alexametrics
31.1 C
Jember
Sunday, 29 May 2022

Sladin, Juru Kunci Gunung Samboja Penyelamat Korban Ritual Maut

Saat Malam Gelap di Tengah Deburan Ombak, Dia Selamatkan Tiga Nyawa

Mobile_AP_Rectangle 1

Langit di atas pesisir Pantai Payangan tempat ritual maut sepertinya masih murung. Mendung menyelimutinya menandakan hujan segera turun. Dekat dengan tempat ritual, ada sosok juru kunci Gunung Samboja yang menjadi bagian penting penyelamatan ritual maut Kelompok Tunggal Jati Nusantara. Siapakah dia?

———–

SEDARI pagi, duka masih menyelimuti kawasan Pantai Payangan, Dusun Watu Ulo, Desa Sumberejo, Kecamatan Ambulu. Mendung dengan awal tebal pun turun menyambut kedatangan Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa yang datang mengecek lokasi ritual. Bersama perempuan tangguh itu, Bupati Jember Hendy Siswanto serta sejumlah orang juga tiba di lokasi.

Mobile_AP_Rectangle 2

Di sekitar lokasi yang menjadi tempat ritual yang dipimpin Nur Hasan, warga Dusun Botosari, Desa Dukuhmencek, Kecamatan Sukorambi, itu ada lima buah gazebo. Lokasinya berada di sekitar Gunung Samboja yang menjadi tempat wisata. Kelima gazebo dikelilingi pagar dari bambu dan jaring ikan bekas sebagai tanda agar orang tidak melintasinya.

Di sisi selatan dekat gazebo juga terdapat dua papan imbauan serta larangan. Pertama papan bertuliskan “Awas Jangan Mandi Dilaut” dan “Pengunjung Harus Lewat Pintu Samping”.“Lokasi yang menjadi tempat ritual sampai membuat warga terseret ombak, sebenarnya tidak pernah ada (yang ke situ karena sudah dipagar, Red). Dari 24 orang yang menjadi korban ini menerobos pagar dan melakukan ritual di dalam pagar, sehingga tidak banyak orang yang tahu,” kata Sladin, 52, juru kunci Gunung Samboja.

Rombongan ritual datang dengan menggunakan mobil Toyota Avanza dan mobil Isuzu Elf. Setelah menitipkan kendaraan, mereka langsung menuju lokasi. “Biasanya setiap ada orang yang datang untuk melakukan ritual dipinggir pantai itu tidak sampai masuk kedalam pagar,” katanya.

“Karena lokasi yang dipasang pagar bambu dan jaring ikan bekas ini tempatnya sangat curam dan ombaknya biasanya cukup besar. Yang jelas, setiap ada orang datang untuk minta doa biasanya di pinggir pantai. Tidak sampai masuk ke dalam pagar,” kata Sladin, yang dipanggil juru kunci Gunung Samboja.

“Yang masuk dalam lokasi ini biasanya lewat pintu depan yang jadi satu loketnya untuk naik ke atas gunung. Setiap satu wisatawan yang masuk hanya ditarik uang sebesar Rp 10 ribu. Dari sepuluh ribu uang tiket itu untuk kebersihan dan untuk perbaikan,” kata Sladin kepada Jawa Pos Radar Jember.

Tak lama setelah orang-orang menerobos pagar tanda bahaya, Sladin barulah didatangi. Diberi tahu orang bahwa disekitar Gunung Samboja ada orang terseret ombak. “Saat itu juga saya langsung lari menuju lokasi. Begitu melihat korban sudah banyak yang terseret, langsung menolong dengan cara berenang,” ucapnya.

Saat malam gelap, di tengah deburan ombak yang khas, Sladin melawan dinginnya malam dan melakukan upaya pertolongan kepada warga yang dihantam ombak saat ritual. “Pertama yang saya tolong ada dua, sudah meninggal. Berikutnya saya menolong tiga orang lagi dalam kondisi selamat. Karena cuaca sangat gelap, susah juga untuk menolong korban yang sudah mulai terseret ketengah,” katanya.

