alexametrics
31 C
Jember
Monday, 23 May 2022

Kisah Bencana Hidrometeorologi Rugikan Jember

Sedia Tenda Sebelum Hujan

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Wajah Sami’an tampak murung setelah hujan mengguyur desanya tiga hari berturut-turut. Pria 60 tahun warga Dusun Banjarejo, Desa Sumberagung, Kecamatan Sumberbaru, Kabupaten Jember, ini terancam kehilangan penghasilan karena tanaman padinya terendam akibat luapan Kali Tanggul. Jika tak segera surut, tanamannya itu bisa mati dan gagal panen.

“Tanaman padi saya yang terendam ini masih berumur seminggu dan lainnya 20 hari. Yang baru seminggu kalau air tidak segera surut akan mati. Tetapi yang sudah berumur 20 harian ini masih bisa terselamatkan,” kata Sami’an.

Meski ada harapan bisa panen, tapi jika hujan terus menerus mengguyur wilayahnya maka padi yang berusia 20 hari itu juga terancam mati. Sebab, genangan air di areal persawahan berpotensi menjadi lebih tinggi dan menenggelamkan tanaman padi miliknya. “Mudah-mudahan hujan di Jember berhenti sehingga air surut. Namun, saya harus menyiapkan benih lagi untuk mengganti tanaman yang mati. Sebab, kalau lama terendam air biasanya membusuk,” ujarnya.

Mobile_AP_Rectangle 2

Aditya, petani lain di desa Jember setempat juga mengatakan hal yang sama. Kata dia, akibat hujan deras yang menggenangi persawahan mengakibatkan tanaman padinya mati. “Hampir setiap tahun hujan deras dan air sungai meluap. Pokoknya tiga tahun berturut-turut saya tidak pernah panen, karena tanaman padi terendam sehingga rusak,” tuturnya.

Hujan yang terjadi beberapa hari belakangan di Jember memang mengakibatkan bencana banjir dan tanah longsor. Ada tiga kecamatan yang terdampak. Selain Sumberbaru, juga ada Kecamatan Tanggul Jember dan Semboro. Bahkan, warga di Semboro sampai mengungsi akibat genangan air sampai masuk ke dalam rumah-rumah penduduk. Tim Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jember sudah terjun ke lokasi untuk membantu warga yang terdampak.

Tak hanya rumah penduduk, areal persawahan yang kebanyakan ditanami padi dan jagung juga turun terendam. Misalnya persawahan di Dusun Pondok Rampal, Desa Pondok Joyo, Kecamatan Semboro, serta Dusun Banjarejo, Desa Sumberagung, Kecamatan Sumberbaru Jember.

Khusus di Sumberbaru, genangan air yang paling parang terjadi Di Dusun Banjarejo, Desa Sumberagung Jember. Di desa ini ada sekitar 67 hektare tanaman padi yang terendam banjir. Jika air tidak segera surut, banyak petani yang terancam gagal panen.

Camat Sumberbaru Budi Susila mengatakan, paling banyak sawah yang terendam air luapan sungai berada di Dusun Banjarejo Timur, Banjarejo Tengah, dan sebagian Sumberejo Jember. “Ada puluhan hektare sawah yang terendam,” tuturnya.

Sudah Jadi Rutinitas

Menilik ke belakang tentang peristiwa banjir di Jember, juga ada desa lain yang hampir setiap tahun menjadi langganan. Yakni Desa Wonoasri, Kecamatan Tempurejo Jember. Di desa ini, medio Januari 2021 lalu juga dilanda banjir. Dan bencana tersebut menjadi yang terparah sejak satu dekade terakhir. Akibat banjir itu, ada sekitar 1.800 kepala keluarga (KK) yang terdampak. Dan kali ini, ketika musim hujan tiba kembali, warga Wonoasri waswas lagi.

