alexametrics
21.6 C
Jember
Thursday, 30 June 2022

Cara Terbaik Balas Budi Ala Mahasiswa Jember

Bagas, Relawan Penanggulangan Bencana Terjun di Bidang Kemanusiaan karena Pernah Ditolong Orang Lain

Mobile_AP_Rectangle 1

Usai menjaga pengungsi tersebut, ia beralih kembali untuk menjaga posko bersama timnya, tepatnya di Desa Kraton. Di luar dugaan, ia harus mengerahkan tenaganya untuk korban banjir di lokasi tersebut selama satu pekan. Gatal-gatal, kedinginan, dan penyakit ringan lainnya pun ia rasakan dengan teman-temannya.

Bahkan saat itu, ketika dirinya belum selesai menangani banjir di satu titik, muncul lagi tugas untuk menangani titik yang lain. Itulah yang semakin membuatnya terus bersemangat hadir menjadi garda terdepan untuk para korban. “Saat di pengungsian, korban banyak menyampaikan doa kepada kami. Dan itu yang menurut saya memudahkan segala urusan hidup saya, karena saya merasakan betul,” ucapnya.

Baru saja ia alami, saat mengevakuasi banjir di kawasan Pondok Rampal, ada salah satu korban yang meneleponnya dan mendesak untuk segera diselamatkan. Bagas pun mendatangi kediaman orang tersebut. Sesampainya di lokasi, korban banjir malah enggan diselamatkan. Korban tersebut justru meminta Bagas untuk menyelamatkan barang-barang yang ada di dalam rumahnya.

Mobile_AP_Rectangle 2

“Macam-macam karakter orang. Si korban ini keukeuh meminta saya cepat-cepat menyelamatkan barangnya terlebih dahulu. Akhirnya kami turuti sambil kami edukasi,” tambahnya.

Sebagai orang yang baru saja membangun bahtera rumah tangga, suami dari Fajrian Dwi Anggraeni ini, juga sempat kebingungan menjalankan tugasnya. Beruntung, istri dan keluarganya pun memahami lini kerja yang jalani Bagas. “Awalnya mereka keberatan. Tapi kembali lagi, memang sejak awal aktivitas saya sebagai relawan. Risiko sudah saya sampaikan. Alhamdulillah keluarga memahami. Termasuk kemarin banjir di Semboro, memang ada kekhawatiran dari istri. Saya tuntaskan dulu aktivitas saya, terus saya pulang,” ungkapnya.

Menjadi relawan bukan hanya tentang penyelamatan bagi orang lain, namun juga menjadi poin kebahagiaan tersendiri bagi yang menolongnya. Kebahagiaan itulah yang menurutnya tak bisa ditukar dengan uang. “Selain peluang pahala untuk bekal akhirat, melihat kebahagiaan orang lain itu juga bikin saya bahagia dan nyaman,” pungkasnya.

Reporter : Delfi Nihayah/Radar Jember

Fotografer : Bagas For Radar Jember

Editor : Mahrus Sholih/Radar Jember

- Advertisement -

Usai menjaga pengungsi tersebut, ia beralih kembali untuk menjaga posko bersama timnya, tepatnya di Desa Kraton. Di luar dugaan, ia harus mengerahkan tenaganya untuk korban banjir di lokasi tersebut selama satu pekan. Gatal-gatal, kedinginan, dan penyakit ringan lainnya pun ia rasakan dengan teman-temannya.

Bahkan saat itu, ketika dirinya belum selesai menangani banjir di satu titik, muncul lagi tugas untuk menangani titik yang lain. Itulah yang semakin membuatnya terus bersemangat hadir menjadi garda terdepan untuk para korban. “Saat di pengungsian, korban banyak menyampaikan doa kepada kami. Dan itu yang menurut saya memudahkan segala urusan hidup saya, karena saya merasakan betul,” ucapnya.

Baru saja ia alami, saat mengevakuasi banjir di kawasan Pondok Rampal, ada salah satu korban yang meneleponnya dan mendesak untuk segera diselamatkan. Bagas pun mendatangi kediaman orang tersebut. Sesampainya di lokasi, korban banjir malah enggan diselamatkan. Korban tersebut justru meminta Bagas untuk menyelamatkan barang-barang yang ada di dalam rumahnya.

