-perusahaan besar. Namun juga dilirik masyarakat umum untuk melayani berbagai kebutuhan mereka.

Baca Juga : Cemburu Ditengarai Jadi Motif Pelaku Membacok Pemuda Kasiyan Jember

Sebut saja seperti Wakajzee, sekumpulan orang-orang yang menawarkan jasa berupa kreativitas ini bergerak membantu pengembangan sebuah produk, profil, maupun personal. Rumah produksi yang berkantor di Jalan Cenderawasih, Kelurahan Slawu, Kecamatan Patrang, ini berkegiatan tidak semata untuk kepentingan bisnis. Namun, kebudayaan lokal Jember dan Nusantara juga sering dikaver. Bahkan juga menjalankan misi-misi sosial.

Kepada Jawa Pos Radar Jember, CEO sekaligus founder Wakajzee, Yudho Andriansyah mengatakan, terbentuknya Wakajzee sebenarnya merupakan ruang aktualisasi bagi dia yang seorang musisi sekaligus fotografer. “Sengaja namanya Wakajzee. Biar mudah diingat saja, karena baik orang Jawa, Madura, bahkan bule sekalipun, pasti fasih menyebut Wakajzee,” kata Yudho, disusul tawa.

Dia mengisahkan, pada tahun 2014 lalu, Yudho beserta sejumlah kawannya baru saja merampungkan sebuah project untuk kesekian kalinya, terakhir di Palembang. Sepulangnya dari sana, jejaring dan pengalamannya itu dibawanya ke Jember. “Wakajzee sendiri terbentuk tahun 2014. Dasarnya memang kita hobi di dunia industri kreatif,” aku Yudho.

Di awal terbentuk, dia menjalankan Wakajzee bergerak di jasa studio foto, untuk company profil atau perorangan. Namanya pendatang baru, masih membabat, pengalaman pahit sudah pasti sering mereka rasakan. Seperti kesulitan mencari pangsa pasar, masyarakat belum familier dengan konsep yang mereka bawa, dan sebagainya. “Dari sana kami semakin belajar, bagaimana ukuran, rasa, dan selera orang mengenai jasa kreativitas itu,” kata pria kelahiran Jakarta ini.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/