alexametrics
25 C
Jember
Saturday, 28 May 2022

Ancaman Generasi Kerdil – Sektor Kesehatan (4 Sektor Prioritas Hendy-Firjaun)

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Sebagaimana pendidikan, kesehatan juga merupakan kebutuhan dasar yang harus dipenuhi pemerintah. Namun, di Jember problem kesehatan tak melulu pada pemenuhan dan layanan  kesehatan saja, tapi juga tingginya ancaman kematian ibu dan bayi, serta balita tumbuh kerdil alias stunting. Bahkan, khusus kasus stunting, Jember sempat menjadi perhatian pemerintah pusat.

Berdasar Riset Kesehatan Daerah (Riskesda) pada 2018, kasus stunting di Jember menempati urutan kedelapan di Jawa Timur. Berdasar data, jumlah balita stunting di Jember pada 2017 mencapai 17,83 persen atau sebanyak 29.020 balita. Meski jumlahnya turun pada 2018, tapi angkanya tetap tinggi. Mencapai 11,83 persen atau 17.344 balita.

Kala itu, pemerintah pusat sampai menginstruksikan Pemkab Jember agar menjadikan 10 desa menjadi sasaran pencegahan dan penanganan stunting. Yakni Desa Ngampelrejo (Kecamatan Jombang), Purwoasri (Gumukmas), Glagahwero (Panti), Cangkring (Jenggawah), Tempurejo, Jelbuk, Patempuran dan Gambiran (Kalisat), serta Sukogidri dan Desa Slateng (Ledokombo). Meski trennya disebut terus menurun, tapi hingga saat ini belum ada angka yang dirilis resmi pemerintah tentang kasus stunting di Jember pada 2019 dan 2020.

Mobile_AP_Rectangle 2

Dosen Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Jember (FKM Unej) Dr Dewi Rokhmah sempat melakukan survei terhadap lima kecamatan di Jember dengan kasus stunting tertinggi pada 2018 lalu. Yakni, Kecamatan Balung, Kaliwates, Sumberjambe, Arjasa, dan Sukorambi.

Menurutnya, ada beberapa hal yang mengakibatkan tingginya angka stunting di lima kecamatan tersebut. Di antaranya, praktik pengasuhan yang kurang baik, terbatasnya layanan kesehatan, kurangnya akses rumah tangga mendapatkan makanan bergizi, serta kurangnya akses air bersih dan sanitasi. “Hal ini disebabkan kurangnya pengetahuan mengenai kesehatan dan gizi sebelum dan pada kehamilan, serta setelah ibu melahirkan,” paparnya.

Berdasar data Kementerian Kesehatan (Kemenkes), kata dia, menurunnya tingkat kehadiran anak di posyandu juga menjadi penyebab lain. Sebab, di tahun yang sama, jumlah kunjungan ke posyandu menurun dari 74 persen menjadi 64 persen. “Untuk sanitasi dan air bersih, data menunjukan bahwa masih ada masyarakat yang membuang air di ruang terbuka,” imbuhnya.

Dewi menjelaskan, stunting mengakibatkan pertumbuhan anak terhambat. Perkembangan kognitif, motorik, dan verbal pada anak tidak optimal. Selain itu, postur tubuh mereka menjadi lebih pendek. “Stunting juga berpengaruh pada kesehatan otak,” lanjutnya.

Jika tidak segera ditangani, dalam jangka panjang stunting bisa mengakibatkan banyak hal yang merugikan. Seperti mudah terpapar berbagai macam penyakit, fungsi-fungsi tubuh tidak seimbang, dan bisa berujung kematian.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Sebagaimana pendidikan, kesehatan juga merupakan kebutuhan dasar yang harus dipenuhi pemerintah. Namun, di Jember problem kesehatan tak melulu pada pemenuhan dan layanan  kesehatan saja, tapi juga tingginya ancaman kematian ibu dan bayi, serta balita tumbuh kerdil alias stunting. Bahkan, khusus kasus stunting, Jember sempat menjadi perhatian pemerintah pusat.

Berdasar Riset Kesehatan Daerah (Riskesda) pada 2018, kasus stunting di Jember menempati urutan kedelapan di Jawa Timur. Berdasar data, jumlah balita stunting di Jember pada 2017 mencapai 17,83 persen atau sebanyak 29.020 balita. Meski jumlahnya turun pada 2018, tapi angkanya tetap tinggi. Mencapai 11,83 persen atau 17.344 balita.

Kala itu, pemerintah pusat sampai menginstruksikan Pemkab Jember agar menjadikan 10 desa menjadi sasaran pencegahan dan penanganan stunting. Yakni Desa Ngampelrejo (Kecamatan Jombang), Purwoasri (Gumukmas), Glagahwero (Panti), Cangkring (Jenggawah), Tempurejo, Jelbuk, Patempuran dan Gambiran (Kalisat), serta Sukogidri dan Desa Slateng (Ledokombo). Meski trennya disebut terus menurun, tapi hingga saat ini belum ada angka yang dirilis resmi pemerintah tentang kasus stunting di Jember pada 2019 dan 2020.