PJ Kepala Desa Wonoasri Budiono mengatakan, desa ini memang langganan banjir di Jember. Namun, awal tahun lalu merupakan yang paling parah. Dia menyebut, Wonoasri rentan terdampak banjir karena memang dikelilingi oleh tiga sungai. Dan ketika meluap, titik kumpulnya ada di desa setempat.

Saat ini, ketika musim hujan telah dating, pihaknya segera berkoordinasi dengan desa yang wilayahnya ada di sebelah timur di Kecamatan Tempurejo Jember. Mulai dari Desa Sanenrejo, Desa Curahnongko, dan Desa Angdongrejo. Hal ini untuk mengantisipasi luapan air sungai yang bisa terjadi sewaktu-waktu. “Walaupun di sini tidak hujan tapi di sana hujan, warga Wonoasri harus siap-siap,” paparnya kepada Jawa Pos Radar Jember, baru-baru ini.

Sementara itu, Ketua Badan Permusyawaratan Desa (BPD) Wonoasri Zaenal Arifin mengungkapkan, wilayahnya memang merupakan daerah terdampak. Sedangkan kunci utamanya ada di daerah penyangga yang berada di wilayah hulu sungai. Ketika intensitas hujan tinggi, lanjutnya, Wonoasri akan terkena imbas. Apalagi, di kawasan hulu juga terjadi pembalakan hutan dan ini yang mengakibatkan wilayah Wonoasri menjadi rawan. “Dari 10 tahun yang biasa banjir, tahun ini cukup besar. Di luar dugaan,” ungkap pria 33 tahun tersebut.

Biasanya, Arif menambahkan, air yang mengalir ke perdesaan di Jember berasal dari sungai selatan atau utara. Sehingga pasca terjadi banjir awal tahun lalu, di dua kawasan itu sudah dipasangi tanggul. Selain itu, sungai di sebelah selatan juga sudah dinormalisasi oleh Pemprov Jatim. Sehingga ketika intensitas hujan cukup tinggi, kanal masih mampu menampung debit air sehingga tidak sampai meluap ke perkampungan.

Lantas bagaimana dengan musim hujan di Jember ini, apakah ada upaya yang dilakukan sebagai langkah pencegahan? Menurut Arif, karena sudah menjadi rutinitas warga sudah melakukan langkah antisipasi dengan menaikan barang-barang ke tempat lebih tinggi biar aman. “Termasuk surat-surat yang bersifat penting dan hewan ternak,” ungkapnya.

Selain itu, melalui gerakan pemuda desa, pihaknya juga menyiapkan mitigasi bencana di Jember secara mandiri. Pihaknya juga berharap, pemerintah mampu menyediakan berbagai alat kebencanaan agar bisa melakukan evakuasi mandiri ketika banjir tiba-tiba melanda. “Minimal pelampung untuk alat keselamatan,” ujarnya.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Wajah Sami’an tampak murung setelah hujan mengguyur desanya tiga hari berturut-turut. Pria 60 tahun warga Dusun Banjarejo, Desa Sumberagung, Kecamatan Sumberbaru, Kabupaten Jember, ini terancam kehilangan penghasilan karena tanaman padinya terendam akibat luapan Kali Tanggul. Jika tak segera surut, tanamannya itu bisa mati dan gagal panen.

“Tanaman padi saya yang terendam ini masih berumur seminggu dan lainnya 20 hari. Yang baru seminggu kalau air tidak segera surut akan mati. Tetapi yang sudah berumur 20 harian ini masih bisa terselamatkan,” kata Sami’an.

Meski ada harapan bisa panen, tapi jika hujan terus menerus mengguyur wilayahnya maka padi yang berusia 20 hari itu juga terancam mati. Sebab, genangan air di areal persawahan berpotensi menjadi lebih tinggi dan menenggelamkan tanaman padi miliknya. “Mudah-mudahan hujan di Jember berhenti sehingga air surut. Namun, saya harus menyiapkan benih lagi untuk mengganti tanaman yang mati. Sebab, kalau lama terendam air biasanya membusuk,” ujarnya.

