alexametrics
24.4 C
Jember
Sunday, 3 July 2022

Sosialisasi untuk Ubah Stigma

Pentingnya Vaksinasi Demi Tuntaskan Pandemi

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Majelis Ulama Indonesia (MUI) telah menerbitkan fatwa mengenai kehalalan vaksin Covid-19 buatan Sinovac. Fatwa tersebut dikeluarkan menyusul diterbitkannya izin penggunaan oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) pada Senin (11/1) lalu. Dalam fatwanya, MUI menyatakan bahwa vaksin tersebut hukumnya suci dan halal.

Meski begitu, tidak semua masyarakat bisa begitu saja menerima vaksin tersebut. Tak terkecuali di Kabupaten Jember. Oleh karena itu, pemerintah didesak untuk segera melakukan sosialisasi sedini mungkin, khususnya kepada masyarakat desa.

Ketua Himpunan Psikolog Indonesia (HIMPSI) Cabang Sekar Kijang Muhammad Muhib Alwi SPsi MA menuturkan, vaksinasi merupakan sebuah upaya pemerintah dalam menanggulangi wabah. Menurut dia, lebih baik ada ikhtiar, daripada tidak berbuat apa-apa. Jika timbul kekhawatiran masyarakat terkait dampak yang diakibatkan setelah divaksin, tinggal dihitung persentasenya saja. Tentu saja, akan tambah banyak korban jika vaksinasi tak dilakukan.

Mobile_AP_Rectangle 2

Sayangnya, dalam pandangannya, bukan hanya vaksinasi, Covid-19 saja masih ada yang tidak percaya. “Kenapa mereka begitu? Karena mereka belum kena,” ujarnya.

Berdasar pantauannya di rumah sakit, masih banyak pasien Covid-19 yang berasal dari perdesaan. Hal itu merupakan perwujudan dari kesungguhan masyarakat desa terkait dengan penerapan protokol kesehatan yang masih lemah. “Dari 10 orang pasien misalnya, hanya tiga orang yang berasal dari kota. Sisanya berasal dari desa,” lanjutnya.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Majelis Ulama Indonesia (MUI) telah menerbitkan fatwa mengenai kehalalan vaksin Covid-19 buatan Sinovac. Fatwa tersebut dikeluarkan menyusul diterbitkannya izin penggunaan oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) pada Senin (11/1) lalu. Dalam fatwanya, MUI menyatakan bahwa vaksin tersebut hukumnya suci dan halal.

Meski begitu, tidak semua masyarakat bisa begitu saja menerima vaksin tersebut. Tak terkecuali di Kabupaten Jember. Oleh karena itu, pemerintah didesak untuk segera melakukan sosialisasi sedini mungkin, khususnya kepada masyarakat desa.

Ketua Himpunan Psikolog Indonesia (HIMPSI) Cabang Sekar Kijang Muhammad Muhib Alwi SPsi MA menuturkan, vaksinasi merupakan sebuah upaya pemerintah dalam menanggulangi wabah. Menurut dia, lebih baik ada ikhtiar, daripada tidak berbuat apa-apa. Jika timbul kekhawatiran masyarakat terkait dampak yang diakibatkan setelah divaksin, tinggal dihitung persentasenya saja. Tentu saja, akan tambah banyak korban jika vaksinasi tak dilakukan.

Sayangnya, dalam pandangannya, bukan hanya vaksinasi, Covid-19 saja masih ada yang tidak percaya. “Kenapa mereka begitu? Karena mereka belum kena,” ujarnya.

Berdasar pantauannya di rumah sakit, masih banyak pasien Covid-19 yang berasal dari perdesaan. Hal itu merupakan perwujudan dari kesungguhan masyarakat desa terkait dengan penerapan protokol kesehatan yang masih lemah. “Dari 10 orang pasien misalnya, hanya tiga orang yang berasal dari kota. Sisanya berasal dari desa,” lanjutnya.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Majelis Ulama Indonesia (MUI) telah menerbitkan fatwa mengenai kehalalan vaksin Covid-19 buatan Sinovac. Fatwa tersebut dikeluarkan menyusul diterbitkannya izin penggunaan oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) pada Senin (11/1) lalu. Dalam fatwanya, MUI menyatakan bahwa vaksin tersebut hukumnya suci dan halal.

Meski begitu, tidak semua masyarakat bisa begitu saja menerima vaksin tersebut. Tak terkecuali di Kabupaten Jember. Oleh karena itu, pemerintah didesak untuk segera melakukan sosialisasi sedini mungkin, khususnya kepada masyarakat desa.

Ketua Himpunan Psikolog Indonesia (HIMPSI) Cabang Sekar Kijang Muhammad Muhib Alwi SPsi MA menuturkan, vaksinasi merupakan sebuah upaya pemerintah dalam menanggulangi wabah. Menurut dia, lebih baik ada ikhtiar, daripada tidak berbuat apa-apa. Jika timbul kekhawatiran masyarakat terkait dampak yang diakibatkan setelah divaksin, tinggal dihitung persentasenya saja. Tentu saja, akan tambah banyak korban jika vaksinasi tak dilakukan.

Sayangnya, dalam pandangannya, bukan hanya vaksinasi, Covid-19 saja masih ada yang tidak percaya. “Kenapa mereka begitu? Karena mereka belum kena,” ujarnya.

Berdasar pantauannya di rumah sakit, masih banyak pasien Covid-19 yang berasal dari perdesaan. Hal itu merupakan perwujudan dari kesungguhan masyarakat desa terkait dengan penerapan protokol kesehatan yang masih lemah. “Dari 10 orang pasien misalnya, hanya tiga orang yang berasal dari kota. Sisanya berasal dari desa,” lanjutnya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/