alexametrics
23.7 C
Jember
Sunday, 25 September 2022

Relawan Kemanusiaan Tak Dibayar, Waktu Terbuang demi Pasien Sembuh

Sikap tak acuh terkadang menjadi penyakit bagi banyak orang. Di Jember, ada sejumlah aktivis kemanusiaan yang rela menghabiskan waktunya untuk membantu orang lain. Seperti yang dilakukan Siti Sarohma, warga Desa Rambipuji, dan Fidrotin, warga Sukorambi.

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Siti adalah salah satu aktivis perempuan dari Rambipuji yang sudah banyak membantu orang sejak tahun 2018. Baginya, menjadi relawan, tak lagi berpikir soal uang. Namun, ia berpikir bagaimana pasien yang didampinginya bisa sembuh. “Biasanya kalau pasien ingin ke rumah sakit atau klinik, saya datang dulu ke rumah sakit atau klinik,” ujarnya.

BACA JUGA : Perencanaan yang Kurang Cermat, Obat Terbuang Sia-Sia karena Kedaluwarsa

Perempuan berusia 42 tahun itu juga mengalami lika-liku ketika menjadi aktivis kemanusiaan. “Banyak pasien yang susah untuk minum obat, sehingga obat tersebut tidak habis. Sikap saya untuk menghadapi pasien tersebut yaitu dengan melalui pendekatan, karena memang tidak semua pasien mau meminum obat sampai habis,” katanya.

Mobile_AP_Rectangle 2

Bagi Siti, selama mendampingi orang sakit, yang paling susah untuk minum obat biasanya yang menderita penyakit diabetes. Sebab, ukuran obatnya besar, sehingga pasien tidak mau meminum obat dan ujung-ujungnya dibuang. “Jika saya tidak bisa menyuruh orang sakit tersebut untuk minum obat, biasanya saya meminta bantuan kepada keluarga pasien agar mau minum obat. Karena, obat itu penting bagi orang yang sedang sakit, apalagi yang sakit parah,” ujarnya.

Namun, ada hal menarik ketika menjadi aktivis perempuan. “Saya bisa kenal dengan karakter beberapa orang dan bisa membantu mempermudah agar orang tersebut bisa sembuh,” katanya. Apalagi jika pasien harus dioperasi dan operasi tersebut berhasil. Siti ikut senang, karena baginya orang sakit yang sedang bersama dia merupakan bagian dari keluarga.

Hal tersebut juga dirasakan oleh Fidrotin, aktivis kemanusiaan asal Sukorambi. Dia sudah sejak tahun 2010 menjadi aktivis perempuan yang peduli pada kehidupan orang lain. “Pastinya banyak suka duka yang saya lewati. Dari pasien yang saya dampingi ternyata nyawanya tidak dapat tertolong, keluarga yang tidak mau mendampingi pasien yang sedang sakit, sampai pasien yang tidak mau minum obat sampai habis,” katanya.

Berbeda dengan Siti yang mengaku banyak pasien diabetes susah minum obat. Fidrotin justru sering kali mendampingi orang terjangkit TBC yang susah minum obat. “Jika orang yang sakit tersebut sudah merasa sembuh, biasanya tidak lanjut minum obat sampai habis. Meskipun sudah dianjurkan oleh dokter agar obat tersebut harus habis. Dan itu yang menyebabkan obat-obat menjadi kedaluwarsa, karena lama tidak diminum,” katanya.

Perempuan berusia 43 tahun tersebut meminta bantuan keluarga, camat atau kepala desa sekitar, sampai warga agar mau membujuk pasien tersebut agar minum obat. “Karena saya khawatir jika orang sakit yang saya dampingi tidak minum obat, akan berdampak parah terhadap penyakit yang diderita orang sakit tersebut,” ujarnya.

Apa yang dilakukan kedua relawan kemanusiaan itu tidak mudah ditiru. Sebab, tidak banyak orang yang bisa melakukan pendampingan secara sukarela dan tidak dibayar. Ini dilakukan terutama kepada warga yang kurang mampu dan ingin menjadi bagian penting agar orang sakit bisa sembuh. (mg1/c2/nur)

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Siti adalah salah satu aktivis perempuan dari Rambipuji yang sudah banyak membantu orang sejak tahun 2018. Baginya, menjadi relawan, tak lagi berpikir soal uang. Namun, ia berpikir bagaimana pasien yang didampinginya bisa sembuh. “Biasanya kalau pasien ingin ke rumah sakit atau klinik, saya datang dulu ke rumah sakit atau klinik,” ujarnya.

BACA JUGA : Perencanaan yang Kurang Cermat, Obat Terbuang Sia-Sia karena Kedaluwarsa

Perempuan berusia 42 tahun itu juga mengalami lika-liku ketika menjadi aktivis kemanusiaan. “Banyak pasien yang susah untuk minum obat, sehingga obat tersebut tidak habis. Sikap saya untuk menghadapi pasien tersebut yaitu dengan melalui pendekatan, karena memang tidak semua pasien mau meminum obat sampai habis,” katanya.

Bagi Siti, selama mendampingi orang sakit, yang paling susah untuk minum obat biasanya yang menderita penyakit diabetes. Sebab, ukuran obatnya besar, sehingga pasien tidak mau meminum obat dan ujung-ujungnya dibuang. “Jika saya tidak bisa menyuruh orang sakit tersebut untuk minum obat, biasanya saya meminta bantuan kepada keluarga pasien agar mau minum obat. Karena, obat itu penting bagi orang yang sedang sakit, apalagi yang sakit parah,” ujarnya.

