alexametrics
22.4 C
Jember
Wednesday, 29 June 2022

FKIP Unej Adakan Uji Kemahiran Berbahasa Indonesia

Mobile_AP_Rectangle 1

“Karena ada respon positif dari pihak universitas di bawah LP3M, kegiatan ini kemudian diakomodasi dalam sebuah kerjasama. Jadi UKBI ini dikemas kerjasama antar lembaga,” kata dia.

UKBI tersebut sudah digelar dua kali, namun baru kali ini yang pertama dilaksanakan di Jember. Furoidatul Husniah berharap, tahun depan kegiatan serupa bisa terlaksana kembali. “Tujuan kami dengan skala prioritas pertama yakni ketika toefl diwajibkan di Unej. Maka prodi kami berinisiatif untuk UKBI juga. Karena disini memang pesertanya banyak,” imbuhnya.

Dari tim Balai Bahasa Jawa Timur sendiri, ada tiga orang yang hadir. Salah satunya Wenni Rusbiantoro, Peneliti Muda Balai Bahasa Jatim. Menurut dia, pengujian kali ini dilaksanakan dalam tiga sesi dari lima sesi yang ada. Yakni sesi dengaran, sesi merespon kaidah, dan sesi membaca, sesi menulis, dan sesi berbicara. “Namun pada umumnya, dengan hanya tiga sesi saja sudah bisa mewakili kemahiran peserta,” jelas Wenni.

Mobile_AP_Rectangle 2

Dia juga mengaku miris, dengan Bahasa Indonesia yang dikesampingkan dengan tuntutan wajib lulus toefl. Padahal, penguasaan bahasa sendiri belum baik dan benar. Terutama guru dan mahasiswa pendidikan bahasa dan sastra Indonesia. “Paling tidak mereka harus menguasai dan melihat tingkat kemahirannya,” pungkas dia. (*)

- Advertisement -

“Karena ada respon positif dari pihak universitas di bawah LP3M, kegiatan ini kemudian diakomodasi dalam sebuah kerjasama. Jadi UKBI ini dikemas kerjasama antar lembaga,” kata dia.

UKBI tersebut sudah digelar dua kali, namun baru kali ini yang pertama dilaksanakan di Jember. Furoidatul Husniah berharap, tahun depan kegiatan serupa bisa terlaksana kembali. “Tujuan kami dengan skala prioritas pertama yakni ketika toefl diwajibkan di Unej. Maka prodi kami berinisiatif untuk UKBI juga. Karena disini memang pesertanya banyak,” imbuhnya.

Dari tim Balai Bahasa Jawa Timur sendiri, ada tiga orang yang hadir. Salah satunya Wenni Rusbiantoro, Peneliti Muda Balai Bahasa Jatim. Menurut dia, pengujian kali ini dilaksanakan dalam tiga sesi dari lima sesi yang ada. Yakni sesi dengaran, sesi merespon kaidah, dan sesi membaca, sesi menulis, dan sesi berbicara. “Namun pada umumnya, dengan hanya tiga sesi saja sudah bisa mewakili kemahiran peserta,” jelas Wenni.

Dia juga mengaku miris, dengan Bahasa Indonesia yang dikesampingkan dengan tuntutan wajib lulus toefl. Padahal, penguasaan bahasa sendiri belum baik dan benar. Terutama guru dan mahasiswa pendidikan bahasa dan sastra Indonesia. “Paling tidak mereka harus menguasai dan melihat tingkat kemahirannya,” pungkas dia. (*)

“Karena ada respon positif dari pihak universitas di bawah LP3M, kegiatan ini kemudian diakomodasi dalam sebuah kerjasama. Jadi UKBI ini dikemas kerjasama antar lembaga,” kata dia.

UKBI tersebut sudah digelar dua kali, namun baru kali ini yang pertama dilaksanakan di Jember. Furoidatul Husniah berharap, tahun depan kegiatan serupa bisa terlaksana kembali. “Tujuan kami dengan skala prioritas pertama yakni ketika toefl diwajibkan di Unej. Maka prodi kami berinisiatif untuk UKBI juga. Karena disini memang pesertanya banyak,” imbuhnya.

Dari tim Balai Bahasa Jawa Timur sendiri, ada tiga orang yang hadir. Salah satunya Wenni Rusbiantoro, Peneliti Muda Balai Bahasa Jatim. Menurut dia, pengujian kali ini dilaksanakan dalam tiga sesi dari lima sesi yang ada. Yakni sesi dengaran, sesi merespon kaidah, dan sesi membaca, sesi menulis, dan sesi berbicara. “Namun pada umumnya, dengan hanya tiga sesi saja sudah bisa mewakili kemahiran peserta,” jelas Wenni.

Dia juga mengaku miris, dengan Bahasa Indonesia yang dikesampingkan dengan tuntutan wajib lulus toefl. Padahal, penguasaan bahasa sendiri belum baik dan benar. Terutama guru dan mahasiswa pendidikan bahasa dan sastra Indonesia. “Paling tidak mereka harus menguasai dan melihat tingkat kemahirannya,” pungkas dia. (*)

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/