Sladin mengungkap, khusus di lokasi ritual maut tersebut tidak pernah ada yang melakukan ritual. “Biasanya ada yang melakukan ritual atau membaca doa-doa, tetapi di pinggir pantai sebelah selatan yang sudah dipasang pagar ini,” pungkasnya.

- Advertisement -

Langit di atas pesisir Pantai Payangan tempat ritual maut sepertinya masih murung. Mendung menyelimutinya menandakan hujan segera turun. Dekat dengan tempat ritual, ada sosok juru kunci Gunung Samboja yang menjadi bagian penting penyelamatan ritual maut Kelompok Tunggal Jati Nusantara. Siapakah dia?

———–

SEDARI pagi, duka masih menyelimuti kawasan Pantai Payangan, Dusun Watu Ulo, Desa Sumberejo, Kecamatan Ambulu. Mendung dengan awal tebal pun turun menyambut kedatangan Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa yang datang mengecek lokasi ritual. Bersama perempuan tangguh itu, Bupati Jember Hendy Siswanto serta sejumlah orang juga tiba di lokasi.

Di sekitar lokasi yang menjadi tempat ritual yang dipimpin Nur Hasan, warga Dusun Botosari, Desa Dukuhmencek, Kecamatan Sukorambi, itu ada lima buah gazebo. Lokasinya berada di sekitar Gunung Samboja yang menjadi tempat wisata. Kelima gazebo dikelilingi pagar dari bambu dan jaring ikan bekas sebagai tanda agar orang tidak melintasinya.

Di sisi selatan dekat gazebo juga terdapat dua papan imbauan serta larangan. Pertama papan bertuliskan “Awas Jangan Mandi Dilaut” dan “Pengunjung Harus Lewat Pintu Samping”.“Lokasi yang menjadi tempat ritual sampai membuat warga terseret ombak, sebenarnya tidak pernah ada (yang ke situ karena sudah dipagar, Red). Dari 24 orang yang menjadi korban ini menerobos pagar dan melakukan ritual di dalam pagar, sehingga tidak banyak orang yang tahu,” kata Sladin, 52, juru kunci Gunung Samboja.

Rombongan ritual datang dengan menggunakan mobil Toyota Avanza dan mobil Isuzu Elf. Setelah menitipkan kendaraan, mereka langsung menuju lokasi. “Biasanya setiap ada orang yang datang untuk melakukan ritual dipinggir pantai itu tidak sampai masuk kedalam pagar,” katanya.

“Karena lokasi yang dipasang pagar bambu dan jaring ikan bekas ini tempatnya sangat curam dan ombaknya biasanya cukup besar. Yang jelas, setiap ada orang datang untuk minta doa biasanya di pinggir pantai. Tidak sampai masuk ke dalam pagar,” kata Sladin, yang dipanggil juru kunci Gunung Samboja.

“Yang masuk dalam lokasi ini biasanya lewat pintu depan yang jadi satu loketnya untuk naik ke atas gunung. Setiap satu wisatawan yang masuk hanya ditarik uang sebesar Rp 10 ribu. Dari sepuluh ribu uang tiket itu untuk kebersihan dan untuk perbaikan,” kata Sladin kepada Jawa Pos Radar Jember.

Tak lama setelah orang-orang menerobos pagar tanda bahaya, Sladin barulah didatangi. Diberi tahu orang bahwa disekitar Gunung Samboja ada orang terseret ombak. “Saat itu juga saya langsung lari menuju lokasi. Begitu melihat korban sudah banyak yang terseret, langsung menolong dengan cara berenang,” ucapnya.

Saat malam gelap, di tengah deburan ombak yang khas, Sladin melawan dinginnya malam dan melakukan upaya pertolongan kepada warga yang dihantam ombak saat ritual. “Pertama yang saya tolong ada dua, sudah meninggal. Berikutnya saya menolong tiga orang lagi dalam kondisi selamat. Karena cuaca sangat gelap, susah juga untuk menolong korban yang sudah mulai terseret ketengah,” katanya.

Sladin mengungkap, khusus di lokasi ritual maut tersebut tidak pernah ada yang melakukan ritual. “Biasanya ada yang melakukan ritual atau membaca doa-doa, tetapi di pinggir pantai sebelah selatan yang sudah dipasang pagar ini,” pungkasnya.