“Macam-macam karakter orang. Si korban ini keukeuh meminta saya cepat-cepat menyelamatkan barangnya terlebih dahulu. Akhirnya kami turuti sambil kami edukasi,” tambahnya.

Sebagai orang yang baru saja membangun bahtera rumah tangga, suami dari Fajrian Dwi Anggraeni ini, juga sempat kebingungan menjalankan tugasnya. Beruntung, istri dan keluarganya pun memahami lini kerja yang jalani Bagas. “Awalnya mereka keberatan. Tapi kembali lagi, memang sejak awal aktivitas saya sebagai relawan. Risiko sudah saya sampaikan. Alhamdulillah keluarga memahami. Termasuk kemarin banjir di Semboro, memang ada kekhawatiran dari istri. Saya tuntaskan dulu aktivitas saya, terus saya pulang,” ungkapnya.

Menjadi relawan bukan hanya tentang penyelamatan bagi orang lain, namun juga menjadi poin kebahagiaan tersendiri bagi yang menolongnya. Kebahagiaan itulah yang menurutnya tak bisa ditukar dengan uang. “Selain peluang pahala untuk bekal akhirat, melihat kebahagiaan orang lain itu juga bikin saya bahagia dan nyaman,” pungkasnya.

Reporter : Delfi Nihayah/Radar Jember

Fotografer : Bagas For Radar Jember

Editor : Mahrus Sholih/Radar Jember

Usai menjaga pengungsi tersebut, ia beralih kembali untuk menjaga posko bersama timnya, tepatnya di Desa Kraton. Di luar dugaan, ia harus mengerahkan tenaganya untuk korban banjir di lokasi tersebut selama satu pekan. Gatal-gatal, kedinginan, dan penyakit ringan lainnya pun ia rasakan dengan teman-temannya.

Bahkan saat itu, ketika dirinya belum selesai menangani banjir di satu titik, muncul lagi tugas untuk menangani titik yang lain. Itulah yang semakin membuatnya terus bersemangat hadir menjadi garda terdepan untuk para korban. “Saat di pengungsian, korban banyak menyampaikan doa kepada kami. Dan itu yang menurut saya memudahkan segala urusan hidup saya, karena saya merasakan betul,” ucapnya.

Baru saja ia alami, saat mengevakuasi banjir di kawasan Pondok Rampal, ada salah satu korban yang meneleponnya dan mendesak untuk segera diselamatkan. Bagas pun mendatangi kediaman orang tersebut. Sesampainya di lokasi, korban banjir malah enggan diselamatkan. Korban tersebut justru meminta Bagas untuk menyelamatkan barang-barang yang ada di dalam rumahnya.

“Macam-macam karakter orang. Si korban ini keukeuh meminta saya cepat-cepat menyelamatkan barangnya terlebih dahulu. Akhirnya kami turuti sambil kami edukasi,” tambahnya.

Sebagai orang yang baru saja membangun bahtera rumah tangga, suami dari Fajrian Dwi Anggraeni ini, juga sempat kebingungan menjalankan tugasnya. Beruntung, istri dan keluarganya pun memahami lini kerja yang jalani Bagas. “Awalnya mereka keberatan. Tapi kembali lagi, memang sejak awal aktivitas saya sebagai relawan. Risiko sudah saya sampaikan. Alhamdulillah keluarga memahami. Termasuk kemarin banjir di Semboro, memang ada kekhawatiran dari istri. Saya tuntaskan dulu aktivitas saya, terus saya pulang,” ungkapnya.

Menjadi relawan bukan hanya tentang penyelamatan bagi orang lain, namun juga menjadi poin kebahagiaan tersendiri bagi yang menolongnya. Kebahagiaan itulah yang menurutnya tak bisa ditukar dengan uang. “Selain peluang pahala untuk bekal akhirat, melihat kebahagiaan orang lain itu juga bikin saya bahagia dan nyaman,” pungkasnya.

Reporter : Delfi Nihayah/Radar Jember

Fotografer : Bagas For Radar Jember

Editor : Mahrus Sholih/Radar Jember

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/