alexametrics
27.9 C
Jember
Friday, 20 May 2022

Cara Terbaik Balas Budi Ala Mahasiswa Jember

Bagas, Relawan Penanggulangan Bencana Terjun di Bidang Kemanusiaan karena Pernah Ditolong Orang Lain

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Kedinginan dan gatal akibat menerobos genangan air sudah menjadi hal biasa bagi Bagas Dwi Satriyo. Meski begitu, pria berusia 25 tahun itu memilih konsisten sebagai relawan bencana dan anggota Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Jember. Hal itu ia lakukan sejak 2015 silam, tepatnya saat masih duduk dibangku kuliah.

Berawal dari kondisi ekonomi keluarga yang pas-pasan saat itu, Bagas justru memilih aktif membantu orang lain. Entah apa yang membuatnya tergerak pada aksi kemanusiaan. Yang ia ingat, dirinya hanya ingin membalas kebaikan saudara dan orang-orang baik yang telah menolong perekonomian keluarganya.

“Dulu saya banyak dibantu saudara-saudara saya. Sehingga perlahan, masalah perekonomian mulai membaik sampai sekarang. Pesan dari ibu, kalau memang tidak mampu membalas kebaikan orang itu, setidaknya kita bisa berbuat baik untuk orang lain,” ungkapnya.

Mobile_AP_Rectangle 2

Ia masih ingat betul saat uang menjadi hal yang sulit didapatkan. Namun, berkat bantuan yang ia terima, dirinya mulai sadar bahwa uang bukanlah satu-satunya yang harus dimiliki dalam hidup. Ya, bukan uang, tapi waktu. “Ketika saya tidak punya uang, tapi saya punya waktu dan tenaga. Dari sana saya ingin memanfaatkan apa yang saya miliki itu. Salah satunya dengan menjadi relawan Jember,” katanya.

Selain itu, anak kedua dari lima bersaudara ini, juga sempat menerima bantuan makanan dari organisasi sosial yang memberikan nasi bungkus. Bersama dengan kakak pertama dan ketiga adiknya, nasi bungkus yang ia dapatkan itu dimakan bersama dengan lima orang. Sejak itu juga, ia menyadari ternyata satu bungkus nasi mampu menyelamatkan hidup banyak orang. Seperti yang ia alami dengan empat saudaranya itu. Dari sanalah, Bagas pun bertekad untuk turut berbuat baik layaknya orang yang sempat menolongnya itu.

Selama menjadi relawan kebencanaan, berbagai pengalaman pun ia hadapi. Mulai dari manajemen waktu, kesiapsiagaan, kesehatan mental dan fisik, dan juga kekeluargaan. “Pertama saya masih kuliah, di saat teman-teman sibuk dengan kuliahnya, saya sibuk dengan aksi kemanusiaan. Memang susah sekali mendapat izin dari kampus, tapi saya orangnya nekatan. Sampai pernah ninggal UTS,” kata alumnus Teknik Energi Terbarukan (TET) Politeknik Negeri Jember (Polije) ini.

Memang tak mudah bagi Bagas. Namun, setiap mengevakuasi korban bencana, selalu saja ada limpahan kebaikan yang ia terima.Dia bercerita, waktu gempa di Lombok sekitar 2019 lalu, dia mendapatkan tugas di sana. Dirinya benar-benar merasakan kepanikan warga, karena bercengkrama dengan pengungsi. Kalau panas kepanasan, dingin kedinginan, dan lapar juga kelaparan. “Cemas pasti, tapi di sana saya menemukan keluarga baru yang sampai sekarang masih komunikasi sama saya,” kenangnya.

Begitu pula saat bertugas di Jember, daerah perantauan pertamanya. Waktu kejadian banjir di Kecamatan Kencong, sekitar 2018 lalu. Dari lokasi tersebut, dia ditugaskan dari satu titik ke titik banjir yang lain. Yaitu Sumber Agung dan Sumber Waru. Dia bertugas sejak siang hingga dini hari karena debit air sungai tak kunjung surut.

Akibat kelelahan, ia pun terlelap di balai desa bersama satu orang temannya. Belum lama memejamkan mata, salah satu temannya pun meminta untuk menjaga seorang korban banjir yang telah berusia senja. Tanpa diketahui, ternyata korban banjir tersebut mengalami keterbelakangan mental. Bagas yang tak pernah berhadapan dengan orang tersebut, terpaksa harus berkomunikasi dengan bahasa sebisanya.

