alexametrics
31.8 C
Jember
Tuesday, 16 August 2022

Palsu Gak Masalah, yang Penting Bisa Berkreasi

Perlakuan yang berbeda terhadap penyandang disabilitas kerap membuat mereka merasa dimarjinalkan. Dalam berkarir, terkadang minder lantaran tak seperti orang pada umumnya. Harapan mereka pun tumbuh dengan alat bantu tubuh.

Mobile_AP_Rectangle 1

Ibu rumah tangga yang menjadi tukang bordir ini mengaku sangat terbantu. Selama ini, dirinya hanya bekerja dengan satu kaki. Tetapi sekarang, sudah bisa beraktivitas dengan kedua kakinya. “Aktivitas sehari-hari bisa lebih enak. Semakin semangat untuk kerja,” jelas ibu dua anak itu.

Kaki palsu didapatkan secara gratis. Cuma-cuma dan tidak bersyarat. Semua pembiayaannya juga ditanggung relawan. Meski hanya lulusan SD, dirinya menaruh harapan besar dengan kaki barunya. “Pengennya saya ngajar, jadi guru. Tapi ya apa, kan harus sekolah, semoga nanti bisa ikut sekolah paket,” katanya.

Hendra, penyandang disabilitas lain, juga mengaku lebih memiliki harapan besar. Pria asal Wirolegi ini menyebut, setiap hari dirinya bekerja sebagai ojek online. Dengan hadirnya alat bantu baru tersebut, menurut Hendra, akan memberi manfaat pada tubuhnya.

Mobile_AP_Rectangle 2

Menurutnya, kalau harus membuat sendiri, maka harus merogoh kocek sebesar Rp 4-7 juta per anggota tubuh. Dia pun mengaku lebih ringan dalam beraktivitas. Hendra dan penyandang disabilitas lain berharap akan ke depan bisa berkreasi dan bekerja lebih maksimal lagi. “Rasanya lebih ringan. Ke sana kemari ndak berat, apalagi pas ambil orderan,” kata Hendra kepada Jawa Pos Radar Jember.

Kaki palsu milik Hendra diakuinya sangat bermanfaat. Baginya, kaki palsu pun tak jadi masalah, yang terpenting bisa sama seperti orang kebanyakan. Jika Ayu menaruh harapan ingin mejadi lebih baik dengan menjadi guru, berbeda halnya dengan Hendra. “Harapan saya, teman-teman yang lain bisa kecipratan seperti saya saat ini,” harap Hendra yang menahan haru.

Alat bantu kaki dan tangan tersebut diinisiasi Komunitas Relawan, Sahabat Rengganis, dan Kita Bisa.com. Komunitas kemanusiaan itu bergerak menyisir para penyandang disabilitas yang membutuhkan bantuan seperti alat bantu anggota tubuh. “Murni dari teman-teman relawan dan donatur yang tidak mengikat,” ujar Leli Amalia, koordinator komunitas relawan dari Sahabat Rengganis.

Kedua komunitas relawan itu hingga kini meneruskan program kaki atau tangan palsu untuk penyandang disabilitas. Mereka juga menargetkan puluhan warga di Jember agar bisa mendapatkan bantuan serupa.

- Advertisement -

Ibu rumah tangga yang menjadi tukang bordir ini mengaku sangat terbantu. Selama ini, dirinya hanya bekerja dengan satu kaki. Tetapi sekarang, sudah bisa beraktivitas dengan kedua kakinya. “Aktivitas sehari-hari bisa lebih enak. Semakin semangat untuk kerja,” jelas ibu dua anak itu.

Kaki palsu didapatkan secara gratis. Cuma-cuma dan tidak bersyarat. Semua pembiayaannya juga ditanggung relawan. Meski hanya lulusan SD, dirinya menaruh harapan besar dengan kaki barunya. “Pengennya saya ngajar, jadi guru. Tapi ya apa, kan harus sekolah, semoga nanti bisa ikut sekolah paket,” katanya.

Hendra, penyandang disabilitas lain, juga mengaku lebih memiliki harapan besar. Pria asal Wirolegi ini menyebut, setiap hari dirinya bekerja sebagai ojek online. Dengan hadirnya alat bantu baru tersebut, menurut Hendra, akan memberi manfaat pada tubuhnya.

