alexametrics
29.2 C
Jember
Friday, 1 July 2022

Jangan Sampai Jadi Klaster Baru

Perguruan Tinggi Kaji Skenario New Normal

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – New Normal menjadi pembahasan yang kian santer di tengah pandemi korona saat ini. Begitu pula di dunia pendidikan, khususnya perguruan tinggi, yang juga mulai mematangkan skenario New Normal dalam berbagai aktivitasnya.

Rektor Universitas Jember (Unej) Iwan Taruna mengungkapkan, dari 31.796 mahasiswa aktif Unej, 76 persen di antaranya berasal dari wilayah Jawa Timur yang statusnya masuk zona merah. Sehingga, jika proses belajar mengajar secara tatap muka dilaksanakan di Kampus Tegalboto, dikhawatirkan kampus akan menjadi episentrum baru penularan Covid-19. “Oleh karena itu, kita sangat berhati-hati dalam memutuskan akan membuka kampus atau meneruskan belajar secara daring,” katanya.

Unej sendiri tengah mematangkan dua skenario menghadapi era New Normal. Skenario pertama adalah blended learning di mana kuliah dilakukan dengan tatap muka dan daring, dengan asumsi pandemi Covid-19 sudah mereda. “Dalam skenario ini mahasiswa akan berada di kampus selama tiga bulan dan melanjutkan belajar secara daring untuk tiga bulan selanjutnya di rumah masing-masing,” ucapnya.

Mobile_AP_Rectangle 2

Jika ternyata pandemi Covid-19 belum mereda, maka proses belajar mengajar selama satu semester akan dilakukan full secara daring. “Bagaimanapun keselamatan dan kesehatan warga kampus menjadi yang utama,” tegasnya

Tantangan era New Normal juga disampaikan oleh dalam webinar oleh Dekan FKIP Universitas Jember Prof Dafik. Menurutnya, transfer ilmu pengetahuan dan teknologi mungkin bisa dilakukan secara daring. Namun, kompetensi terkait praktik, sikap dan nilai masih membutuhkan proses pendidikan dengan cara tatap muka.

“Contohnya kami di FKIP, setiap tahun bisa mengirimkan seribuan mahasiswa untuk melaksanakan praktik mengajar di sekolah-sekolah,” jelasnya. Tapi, dengan adanya korona, maka kegiatan itu ditiadakan. Padahal, mahasiswa FKIP sebagai calon guru perlu praktik mengajar di hadapan siswa.

Sementara itu, Direktur Politeknik Negeri Jember (Polije) Saiful Anwar mengatakan, sementara ini Polije bukan menerapkan kebijakan New Normal, tetapi transisi New Normal. “Kami akan melakukan masa transisi New Normal terlebih dahulu sebelum benar-benar memberlakukan New Normal,” jelasnya.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – New Normal menjadi pembahasan yang kian santer di tengah pandemi korona saat ini. Begitu pula di dunia pendidikan, khususnya perguruan tinggi, yang juga mulai mematangkan skenario New Normal dalam berbagai aktivitasnya.

Rektor Universitas Jember (Unej) Iwan Taruna mengungkapkan, dari 31.796 mahasiswa aktif Unej, 76 persen di antaranya berasal dari wilayah Jawa Timur yang statusnya masuk zona merah. Sehingga, jika proses belajar mengajar secara tatap muka dilaksanakan di Kampus Tegalboto, dikhawatirkan kampus akan menjadi episentrum baru penularan Covid-19. “Oleh karena itu, kita sangat berhati-hati dalam memutuskan akan membuka kampus atau meneruskan belajar secara daring,” katanya.

Unej sendiri tengah mematangkan dua skenario menghadapi era New Normal. Skenario pertama adalah blended learning di mana kuliah dilakukan dengan tatap muka dan daring, dengan asumsi pandemi Covid-19 sudah mereda. “Dalam skenario ini mahasiswa akan berada di kampus selama tiga bulan dan melanjutkan belajar secara daring untuk tiga bulan selanjutnya di rumah masing-masing,” ucapnya.