“Saat saya bangun, ternyata tidak ada orang. Saya bingung. HP juga tidak aktif. Akhirnya, datang teman saya satunya membawa pengungsi yang ternyata mengalami keterbelakangan mental. Terus dipasrahkan ke saya. Kaget saya. Beliaunya tidak nyambung,” beber pria kelahiran Pasuruan ini.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Kedinginan dan gatal akibat menerobos genangan air sudah menjadi hal biasa bagi Bagas Dwi Satriyo. Meski begitu, pria berusia 25 tahun itu memilih konsisten sebagai relawan bencana dan anggota Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Jember. Hal itu ia lakukan sejak 2015 silam, tepatnya saat masih duduk dibangku kuliah.

Berawal dari kondisi ekonomi keluarga yang pas-pasan saat itu, Bagas justru memilih aktif membantu orang lain. Entah apa yang membuatnya tergerak pada aksi kemanusiaan. Yang ia ingat, dirinya hanya ingin membalas kebaikan saudara dan orang-orang baik yang telah menolong perekonomian keluarganya.

“Dulu saya banyak dibantu saudara-saudara saya. Sehingga perlahan, masalah perekonomian mulai membaik sampai sekarang. Pesan dari ibu, kalau memang tidak mampu membalas kebaikan orang itu, setidaknya kita bisa berbuat baik untuk orang lain,” ungkapnya.

Ia masih ingat betul saat uang menjadi hal yang sulit didapatkan. Namun, berkat bantuan yang ia terima, dirinya mulai sadar bahwa uang bukanlah satu-satunya yang harus dimiliki dalam hidup. Ya, bukan uang, tapi waktu. “Ketika saya tidak punya uang, tapi saya punya waktu dan tenaga. Dari sana saya ingin memanfaatkan apa yang saya miliki itu. Salah satunya dengan menjadi relawan Jember,” katanya.

Selain itu, anak kedua dari lima bersaudara ini, juga sempat menerima bantuan makanan dari organisasi sosial yang memberikan nasi bungkus. Bersama dengan kakak pertama dan ketiga adiknya, nasi bungkus yang ia dapatkan itu dimakan bersama dengan lima orang. Sejak itu juga, ia menyadari ternyata satu bungkus nasi mampu menyelamatkan hidup banyak orang. Seperti yang ia alami dengan empat saudaranya itu. Dari sanalah, Bagas pun bertekad untuk turut berbuat baik layaknya orang yang sempat menolongnya itu.

Selama menjadi relawan kebencanaan, berbagai pengalaman pun ia hadapi. Mulai dari manajemen waktu, kesiapsiagaan, kesehatan mental dan fisik, dan juga kekeluargaan. “Pertama saya masih kuliah, di saat teman-teman sibuk dengan kuliahnya, saya sibuk dengan aksi kemanusiaan. Memang susah sekali mendapat izin dari kampus, tapi saya orangnya nekatan. Sampai pernah ninggal UTS,” kata alumnus Teknik Energi Terbarukan (TET) Politeknik Negeri Jember (Polije) ini.

Memang tak mudah bagi Bagas. Namun, setiap mengevakuasi korban bencana, selalu saja ada limpahan kebaikan yang ia terima.Dia bercerita, waktu gempa di Lombok sekitar 2019 lalu, dia mendapatkan tugas di sana. Dirinya benar-benar merasakan kepanikan warga, karena bercengkrama dengan pengungsi. Kalau panas kepanasan, dingin kedinginan, dan lapar juga kelaparan. “Cemas pasti, tapi di sana saya menemukan keluarga baru yang sampai sekarang masih komunikasi sama saya,” kenangnya.

Begitu pula saat bertugas di Jember, daerah perantauan pertamanya. Waktu kejadian banjir di Kecamatan Kencong, sekitar 2018 lalu. Dari lokasi tersebut, dia ditugaskan dari satu titik ke titik banjir yang lain. Yaitu Sumber Agung dan Sumber Waru. Dia bertugas sejak siang hingga dini hari karena debit air sungai tak kunjung surut.

Akibat kelelahan, ia pun terlelap di balai desa bersama satu orang temannya. Belum lama memejamkan mata, salah satu temannya pun meminta untuk menjaga seorang korban banjir yang telah berusia senja. Tanpa diketahui, ternyata korban banjir tersebut mengalami keterbelakangan mental. Bagas yang tak pernah berhadapan dengan orang tersebut, terpaksa harus berkomunikasi dengan bahasa sebisanya.