Menurutnya, kalau harus membuat sendiri, maka harus merogoh kocek sebesar Rp 4-7 juta per anggota tubuh. Dia pun mengaku lebih ringan dalam beraktivitas. Hendra dan penyandang disabilitas lain berharap akan ke depan bisa berkreasi dan bekerja lebih maksimal lagi. “Rasanya lebih ringan. Ke sana kemari ndak berat, apalagi pas ambil orderan,” kata Hendra kepada Jawa Pos Radar Jember.

Kaki palsu milik Hendra diakuinya sangat bermanfaat. Baginya, kaki palsu pun tak jadi masalah, yang terpenting bisa sama seperti orang kebanyakan. Jika Ayu menaruh harapan ingin mejadi lebih baik dengan menjadi guru, berbeda halnya dengan Hendra. “Harapan saya, teman-teman yang lain bisa kecipratan seperti saya saat ini,” harap Hendra yang menahan haru.

Alat bantu kaki dan tangan tersebut diinisiasi Komunitas Relawan, Sahabat Rengganis, dan Kita Bisa.com. Komunitas kemanusiaan itu bergerak menyisir para penyandang disabilitas yang membutuhkan bantuan seperti alat bantu anggota tubuh. “Murni dari teman-teman relawan dan donatur yang tidak mengikat,” ujar Leli Amalia, koordinator komunitas relawan dari Sahabat Rengganis.

Kedua komunitas relawan itu hingga kini meneruskan program kaki atau tangan palsu untuk penyandang disabilitas. Mereka juga menargetkan puluhan warga di Jember agar bisa mendapatkan bantuan serupa.

Ibu rumah tangga yang menjadi tukang bordir ini mengaku sangat terbantu. Selama ini, dirinya hanya bekerja dengan satu kaki. Tetapi sekarang, sudah bisa beraktivitas dengan kedua kakinya. “Aktivitas sehari-hari bisa lebih enak. Semakin semangat untuk kerja,” jelas ibu dua anak itu.

Kaki palsu didapatkan secara gratis. Cuma-cuma dan tidak bersyarat. Semua pembiayaannya juga ditanggung relawan. Meski hanya lulusan SD, dirinya menaruh harapan besar dengan kaki barunya. “Pengennya saya ngajar, jadi guru. Tapi ya apa, kan harus sekolah, semoga nanti bisa ikut sekolah paket,” katanya.

Hendra, penyandang disabilitas lain, juga mengaku lebih memiliki harapan besar. Pria asal Wirolegi ini menyebut, setiap hari dirinya bekerja sebagai ojek online. Dengan hadirnya alat bantu baru tersebut, menurut Hendra, akan memberi manfaat pada tubuhnya.

Menurutnya, kalau harus membuat sendiri, maka harus merogoh kocek sebesar Rp 4-7 juta per anggota tubuh. Dia pun mengaku lebih ringan dalam beraktivitas. Hendra dan penyandang disabilitas lain berharap akan ke depan bisa berkreasi dan bekerja lebih maksimal lagi. “Rasanya lebih ringan. Ke sana kemari ndak berat, apalagi pas ambil orderan,” kata Hendra kepada Jawa Pos Radar Jember.

Kaki palsu milik Hendra diakuinya sangat bermanfaat. Baginya, kaki palsu pun tak jadi masalah, yang terpenting bisa sama seperti orang kebanyakan. Jika Ayu menaruh harapan ingin mejadi lebih baik dengan menjadi guru, berbeda halnya dengan Hendra. “Harapan saya, teman-teman yang lain bisa kecipratan seperti saya saat ini,” harap Hendra yang menahan haru.

Alat bantu kaki dan tangan tersebut diinisiasi Komunitas Relawan, Sahabat Rengganis, dan Kita Bisa.com. Komunitas kemanusiaan itu bergerak menyisir para penyandang disabilitas yang membutuhkan bantuan seperti alat bantu anggota tubuh. “Murni dari teman-teman relawan dan donatur yang tidak mengikat,” ujar Leli Amalia, koordinator komunitas relawan dari Sahabat Rengganis.

Kedua komunitas relawan itu hingga kini meneruskan program kaki atau tangan palsu untuk penyandang disabilitas. Mereka juga menargetkan puluhan warga di Jember agar bisa mendapatkan bantuan serupa.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/