alexametrics
24.1 C
Jember
Tuesday, 16 August 2022

Sempat Jualan Door to Door, hingga Menunda Upah Pekerja

Ditutupnya pasar hewan beberapa waktu belakangan ini membuat para pedagang sapi kelimpungan. Salah satunya adalah Martono, pria asal Jalan Cadika, Kelurahan Sempusari, Kaliwates. Bagaimana kisahnya?NUR HARIRI, Sempusari, Kaliwates.

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Siang itu, sejumlah pedagang hewan datang ke DPRD Jember. Mereka mengadu nasib agar pasar yang ditutup pemerintah bisa segera dibuka. Di antara sekian banyak pedagang, salah satunya adalah Martono. Pedagang ini lebih banyak diam ketimbang beberapa temannya yang saat itu menyampaikan aspirasi.

Martono yang datang membawa dua ekor sapi miliknya tampak sibuk mengurus hewan dagangannya. Sesekali dia terlihat memegang tali kekang sapi dan mengelus-elus wajahnya. “Kapan kamu terjual pi?” demikian batin Martono. Dia terus mengelus muka sapi dagangannya tersebut.

Ayah dua anak ini menjelaskan, dirinya sudah sejak lama menjadi pedagang sapi. Dari menjual satu sapi, dua sapi, hingga merawat belasan sapi. Karena jumlah sapinya setiap tahun mengalami peningkatan, dia pun mengajak beberapa tetangganya untuk turut serta membantunya.

Mobile_AP_Rectangle 2

“Dulu, saya hanya jualan satu-dua ekor saja. Saya beli satu, saya jual lagi. Tetapi lama-kelamaan bertambah. Sekarang, sapi saya ada 15 ekor. Sebulan terakhir ini 15 sapi saya itu tidak ada yang terjual. Sementara, setiap hari juga saya harus merawatnya,” kata Martono.

Lantaran sapi dagangannya berjumlah cukup banyak, maka orang-orang yang ikut padanya memiliki tugas masing-masing. Ada yang khusus untuk mencari rumput, membersihkan kandang, hingga rutin memandikan lembu-lembu itu. Selain itu, ada beberapa orang sopir truk dan pikap. Termasuk ada yang membantunya untuk menawarkan penjualan. Seluruhnya ada delapan orang yang ikut bekerja kepadanya.

Sejak pasar ditutup, Martono menyebut, ada serangkaian upaya yang dilakukannya bersama beberapa anak buahnya. Yaitu keliling ke sejumlah lokasi untuk menawarkan sapinya. Akan tetapi, penjualan sapi yang dilakukan layaknya orang mengamen dari rumah ke rumah itu dinilainya tidak efektif. “Saya sempat keliling beberapa hari pakai motor. Masuk ke rumah orang menawarkan sapi dari satu pintu ke pintu. Saya pikir lucu juga. Hasilnya tidak ada sapi yang terjual,” ungkapnya.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Siang itu, sejumlah pedagang hewan datang ke DPRD Jember. Mereka mengadu nasib agar pasar yang ditutup pemerintah bisa segera dibuka. Di antara sekian banyak pedagang, salah satunya adalah Martono. Pedagang ini lebih banyak diam ketimbang beberapa temannya yang saat itu menyampaikan aspirasi.

Martono yang datang membawa dua ekor sapi miliknya tampak sibuk mengurus hewan dagangannya. Sesekali dia terlihat memegang tali kekang sapi dan mengelus-elus wajahnya. “Kapan kamu terjual pi?” demikian batin Martono. Dia terus mengelus muka sapi dagangannya tersebut.

Ayah dua anak ini menjelaskan, dirinya sudah sejak lama menjadi pedagang sapi. Dari menjual satu sapi, dua sapi, hingga merawat belasan sapi. Karena jumlah sapinya setiap tahun mengalami peningkatan, dia pun mengajak beberapa tetangganya untuk turut serta membantunya.

“Dulu, saya hanya jualan satu-dua ekor saja. Saya beli satu, saya jual lagi. Tetapi lama-kelamaan bertambah. Sekarang, sapi saya ada 15 ekor. Sebulan terakhir ini 15 sapi saya itu tidak ada yang terjual. Sementara, setiap hari juga saya harus merawatnya,” kata Martono.

Lantaran sapi dagangannya berjumlah cukup banyak, maka orang-orang yang ikut padanya memiliki tugas masing-masing. Ada yang khusus untuk mencari rumput, membersihkan kandang, hingga rutin memandikan lembu-lembu itu. Selain itu, ada beberapa orang sopir truk dan pikap. Termasuk ada yang membantunya untuk menawarkan penjualan. Seluruhnya ada delapan orang yang ikut bekerja kepadanya.

Sejak pasar ditutup, Martono menyebut, ada serangkaian upaya yang dilakukannya bersama beberapa anak buahnya. Yaitu keliling ke sejumlah lokasi untuk menawarkan sapinya. Akan tetapi, penjualan sapi yang dilakukan layaknya orang mengamen dari rumah ke rumah itu dinilainya tidak efektif. “Saya sempat keliling beberapa hari pakai motor. Masuk ke rumah orang menawarkan sapi dari satu pintu ke pintu. Saya pikir lucu juga. Hasilnya tidak ada sapi yang terjual,” ungkapnya.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Siang itu, sejumlah pedagang hewan datang ke DPRD Jember. Mereka mengadu nasib agar pasar yang ditutup pemerintah bisa segera dibuka. Di antara sekian banyak pedagang, salah satunya adalah Martono. Pedagang ini lebih banyak diam ketimbang beberapa temannya yang saat itu menyampaikan aspirasi.

Martono yang datang membawa dua ekor sapi miliknya tampak sibuk mengurus hewan dagangannya. Sesekali dia terlihat memegang tali kekang sapi dan mengelus-elus wajahnya. “Kapan kamu terjual pi?” demikian batin Martono. Dia terus mengelus muka sapi dagangannya tersebut.

Ayah dua anak ini menjelaskan, dirinya sudah sejak lama menjadi pedagang sapi. Dari menjual satu sapi, dua sapi, hingga merawat belasan sapi. Karena jumlah sapinya setiap tahun mengalami peningkatan, dia pun mengajak beberapa tetangganya untuk turut serta membantunya.

“Dulu, saya hanya jualan satu-dua ekor saja. Saya beli satu, saya jual lagi. Tetapi lama-kelamaan bertambah. Sekarang, sapi saya ada 15 ekor. Sebulan terakhir ini 15 sapi saya itu tidak ada yang terjual. Sementara, setiap hari juga saya harus merawatnya,” kata Martono.

Lantaran sapi dagangannya berjumlah cukup banyak, maka orang-orang yang ikut padanya memiliki tugas masing-masing. Ada yang khusus untuk mencari rumput, membersihkan kandang, hingga rutin memandikan lembu-lembu itu. Selain itu, ada beberapa orang sopir truk dan pikap. Termasuk ada yang membantunya untuk menawarkan penjualan. Seluruhnya ada delapan orang yang ikut bekerja kepadanya.

Sejak pasar ditutup, Martono menyebut, ada serangkaian upaya yang dilakukannya bersama beberapa anak buahnya. Yaitu keliling ke sejumlah lokasi untuk menawarkan sapinya. Akan tetapi, penjualan sapi yang dilakukan layaknya orang mengamen dari rumah ke rumah itu dinilainya tidak efektif. “Saya sempat keliling beberapa hari pakai motor. Masuk ke rumah orang menawarkan sapi dari satu pintu ke pintu. Saya pikir lucu juga. Hasilnya tidak ada sapi yang terjual,” ungkapnya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/