“Saat saya bangun, ternyata tidak ada orang. Saya bingung. HP juga tidak aktif. Akhirnya, datang teman saya satunya membawa pengungsi yang ternyata mengalami keterbelakangan mental. Terus dipasrahkan ke saya. Kaget saya. Beliaunya tidak nyambung,” beber pria kelahiran Pasuruan ini.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Kedinginan dan gatal akibat menerobos genangan air sudah menjadi hal biasa bagi Bagas Dwi Satriyo. Meski begitu, pria berusia 25 tahun itu memilih konsisten sebagai relawan bencana dan anggota Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Jember. Hal itu ia lakukan sejak 2015 silam, tepatnya saat masih duduk dibangku kuliah.

Berawal dari kondisi ekonomi keluarga yang pas-pasan saat itu, Bagas justru memilih aktif membantu orang lain. Entah apa yang membuatnya tergerak pada aksi kemanusiaan. Yang ia ingat, dirinya hanya ingin membalas kebaikan saudara dan orang-orang baik yang telah menolong perekonomian keluarganya.

“Dulu saya banyak dibantu saudara-saudara saya. Sehingga perlahan, masalah perekonomian mulai membaik sampai sekarang. Pesan dari ibu, kalau memang tidak mampu membalas kebaikan orang itu, setidaknya kita bisa berbuat baik untuk orang lain,” ungkapnya.

Ia masih ingat betul saat uang menjadi hal yang sulit didapatkan. Namun, berkat bantuan yang ia terima, dirinya mulai sadar bahwa uang bukanlah satu-satunya yang harus dimiliki dalam hidup. Ya, bukan uang, tapi waktu. “Ketika saya tidak punya uang, tapi saya punya waktu dan tenaga. Dari sana saya ingin memanfaatkan apa yang saya miliki itu. Salah satunya dengan menjadi relawan Jember,” katanya.

Selain itu, anak kedua dari lima bersaudara ini, juga sempat menerima bantuan makanan dari organisasi sosial yang memberikan nasi bungkus. Bersama dengan kakak pertama dan ketiga adiknya, nasi bungkus yang ia dapatkan itu dimakan bersama dengan lima orang. Sejak itu juga, ia menyadari ternyata satu bungkus nasi mampu menyelamatkan hidup banyak orang. Seperti yang ia alami dengan empat saudaranya itu. Dari sanalah, Bagas pun bertekad untuk turut berbuat baik layaknya orang yang sempat menolongnya itu.

Selama menjadi relawan kebencanaan, berbagai pengalaman pun ia hadapi. Mulai dari manajemen waktu, kesiapsiagaan, kesehatan mental dan fisik, dan juga kekeluargaan. “Pertama saya masih kuliah, di saat teman-teman sibuk dengan kuliahnya, saya sibuk dengan aksi kemanusiaan. Memang susah sekali mendapat izin dari kampus, tapi saya orangnya nekatan. Sampai pernah ninggal UTS,” kata alumnus Teknik Energi Terbarukan (TET) Politeknik Negeri Jember (Polije) ini.

Memang tak mudah bagi Bagas. Namun, setiap mengevakuasi korban bencana, selalu saja ada limpahan kebaikan yang ia terima.Dia bercerita, waktu gempa di Lombok sekitar 2019 lalu, dia mendapatkan tugas di sana. Dirinya benar-benar merasakan kepanikan warga, karena bercengkrama dengan pengungsi. Kalau panas kepanasan, dingin kedinginan, dan lapar juga kelaparan. “Cemas pasti, tapi di sana saya menemukan keluarga baru yang sampai sekarang masih komunikasi sama saya,” kenangnya.

Begitu pula saat bertugas di Jember, daerah perantauan pertamanya. Waktu kejadian banjir di Kecamatan Kencong, sekitar 2018 lalu. Dari lokasi tersebut, dia ditugaskan dari satu titik ke titik banjir yang lain. Yaitu Sumber Agung dan Sumber Waru. Dia bertugas sejak siang hingga dini hari karena debit air sungai tak kunjung surut.

Akibat kelelahan, ia pun terlelap di balai desa bersama satu orang temannya. Belum lama memejamkan mata, salah satu temannya pun meminta untuk menjaga seorang korban banjir yang telah berusia senja. Tanpa diketahui, ternyata korban banjir tersebut mengalami keterbelakangan mental. Bagas yang tak pernah berhadapan dengan orang tersebut, terpaksa harus berkomunikasi dengan bahasa sebisanya.

“Saat saya bangun, ternyata tidak ada orang. Saya bingung. HP juga tidak aktif. Akhirnya, datang teman saya satunya membawa pengungsi yang ternyata mengalami keterbelakangan mental. Terus dipasrahkan ke saya. Kaget saya. Beliaunya tidak nyambung,” beber pria kelahiran Pasuruan ini.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/