alexametrics
23.9 C
Jember
Sunday, 26 September 2021

Mahasiswa yang Betah Molor Demi Bisnis

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – TERJUN ke dunia usaha sepertinya menjadi pilihan paling tepat bagi kalangan pemuda. Lebih-lebih, bagi mahasiswa di semester senja yang tinggal sejengkal menyelesaikan studinya. Hal itulah yang memantik pemuda yang tinggal di Dusun Seputih, Desa Sumberjati, Kecamatan Silo, ini terjun ke dunia usaha sebagai supplier kopi jenis robusta, arabika, dan liberica. Pemuda bernama M Rifki Ananda Dwi Syaputra ini menjatuhkan pilihannya pada kopi sebagai ladang rezeki.

Rifki Ananda

Bukan tanpa alasan. Sebagaimana diketahui, kopi merupakan salah satu komoditas unggulan di Jember. Dan, Kecamatan Silo Jember menjadi salah satu daerah penghasil kopi terbesar di Jember. Potensi itu yang kemudian tidak disia-siakan oleh Rifki. “Produksi kopi di daerah saya sangat melimpah. Tapi, kurang terekspose atau kurang dikenal. Jadi, apa yang saya lakukan ini bagian dari mengenalkan potensi kopi daerah Silo,” aku pemuda 24 tahun ini.

Mobile_AP_Rectangle 2

Dia mengisahkan, usahanya itu diawali pada 2018 lalu. Saat itu, Rifki masih duduk di semester tiga Prodi Agroteknologi Fakultas Pertanian Universitas Jember. Jatuh bangun usahanya itu sempat dia rasakan. Sebab, ia harus membagi waktu, mana untuk kuliah, praktik, juga mengurus usaha. “Di situ titik jatuh bangunnya. Tapi, yang membuat saya optimistis, kopi Silo ini memiliki hasil yang bagus saat dites di Puslitkoka,” imbuhnya.

Karenanya, ia bertekad mengembangkan usaha kopi itu dengan harapan brand kopi lokal bisa terangkat dan dikenal hingga go national.

Dalam menjalankan usahanya, kopi-kopi itu ia ambil dari masyarakat setempat yang kemudian dikemas dengan bentuk yang ciamik. Lalu, ada pula biji kopi yang belum disangrai (green bean) atau biji sangrai (roasted bean) yang biasanya dijual secara daring ke berbagai daerah, atau ke kedai-kedai kopi, pusat oleh-oleh, ritel, dan lainnya. “Pangsa pasarnya lintas provinsi dan beberapa lokalan seperti kedai kampus dan daerah-daerah lain,” imbuhnya.

Dia menambahkan, kesulitan menjangkau pangsa pasar itu sempat dia alami. Terlebih sejak awal membabat, Rifki mengaku masih berjalan amatir. Perizinan juga belum mengantongi, ditambah minus relasi dan pengalaman.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – TERJUN ke dunia usaha sepertinya menjadi pilihan paling tepat bagi kalangan pemuda. Lebih-lebih, bagi mahasiswa di semester senja yang tinggal sejengkal menyelesaikan studinya. Hal itulah yang memantik pemuda yang tinggal di Dusun Seputih, Desa Sumberjati, Kecamatan Silo, ini terjun ke dunia usaha sebagai supplier kopi jenis robusta, arabika, dan liberica. Pemuda bernama M Rifki Ananda Dwi Syaputra ini menjatuhkan pilihannya pada kopi sebagai ladang rezeki.

Rifki Ananda

Bukan tanpa alasan. Sebagaimana diketahui, kopi merupakan salah satu komoditas unggulan di Jember. Dan, Kecamatan Silo Jember menjadi salah satu daerah penghasil kopi terbesar di Jember. Potensi itu yang kemudian tidak disia-siakan oleh Rifki. “Produksi kopi di daerah saya sangat melimpah. Tapi, kurang terekspose atau kurang dikenal. Jadi, apa yang saya lakukan ini bagian dari mengenalkan potensi kopi daerah Silo,” aku pemuda 24 tahun ini.