Aditya, petani lain di desa Jember setempat juga mengatakan hal yang sama. Kata dia, akibat hujan deras yang menggenangi persawahan mengakibatkan tanaman padinya mati. “Hampir setiap tahun hujan deras dan air sungai meluap. Pokoknya tiga tahun berturut-turut saya tidak pernah panen, karena tanaman padi terendam sehingga rusak,” tuturnya.

Hujan yang terjadi beberapa hari belakangan di Jember memang mengakibatkan bencana banjir dan tanah longsor. Ada tiga kecamatan yang terdampak. Selain Sumberbaru, juga ada Kecamatan Tanggul Jember dan Semboro. Bahkan, warga di Semboro sampai mengungsi akibat genangan air sampai masuk ke dalam rumah-rumah penduduk. Tim Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jember sudah terjun ke lokasi untuk membantu warga yang terdampak.

Tak hanya rumah penduduk, areal persawahan yang kebanyakan ditanami padi dan jagung juga turun terendam. Misalnya persawahan di Dusun Pondok Rampal, Desa Pondok Joyo, Kecamatan Semboro, serta Dusun Banjarejo, Desa Sumberagung, Kecamatan Sumberbaru Jember.

Khusus di Sumberbaru, genangan air yang paling parang terjadi Di Dusun Banjarejo, Desa Sumberagung Jember. Di desa ini ada sekitar 67 hektare tanaman padi yang terendam banjir. Jika air tidak segera surut, banyak petani yang terancam gagal panen.

Camat Sumberbaru Budi Susila mengatakan, paling banyak sawah yang terendam air luapan sungai berada di Dusun Banjarejo Timur, Banjarejo Tengah, dan sebagian Sumberejo Jember. “Ada puluhan hektare sawah yang terendam,” tuturnya.

Sudah Jadi Rutinitas

Menilik ke belakang tentang peristiwa banjir di Jember, juga ada desa lain yang hampir setiap tahun menjadi langganan. Yakni Desa Wonoasri, Kecamatan Tempurejo Jember. Di desa ini, medio Januari 2021 lalu juga dilanda banjir. Dan bencana tersebut menjadi yang terparah sejak satu dekade terakhir. Akibat banjir itu, ada sekitar 1.800 kepala keluarga (KK) yang terdampak. Dan kali ini, ketika musim hujan tiba kembali, warga Wonoasri waswas lagi.

PJ Kepala Desa Wonoasri Budiono mengatakan, desa ini memang langganan banjir di Jember. Namun, awal tahun lalu merupakan yang paling parah. Dia menyebut, Wonoasri rentan terdampak banjir karena memang dikelilingi oleh tiga sungai. Dan ketika meluap, titik kumpulnya ada di desa setempat.

Saat ini, ketika musim hujan telah dating, pihaknya segera berkoordinasi dengan desa yang wilayahnya ada di sebelah timur di Kecamatan Tempurejo Jember. Mulai dari Desa Sanenrejo, Desa Curahnongko, dan Desa Angdongrejo. Hal ini untuk mengantisipasi luapan air sungai yang bisa terjadi sewaktu-waktu. “Walaupun di sini tidak hujan tapi di sana hujan, warga Wonoasri harus siap-siap,” paparnya kepada Jawa Pos Radar Jember, baru-baru ini.

Sementara itu, Ketua Badan Permusyawaratan Desa (BPD) Wonoasri Zaenal Arifin mengungkapkan, wilayahnya memang merupakan daerah terdampak. Sedangkan kunci utamanya ada di daerah penyangga yang berada di wilayah hulu sungai. Ketika intensitas hujan tinggi, lanjutnya, Wonoasri akan terkena imbas. Apalagi, di kawasan hulu juga terjadi pembalakan hutan dan ini yang mengakibatkan wilayah Wonoasri menjadi rawan. “Dari 10 tahun yang biasa banjir, tahun ini cukup besar. Di luar dugaan,” ungkap pria 33 tahun tersebut.

