alexametrics
23.4 C
Jember
Saturday, 28 May 2022

Jember: Ini Masih Prolog Banjir Kawan, Potensi Banjir Bandang

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Kejadian banjir sudah acap kali terjadi di Jember. Ada masyarakat yang sigap terhadap ancaman banjir, ada pula yang masih terseok-seok. Musim penghujan November ini pun telah terjadi bencana banjir. Ada di Kecamatan Sumberbaru, Semboro, dan Tanggul. Namun, banjir saat ini disebut hanya sebuah prolog. Karena diprediksi puncak potensi bencana banjir terjadi Desember hingga Januari.

Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Jember Mahmud Rizal mengatakan, bencana akibat hujan saat ini diperkirakan banyak terjadi di kawasan Gunung Argopuro termasuk lereng selatan dan daerah Gunung Raung. Dan Jember menjadi daerah yang berada di lereng selatan Gunung Argopuro. Sehingga, kata dia, ada potensi bencana di sana. Bukan banjir genangan, tapi banjir bandang dan tanah longsor.

“Ada sembilan kecamatan yang punya potensi bencana tanah longsor dan banjir bandang di Jember. Delapan kecamatan berada di lereng Gunung Argopuro dan satu kecamatan di lereng Gunung Raung,” katanya.

Mobile_AP_Rectangle 2

Delapan kecamatan di kawasan Gunung Argopuro area Jembertersebut dimulai dari Sumberbaru, Tanggul, Bangsalsari, Panti, Sukorambi, Patrang, Arjasa, dan Jelbuk. Sedangkan satu kecamatan lagi di Silo. Karena intensitas hujan diperkirakan berada di Gunung Argopuro dan Raung tersebut memiliki potensi pergerakan tanah. Maka, bisa mengakibatkan tanah longsor dan banjir bandang.

Bila tanah longsor itu sampai menutupi Daerah Aliran Sungai (DAS), maka akan membentuk bendung alami. Bendung alami yang menutup jalannya air sungai tersebut, bila tidak kuat menahan volume air, maka yang terjadi adalah meluncurnya air bah atau banjir bandang. Sehingga, daerah seperti Sukoharjo, Manggisan, Badean, Gunung Pasang, Kalijompo, hingga Kali Rembangan, harus ada kesiapan menghadapi bencana banjir bandang di Jember.

Rizal menambahkan, BPBD Jember saat ini terus melakukan mitigasi, terutama mewaspadai apakah telah terjadi bendung alami atau tidak. “Kalau ada bendung alami, harus bersihkan. Apa itu dipaculi atau lainnya agar air sungai bisa mengalir,” terangnya.

Bila bendung alam tidak mampu dibersihkan, maka harus ada kesiapsiagaan masyarakat. “Orangnya yang harus pindah kalau begitu,” katanya. Bersama tiga pilar dan puskesmas, BPBD Jember juga menyiapkan tempat evakuasi sementara bila terjadi bencana banjir bandang. “Jadi rumah warga yang tinggal 50-100 meter dari bibir sungai yang punya potensi banjir bandang, harus siap dievakuasi. Ada tanda-tanda banjir bandang, ya harus dievakuasi,” ucapnya.

Lantas bagaimana memantau apakah terjadi bendung alam? Rizal mengatakan, masih belum menemukan aplikasi yang menampilkan real time kondisi lereng gunung. “Kalau pakai drone tidak akan mampu karena terlalu luas,” jelasnya.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Kejadian banjir sudah acap kali terjadi di Jember. Ada masyarakat yang sigap terhadap ancaman banjir, ada pula yang masih terseok-seok. Musim penghujan November ini pun telah terjadi bencana banjir. Ada di Kecamatan Sumberbaru, Semboro, dan Tanggul. Namun, banjir saat ini disebut hanya sebuah prolog. Karena diprediksi puncak potensi bencana banjir terjadi Desember hingga Januari.

Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Jember Mahmud Rizal mengatakan, bencana akibat hujan saat ini diperkirakan banyak terjadi di kawasan Gunung Argopuro termasuk lereng selatan dan daerah Gunung Raung. Dan Jember menjadi daerah yang berada di lereng selatan Gunung Argopuro. Sehingga, kata dia, ada potensi bencana di sana. Bukan banjir genangan, tapi banjir bandang dan tanah longsor.

“Ada sembilan kecamatan yang punya potensi bencana tanah longsor dan banjir bandang di Jember. Delapan kecamatan berada di lereng Gunung Argopuro dan satu kecamatan di lereng Gunung Raung,” katanya.

Delapan kecamatan di kawasan Gunung Argopuro area Jembertersebut dimulai dari Sumberbaru, Tanggul, Bangsalsari, Panti, Sukorambi, Patrang, Arjasa, dan Jelbuk. Sedangkan satu kecamatan lagi di Silo. Karena intensitas hujan diperkirakan berada di Gunung Argopuro dan Raung tersebut memiliki potensi pergerakan tanah. Maka, bisa mengakibatkan tanah longsor dan banjir bandang.

