alexametrics
24 C
Jember
Saturday, 2 July 2022

Kisah Bencana Hidrometeorologi Rugikan Jember

Sedia Tenda Sebelum Hujan

Mobile_AP_Rectangle 1

Minim Persiapan

Desa lain yang juga menjadi langganan banjir adalah Glundengan di Kecamatan Wuluhan Jember. Berdasarkan pemetaan kawasan banjir, desa ini juga menjadi salah satu daerah yang rawan dilanda banjir genangan akibat luapan sungai.

Pada awal-awal tahun 2021, hujan sempat mengguyur beberapa hari mengakibatkan sebuah sungai di Dusun Sumberejo, Desa Glundengan Jember, meluap karena tak mampu menampung debit air yang terus bertambah. Akibatnya, puluhan rumah warga tergenang. Bahkan beberapa rumah yang tak jauh dari sungai, ketinggian air sudah mencapai paha orang dewasa.

Mobile_AP_Rectangle 2

Tak sampai di situ, selain berdampak ke permukiman, banjir juga menggenangi sebuah pemakaman yang lokasinya persis di pinggir sungai Jember. Selain itu juga sekolah, serta fasilitas umum lainnya. Dan kondisi itu terus berulang yang terjadi beberapa tahun belakangan.

Menurut warga, banjir di awal tahun 2021 kala itu disebut-sebut yang terbesar yang melanda Desa Glundengan Jember. “Banjir yang terakhir yang paling besar. Memang di sini sering banjir, biasanya ketinggian di bawah lutut. Namun yang terakhir ini sampai hampir paha orang dewasa,” ucap Hartono, tokoh masyarakat setempat.

Beberapa warga mengaku, selama ini tidak ada rencana ataupun persiapan mengurangi dampak banjir. Namun menurut mereka, sebenarnya bisa ada upaya, dan hal itu bisa dilakukan oleh pemerintah daerah. “Di Dusun Sumberejo Jember ini ada sebuah sungai berukuran sedang. Kalau sungainya dikeruk lebih dalam, mungkin bisa mengurangi banjir,” papar Suryadi, warga setempat yang tengah melihat sawahnya.

Dia mengatakan, beruntung saat ini banyak warga Jember yang menanam jagung di area persawahan. Sehingga potensi resapan air bisa lebih besar. “Banjir itu biasanya memasuki masa pergantian tahun, saat musim tanam padi. Kalau sudah banjir, tidak hanya menggenangi rumah, juga berpotensi merusak tanaman padi,” tambah dia.

Belum lagi kerusakan jalan di sepanjang jalur penghubung Kecamatan Balung dan Jenggawah Jember. Kondisinya kian parah akibat terjangan banjir. Di sepanjang jalan, cukup banyak titik kerusakan. Bahkan ada kubangan besar yang berisiko terhadap pengguna jalan.

Wilayah Berstatus Awas

Tujuh Kecamatan di Jember berstatus awas banjir. Di antaranya, Kecamatan Sumberbaru, Bangsalsari, Panti, Tanggul, Kaliwates, Patrang dan Sukorambi. “Hari ini ada update informasi bahwa ada wilayah kecamatan yang berada pada status awas. Masyarakat diminta waspada, utamanya yang berada di bibir sungai,” kata Mahmud Rizal, Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Jember, saat menggelar rapat siaga melalui virtual, kemarin (14/11).

Sementara itu, Kapolres Jember AKBP Arif Rachman Arifin menuturkan, dirinya akan berkoordinasi dengan Kasat Samapta Polres Jember AKP Eko Basuki TA. Selain berkoordinasi dengan instansi terkait kebencanaan, juga rencana menerjunkan pasukan untuk evakuasi dan meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat.

Kasat Samapta Polres Jember AKP Eko Basuki TA mengatakan, dalam upaya preventif akan dilakukan patroli siaga dan sosialisasi kepada masyarakat yang berada di kecamatan berstatus awas tersebut. Agar tidak ada warga yang beraktivitas di sungai. Karena ketika hujan deras dan lama kami, khawatir air akan datang tiba-tiba.

“Kami mengimbau kepada masyarakat Jember, utamanya yang berada di daerah bibir sungai untuk sementara waktu bisa mengungsi ke tempat aman dan jangan melakukan kegiatan-kegiatan di sungai,” katanya. Dia berharap, masyarakat ikut berperan aktif dalam menginformasikan kepada pihak-pihak terkait dalam mempermudah pemetaan daerah rawan dan menjadi skala prioritas penanganan saat terjadi banjir.