Biasanya, Arif menambahkan, air yang mengalir ke perdesaan di Jember berasal dari sungai selatan atau utara. Sehingga pasca terjadi banjir awal tahun lalu, di dua kawasan itu sudah dipasangi tanggul. Selain itu, sungai di sebelah selatan juga sudah dinormalisasi oleh Pemprov Jatim. Sehingga ketika intensitas hujan cukup tinggi, kanal masih mampu menampung debit air sehingga tidak sampai meluap ke perkampungan.

Lantas bagaimana dengan musim hujan di Jember ini, apakah ada upaya yang dilakukan sebagai langkah pencegahan? Menurut Arif, karena sudah menjadi rutinitas warga sudah melakukan langkah antisipasi dengan menaikan barang-barang ke tempat lebih tinggi biar aman. “Termasuk surat-surat yang bersifat penting dan hewan ternak,” ungkapnya.

Selain itu, melalui gerakan pemuda desa, pihaknya juga menyiapkan mitigasi bencana di Jember secara mandiri. Pihaknya juga berharap, pemerintah mampu menyediakan berbagai alat kebencanaan agar bisa melakukan evakuasi mandiri ketika banjir tiba-tiba melanda. “Minimal pelampung untuk alat keselamatan,” ujarnya.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Wajah Sami’an tampak murung setelah hujan mengguyur desanya tiga hari berturut-turut. Pria 60 tahun warga Dusun Banjarejo, Desa Sumberagung, Kecamatan Sumberbaru, Kabupaten Jember, ini terancam kehilangan penghasilan karena tanaman padinya terendam akibat luapan Kali Tanggul. Jika tak segera surut, tanamannya itu bisa mati dan gagal panen.

“Tanaman padi saya yang terendam ini masih berumur seminggu dan lainnya 20 hari. Yang baru seminggu kalau air tidak segera surut akan mati. Tetapi yang sudah berumur 20 harian ini masih bisa terselamatkan,” kata Sami’an.

Meski ada harapan bisa panen, tapi jika hujan terus menerus mengguyur wilayahnya maka padi yang berusia 20 hari itu juga terancam mati. Sebab, genangan air di areal persawahan berpotensi menjadi lebih tinggi dan menenggelamkan tanaman padi miliknya. “Mudah-mudahan hujan di Jember berhenti sehingga air surut. Namun, saya harus menyiapkan benih lagi untuk mengganti tanaman yang mati. Sebab, kalau lama terendam air biasanya membusuk,” ujarnya.

Aditya, petani lain di desa Jember setempat juga mengatakan hal yang sama. Kata dia, akibat hujan deras yang menggenangi persawahan mengakibatkan tanaman padinya mati. “Hampir setiap tahun hujan deras dan air sungai meluap. Pokoknya tiga tahun berturut-turut saya tidak pernah panen, karena tanaman padi terendam sehingga rusak,” tuturnya.

Hujan yang terjadi beberapa hari belakangan di Jember memang mengakibatkan bencana banjir dan tanah longsor. Ada tiga kecamatan yang terdampak. Selain Sumberbaru, juga ada Kecamatan Tanggul Jember dan Semboro. Bahkan, warga di Semboro sampai mengungsi akibat genangan air sampai masuk ke dalam rumah-rumah penduduk. Tim Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jember sudah terjun ke lokasi untuk membantu warga yang terdampak.

Tak hanya rumah penduduk, areal persawahan yang kebanyakan ditanami padi dan jagung juga turun terendam. Misalnya persawahan di Dusun Pondok Rampal, Desa Pondok Joyo, Kecamatan Semboro, serta Dusun Banjarejo, Desa Sumberagung, Kecamatan Sumberbaru Jember.