Dosen Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Jember (FKM Unej) Dr Dewi Rokhmah sempat melakukan survei terhadap lima kecamatan di Jember dengan kasus stunting tertinggi pada 2018 lalu. Yakni, Kecamatan Balung, Kaliwates, Sumberjambe, Arjasa, dan Sukorambi.

Menurutnya, ada beberapa hal yang mengakibatkan tingginya angka stunting di lima kecamatan tersebut. Di antaranya, praktik pengasuhan yang kurang baik, terbatasnya layanan kesehatan, kurangnya akses rumah tangga mendapatkan makanan bergizi, serta kurangnya akses air bersih dan sanitasi. “Hal ini disebabkan kurangnya pengetahuan mengenai kesehatan dan gizi sebelum dan pada kehamilan, serta setelah ibu melahirkan,” paparnya.

Berdasar data Kementerian Kesehatan (Kemenkes), kata dia, menurunnya tingkat kehadiran anak di posyandu juga menjadi penyebab lain. Sebab, di tahun yang sama, jumlah kunjungan ke posyandu menurun dari 74 persen menjadi 64 persen. “Untuk sanitasi dan air bersih, data menunjukan bahwa masih ada masyarakat yang membuang air di ruang terbuka,” imbuhnya.

Dewi menjelaskan, stunting mengakibatkan pertumbuhan anak terhambat. Perkembangan kognitif, motorik, dan verbal pada anak tidak optimal. Selain itu, postur tubuh mereka menjadi lebih pendek. “Stunting juga berpengaruh pada kesehatan otak,” lanjutnya.

Jika tidak segera ditangani, dalam jangka panjang stunting bisa mengakibatkan banyak hal yang merugikan. Seperti mudah terpapar berbagai macam penyakit, fungsi-fungsi tubuh tidak seimbang, dan bisa berujung kematian.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Sebagaimana pendidikan, kesehatan juga merupakan kebutuhan dasar yang harus dipenuhi pemerintah. Namun, di Jember problem kesehatan tak melulu pada pemenuhan dan layanan  kesehatan saja, tapi juga tingginya ancaman kematian ibu dan bayi, serta balita tumbuh kerdil alias stunting. Bahkan, khusus kasus stunting, Jember sempat menjadi perhatian pemerintah pusat.

Berdasar Riset Kesehatan Daerah (Riskesda) pada 2018, kasus stunting di Jember menempati urutan kedelapan di Jawa Timur. Berdasar data, jumlah balita stunting di Jember pada 2017 mencapai 17,83 persen atau sebanyak 29.020 balita. Meski jumlahnya turun pada 2018, tapi angkanya tetap tinggi. Mencapai 11,83 persen atau 17.344 balita.

Kala itu, pemerintah pusat sampai menginstruksikan Pemkab Jember agar menjadikan 10 desa menjadi sasaran pencegahan dan penanganan stunting. Yakni Desa Ngampelrejo (Kecamatan Jombang), Purwoasri (Gumukmas), Glagahwero (Panti), Cangkring (Jenggawah), Tempurejo, Jelbuk, Patempuran dan Gambiran (Kalisat), serta Sukogidri dan Desa Slateng (Ledokombo). Meski trennya disebut terus menurun, tapi hingga saat ini belum ada angka yang dirilis resmi pemerintah tentang kasus stunting di Jember pada 2019 dan 2020.

Dosen Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Jember (FKM Unej) Dr Dewi Rokhmah sempat melakukan survei terhadap lima kecamatan di Jember dengan kasus stunting tertinggi pada 2018 lalu. Yakni, Kecamatan Balung, Kaliwates, Sumberjambe, Arjasa, dan Sukorambi.

Menurutnya, ada beberapa hal yang mengakibatkan tingginya angka stunting di lima kecamatan tersebut. Di antaranya, praktik pengasuhan yang kurang baik, terbatasnya layanan kesehatan, kurangnya akses rumah tangga mendapatkan makanan bergizi, serta kurangnya akses air bersih dan sanitasi. “Hal ini disebabkan kurangnya pengetahuan mengenai kesehatan dan gizi sebelum dan pada kehamilan, serta setelah ibu melahirkan,” paparnya.

Berdasar data Kementerian Kesehatan (Kemenkes), kata dia, menurunnya tingkat kehadiran anak di posyandu juga menjadi penyebab lain. Sebab, di tahun yang sama, jumlah kunjungan ke posyandu menurun dari 74 persen menjadi 64 persen. “Untuk sanitasi dan air bersih, data menunjukan bahwa masih ada masyarakat yang membuang air di ruang terbuka,” imbuhnya.

Dewi menjelaskan, stunting mengakibatkan pertumbuhan anak terhambat. Perkembangan kognitif, motorik, dan verbal pada anak tidak optimal. Selain itu, postur tubuh mereka menjadi lebih pendek. “Stunting juga berpengaruh pada kesehatan otak,” lanjutnya.

Jika tidak segera ditangani, dalam jangka panjang stunting bisa mengakibatkan banyak hal yang merugikan. Seperti mudah terpapar berbagai macam penyakit, fungsi-fungsi tubuh tidak seimbang, dan bisa berujung kematian.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/