alexametrics
24 C
Jember
Wednesday, 18 May 2022

Kembang Kempis Napas Bandara

Syarat Rapid Test Memberatkan Penumpang

Perlu Pemeliharaan dan Pengembangan

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Salah satu aset yang dulu menjadi kebanggaan warga Jember, kini sedang sakit-sakitan. Apalagi kalau bukan Bandara Notohadinegoro. Apabila hal ini tidak menjadi perhatian serius, bisa berdampak pada hilangnya aktivitas penerbangan di Bumi Pandhalungan.

Dulu, ada beberapa pesawat yang beroperasi di bandara yang berlokasi di Desa Wirowongso, Kecamatan Ajung, itu. Ada maskapai Garuda Indonesia, Citilink, dan Wings Air. Namun kini, hanya tersisa Wings Air. Itu pun terbang hari Jumat saja. “Penerbangan kemarin, hanya ada tujuh penumpang dari Surabaya dan dari Jember dua orang,” ungkap Edi Purnomo, Plt Kepala UPT Bandara Notohadinegoro, saat menghadiri rapat dengar pendapat (RDP) di ruang Komisi C DPRD Jember, kemarin (15/3).

Edy menjelaskan, ada sejumlah penyebab mengapa kondisi bandara seperti itu. Di antaranya tentang rute penerbangan, kondisi bandara, fasilitas, serta adanya syarat setelah wabah korona melanda. Hal itu yang perlu diperhatikan agar ke depan bandara kembali jaya dan terus berkembang.

Mobile_AP_Rectangle 2

Hasil analisis penerbangan, menurutnya, perlu membuka rute baru dengan tujuan Jember-Jakarta dan sebaliknya. “Sekitar 70 persen penumpang dari Jember tujuannya ingin ke Jakarta. Sisanya ada yang ingin ke Surabaya, Jogja, dan yang lain,” beber Edy.

Di sisi lain, kondisi bandara masih belum siap untuk tujuan Jakarta. Sebab, landasan pacu perlu dikembangkan, serta pesawatnya harus jenis Boeing agar terbang dengan jarak jauh. Landasan pacu Bandara Notohadinegoro saat ini, kata dia, hanya sepanjang 1.645 meter dan lebar 35 meter. Padahal, untuk pesawat Boeing minimal panjangnya 2.250 meter dengan lebar 45 meter. “Selain itu, kekuatan jalan harus mampu menahan 40 ton lebih,” ungkap Edy, yang kemudian menyebut, kondisi runway saat ini sudah ada yang berlubang sehingga perlu perbaikan.

Untuk itu, pengelola bandara mengajukan pemeliharaan dan pengembangan agar ke depan Bandara Notohadinegoro tetap ada dan berkembang lagi. Edy juga mengungkapkan, sepinya penumpang pesawat saat ini salah satunya disebabkan syarat penerbangan.

Menurut Edy, sejumlah pelanggan yang biasanya naik pesawat, kini kabur alias tidak naik pesawat lagi akibat syarat yang dinilai memberatkan. “Syarat tes antigen dengan biaya Rp 300 ribu dirasa sangat memberatkan. Kami usulkan agar ada rapid test gratis bagi penumpang dari Jember. Sementara, kalau yang datang ke Jember diberi tiket wisata gratis,” kata Edy, yang menginginkan agar Bandara Notohadinegoro bisa bangkit lagi.

Sementara itu, Wakil Komandan Tim Detasemen TNI AU Bandara Notohadinegoro Jember Peltu Firdaus Pratiswa mengungkapkan adanya berbagai hal yang memprihatinkan selama beberapa tahun terakhir. Awalnya, tim mereka 10 orang. Kini tersisa empat orang. Tak hanya itu, fasilitas mengenai pengamanan pun tergolong sangat memprihatinkan dan tidak ada operasional seperti BBM.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Salah satu aset yang dulu menjadi kebanggaan warga Jember, kini sedang sakit-sakitan. Apalagi kalau bukan Bandara Notohadinegoro. Apabila hal ini tidak menjadi perhatian serius, bisa berdampak pada hilangnya aktivitas penerbangan di Bumi Pandhalungan.

Dulu, ada beberapa pesawat yang beroperasi di bandara yang berlokasi di Desa Wirowongso, Kecamatan Ajung, itu. Ada maskapai Garuda Indonesia, Citilink, dan Wings Air. Namun kini, hanya tersisa Wings Air. Itu pun terbang hari Jumat saja. “Penerbangan kemarin, hanya ada tujuh penumpang dari Surabaya dan dari Jember dua orang,” ungkap Edi Purnomo, Plt Kepala UPT Bandara Notohadinegoro, saat menghadiri rapat dengar pendapat (RDP) di ruang Komisi C DPRD Jember, kemarin (15/3).

Edy menjelaskan, ada sejumlah penyebab mengapa kondisi bandara seperti itu. Di antaranya tentang rute penerbangan, kondisi bandara, fasilitas, serta adanya syarat setelah wabah korona melanda. Hal itu yang perlu diperhatikan agar ke depan bandara kembali jaya dan terus berkembang.

Hasil analisis penerbangan, menurutnya, perlu membuka rute baru dengan tujuan Jember-Jakarta dan sebaliknya. “Sekitar 70 persen penumpang dari Jember tujuannya ingin ke Jakarta. Sisanya ada yang ingin ke Surabaya, Jogja, dan yang lain,” beber Edy.