Jika ternyata pandemi Covid-19 belum mereda, maka proses belajar mengajar selama satu semester akan dilakukan full secara daring. “Bagaimanapun keselamatan dan kesehatan warga kampus menjadi yang utama,” tegasnya

Tantangan era New Normal juga disampaikan oleh dalam webinar oleh Dekan FKIP Universitas Jember Prof Dafik. Menurutnya, transfer ilmu pengetahuan dan teknologi mungkin bisa dilakukan secara daring. Namun, kompetensi terkait praktik, sikap dan nilai masih membutuhkan proses pendidikan dengan cara tatap muka.

“Contohnya kami di FKIP, setiap tahun bisa mengirimkan seribuan mahasiswa untuk melaksanakan praktik mengajar di sekolah-sekolah,” jelasnya. Tapi, dengan adanya korona, maka kegiatan itu ditiadakan. Padahal, mahasiswa FKIP sebagai calon guru perlu praktik mengajar di hadapan siswa.

Sementara itu, Direktur Politeknik Negeri Jember (Polije) Saiful Anwar mengatakan, sementara ini Polije bukan menerapkan kebijakan New Normal, tetapi transisi New Normal. “Kami akan melakukan masa transisi New Normal terlebih dahulu sebelum benar-benar memberlakukan New Normal,” jelasnya.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – New Normal menjadi pembahasan yang kian santer di tengah pandemi korona saat ini. Begitu pula di dunia pendidikan, khususnya perguruan tinggi, yang juga mulai mematangkan skenario New Normal dalam berbagai aktivitasnya.

Rektor Universitas Jember (Unej) Iwan Taruna mengungkapkan, dari 31.796 mahasiswa aktif Unej, 76 persen di antaranya berasal dari wilayah Jawa Timur yang statusnya masuk zona merah. Sehingga, jika proses belajar mengajar secara tatap muka dilaksanakan di Kampus Tegalboto, dikhawatirkan kampus akan menjadi episentrum baru penularan Covid-19. “Oleh karena itu, kita sangat berhati-hati dalam memutuskan akan membuka kampus atau meneruskan belajar secara daring,” katanya.

Unej sendiri tengah mematangkan dua skenario menghadapi era New Normal. Skenario pertama adalah blended learning di mana kuliah dilakukan dengan tatap muka dan daring, dengan asumsi pandemi Covid-19 sudah mereda. “Dalam skenario ini mahasiswa akan berada di kampus selama tiga bulan dan melanjutkan belajar secara daring untuk tiga bulan selanjutnya di rumah masing-masing,” ucapnya.

Jika ternyata pandemi Covid-19 belum mereda, maka proses belajar mengajar selama satu semester akan dilakukan full secara daring. “Bagaimanapun keselamatan dan kesehatan warga kampus menjadi yang utama,” tegasnya

Tantangan era New Normal juga disampaikan oleh dalam webinar oleh Dekan FKIP Universitas Jember Prof Dafik. Menurutnya, transfer ilmu pengetahuan dan teknologi mungkin bisa dilakukan secara daring. Namun, kompetensi terkait praktik, sikap dan nilai masih membutuhkan proses pendidikan dengan cara tatap muka.

“Contohnya kami di FKIP, setiap tahun bisa mengirimkan seribuan mahasiswa untuk melaksanakan praktik mengajar di sekolah-sekolah,” jelasnya. Tapi, dengan adanya korona, maka kegiatan itu ditiadakan. Padahal, mahasiswa FKIP sebagai calon guru perlu praktik mengajar di hadapan siswa.

Sementara itu, Direktur Politeknik Negeri Jember (Polije) Saiful Anwar mengatakan, sementara ini Polije bukan menerapkan kebijakan New Normal, tetapi transisi New Normal. “Kami akan melakukan masa transisi New Normal terlebih dahulu sebelum benar-benar memberlakukan New Normal,” jelasnya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/