alexametrics
26.5 C
Jember
Wednesday, 29 June 2022

Tetap Masuk untuk Ambil Tugas

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Dengan memakai masker hitam, Titik Mujiati duduk sendirian di ruang kelas SDN Karangrejo 4, kemarin (13/7). Pandangan guru kelas 5 itu berada di meja, kadang pulang menatap pintu masuk kelas. “Ada yang ditunggu, ya menunggu murid-murid,” tuturnya kepada Jawa Pos Radar Jember.

Tak lama, terdengar suara salam dari seorang bocah berkerudung. Itu adalah Dwi Regina Putri, yang tak lain siswa dari Titik Mujiati. Tak mengenakan seragam sekolah, hanya pakai baju bebas dan bermasker cokelat, dia mulai menuju sudut dinding kelas untuk mengambil buku. Dia pun mulai berjalan ke Titik Mujiati dengan mengambil dua lembar kertas.

Dua lembar kertas itulah jadi bahan tugas atau pekerjaan rumah para siswa. Dengan sabar, Titik pun menjelaskan kertas yang berisi tugas tersebut. “Ini ada gambar hewan-hewan. Nanti diisi di samping, seperti contoh di atas ya,” terangnya kepada bocah tersebut.

Mobile_AP_Rectangle 2

Tugas yang diberikan Titik adalah Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) dan Matematika. Dia mengaku, tugas dari kertas putih dibuat sendiri olehnya dengan referensi buku bacaan siswa. “Gambarnya saya cari dulu di internet, dicetak, dan ditempel. Setelah itu, diperbanyak,” paparnya.

Titik masuk ke sekolah sama seperti biasanya. Dengan mengenakan seragam batik hijau, dia datang pukul 7 pagi dan pulang hingga siang setelah memastikan semua murid datang satu per satu. “Kalau Senin kemarin, siswa hanya mengambil buku ajar saja. Kan mereka baru naik kelas,” jelasnya.

Dia mengaku, pembelajaran daring menjadi langkah yang masih diterapkan hingga saat ini. Tapi ada kalangan orang tua dan wali murid yang masih gagap dengan teknologi. Perempuan yang tinggal di Jalan Ahmad Yani ini memaparkan, sistem pembelajaran di tengah pandemi, guru memang harus diwajibkan kreatif.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Dengan memakai masker hitam, Titik Mujiati duduk sendirian di ruang kelas SDN Karangrejo 4, kemarin (13/7). Pandangan guru kelas 5 itu berada di meja, kadang pulang menatap pintu masuk kelas. “Ada yang ditunggu, ya menunggu murid-murid,” tuturnya kepada Jawa Pos Radar Jember.

Tak lama, terdengar suara salam dari seorang bocah berkerudung. Itu adalah Dwi Regina Putri, yang tak lain siswa dari Titik Mujiati. Tak mengenakan seragam sekolah, hanya pakai baju bebas dan bermasker cokelat, dia mulai menuju sudut dinding kelas untuk mengambil buku. Dia pun mulai berjalan ke Titik Mujiati dengan mengambil dua lembar kertas.

Dua lembar kertas itulah jadi bahan tugas atau pekerjaan rumah para siswa. Dengan sabar, Titik pun menjelaskan kertas yang berisi tugas tersebut. “Ini ada gambar hewan-hewan. Nanti diisi di samping, seperti contoh di atas ya,” terangnya kepada bocah tersebut.

Tugas yang diberikan Titik adalah Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) dan Matematika. Dia mengaku, tugas dari kertas putih dibuat sendiri olehnya dengan referensi buku bacaan siswa. “Gambarnya saya cari dulu di internet, dicetak, dan ditempel. Setelah itu, diperbanyak,” paparnya.

Titik masuk ke sekolah sama seperti biasanya. Dengan mengenakan seragam batik hijau, dia datang pukul 7 pagi dan pulang hingga siang setelah memastikan semua murid datang satu per satu. “Kalau Senin kemarin, siswa hanya mengambil buku ajar saja. Kan mereka baru naik kelas,” jelasnya.

Dia mengaku, pembelajaran daring menjadi langkah yang masih diterapkan hingga saat ini. Tapi ada kalangan orang tua dan wali murid yang masih gagap dengan teknologi. Perempuan yang tinggal di Jalan Ahmad Yani ini memaparkan, sistem pembelajaran di tengah pandemi, guru memang harus diwajibkan kreatif.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Dengan memakai masker hitam, Titik Mujiati duduk sendirian di ruang kelas SDN Karangrejo 4, kemarin (13/7). Pandangan guru kelas 5 itu berada di meja, kadang pulang menatap pintu masuk kelas. “Ada yang ditunggu, ya menunggu murid-murid,” tuturnya kepada Jawa Pos Radar Jember.

Tak lama, terdengar suara salam dari seorang bocah berkerudung. Itu adalah Dwi Regina Putri, yang tak lain siswa dari Titik Mujiati. Tak mengenakan seragam sekolah, hanya pakai baju bebas dan bermasker cokelat, dia mulai menuju sudut dinding kelas untuk mengambil buku. Dia pun mulai berjalan ke Titik Mujiati dengan mengambil dua lembar kertas.

Dua lembar kertas itulah jadi bahan tugas atau pekerjaan rumah para siswa. Dengan sabar, Titik pun menjelaskan kertas yang berisi tugas tersebut. “Ini ada gambar hewan-hewan. Nanti diisi di samping, seperti contoh di atas ya,” terangnya kepada bocah tersebut.

Tugas yang diberikan Titik adalah Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) dan Matematika. Dia mengaku, tugas dari kertas putih dibuat sendiri olehnya dengan referensi buku bacaan siswa. “Gambarnya saya cari dulu di internet, dicetak, dan ditempel. Setelah itu, diperbanyak,” paparnya.

Titik masuk ke sekolah sama seperti biasanya. Dengan mengenakan seragam batik hijau, dia datang pukul 7 pagi dan pulang hingga siang setelah memastikan semua murid datang satu per satu. “Kalau Senin kemarin, siswa hanya mengambil buku ajar saja. Kan mereka baru naik kelas,” jelasnya.

Dia mengaku, pembelajaran daring menjadi langkah yang masih diterapkan hingga saat ini. Tapi ada kalangan orang tua dan wali murid yang masih gagap dengan teknologi. Perempuan yang tinggal di Jalan Ahmad Yani ini memaparkan, sistem pembelajaran di tengah pandemi, guru memang harus diwajibkan kreatif.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/