Khusus di Sumberbaru, genangan air yang paling parang terjadi Di Dusun Banjarejo, Desa Sumberagung Jember. Di desa ini ada sekitar 67 hektare tanaman padi yang terendam banjir. Jika air tidak segera surut, banyak petani yang terancam gagal panen.

Camat Sumberbaru Budi Susila mengatakan, paling banyak sawah yang terendam air luapan sungai berada di Dusun Banjarejo Timur, Banjarejo Tengah, dan sebagian Sumberejo Jember. “Ada puluhan hektare sawah yang terendam,” tuturnya.

Sudah Jadi Rutinitas

Menilik ke belakang tentang peristiwa banjir di Jember, juga ada desa lain yang hampir setiap tahun menjadi langganan. Yakni Desa Wonoasri, Kecamatan Tempurejo Jember. Di desa ini, medio Januari 2021 lalu juga dilanda banjir. Dan bencana tersebut menjadi yang terparah sejak satu dekade terakhir. Akibat banjir itu, ada sekitar 1.800 kepala keluarga (KK) yang terdampak. Dan kali ini, ketika musim hujan tiba kembali, warga Wonoasri waswas lagi.

PJ Kepala Desa Wonoasri Budiono mengatakan, desa ini memang langganan banjir di Jember. Namun, awal tahun lalu merupakan yang paling parah. Dia menyebut, Wonoasri rentan terdampak banjir karena memang dikelilingi oleh tiga sungai. Dan ketika meluap, titik kumpulnya ada di desa setempat.

Saat ini, ketika musim hujan telah dating, pihaknya segera berkoordinasi dengan desa yang wilayahnya ada di sebelah timur di Kecamatan Tempurejo Jember. Mulai dari Desa Sanenrejo, Desa Curahnongko, dan Desa Angdongrejo. Hal ini untuk mengantisipasi luapan air sungai yang bisa terjadi sewaktu-waktu. “Walaupun di sini tidak hujan tapi di sana hujan, warga Wonoasri harus siap-siap,” paparnya kepada Jawa Pos Radar Jember, baru-baru ini.

Sementara itu, Ketua Badan Permusyawaratan Desa (BPD) Wonoasri Zaenal Arifin mengungkapkan, wilayahnya memang merupakan daerah terdampak. Sedangkan kunci utamanya ada di daerah penyangga yang berada di wilayah hulu sungai. Ketika intensitas hujan tinggi, lanjutnya, Wonoasri akan terkena imbas. Apalagi, di kawasan hulu juga terjadi pembalakan hutan dan ini yang mengakibatkan wilayah Wonoasri menjadi rawan. “Dari 10 tahun yang biasa banjir, tahun ini cukup besar. Di luar dugaan,” ungkap pria 33 tahun tersebut.

Biasanya, Arif menambahkan, air yang mengalir ke perdesaan di Jember berasal dari sungai selatan atau utara. Sehingga pasca terjadi banjir awal tahun lalu, di dua kawasan itu sudah dipasangi tanggul. Selain itu, sungai di sebelah selatan juga sudah dinormalisasi oleh Pemprov Jatim. Sehingga ketika intensitas hujan cukup tinggi, kanal masih mampu menampung debit air sehingga tidak sampai meluap ke perkampungan.

Lantas bagaimana dengan musim hujan di Jember ini, apakah ada upaya yang dilakukan sebagai langkah pencegahan? Menurut Arif, karena sudah menjadi rutinitas warga sudah melakukan langkah antisipasi dengan menaikan barang-barang ke tempat lebih tinggi biar aman. “Termasuk surat-surat yang bersifat penting dan hewan ternak,” ungkapnya.

Selain itu, melalui gerakan pemuda desa, pihaknya juga menyiapkan mitigasi bencana di Jember secara mandiri. Pihaknya juga berharap, pemerintah mampu menyediakan berbagai alat kebencanaan agar bisa melakukan evakuasi mandiri ketika banjir tiba-tiba melanda. “Minimal pelampung untuk alat keselamatan,” ujarnya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/