alexametrics
31.8 C
Jember
Tuesday, 16 August 2022

Ancam Kelestarian Lingkungan, Rapatkan Barisan Kawal Warga Pesisir

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Mencuatnya isu tentang ancaman kelestarian lingkungan di Jember selatan yang terus menghangat menarik perhatian sejumlah organisasi mahasiswa dan aktivis lingkungan. Sejak awal ramai diperbincangkan hingga hari ini, mereka terus melakukan pendampingan terhadap masyarakat sekitar pesisir. Utamanya kawasan industri tambak modern di sekitar Desa Kepanjen, Gumukmas, serta areal yang menjadi izin konsesi tambang pasir besi di Desa Paseban, Kencong.

Para aktivis menilai, langkah itu dilakukan seiring minimnya keberpihakan pemerintah daerah terhadap nasib masyarakat pesisir dan kelestarian kawasan pantai. “Kami terus melakukan pendampingan ke masyarakat. Sebab, beberapa kali situasinya memanas. Namun, sementara ini sudah cukup kondusif,” kata Dyno Suryandoni, Ketua DPC Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Jember.

Menurutnya, pendampingan yang dilakukan itu untuk menyolidkan gerakan masyarakat. Agar mereka tetap konsisten menolak apa pun bentuk perampasan terhadap ruang hidup warga di sekitar kawasan pesisir.

Mobile_AP_Rectangle 2

Meski sempat ditemukan adanya dugaan industri bodong saat hearing dan sidak anggota DPRD beserta Organisasi Perangkat Daerah (OPD) Jember, beberapa pekan lalu, hal itu dirasa belum menjawab apa yang menjadi aspirasi masyarakat pesisir.

Karenanya, pendampingan yang dilakukan aktivis mahasiswa itu dilakukan agar masyarakat tetap kompak menolak tambak maupun tambang. “Pendampingan itu dilakukan untuk membangun kesepahaman bahwa tambak dan tambang dampaknya seperti ini. Muaranya seperti ini,” tambah Faqih al Haramain, Ketua Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Jember.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Mencuatnya isu tentang ancaman kelestarian lingkungan di Jember selatan yang terus menghangat menarik perhatian sejumlah organisasi mahasiswa dan aktivis lingkungan. Sejak awal ramai diperbincangkan hingga hari ini, mereka terus melakukan pendampingan terhadap masyarakat sekitar pesisir. Utamanya kawasan industri tambak modern di sekitar Desa Kepanjen, Gumukmas, serta areal yang menjadi izin konsesi tambang pasir besi di Desa Paseban, Kencong.

Para aktivis menilai, langkah itu dilakukan seiring minimnya keberpihakan pemerintah daerah terhadap nasib masyarakat pesisir dan kelestarian kawasan pantai. “Kami terus melakukan pendampingan ke masyarakat. Sebab, beberapa kali situasinya memanas. Namun, sementara ini sudah cukup kondusif,” kata Dyno Suryandoni, Ketua DPC Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Jember.

Menurutnya, pendampingan yang dilakukan itu untuk menyolidkan gerakan masyarakat. Agar mereka tetap konsisten menolak apa pun bentuk perampasan terhadap ruang hidup warga di sekitar kawasan pesisir.

Meski sempat ditemukan adanya dugaan industri bodong saat hearing dan sidak anggota DPRD beserta Organisasi Perangkat Daerah (OPD) Jember, beberapa pekan lalu, hal itu dirasa belum menjawab apa yang menjadi aspirasi masyarakat pesisir.

Karenanya, pendampingan yang dilakukan aktivis mahasiswa itu dilakukan agar masyarakat tetap kompak menolak tambak maupun tambang. “Pendampingan itu dilakukan untuk membangun kesepahaman bahwa tambak dan tambang dampaknya seperti ini. Muaranya seperti ini,” tambah Faqih al Haramain, Ketua Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Jember.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Mencuatnya isu tentang ancaman kelestarian lingkungan di Jember selatan yang terus menghangat menarik perhatian sejumlah organisasi mahasiswa dan aktivis lingkungan. Sejak awal ramai diperbincangkan hingga hari ini, mereka terus melakukan pendampingan terhadap masyarakat sekitar pesisir. Utamanya kawasan industri tambak modern di sekitar Desa Kepanjen, Gumukmas, serta areal yang menjadi izin konsesi tambang pasir besi di Desa Paseban, Kencong.

Para aktivis menilai, langkah itu dilakukan seiring minimnya keberpihakan pemerintah daerah terhadap nasib masyarakat pesisir dan kelestarian kawasan pantai. “Kami terus melakukan pendampingan ke masyarakat. Sebab, beberapa kali situasinya memanas. Namun, sementara ini sudah cukup kondusif,” kata Dyno Suryandoni, Ketua DPC Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Jember.

Menurutnya, pendampingan yang dilakukan itu untuk menyolidkan gerakan masyarakat. Agar mereka tetap konsisten menolak apa pun bentuk perampasan terhadap ruang hidup warga di sekitar kawasan pesisir.

Meski sempat ditemukan adanya dugaan industri bodong saat hearing dan sidak anggota DPRD beserta Organisasi Perangkat Daerah (OPD) Jember, beberapa pekan lalu, hal itu dirasa belum menjawab apa yang menjadi aspirasi masyarakat pesisir.

Karenanya, pendampingan yang dilakukan aktivis mahasiswa itu dilakukan agar masyarakat tetap kompak menolak tambak maupun tambang. “Pendampingan itu dilakukan untuk membangun kesepahaman bahwa tambak dan tambang dampaknya seperti ini. Muaranya seperti ini,” tambah Faqih al Haramain, Ketua Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Jember.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/