Reporter : Radar Jember

Fotografer : Juma’i/Radar Jember

Editor : Mahrus Sholih/Radar Jember

- Advertisement -

Minim Persiapan

Desa lain yang juga menjadi langganan banjir adalah Glundengan di Kecamatan Wuluhan Jember. Berdasarkan pemetaan kawasan banjir, desa ini juga menjadi salah satu daerah yang rawan dilanda banjir genangan akibat luapan sungai.

Pada awal-awal tahun 2021, hujan sempat mengguyur beberapa hari mengakibatkan sebuah sungai di Dusun Sumberejo, Desa Glundengan Jember, meluap karena tak mampu menampung debit air yang terus bertambah. Akibatnya, puluhan rumah warga tergenang. Bahkan beberapa rumah yang tak jauh dari sungai, ketinggian air sudah mencapai paha orang dewasa.

Tak sampai di situ, selain berdampak ke permukiman, banjir juga menggenangi sebuah pemakaman yang lokasinya persis di pinggir sungai Jember. Selain itu juga sekolah, serta fasilitas umum lainnya. Dan kondisi itu terus berulang yang terjadi beberapa tahun belakangan.

Menurut warga, banjir di awal tahun 2021 kala itu disebut-sebut yang terbesar yang melanda Desa Glundengan Jember. “Banjir yang terakhir yang paling besar. Memang di sini sering banjir, biasanya ketinggian di bawah lutut. Namun yang terakhir ini sampai hampir paha orang dewasa,” ucap Hartono, tokoh masyarakat setempat.

Beberapa warga mengaku, selama ini tidak ada rencana ataupun persiapan mengurangi dampak banjir. Namun menurut mereka, sebenarnya bisa ada upaya, dan hal itu bisa dilakukan oleh pemerintah daerah. “Di Dusun Sumberejo Jember ini ada sebuah sungai berukuran sedang. Kalau sungainya dikeruk lebih dalam, mungkin bisa mengurangi banjir,” papar Suryadi, warga setempat yang tengah melihat sawahnya.

Dia mengatakan, beruntung saat ini banyak warga Jember yang menanam jagung di area persawahan. Sehingga potensi resapan air bisa lebih besar. “Banjir itu biasanya memasuki masa pergantian tahun, saat musim tanam padi. Kalau sudah banjir, tidak hanya menggenangi rumah, juga berpotensi merusak tanaman padi,” tambah dia.

Belum lagi kerusakan jalan di sepanjang jalur penghubung Kecamatan Balung dan Jenggawah Jember. Kondisinya kian parah akibat terjangan banjir. Di sepanjang jalan, cukup banyak titik kerusakan. Bahkan ada kubangan besar yang berisiko terhadap pengguna jalan.

Wilayah Berstatus Awas

Tujuh Kecamatan di Jember berstatus awas banjir. Di antaranya, Kecamatan Sumberbaru, Bangsalsari, Panti, Tanggul, Kaliwates, Patrang dan Sukorambi. “Hari ini ada update informasi bahwa ada wilayah kecamatan yang berada pada status awas. Masyarakat diminta waspada, utamanya yang berada di bibir sungai,” kata Mahmud Rizal, Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Jember, saat menggelar rapat siaga melalui virtual, kemarin (14/11).

Sementara itu, Kapolres Jember AKBP Arif Rachman Arifin menuturkan, dirinya akan berkoordinasi dengan Kasat Samapta Polres Jember AKP Eko Basuki TA. Selain berkoordinasi dengan instansi terkait kebencanaan, juga rencana menerjunkan pasukan untuk evakuasi dan meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat.

Kasat Samapta Polres Jember AKP Eko Basuki TA mengatakan, dalam upaya preventif akan dilakukan patroli siaga dan sosialisasi kepada masyarakat yang berada di kecamatan berstatus awas tersebut. Agar tidak ada warga yang beraktivitas di sungai. Karena ketika hujan deras dan lama kami, khawatir air akan datang tiba-tiba.

“Kami mengimbau kepada masyarakat Jember, utamanya yang berada di daerah bibir sungai untuk sementara waktu bisa mengungsi ke tempat aman dan jangan melakukan kegiatan-kegiatan di sungai,” katanya. Dia berharap, masyarakat ikut berperan aktif dalam menginformasikan kepada pihak-pihak terkait dalam mempermudah pemetaan daerah rawan dan menjadi skala prioritas penanganan saat terjadi banjir.