Di sisi lain, kondisi bandara masih belum siap untuk tujuan Jakarta. Sebab, landasan pacu perlu dikembangkan, serta pesawatnya harus jenis Boeing agar terbang dengan jarak jauh. Landasan pacu Bandara Notohadinegoro saat ini, kata dia, hanya sepanjang 1.645 meter dan lebar 35 meter. Padahal, untuk pesawat Boeing minimal panjangnya 2.250 meter dengan lebar 45 meter. “Selain itu, kekuatan jalan harus mampu menahan 40 ton lebih,” ungkap Edy, yang kemudian menyebut, kondisi runway saat ini sudah ada yang berlubang sehingga perlu perbaikan.

Untuk itu, pengelola bandara mengajukan pemeliharaan dan pengembangan agar ke depan Bandara Notohadinegoro tetap ada dan berkembang lagi. Edy juga mengungkapkan, sepinya penumpang pesawat saat ini salah satunya disebabkan syarat penerbangan.

Menurut Edy, sejumlah pelanggan yang biasanya naik pesawat, kini kabur alias tidak naik pesawat lagi akibat syarat yang dinilai memberatkan. “Syarat tes antigen dengan biaya Rp 300 ribu dirasa sangat memberatkan. Kami usulkan agar ada rapid test gratis bagi penumpang dari Jember. Sementara, kalau yang datang ke Jember diberi tiket wisata gratis,” kata Edy, yang menginginkan agar Bandara Notohadinegoro bisa bangkit lagi.

Sementara itu, Wakil Komandan Tim Detasemen TNI AU Bandara Notohadinegoro Jember Peltu Firdaus Pratiswa mengungkapkan adanya berbagai hal yang memprihatinkan selama beberapa tahun terakhir. Awalnya, tim mereka 10 orang. Kini tersisa empat orang. Tak hanya itu, fasilitas mengenai pengamanan pun tergolong sangat memprihatinkan dan tidak ada operasional seperti BBM.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Salah satu aset yang dulu menjadi kebanggaan warga Jember, kini sedang sakit-sakitan. Apalagi kalau bukan Bandara Notohadinegoro. Apabila hal ini tidak menjadi perhatian serius, bisa berdampak pada hilangnya aktivitas penerbangan di Bumi Pandhalungan.

Dulu, ada beberapa pesawat yang beroperasi di bandara yang berlokasi di Desa Wirowongso, Kecamatan Ajung, itu. Ada maskapai Garuda Indonesia, Citilink, dan Wings Air. Namun kini, hanya tersisa Wings Air. Itu pun terbang hari Jumat saja. “Penerbangan kemarin, hanya ada tujuh penumpang dari Surabaya dan dari Jember dua orang,” ungkap Edi Purnomo, Plt Kepala UPT Bandara Notohadinegoro, saat menghadiri rapat dengar pendapat (RDP) di ruang Komisi C DPRD Jember, kemarin (15/3).

Edy menjelaskan, ada sejumlah penyebab mengapa kondisi bandara seperti itu. Di antaranya tentang rute penerbangan, kondisi bandara, fasilitas, serta adanya syarat setelah wabah korona melanda. Hal itu yang perlu diperhatikan agar ke depan bandara kembali jaya dan terus berkembang.

Hasil analisis penerbangan, menurutnya, perlu membuka rute baru dengan tujuan Jember-Jakarta dan sebaliknya. “Sekitar 70 persen penumpang dari Jember tujuannya ingin ke Jakarta. Sisanya ada yang ingin ke Surabaya, Jogja, dan yang lain,” beber Edy.

Di sisi lain, kondisi bandara masih belum siap untuk tujuan Jakarta. Sebab, landasan pacu perlu dikembangkan, serta pesawatnya harus jenis Boeing agar terbang dengan jarak jauh. Landasan pacu Bandara Notohadinegoro saat ini, kata dia, hanya sepanjang 1.645 meter dan lebar 35 meter. Padahal, untuk pesawat Boeing minimal panjangnya 2.250 meter dengan lebar 45 meter. “Selain itu, kekuatan jalan harus mampu menahan 40 ton lebih,” ungkap Edy, yang kemudian menyebut, kondisi runway saat ini sudah ada yang berlubang sehingga perlu perbaikan.

Untuk itu, pengelola bandara mengajukan pemeliharaan dan pengembangan agar ke depan Bandara Notohadinegoro tetap ada dan berkembang lagi. Edy juga mengungkapkan, sepinya penumpang pesawat saat ini salah satunya disebabkan syarat penerbangan.

Menurut Edy, sejumlah pelanggan yang biasanya naik pesawat, kini kabur alias tidak naik pesawat lagi akibat syarat yang dinilai memberatkan. “Syarat tes antigen dengan biaya Rp 300 ribu dirasa sangat memberatkan. Kami usulkan agar ada rapid test gratis bagi penumpang dari Jember. Sementara, kalau yang datang ke Jember diberi tiket wisata gratis,” kata Edy, yang menginginkan agar Bandara Notohadinegoro bisa bangkit lagi.

Sementara itu, Wakil Komandan Tim Detasemen TNI AU Bandara Notohadinegoro Jember Peltu Firdaus Pratiswa mengungkapkan adanya berbagai hal yang memprihatinkan selama beberapa tahun terakhir. Awalnya, tim mereka 10 orang. Kini tersisa empat orang. Tak hanya itu, fasilitas mengenai pengamanan pun tergolong sangat memprihatinkan dan tidak ada operasional seperti BBM.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/