alexametrics
27.8 C
Jember
Tuesday, 24 May 2022

Hanya Jalan Nasional yang Aman

Pelanggaran Kapasitas Beban Jangan Dibiarkan

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Tidak beroperasinya jembatan timbang yang berlokasi di Desa Rambigundam, Kecamatan Rambipuji, sempat ditengarai menjadi musabab kerusakan sejumlah jalan di Jember. Sebab, vakumnya operasional jembatan tersebut membuat kendaraan bertonase tinggi sulit terkontrol. Akibatnya, mereka bebas lalu-lalang di sekitar jalan yang bukan semestinya dilalui.

Kepala Bidang Lalu Lintas Dinas Perhubungan Jember Leon Lazuardi menjelaskan, sebenarnya keberadaan jalan di Jember terdapat beberapa kelas atau kriteria. Kelas itu sebagai pembeda, mana jalan yang boleh dilalui kendaraan besar berdasarkan standar beban, dan mana yang tidak boleh. “Sebenarnya ketentuan tonase itu sudah jelas. Ada kelas satu, kelas dua, dan kelas tiga,” bebernya.

Ia menjelaskan, perbedaan ketiga kelas jalan itu terletak pada kemampuan jalan menahan beban dan kepemilikan aset jalan. “Kelas 1 untuk beban di atas 8 ton adalah jalan nasional. Kelas 2, beban 8 ton, milik pemprov. Dan kelas 3, sama 8 ton, milik pemda,” jelasnya.

Mobile_AP_Rectangle 2

Permasalahannya, lanjut dia, kendaraan bertonase tinggi masih kerap serampangan melintas di jalan yang bukan semestinya. Bahkan, ia meyakini jika jembatan timbang bisa beroperasi seperti dulu, kendaraan nakal seperti itu bisa seketika ditilang. “Tapi, sejak jembatan timbang diambil alih dari Pemprov Jatim ke pusat, ini sulit. Jadi, masih menunggu kapan mau dioperasikan kembali jembatan timbang itu,” ucapnya.

Ia menambahkan, sebenarnya, meskipun jembatan timbang tidak berfungsi, tapi tiap kendaraan pasti memiliki hasil uji KIR. Uji ini yang memberikan ketentuan bahwa kendaraan tersebut bisa melintas di jenis jalan mana saja. Di Jember, ada jalan milik pemda, pemprov, dan jalan nasional yang dikelola oleh pemerintah pusat. “Dalam KIR itu, sebenarnya sopir kendaraan berat, mereka tahu seharusnya lewat mana yang boleh, dan lewat mana yang dilarang. Namun, itu kurang diperhatikan,” paparnya.

Tak heran, kerusakan jalan di Jember selama ini hampir merata ditemui. Baik di jalan penghubung antardesa milik pemda, maupun di jalan milik provinsi. “Karena masing-masing jalan itu sudah ditakar kekuatannya. Mungkin masih agak awet jalan kelas 1, yaitu jalan nasional milik pusat,” ujarnya.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Tidak beroperasinya jembatan timbang yang berlokasi di Desa Rambigundam, Kecamatan Rambipuji, sempat ditengarai menjadi musabab kerusakan sejumlah jalan di Jember. Sebab, vakumnya operasional jembatan tersebut membuat kendaraan bertonase tinggi sulit terkontrol. Akibatnya, mereka bebas lalu-lalang di sekitar jalan yang bukan semestinya dilalui.

Kepala Bidang Lalu Lintas Dinas Perhubungan Jember Leon Lazuardi menjelaskan, sebenarnya keberadaan jalan di Jember terdapat beberapa kelas atau kriteria. Kelas itu sebagai pembeda, mana jalan yang boleh dilalui kendaraan besar berdasarkan standar beban, dan mana yang tidak boleh. “Sebenarnya ketentuan tonase itu sudah jelas. Ada kelas satu, kelas dua, dan kelas tiga,” bebernya.

Ia menjelaskan, perbedaan ketiga kelas jalan itu terletak pada kemampuan jalan menahan beban dan kepemilikan aset jalan. “Kelas 1 untuk beban di atas 8 ton adalah jalan nasional. Kelas 2, beban 8 ton, milik pemprov. Dan kelas 3, sama 8 ton, milik pemda,” jelasnya.

