alexametrics
30.1 C
Jember
Friday, 27 May 2022

Hati-Hati Tawaran Jadi PMI di Irak

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Belakangan ini banyak beredar pesan berantai di WhatsApp mengenai kewaspadaan terhadap iming-iming menjadi Pekerja Migran Indonesia (PMI) di Irak. Dalam pesan yang dibagikan itu disebutkan, karena Irak menjadi salah satu negara yang belum memiliki perjanjian kerja sama resmi dengan Indonesia. Sedangkan di saat bersamaan, jasa pemberangkatan PMI ke Irak jumlahnya makin banyak.

Project Manager Migrant Care Jember Bambang Teguh Karyanto menjelaskan, hingga saat ini pihaknya menganggap Irak belum melakukan kerja sama dengan Indonesia. Berdasarkan desa binaannya, tidak ada PMI yang secara legal bekerja di Irak. “Bisa jadi kasusnya sama dengan PMI yang berangkat ke Afrika. Dulu itu melanggar. Saya juga belum mendengar adanya kerja sama dengan Irak,” kata Bambang.

Sementara itu, Kepala Badan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (BP2MI) Wilayah Jember Muhammad Iqbal menjelaskan berbeda. Menurut dia, Irak merupakan salah satu negara yang telah melakukan kerja sama dengan Indonesia. Dasarnya adalah Keputusan Direktorat Binapenta Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker). Dalam keputusan itu diterangkan, Irak dapat menjadi negara tujuan sektor tenaga kerja berbadan hukum. Kecuali pekerja rumah tangga. “Kalau ada yang ke Irak untuk jadi ART (Asisten Rumah Tangga, Red) harus dilarang. Cuma kalau berbadan hukum diperkenankan,” jelasnya.

Mobile_AP_Rectangle 2

Sejatinya, Irak merupakan salah satu negara yang sudah biasa menjadi tujuan PMI. Hanya saja, beberapa waktu lalu Irak menjadi negara yang cukup berbahaya karena keberadaan ISIS dan konflik yang berlangsung. “Sempat terjadi konflik di sana, sehingga PMI dipulangkan. Namun saat ini, sudah dianggap aman untuk penempatan,” ungkapnya.

Kendati dikhususkan untuk pekerja teknisi, tapi menurut Iqbal, masih banyak pekerja ART selundupan yang menuju ke sana. Polanya, para PMI itu akan melangsungkan perjalanan dengan transit di beberapa negara, tidak langsung menuju Irak. Cara ini untuk mengaburkan jejak. Otomatis, para PMI tersebut tergolong pekerja nonprosedural. “Bedanya dengan yang procedural, biasanya langsung terbang menuju Irak. Tidak transit,” tambahnya.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Belakangan ini banyak beredar pesan berantai di WhatsApp mengenai kewaspadaan terhadap iming-iming menjadi Pekerja Migran Indonesia (PMI) di Irak. Dalam pesan yang dibagikan itu disebutkan, karena Irak menjadi salah satu negara yang belum memiliki perjanjian kerja sama resmi dengan Indonesia. Sedangkan di saat bersamaan, jasa pemberangkatan PMI ke Irak jumlahnya makin banyak.

Project Manager Migrant Care Jember Bambang Teguh Karyanto menjelaskan, hingga saat ini pihaknya menganggap Irak belum melakukan kerja sama dengan Indonesia. Berdasarkan desa binaannya, tidak ada PMI yang secara legal bekerja di Irak. “Bisa jadi kasusnya sama dengan PMI yang berangkat ke Afrika. Dulu itu melanggar. Saya juga belum mendengar adanya kerja sama dengan Irak,” kata Bambang.

