alexametrics
23.7 C
Jember
Sunday, 3 July 2022

Waspadai Mata Minus pada Anak

Selama Sekolah Daring di Rumah

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Gawai telah menjadi bagian hidup yang tak bisa dilepaskan. Setiap hari, banyak aktivitas masyarakat modern yang menggunakan layar. Baik komputer, laptop, ponsel, maupun tablet. Apalagi di masa pandemi seperti sekarang ini, intensitas penggunaannya semakin meningkat. Tak hanya orang tua, tapi juga anak-anak.

Apalagi aktivitas belajar mengajar sekarang ini dilakukan secara daring. Mau tidak mau, anak-anak kian sering melihat layar gawai. Sehingga, orang tua diimbau tak hanya melihat perkembangan belajar, tapi juga memantau kesehatan mata anak mereka.

Dalam peringatan Hari Penglihatan Sedunia yang jatuh pada 14 Oktober kemarin, dr Bagas Kumoro SpM juga mengingatkan kepada orang tua agar memantau perkembangan kesehatan mata anak. Dokter spesialis mata RSD dr Soebandi ini mengatakan, sejak pandemi korona seperti ini, jumlah pasien yang periksa minim. “Karena berkaitan dengan pandemi, yang datang ke rumah sakit sedikit,” jelasnya.

Mobile_AP_Rectangle 2

Mengapa orang tua perlu memantau kesehatan mata anak? Terutama untuk mendeteksi dini apakah terjadi mata minus atau tidak. Sebab, menurut catatan dr Bagas, karena yang mendeteksi mata minus anak rata-rata adalah guru sekolah. “Yang tahu pertama ada mata minus itu guru, bukan orang tua. Setelah guru tahu, baru orang tua yang membawa ke dokter,” katanya.

Namun, kini dengan sekolah daring, maka orang tua harus paham perbedaan yang terjadi ke buah hatinya, termasuk pada mata. Menurutnya, mata anak dijaga dengan baik agar tidak terjadi minus dan silinder. Sebab, mata anak hingga usia 30 tahun masih dalam masa pertumbuhan dan bisa berkembang. “Kalau sudah memasuki usia 30 tahun, minusnya tetap. Bila bertambah, itu sedikit,” jelasnya.

Oleh karena itu, kata dia, memelihara kesehatan mata ini penting sebelum usia 30 tahun, termasuk pada anak usia sekolah. “Ingat, mata minus dan silinder itu belum ada obatnya. Kacamata hanya membantu untuk melihat normal lagi,” katanya.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Gawai telah menjadi bagian hidup yang tak bisa dilepaskan. Setiap hari, banyak aktivitas masyarakat modern yang menggunakan layar. Baik komputer, laptop, ponsel, maupun tablet. Apalagi di masa pandemi seperti sekarang ini, intensitas penggunaannya semakin meningkat. Tak hanya orang tua, tapi juga anak-anak.

Apalagi aktivitas belajar mengajar sekarang ini dilakukan secara daring. Mau tidak mau, anak-anak kian sering melihat layar gawai. Sehingga, orang tua diimbau tak hanya melihat perkembangan belajar, tapi juga memantau kesehatan mata anak mereka.

Dalam peringatan Hari Penglihatan Sedunia yang jatuh pada 14 Oktober kemarin, dr Bagas Kumoro SpM juga mengingatkan kepada orang tua agar memantau perkembangan kesehatan mata anak. Dokter spesialis mata RSD dr Soebandi ini mengatakan, sejak pandemi korona seperti ini, jumlah pasien yang periksa minim. “Karena berkaitan dengan pandemi, yang datang ke rumah sakit sedikit,” jelasnya.

Mengapa orang tua perlu memantau kesehatan mata anak? Terutama untuk mendeteksi dini apakah terjadi mata minus atau tidak. Sebab, menurut catatan dr Bagas, karena yang mendeteksi mata minus anak rata-rata adalah guru sekolah. “Yang tahu pertama ada mata minus itu guru, bukan orang tua. Setelah guru tahu, baru orang tua yang membawa ke dokter,” katanya.

Namun, kini dengan sekolah daring, maka orang tua harus paham perbedaan yang terjadi ke buah hatinya, termasuk pada mata. Menurutnya, mata anak dijaga dengan baik agar tidak terjadi minus dan silinder. Sebab, mata anak hingga usia 30 tahun masih dalam masa pertumbuhan dan bisa berkembang. “Kalau sudah memasuki usia 30 tahun, minusnya tetap. Bila bertambah, itu sedikit,” jelasnya.

Oleh karena itu, kata dia, memelihara kesehatan mata ini penting sebelum usia 30 tahun, termasuk pada anak usia sekolah. “Ingat, mata minus dan silinder itu belum ada obatnya. Kacamata hanya membantu untuk melihat normal lagi,” katanya.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Gawai telah menjadi bagian hidup yang tak bisa dilepaskan. Setiap hari, banyak aktivitas masyarakat modern yang menggunakan layar. Baik komputer, laptop, ponsel, maupun tablet. Apalagi di masa pandemi seperti sekarang ini, intensitas penggunaannya semakin meningkat. Tak hanya orang tua, tapi juga anak-anak.

Apalagi aktivitas belajar mengajar sekarang ini dilakukan secara daring. Mau tidak mau, anak-anak kian sering melihat layar gawai. Sehingga, orang tua diimbau tak hanya melihat perkembangan belajar, tapi juga memantau kesehatan mata anak mereka.

Dalam peringatan Hari Penglihatan Sedunia yang jatuh pada 14 Oktober kemarin, dr Bagas Kumoro SpM juga mengingatkan kepada orang tua agar memantau perkembangan kesehatan mata anak. Dokter spesialis mata RSD dr Soebandi ini mengatakan, sejak pandemi korona seperti ini, jumlah pasien yang periksa minim. “Karena berkaitan dengan pandemi, yang datang ke rumah sakit sedikit,” jelasnya.

Mengapa orang tua perlu memantau kesehatan mata anak? Terutama untuk mendeteksi dini apakah terjadi mata minus atau tidak. Sebab, menurut catatan dr Bagas, karena yang mendeteksi mata minus anak rata-rata adalah guru sekolah. “Yang tahu pertama ada mata minus itu guru, bukan orang tua. Setelah guru tahu, baru orang tua yang membawa ke dokter,” katanya.

Namun, kini dengan sekolah daring, maka orang tua harus paham perbedaan yang terjadi ke buah hatinya, termasuk pada mata. Menurutnya, mata anak dijaga dengan baik agar tidak terjadi minus dan silinder. Sebab, mata anak hingga usia 30 tahun masih dalam masa pertumbuhan dan bisa berkembang. “Kalau sudah memasuki usia 30 tahun, minusnya tetap. Bila bertambah, itu sedikit,” jelasnya.

Oleh karena itu, kata dia, memelihara kesehatan mata ini penting sebelum usia 30 tahun, termasuk pada anak usia sekolah. “Ingat, mata minus dan silinder itu belum ada obatnya. Kacamata hanya membantu untuk melihat normal lagi,” katanya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/