Dia mengisahkan, usahanya itu diawali pada 2018 lalu. Saat itu, Rifki masih duduk di semester tiga Prodi Agroteknologi Fakultas Pertanian Universitas Jember. Jatuh bangun usahanya itu sempat dia rasakan. Sebab, ia harus membagi waktu, mana untuk kuliah, praktik, juga mengurus usaha. “Di situ titik jatuh bangunnya. Tapi, yang membuat saya optimistis, kopi Silo ini memiliki hasil yang bagus saat dites di Puslitkoka,” imbuhnya.

Karenanya, ia bertekad mengembangkan usaha kopi itu dengan harapan brand kopi lokal bisa terangkat dan dikenal hingga go national.

Dalam menjalankan usahanya, kopi-kopi itu ia ambil dari masyarakat setempat yang kemudian dikemas dengan bentuk yang ciamik. Lalu, ada pula biji kopi yang belum disangrai (green bean) atau biji sangrai (roasted bean) yang biasanya dijual secara daring ke berbagai daerah, atau ke kedai-kedai kopi, pusat oleh-oleh, ritel, dan lainnya. “Pangsa pasarnya lintas provinsi dan beberapa lokalan seperti kedai kampus dan daerah-daerah lain,” imbuhnya.

Dia menambahkan, kesulitan menjangkau pangsa pasar itu sempat dia alami. Terlebih sejak awal membabat, Rifki mengaku masih berjalan amatir. Perizinan juga belum mengantongi, ditambah minus relasi dan pengalaman.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – TERJUN ke dunia usaha sepertinya menjadi pilihan paling tepat bagi kalangan pemuda. Lebih-lebih, bagi mahasiswa di semester senja yang tinggal sejengkal menyelesaikan studinya. Hal itulah yang memantik pemuda yang tinggal di Dusun Seputih, Desa Sumberjati, Kecamatan Silo, ini terjun ke dunia usaha sebagai supplier kopi jenis robusta, arabika, dan liberica. Pemuda bernama M Rifki Ananda Dwi Syaputra ini menjatuhkan pilihannya pada kopi sebagai ladang rezeki.

Rifki Ananda

Bukan tanpa alasan. Sebagaimana diketahui, kopi merupakan salah satu komoditas unggulan di Jember. Dan, Kecamatan Silo Jember menjadi salah satu daerah penghasil kopi terbesar di Jember. Potensi itu yang kemudian tidak disia-siakan oleh Rifki. “Produksi kopi di daerah saya sangat melimpah. Tapi, kurang terekspose atau kurang dikenal. Jadi, apa yang saya lakukan ini bagian dari mengenalkan potensi kopi daerah Silo,” aku pemuda 24 tahun ini.

Dia mengisahkan, usahanya itu diawali pada 2018 lalu. Saat itu, Rifki masih duduk di semester tiga Prodi Agroteknologi Fakultas Pertanian Universitas Jember. Jatuh bangun usahanya itu sempat dia rasakan. Sebab, ia harus membagi waktu, mana untuk kuliah, praktik, juga mengurus usaha. “Di situ titik jatuh bangunnya. Tapi, yang membuat saya optimistis, kopi Silo ini memiliki hasil yang bagus saat dites di Puslitkoka,” imbuhnya.

Karenanya, ia bertekad mengembangkan usaha kopi itu dengan harapan brand kopi lokal bisa terangkat dan dikenal hingga go national.

Dalam menjalankan usahanya, kopi-kopi itu ia ambil dari masyarakat setempat yang kemudian dikemas dengan bentuk yang ciamik. Lalu, ada pula biji kopi yang belum disangrai (green bean) atau biji sangrai (roasted bean) yang biasanya dijual secara daring ke berbagai daerah, atau ke kedai-kedai kopi, pusat oleh-oleh, ritel, dan lainnya. “Pangsa pasarnya lintas provinsi dan beberapa lokalan seperti kedai kampus dan daerah-daerah lain,” imbuhnya.

Dia menambahkan, kesulitan menjangkau pangsa pasar itu sempat dia alami. Terlebih sejak awal membabat, Rifki mengaku masih berjalan amatir. Perizinan juga belum mengantongi, ditambah minus relasi dan pengalaman.


BERITA TERKINI

Wajib Dibaca