Reporter : Radar Jember

Fotografer : Juma’i/Radar Jember

Editor : Mahrus Sholih/Radar Jember

Minim Persiapan

Desa lain yang juga menjadi langganan banjir adalah Glundengan di Kecamatan Wuluhan Jember. Berdasarkan pemetaan kawasan banjir, desa ini juga menjadi salah satu daerah yang rawan dilanda banjir genangan akibat luapan sungai.

Pada awal-awal tahun 2021, hujan sempat mengguyur beberapa hari mengakibatkan sebuah sungai di Dusun Sumberejo, Desa Glundengan Jember, meluap karena tak mampu menampung debit air yang terus bertambah. Akibatnya, puluhan rumah warga tergenang. Bahkan beberapa rumah yang tak jauh dari sungai, ketinggian air sudah mencapai paha orang dewasa.

Tak sampai di situ, selain berdampak ke permukiman, banjir juga menggenangi sebuah pemakaman yang lokasinya persis di pinggir sungai Jember. Selain itu juga sekolah, serta fasilitas umum lainnya. Dan kondisi itu terus berulang yang terjadi beberapa tahun belakangan.

Menurut warga, banjir di awal tahun 2021 kala itu disebut-sebut yang terbesar yang melanda Desa Glundengan Jember. “Banjir yang terakhir yang paling besar. Memang di sini sering banjir, biasanya ketinggian di bawah lutut. Namun yang terakhir ini sampai hampir paha orang dewasa,” ucap Hartono, tokoh masyarakat setempat.

Beberapa warga mengaku, selama ini tidak ada rencana ataupun persiapan mengurangi dampak banjir. Namun menurut mereka, sebenarnya bisa ada upaya, dan hal itu bisa dilakukan oleh pemerintah daerah. “Di Dusun Sumberejo Jember ini ada sebuah sungai berukuran sedang. Kalau sungainya dikeruk lebih dalam, mungkin bisa mengurangi banjir,” papar Suryadi, warga setempat yang tengah melihat sawahnya.

Dia mengatakan, beruntung saat ini banyak warga Jember yang menanam jagung di area persawahan. Sehingga potensi resapan air bisa lebih besar. “Banjir itu biasanya memasuki masa pergantian tahun, saat musim tanam padi. Kalau sudah banjir, tidak hanya menggenangi rumah, juga berpotensi merusak tanaman padi,” tambah dia.

Belum lagi kerusakan jalan di sepanjang jalur penghubung Kecamatan Balung dan Jenggawah Jember. Kondisinya kian parah akibat terjangan banjir. Di sepanjang jalan, cukup banyak titik kerusakan. Bahkan ada kubangan besar yang berisiko terhadap pengguna jalan.

Wilayah Berstatus Awas

Tujuh Kecamatan di Jember berstatus awas banjir. Di antaranya, Kecamatan Sumberbaru, Bangsalsari, Panti, Tanggul, Kaliwates, Patrang dan Sukorambi. “Hari ini ada update informasi bahwa ada wilayah kecamatan yang berada pada status awas. Masyarakat diminta waspada, utamanya yang berada di bibir sungai,” kata Mahmud Rizal, Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Jember, saat menggelar rapat siaga melalui virtual, kemarin (14/11).

Sementara itu, Kapolres Jember AKBP Arif Rachman Arifin menuturkan, dirinya akan berkoordinasi dengan Kasat Samapta Polres Jember AKP Eko Basuki TA. Selain berkoordinasi dengan instansi terkait kebencanaan, juga rencana menerjunkan pasukan untuk evakuasi dan meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat.

Kasat Samapta Polres Jember AKP Eko Basuki TA mengatakan, dalam upaya preventif akan dilakukan patroli siaga dan sosialisasi kepada masyarakat yang berada di kecamatan berstatus awas tersebut. Agar tidak ada warga yang beraktivitas di sungai. Karena ketika hujan deras dan lama kami, khawatir air akan datang tiba-tiba.

“Kami mengimbau kepada masyarakat Jember, utamanya yang berada di daerah bibir sungai untuk sementara waktu bisa mengungsi ke tempat aman dan jangan melakukan kegiatan-kegiatan di sungai,” katanya. Dia berharap, masyarakat ikut berperan aktif dalam menginformasikan kepada pihak-pihak terkait dalam mempermudah pemetaan daerah rawan dan menjadi skala prioritas penanganan saat terjadi banjir.

Reporter : Radar Jember

Fotografer : Juma’i/Radar Jember

Editor : Mahrus Sholih/Radar Jember

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/