Permasalahannya, lanjut dia, kendaraan bertonase tinggi masih kerap serampangan melintas di jalan yang bukan semestinya. Bahkan, ia meyakini jika jembatan timbang bisa beroperasi seperti dulu, kendaraan nakal seperti itu bisa seketika ditilang. “Tapi, sejak jembatan timbang diambil alih dari Pemprov Jatim ke pusat, ini sulit. Jadi, masih menunggu kapan mau dioperasikan kembali jembatan timbang itu,” ucapnya.

Ia menambahkan, sebenarnya, meskipun jembatan timbang tidak berfungsi, tapi tiap kendaraan pasti memiliki hasil uji KIR. Uji ini yang memberikan ketentuan bahwa kendaraan tersebut bisa melintas di jenis jalan mana saja. Di Jember, ada jalan milik pemda, pemprov, dan jalan nasional yang dikelola oleh pemerintah pusat. “Dalam KIR itu, sebenarnya sopir kendaraan berat, mereka tahu seharusnya lewat mana yang boleh, dan lewat mana yang dilarang. Namun, itu kurang diperhatikan,” paparnya.

Tak heran, kerusakan jalan di Jember selama ini hampir merata ditemui. Baik di jalan penghubung antardesa milik pemda, maupun di jalan milik provinsi. “Karena masing-masing jalan itu sudah ditakar kekuatannya. Mungkin masih agak awet jalan kelas 1, yaitu jalan nasional milik pusat,” ujarnya.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Tidak beroperasinya jembatan timbang yang berlokasi di Desa Rambigundam, Kecamatan Rambipuji, sempat ditengarai menjadi musabab kerusakan sejumlah jalan di Jember. Sebab, vakumnya operasional jembatan tersebut membuat kendaraan bertonase tinggi sulit terkontrol. Akibatnya, mereka bebas lalu-lalang di sekitar jalan yang bukan semestinya dilalui.

Kepala Bidang Lalu Lintas Dinas Perhubungan Jember Leon Lazuardi menjelaskan, sebenarnya keberadaan jalan di Jember terdapat beberapa kelas atau kriteria. Kelas itu sebagai pembeda, mana jalan yang boleh dilalui kendaraan besar berdasarkan standar beban, dan mana yang tidak boleh. “Sebenarnya ketentuan tonase itu sudah jelas. Ada kelas satu, kelas dua, dan kelas tiga,” bebernya.

Ia menjelaskan, perbedaan ketiga kelas jalan itu terletak pada kemampuan jalan menahan beban dan kepemilikan aset jalan. “Kelas 1 untuk beban di atas 8 ton adalah jalan nasional. Kelas 2, beban 8 ton, milik pemprov. Dan kelas 3, sama 8 ton, milik pemda,” jelasnya.

Permasalahannya, lanjut dia, kendaraan bertonase tinggi masih kerap serampangan melintas di jalan yang bukan semestinya. Bahkan, ia meyakini jika jembatan timbang bisa beroperasi seperti dulu, kendaraan nakal seperti itu bisa seketika ditilang. “Tapi, sejak jembatan timbang diambil alih dari Pemprov Jatim ke pusat, ini sulit. Jadi, masih menunggu kapan mau dioperasikan kembali jembatan timbang itu,” ucapnya.

Ia menambahkan, sebenarnya, meskipun jembatan timbang tidak berfungsi, tapi tiap kendaraan pasti memiliki hasil uji KIR. Uji ini yang memberikan ketentuan bahwa kendaraan tersebut bisa melintas di jenis jalan mana saja. Di Jember, ada jalan milik pemda, pemprov, dan jalan nasional yang dikelola oleh pemerintah pusat. “Dalam KIR itu, sebenarnya sopir kendaraan berat, mereka tahu seharusnya lewat mana yang boleh, dan lewat mana yang dilarang. Namun, itu kurang diperhatikan,” paparnya.

Tak heran, kerusakan jalan di Jember selama ini hampir merata ditemui. Baik di jalan penghubung antardesa milik pemda, maupun di jalan milik provinsi. “Karena masing-masing jalan itu sudah ditakar kekuatannya. Mungkin masih agak awet jalan kelas 1, yaitu jalan nasional milik pusat,” ujarnya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/