Bila tanah longsor itu sampai menutupi Daerah Aliran Sungai (DAS), maka akan membentuk bendung alami. Bendung alami yang menutup jalannya air sungai tersebut, bila tidak kuat menahan volume air, maka yang terjadi adalah meluncurnya air bah atau banjir bandang. Sehingga, daerah seperti Sukoharjo, Manggisan, Badean, Gunung Pasang, Kalijompo, hingga Kali Rembangan, harus ada kesiapan menghadapi bencana banjir bandang di Jember.

Rizal menambahkan, BPBD Jember saat ini terus melakukan mitigasi, terutama mewaspadai apakah telah terjadi bendung alami atau tidak. “Kalau ada bendung alami, harus bersihkan. Apa itu dipaculi atau lainnya agar air sungai bisa mengalir,” terangnya.

Bila bendung alam tidak mampu dibersihkan, maka harus ada kesiapsiagaan masyarakat. “Orangnya yang harus pindah kalau begitu,” katanya. Bersama tiga pilar dan puskesmas, BPBD Jember juga menyiapkan tempat evakuasi sementara bila terjadi bencana banjir bandang. “Jadi rumah warga yang tinggal 50-100 meter dari bibir sungai yang punya potensi banjir bandang, harus siap dievakuasi. Ada tanda-tanda banjir bandang, ya harus dievakuasi,” ucapnya.

Lantas bagaimana memantau apakah terjadi bendung alam? Rizal mengatakan, masih belum menemukan aplikasi yang menampilkan real time kondisi lereng gunung. “Kalau pakai drone tidak akan mampu karena terlalu luas,” jelasnya.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Kejadian banjir sudah acap kali terjadi di Jember. Ada masyarakat yang sigap terhadap ancaman banjir, ada pula yang masih terseok-seok. Musim penghujan November ini pun telah terjadi bencana banjir. Ada di Kecamatan Sumberbaru, Semboro, dan Tanggul. Namun, banjir saat ini disebut hanya sebuah prolog. Karena diprediksi puncak potensi bencana banjir terjadi Desember hingga Januari.

Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Jember Mahmud Rizal mengatakan, bencana akibat hujan saat ini diperkirakan banyak terjadi di kawasan Gunung Argopuro termasuk lereng selatan dan daerah Gunung Raung. Dan Jember menjadi daerah yang berada di lereng selatan Gunung Argopuro. Sehingga, kata dia, ada potensi bencana di sana. Bukan banjir genangan, tapi banjir bandang dan tanah longsor.

“Ada sembilan kecamatan yang punya potensi bencana tanah longsor dan banjir bandang di Jember. Delapan kecamatan berada di lereng Gunung Argopuro dan satu kecamatan di lereng Gunung Raung,” katanya.

Delapan kecamatan di kawasan Gunung Argopuro area Jembertersebut dimulai dari Sumberbaru, Tanggul, Bangsalsari, Panti, Sukorambi, Patrang, Arjasa, dan Jelbuk. Sedangkan satu kecamatan lagi di Silo. Karena intensitas hujan diperkirakan berada di Gunung Argopuro dan Raung tersebut memiliki potensi pergerakan tanah. Maka, bisa mengakibatkan tanah longsor dan banjir bandang.

Bila tanah longsor itu sampai menutupi Daerah Aliran Sungai (DAS), maka akan membentuk bendung alami. Bendung alami yang menutup jalannya air sungai tersebut, bila tidak kuat menahan volume air, maka yang terjadi adalah meluncurnya air bah atau banjir bandang. Sehingga, daerah seperti Sukoharjo, Manggisan, Badean, Gunung Pasang, Kalijompo, hingga Kali Rembangan, harus ada kesiapan menghadapi bencana banjir bandang di Jember.

Rizal menambahkan, BPBD Jember saat ini terus melakukan mitigasi, terutama mewaspadai apakah telah terjadi bendung alami atau tidak. “Kalau ada bendung alami, harus bersihkan. Apa itu dipaculi atau lainnya agar air sungai bisa mengalir,” terangnya.

Bila bendung alam tidak mampu dibersihkan, maka harus ada kesiapsiagaan masyarakat. “Orangnya yang harus pindah kalau begitu,” katanya. Bersama tiga pilar dan puskesmas, BPBD Jember juga menyiapkan tempat evakuasi sementara bila terjadi bencana banjir bandang. “Jadi rumah warga yang tinggal 50-100 meter dari bibir sungai yang punya potensi banjir bandang, harus siap dievakuasi. Ada tanda-tanda banjir bandang, ya harus dievakuasi,” ucapnya.

Lantas bagaimana memantau apakah terjadi bendung alam? Rizal mengatakan, masih belum menemukan aplikasi yang menampilkan real time kondisi lereng gunung. “Kalau pakai drone tidak akan mampu karena terlalu luas,” jelasnya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/