Sementara itu, Kepala Badan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (BP2MI) Wilayah Jember Muhammad Iqbal menjelaskan berbeda. Menurut dia, Irak merupakan salah satu negara yang telah melakukan kerja sama dengan Indonesia. Dasarnya adalah Keputusan Direktorat Binapenta Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker). Dalam keputusan itu diterangkan, Irak dapat menjadi negara tujuan sektor tenaga kerja berbadan hukum. Kecuali pekerja rumah tangga. “Kalau ada yang ke Irak untuk jadi ART (Asisten Rumah Tangga, Red) harus dilarang. Cuma kalau berbadan hukum diperkenankan,” jelasnya.

Sejatinya, Irak merupakan salah satu negara yang sudah biasa menjadi tujuan PMI. Hanya saja, beberapa waktu lalu Irak menjadi negara yang cukup berbahaya karena keberadaan ISIS dan konflik yang berlangsung. “Sempat terjadi konflik di sana, sehingga PMI dipulangkan. Namun saat ini, sudah dianggap aman untuk penempatan,” ungkapnya.

Kendati dikhususkan untuk pekerja teknisi, tapi menurut Iqbal, masih banyak pekerja ART selundupan yang menuju ke sana. Polanya, para PMI itu akan melangsungkan perjalanan dengan transit di beberapa negara, tidak langsung menuju Irak. Cara ini untuk mengaburkan jejak. Otomatis, para PMI tersebut tergolong pekerja nonprosedural. “Bedanya dengan yang procedural, biasanya langsung terbang menuju Irak. Tidak transit,” tambahnya.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Belakangan ini banyak beredar pesan berantai di WhatsApp mengenai kewaspadaan terhadap iming-iming menjadi Pekerja Migran Indonesia (PMI) di Irak. Dalam pesan yang dibagikan itu disebutkan, karena Irak menjadi salah satu negara yang belum memiliki perjanjian kerja sama resmi dengan Indonesia. Sedangkan di saat bersamaan, jasa pemberangkatan PMI ke Irak jumlahnya makin banyak.

Project Manager Migrant Care Jember Bambang Teguh Karyanto menjelaskan, hingga saat ini pihaknya menganggap Irak belum melakukan kerja sama dengan Indonesia. Berdasarkan desa binaannya, tidak ada PMI yang secara legal bekerja di Irak. “Bisa jadi kasusnya sama dengan PMI yang berangkat ke Afrika. Dulu itu melanggar. Saya juga belum mendengar adanya kerja sama dengan Irak,” kata Bambang.

Sementara itu, Kepala Badan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (BP2MI) Wilayah Jember Muhammad Iqbal menjelaskan berbeda. Menurut dia, Irak merupakan salah satu negara yang telah melakukan kerja sama dengan Indonesia. Dasarnya adalah Keputusan Direktorat Binapenta Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker). Dalam keputusan itu diterangkan, Irak dapat menjadi negara tujuan sektor tenaga kerja berbadan hukum. Kecuali pekerja rumah tangga. “Kalau ada yang ke Irak untuk jadi ART (Asisten Rumah Tangga, Red) harus dilarang. Cuma kalau berbadan hukum diperkenankan,” jelasnya.

Sejatinya, Irak merupakan salah satu negara yang sudah biasa menjadi tujuan PMI. Hanya saja, beberapa waktu lalu Irak menjadi negara yang cukup berbahaya karena keberadaan ISIS dan konflik yang berlangsung. “Sempat terjadi konflik di sana, sehingga PMI dipulangkan. Namun saat ini, sudah dianggap aman untuk penempatan,” ungkapnya.

Kendati dikhususkan untuk pekerja teknisi, tapi menurut Iqbal, masih banyak pekerja ART selundupan yang menuju ke sana. Polanya, para PMI itu akan melangsungkan perjalanan dengan transit di beberapa negara, tidak langsung menuju Irak. Cara ini untuk mengaburkan jejak. Otomatis, para PMI tersebut tergolong pekerja nonprosedural. “Bedanya dengan yang procedural, biasanya langsung terbang menuju Irak. Tidak transit,” tambahnya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/