alexametrics
27.5 C
Jember
Tuesday, 28 June 2022

Perlu Pembelajaran Inovatif di Sistem Daring

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Suara panggilan Lik Eko Hadi Mirnarno kepada anaknya itu menggema di ruang tamunya. Dia mencari anaknya agar menyelesaikan tugas sekolahnya. “Willys di mana, Bu?” tanyanya kepada sang istri.

Sejurus kemudian, Willys pulang ke rumah, lalu mengambil seperangkat alat mewarnai. Meja lipat lesehan itu menjadi tempat belajarnya. Pensil dam krayon dibuka dan siap mengerjakan mewarnai dari sekolah. Tahun ini adalah tahun pertama bagi Willys untuk memulai dunia pendidikan, yaitu TK.

Tapi suasana suka cita bersekolah tidak muncul lantaran pandemi Covid-19 yang mengharuskan sistem pembelajaran dengan daring. Eko sebagai orang tua sebenarnya ingin putranya tersebut merasakan sekolah TK sesungguhnya. “Kalau kondisi ini mending daring, tidak tatap muka. Karena kesehatan untuk menuntaskan penularan korona jauh lebih penting,” ucapnya.

Mobile_AP_Rectangle 2

Pria yang akrab disapa Lik Eko itu juga tidak hanya memiliki Willys yang duduk di bangku TK. Ada juga putrinya yang duduk di bangku SMP dan sama-sama memakai sistem pembelajaran daring selama ini. Bagi dia sebagai orang tua, pembelajaran daring membuat anak lebih intens bermain gadget. Perangkat cerdas memang membantu pembelajaran non-tatap muka, tapi dampaknya anak terlalu lama bermain HP.

Oleh karena itu, dia berharap besar tugas sekolah tidak selalu mengedepankan soal yang mengharuskan mencari jawaban lewat gadget. Sejatinya, dia ingin tugas sekolah yang mengedepankan unsur motorik ataupun aplikasi lainnya. “Tugas mewarnai itu bagus, tapi itu hanya contoh. Daripada mencari soal jawaban yang ujungnya bermain HP terus,” paparnya. Karena itu, guru harus inovatif dalam pembelajaran daring.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Suara panggilan Lik Eko Hadi Mirnarno kepada anaknya itu menggema di ruang tamunya. Dia mencari anaknya agar menyelesaikan tugas sekolahnya. “Willys di mana, Bu?” tanyanya kepada sang istri.

Sejurus kemudian, Willys pulang ke rumah, lalu mengambil seperangkat alat mewarnai. Meja lipat lesehan itu menjadi tempat belajarnya. Pensil dam krayon dibuka dan siap mengerjakan mewarnai dari sekolah. Tahun ini adalah tahun pertama bagi Willys untuk memulai dunia pendidikan, yaitu TK.

Tapi suasana suka cita bersekolah tidak muncul lantaran pandemi Covid-19 yang mengharuskan sistem pembelajaran dengan daring. Eko sebagai orang tua sebenarnya ingin putranya tersebut merasakan sekolah TK sesungguhnya. “Kalau kondisi ini mending daring, tidak tatap muka. Karena kesehatan untuk menuntaskan penularan korona jauh lebih penting,” ucapnya.

Pria yang akrab disapa Lik Eko itu juga tidak hanya memiliki Willys yang duduk di bangku TK. Ada juga putrinya yang duduk di bangku SMP dan sama-sama memakai sistem pembelajaran daring selama ini. Bagi dia sebagai orang tua, pembelajaran daring membuat anak lebih intens bermain gadget. Perangkat cerdas memang membantu pembelajaran non-tatap muka, tapi dampaknya anak terlalu lama bermain HP.

Oleh karena itu, dia berharap besar tugas sekolah tidak selalu mengedepankan soal yang mengharuskan mencari jawaban lewat gadget. Sejatinya, dia ingin tugas sekolah yang mengedepankan unsur motorik ataupun aplikasi lainnya. “Tugas mewarnai itu bagus, tapi itu hanya contoh. Daripada mencari soal jawaban yang ujungnya bermain HP terus,” paparnya. Karena itu, guru harus inovatif dalam pembelajaran daring.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Suara panggilan Lik Eko Hadi Mirnarno kepada anaknya itu menggema di ruang tamunya. Dia mencari anaknya agar menyelesaikan tugas sekolahnya. “Willys di mana, Bu?” tanyanya kepada sang istri.

Sejurus kemudian, Willys pulang ke rumah, lalu mengambil seperangkat alat mewarnai. Meja lipat lesehan itu menjadi tempat belajarnya. Pensil dam krayon dibuka dan siap mengerjakan mewarnai dari sekolah. Tahun ini adalah tahun pertama bagi Willys untuk memulai dunia pendidikan, yaitu TK.

Tapi suasana suka cita bersekolah tidak muncul lantaran pandemi Covid-19 yang mengharuskan sistem pembelajaran dengan daring. Eko sebagai orang tua sebenarnya ingin putranya tersebut merasakan sekolah TK sesungguhnya. “Kalau kondisi ini mending daring, tidak tatap muka. Karena kesehatan untuk menuntaskan penularan korona jauh lebih penting,” ucapnya.

Pria yang akrab disapa Lik Eko itu juga tidak hanya memiliki Willys yang duduk di bangku TK. Ada juga putrinya yang duduk di bangku SMP dan sama-sama memakai sistem pembelajaran daring selama ini. Bagi dia sebagai orang tua, pembelajaran daring membuat anak lebih intens bermain gadget. Perangkat cerdas memang membantu pembelajaran non-tatap muka, tapi dampaknya anak terlalu lama bermain HP.

Oleh karena itu, dia berharap besar tugas sekolah tidak selalu mengedepankan soal yang mengharuskan mencari jawaban lewat gadget. Sejatinya, dia ingin tugas sekolah yang mengedepankan unsur motorik ataupun aplikasi lainnya. “Tugas mewarnai itu bagus, tapi itu hanya contoh. Daripada mencari soal jawaban yang ujungnya bermain HP terus,” paparnya. Karena itu, guru harus inovatif dalam pembelajaran daring.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/