Namun, ada hal menarik ketika menjadi aktivis perempuan. “Saya bisa kenal dengan karakter beberapa orang dan bisa membantu mempermudah agar orang tersebut bisa sembuh,” katanya. Apalagi jika pasien harus dioperasi dan operasi tersebut berhasil. Siti ikut senang, karena baginya orang sakit yang sedang bersama dia merupakan bagian dari keluarga.

Hal tersebut juga dirasakan oleh Fidrotin, aktivis kemanusiaan asal Sukorambi. Dia sudah sejak tahun 2010 menjadi aktivis perempuan yang peduli pada kehidupan orang lain. “Pastinya banyak suka duka yang saya lewati. Dari pasien yang saya dampingi ternyata nyawanya tidak dapat tertolong, keluarga yang tidak mau mendampingi pasien yang sedang sakit, sampai pasien yang tidak mau minum obat sampai habis,” katanya.

Berbeda dengan Siti yang mengaku banyak pasien diabetes susah minum obat. Fidrotin justru sering kali mendampingi orang terjangkit TBC yang susah minum obat. “Jika orang yang sakit tersebut sudah merasa sembuh, biasanya tidak lanjut minum obat sampai habis. Meskipun sudah dianjurkan oleh dokter agar obat tersebut harus habis. Dan itu yang menyebabkan obat-obat menjadi kedaluwarsa, karena lama tidak diminum,” katanya.

Perempuan berusia 43 tahun tersebut meminta bantuan keluarga, camat atau kepala desa sekitar, sampai warga agar mau membujuk pasien tersebut agar minum obat. “Karena saya khawatir jika orang sakit yang saya dampingi tidak minum obat, akan berdampak parah terhadap penyakit yang diderita orang sakit tersebut,” ujarnya.

Apa yang dilakukan kedua relawan kemanusiaan itu tidak mudah ditiru. Sebab, tidak banyak orang yang bisa melakukan pendampingan secara sukarela dan tidak dibayar. Ini dilakukan terutama kepada warga yang kurang mampu dan ingin menjadi bagian penting agar orang sakit bisa sembuh. (mg1/c2/nur)

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Siti adalah salah satu aktivis perempuan dari Rambipuji yang sudah banyak membantu orang sejak tahun 2018. Baginya, menjadi relawan, tak lagi berpikir soal uang. Namun, ia berpikir bagaimana pasien yang didampinginya bisa sembuh. “Biasanya kalau pasien ingin ke rumah sakit atau klinik, saya datang dulu ke rumah sakit atau klinik,” ujarnya.

BACA JUGA : Perencanaan yang Kurang Cermat, Obat Terbuang Sia-Sia karena Kedaluwarsa

Perempuan berusia 42 tahun itu juga mengalami lika-liku ketika menjadi aktivis kemanusiaan. “Banyak pasien yang susah untuk minum obat, sehingga obat tersebut tidak habis. Sikap saya untuk menghadapi pasien tersebut yaitu dengan melalui pendekatan, karena memang tidak semua pasien mau meminum obat sampai habis,” katanya.

Bagi Siti, selama mendampingi orang sakit, yang paling susah untuk minum obat biasanya yang menderita penyakit diabetes. Sebab, ukuran obatnya besar, sehingga pasien tidak mau meminum obat dan ujung-ujungnya dibuang. “Jika saya tidak bisa menyuruh orang sakit tersebut untuk minum obat, biasanya saya meminta bantuan kepada keluarga pasien agar mau minum obat. Karena, obat itu penting bagi orang yang sedang sakit, apalagi yang sakit parah,” ujarnya.

Namun, ada hal menarik ketika menjadi aktivis perempuan. “Saya bisa kenal dengan karakter beberapa orang dan bisa membantu mempermudah agar orang tersebut bisa sembuh,” katanya. Apalagi jika pasien harus dioperasi dan operasi tersebut berhasil. Siti ikut senang, karena baginya orang sakit yang sedang bersama dia merupakan bagian dari keluarga.

Hal tersebut juga dirasakan oleh Fidrotin, aktivis kemanusiaan asal Sukorambi. Dia sudah sejak tahun 2010 menjadi aktivis perempuan yang peduli pada kehidupan orang lain. “Pastinya banyak suka duka yang saya lewati. Dari pasien yang saya dampingi ternyata nyawanya tidak dapat tertolong, keluarga yang tidak mau mendampingi pasien yang sedang sakit, sampai pasien yang tidak mau minum obat sampai habis,” katanya.

Berbeda dengan Siti yang mengaku banyak pasien diabetes susah minum obat. Fidrotin justru sering kali mendampingi orang terjangkit TBC yang susah minum obat. “Jika orang yang sakit tersebut sudah merasa sembuh, biasanya tidak lanjut minum obat sampai habis. Meskipun sudah dianjurkan oleh dokter agar obat tersebut harus habis. Dan itu yang menyebabkan obat-obat menjadi kedaluwarsa, karena lama tidak diminum,” katanya.

Perempuan berusia 43 tahun tersebut meminta bantuan keluarga, camat atau kepala desa sekitar, sampai warga agar mau membujuk pasien tersebut agar minum obat. “Karena saya khawatir jika orang sakit yang saya dampingi tidak minum obat, akan berdampak parah terhadap penyakit yang diderita orang sakit tersebut,” ujarnya.

Apa yang dilakukan kedua relawan kemanusiaan itu tidak mudah ditiru. Sebab, tidak banyak orang yang bisa melakukan pendampingan secara sukarela dan tidak dibayar. Ini dilakukan terutama kepada warga yang kurang mampu dan ingin menjadi bagian penting agar orang sakit bisa sembuh. (mg1/c2/nur)

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/