Langit di atas pesisir Pantai Payangan tempat ritual maut sepertinya masih murung. Mendung menyelimutinya menandakan hujan segera turun. Dekat dengan tempat ritual, ada sosok juru kunci Gunung Samboja yang menjadi bagian penting penyelamatan ritual maut Kelompok Tunggal Jati Nusantara. Siapakah dia?

———–

SEDARI pagi, duka masih menyelimuti kawasan Pantai Payangan, Dusun Watu Ulo, Desa Sumberejo, Kecamatan Ambulu. Mendung dengan awal tebal pun turun menyambut kedatangan Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa yang datang mengecek lokasi ritual. Bersama perempuan tangguh itu, Bupati Jember Hendy Siswanto serta sejumlah orang juga tiba di lokasi.

Di sekitar lokasi yang menjadi tempat ritual yang dipimpin Nur Hasan, warga Dusun Botosari, Desa Dukuhmencek, Kecamatan Sukorambi, itu ada lima buah gazebo. Lokasinya berada di sekitar Gunung Samboja yang menjadi tempat wisata. Kelima gazebo dikelilingi pagar dari bambu dan jaring ikan bekas sebagai tanda agar orang tidak melintasinya.

Di sisi selatan dekat gazebo juga terdapat dua papan imbauan serta larangan. Pertama papan bertuliskan “Awas Jangan Mandi Dilaut” dan “Pengunjung Harus Lewat Pintu Samping”.“Lokasi yang menjadi tempat ritual sampai membuat warga terseret ombak, sebenarnya tidak pernah ada (yang ke situ karena sudah dipagar, Red). Dari 24 orang yang menjadi korban ini menerobos pagar dan melakukan ritual di dalam pagar, sehingga tidak banyak orang yang tahu,” kata Sladin, 52, juru kunci Gunung Samboja.

Rombongan ritual datang dengan menggunakan mobil Toyota Avanza dan mobil Isuzu Elf. Setelah menitipkan kendaraan, mereka langsung menuju lokasi. “Biasanya setiap ada orang yang datang untuk melakukan ritual dipinggir pantai itu tidak sampai masuk kedalam pagar,” katanya.

“Karena lokasi yang dipasang pagar bambu dan jaring ikan bekas ini tempatnya sangat curam dan ombaknya biasanya cukup besar. Yang jelas, setiap ada orang datang untuk minta doa biasanya di pinggir pantai. Tidak sampai masuk ke dalam pagar,” kata Sladin, yang dipanggil juru kunci Gunung Samboja.

“Yang masuk dalam lokasi ini biasanya lewat pintu depan yang jadi satu loketnya untuk naik ke atas gunung. Setiap satu wisatawan yang masuk hanya ditarik uang sebesar Rp 10 ribu. Dari sepuluh ribu uang tiket itu untuk kebersihan dan untuk perbaikan,” kata Sladin kepada Jawa Pos Radar Jember.

Tak lama setelah orang-orang menerobos pagar tanda bahaya, Sladin barulah didatangi. Diberi tahu orang bahwa disekitar Gunung Samboja ada orang terseret ombak. “Saat itu juga saya langsung lari menuju lokasi. Begitu melihat korban sudah banyak yang terseret, langsung menolong dengan cara berenang,” ucapnya.

Saat malam gelap, di tengah deburan ombak yang khas, Sladin melawan dinginnya malam dan melakukan upaya pertolongan kepada warga yang dihantam ombak saat ritual. “Pertama yang saya tolong ada dua, sudah meninggal. Berikutnya saya menolong tiga orang lagi dalam kondisi selamat. Karena cuaca sangat gelap, susah juga untuk menolong korban yang sudah mulai terseret ketengah,” katanya.

Sladin mengungkap, khusus di lokasi ritual maut tersebut tidak pernah ada yang melakukan ritual. “Biasanya ada yang melakukan ritual atau membaca doa-doa, tetapi di pinggir pantai sebelah selatan yang sudah dipasang pagar ini,” pungkasnya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/